Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.Benturan 3 dewa puncak
Aula Harmoni Tertinggi mendadak berubah menjadi arena penghakiman kosmik. Suara guntur yang bergemuruh di atas langit Ibukota Imperial bukan lagi berasal dari hukum alam biasa, melainkan manifestasi dari benturan energi spiritual tingkat tinggi yang sanggup merobek ruang dimensi. Tekanan udara di sekitar pelataran batu pualam putih merosot tajam, membuat oksigen seolah-olah menguap lenyap, digantikan oleh hawa mencekam yang membekukan darah.
Tiga Tetua Langit tidak memberikan Lin Xiu kesempatan sekecil apa pun untuk bernapas. Sebagai penjaga takhta yang telah hidup selama lebih dari satu abad, mereka tahu betul bahwa setiap detik yang terbuang dalam menghadapi monster muda seperti Lin Xiu adalah undangan menuju kematian sejati.
"Formasi Tiga Elemen Langit: Pemusnah Jiwa!"
Tetua Tian meraung, jubah peraknya berkibar hebat seiring dengan tongkat perak penjinak petir di tangannya yang mulai memancarkan kilatan listrik berwarna ungu tua. Kilatan petir itu tidak menyambar ke bawah, melainkan melesat horizontal membentuk jaring raksasa yang mengunci ruang pergerakan Lin Xiu dari atas.
Secara bersamaan, Tetua Di yang bertubuh kekar melompat ke udara setinggi tiga puluh meter. Kedua sarung tangan besi pelindungnya menyala dengan warna cokelat kehitaman yang pekat—**Energi Inti Bumi**. Dengan berat badan yang dimanipulasi secara mistis menjadi seberat gunung, dia menukik turun dengan tinju yang diarahkan lurus ke arah ubun-ubun Lin Xiu.
Di sudut lain, Tetua Xuan bergerak bagai bayangan yang mencair. Pedang tipis berwarna biru es di tangannya mengeluarkan desingan halus yang membekukan tetesan air hujan di udara menjadi ribuan jarum es tajam. Dengan satu sentikan pergelangan tangan, ribuan jarum es itu melesat membentuk badai melingkar yang mengincar setiap titik meridian di punggung Lin Xiu.
Serangan kombinasi dari tiga praktisi **Ranah Dewa Puncak (Peak Deity Realm)** ini begitu sempurna tanpa celah. Kombinasi antara petir pemutus saraf, hantaman fisik seberat gunung, dan tusukan es pembeku darah mengunci seluruh arah kompas. Jika seorang *Grandmaster* biasa berada di posisi Lin Xiu, tubuh mereka akan langsung hancur menjadi bubuk bahkan sebelum serangan itu mendarat secara fisik.
Menghadapi kepungan maut tiga elemen dewa tersebut, Lin Xiu hanya berdiri tegak. Sepasang mata emas murninya tidak berkedip sedikit pun. Di tengah badai yang menderu, dia hanya mengembuskan napas pendek, lalu melangkah maju satu langkah dengan kaki kanannya.
*TING!*
Sebuah bunyi berdenting jernih, mirip seperti suara mangkuk giok yang diketuk dengan sumpit, mendadak bergema di tengah aula yang bising. Begitu kaki Lin Xiu menyentuh lantai pualam, sembilan lingkaran cahaya emas murni di belakang punggungnya tidak lagi sekadar berputar; lingkaran-lingkaran itu melebur menjadi satu pusaran cahaya keemasan raksasa yang membubung tinggi ke langit, membentuk pilar cahaya setinggi ratusan meter—**Ranah Penguasa Sembilan Matahari**.
*BOOOM!!!*
Hantaman pertama datang dari Tetua Di yang menukik dari langit. Namun, tinju besi seberat gunung miliknya terhenti tepat setengah meter di atas kepala Lin Xiu, tertahan oleh lapisan energi emas murni yang teramat padat. Tekanan balik dari energi Sembilan Matahari begitu masif hingga sarung tangan besi Tetua Di mulai retak dan mengeluarkan suara patahan logam yang mengerikan.
