NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Wida Mulai Belajar Membenci.

Wida pulang lebih awal dari biasanya.

Aku tahu sesuatu tidak beres dari cara dia masuk. Bukan lari-lari kecil seperti biasanya, bukan langsung ke dapur cari minum sambil cerita hal random tentang temannya. Tapi masuk pelan, tas dilempar ke sofa bukan ditaruh, langsung ke kamar tanpa bicara.

Pintu kamarnya tidak dibanting. Hanya ditutup.

Aku taruh tusukan cilok, lap tangan, dan mengetuk pintu kamarnya.

Tidak ada jawaban.

"Wida?"

Diam.

Aku buka sedikit. Dia ada di kasur, posisi miring membelakangi pintu, lutut ditekuk ke dada.

"Boleh masuk?"

Tidak ada jawaban tapi juga tidak ada penolakan, jadi aku masuk. Duduk di tepi kasurnya. Tidak langsung bicara karena sudah cukup lama kenal Wida untuk tahu dia butuh beberapa menit sebelum bisa cerita sesuatu yang berat.

Aku tunggu.

Dua menit. Tiga.

"Di sekolah ada apa?"

Wida tidak menjawab langsung. Tapi bahunya bergerak sedikit, naik turun, cara orang yang sedang menahan sesuatu di dalam dadanya.

"Ada yang ngomong apa?" tanyaku pelan.

Lama.

Lalu, dengan suara yang agak serak dan agak menahan, dia bilang, "Temen-temen bilang baju gue bau."

Aku diam.

"Bau cilok. Bau..." dia berhenti. "Bau miskin. Mereka bilang gitu."

Ada sesuatu yang perih di dadaku mendengar itu. Perih yang berbeda dari perih yang biasa aku rasakan untuk diriku sendiri. Ini lebih tajam karena itu bukan tentang aku. Ini tentang anak sebelas tahun yang tidak punya salah apa-apa selain tinggal di rumah yang penghasilannya dari gerobak cilok.

Aku menarik napas.

"Wida, dengerin aku dulu ya."

Dia tidak menjawab tapi juga tidak menutup telinga.

"Jualan cilok itu bukan hal yang memalukan. Sama sekali tidak." Aku bicara pelan, bukan ceramah, bukan pidato, cuma ngobrol. "Rasulullah sendiri, Nabi kita, beliau mengajarkan bahwa sebaik-baiknya rezeki adalah yang datang dari tangan sendiri. Dari keringat sendiri. Dari kerja sendiri. Pedagang yang jujur, kata beliau, derajatnya tinggi di sisi Allah."

Wida masih membelakangi aku.

"Bapak kamu dulu, Bapak kandungmu yang di sana, Bapakku juga, mereka kerja keras bukan karena mau dilihat orang. Tapi karena itu yang bisa mereka lakukan untuk orang-orang yang mereka cintai. Dan itu tidak pernah hina. Tidak pernah."

Aku berhenti sebentar.

"Teman-temanmu yang ngomong kayak gitu... mereka belum tahu. Mereka masih kecil, belum ngerti bahwa kerja keras bentuknya beda-beda. Nanti mereka mengerti. Dan waktu mereka mengerti, mereka akan ingat bahwa dulu mereka salah."

Wida bergerak.

Pelan, dia membalik badan. Menatapku dari kasur dengan mata yang agak merah di sudut-sudutnya, dengan ekspresi yang aku tidak bisa baca sepenuhnya.

Aku menatapnya balik.

Dan kemudian, dengan nada yang sangat datar, dengan suara yang tidak bergetar dan tidak meninggi, dengan cara yang bukan nada marah tapi justru karena itu lebih dalam dari marah, Wida bilang,

"Diam lo."

Aku terdiam.

"Gausah ceramah."

Satu detik.

"Dan ingat." Matanya menatapku langsung. Tidak menghindari, tidak berkedip lebih dari biasanya. "Lo bukan bapak gue."

Ruangan itu sunyi.

Wida membalik badan lagi. Membelakangi aku lagi. Dengan cara orang yang sudah bilang apa yang perlu dibilan dan sekarang sudah selesai.

Aku duduk di tepi kasurnya.

Tidak bicara.

Tidak bisa.