"A-Apa?! Kekuatan fisikku diredam sepenuhnya?!" Tetua Di terbelalak horor, merasakan energi panas yang luar biasa mulai merambat masuk lewat pori-pori tangannya, membakar jalur meridian lengannya dalam sekejap.
Sebelum Tetua Di sempat menarik kembali tangannya, Lin Xiu mendongak. Tanpa menggunakan tangan, dia hanya meniupkan seberkas udara kecil dari mulutnya. Udara tersebut diselimuti oleh percikan api emas murni yang langsung meledak menghantam dada kekar Tetua Di.
*CRASH!!!*
Tubuh raksasa Tetua Di terlempar ke udara seperti karung beras bocor, memuntahkan tumpukan darah segar sebelum akhirnya menghantam lantai pualam sejauh lima puluh meter dengan kondisi dada yang gosong terbakar.
Melihat rekan mereka tumbang dalam satu gerakan kasual, Tetua Tian dan Tetua Xuan merasakan bulu kuduk mereka berdiri. Namun, sebagai penjaga takhta yang mengemban sumpah mati, mereka tidak memiliki jalan mundur.
"Mati kau, bocah keparat!" Tetua Xuan muncul dari balik bayangan Lin Xiu, pedang es tipisnya melesat lurus menuju lubang telinga Lin Xiu dengan kecepatan tiga kali lipat kecepatan suara.
Lin Xiu tidak berbalik. Tangan kanannya bergerak ke belakang punggung dengan sangat anggun, dua jarinya menjepit bilah pedang es tipis Tetua Xuan dengan akurasi yang teramat mutlak.
*KRETEK!*
Dengan satu sentikan ringan dari jari Lin Xiu, pedang es mistis yang telah menemani Tetua Xuan selama delapan puluh tahun itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan es halus. Sisa energi hancuran pedang itu merambat maju, menghancurkan seluruh telapak tangan hingga lengan kanan Tetua Xuan menjadi bubur darah.
"AAAKKKHHH!!!" Tetua Xuan menjerit histeris, melangkah mundur dengan memegangi lengannya yang hancur.
Kini, hanya tersisa Tetua Tian yang berdiri memegang tongkat peraknya dengan tubuh yang gemetar hebat. Seluruh keyakinan dan keangkuhannya sebagai puncak kekuatan negeri ini hancur lebur dalam waktu kurang dari tiga menit di hadapan pemuda berbaju hitam tersebut.
"Kau... kau bukan berada di Ranah Dewa..." bisik Tetua Tian dengan suara serak, air mata ketakutan mulai mengalir dari matanya yang keriput. "Kekuatan murni yang tidak terikat oleh hukum ruang... Kau telah menyentuh ranah legendaris itu... **Ranah Penguasa Surga (Heavenly Sovereign Realm)**!"
Lin Xiu merapikan kembali tas kain usangnya di punggung, lalu berjalan perlahan melewati Tetua Tian yang sudah kehilangan nyali bertarungnya.
"Ranah apa pun sebutannya di dunia kalian, itu tidak penting," kata Lin Xiu dingin tanpa menghentikan langkah kakinya menuju pintu aula utama. "Bagi kalian yang membiarkan darah anak-anak panti asuhan kami mengalir tiga belas tahun lalu... langit di atas takhta ini telah lama runtuh."
Lin Xiu mengibaskan lengan bajunya ke arah samping tanpa menoleh. Sisa energi *Zhenqi* Sembilan Matahari yang bergolak di udara langsung menyapu tubuh Tetua Tian, Tetua Di, dan Tetua Xuan sekaligus. Tanpa sempat mengeluarkan suara permohonan ampun, Tiga Tetua Langit penjaga takhta yang agung itu langsung menguap menjadi abu kelabu, lenyap dari muka bumi tanpa menyisakan sepotong tulang pun.
Pelataran Aula Harmoni Tertinggi kini sepenuhnya terbuka. Lin Xiu melangkah naik menembus tangga giok, mendorong pintu gerbang emas aula utama, bersiap untuk menghadapi sang penguasa tertinggi yang duduk di atas takhta berdarah kekaisaran.