Bukan karena marah. Bukan karena tidak mengerti. Tapi karena ada sesuatu yang baru saja menghantam sesuatu di dalam dadaku dengan tepat sekali, dengan presisi yang tidak bisa direncanakan, yang menemukan tempat yang paling tidak terlindungi dan menghantam tepat ke sana.

Lo bukan bapak gue.

Benar.

Aku bukan bapaknya. Tidak pernah bapaknya. Tidak pernah ada yang bilang aku bapaknya, tidak ada yang memintaku jadi bapaknya, tidak ada yang menjanjikan apa-apa. Aku cuma laki-laki yang masuk ke hidupnya waktu dia delapan tahun dan mencoba melakukan yang bisa aku lakukan.

Tapi kalimat itu tetap menghantam.

Dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, dari arah ruang tengah, ada suara.

Tawa.

Kecil. Tertahan. Tapi cukup jelas untuk sampai ke telingaku.

Nirmala.

Tidak menegur Wida. Tidak masuk ke kamar untuk minta maaf atau menjelaskan atau melakukan apapun yang seharusnya dilakukan seorang ibu yang baru saja mendengar anaknya bilang sesuatu yang menyakiti orang lain.

Hanya membiarkan.

Dan tawa kecil itu.

Aku berdiri dari tepi kasur Wida. Langkahku keluar dari kamar terasa biasa. Tidak tergesa, tidak berat, cuma berjalan seperti biasa melewati ruang tengah di mana Nirmala duduk dengan ponselnya, dan aku tidak menatapnya dan dia tidak menatapku.

Aku keluar rumah.

Jalan di gang kampung yang sore itu mulai sepi karena orang-orang sudah masuk rumah masing-masing. Di ujung gang ada persimpangan kecil, dan di sudut persimpangan itu ada tiang listrik dengan lampu yang belum nyala karena masih terlalu sore.

Aku berdiri di sana.

Di sudut yang gelap karena belum ada lampu, di bawah tiang yang kabelnya menggantung terlalu rendah, dengan punggung ke tembok dan muka ke arah jalan yang kosong.

Dan air matanya mengalir sendiri.

Tidak ada isak. Tidak ada suara. Cuma air mata yang keluar dari tempat yang terlalu penuh dan tidak bisa ditahan lagi, mengalir pelan di pipi, jatuh di dagu, menetes ke baju yang memang sudah agak kusam karena sering dipakai ke lapak.

Aku tidak menghapusnya.

Biarkan saja.

Di gang itu tidak ada yang melihat. Tidak ada tetangga yang lewat. Tidak ada siapapun yang perlu aku pura-pura di hadapannya.

Jadi aku biarkan.

Mengalir sendiri sampai habis sendiri.

Dan di dalam diam itu, di sudut gelap gang yang sepi, aku merasakan sesuatu yang sangat lelah di dalam tubuhku. Bukan lelah fisik. Bukan lelah dari mendorong gerobak atau bangun jam tiga pagi atau berdiri seharian di lapak.

Tapi lelah dari bertahun-tahun tersenyum ke pelanggan sementara di dalam ada hal-hal yang tidak bisa diceritakan ke siapapun. Lelah dari terus meyakinkan diri sendiri bahwa ini masih bisa diperbaiki. Lelah dari berdiri di kamar-kamar dan dapur-dapur dan gang-gang dengan sesuatu yang menghantam dari arah yang tidak terduga dan harus pura-pura biasa-biasa saja.

Lelah yang sangat dalam.

Tapi aku tidak bisa berhenti di sini.

Besok pagi ada adonan yang perlu diuleni. Ada kompor yang perlu dinyalakan. Ada gerobak yang perlu didorong. Ada pembeli yang akan datang dengan uang recehnya dan menunggu cilok yang panas dan saus yang enak dan penjual yang senyum.

Dan aku akan senyum.

Karena itu yang aku lakukan. Bukan karena hidupku baik-baik saja. Bukan karena tidak ada yang sakit. Tapi karena besok masih ada Aini yang bangun pagi dengan matanya yang mencari wajahku. Masih ada Ibu yang mungkin masih menunggu kabar. Masih ada gerobak yang kalau tidak aku jalankan tidak ada yang menjalankannya.

Aku lap mukaku dengan lengan baju.

Menarik napas panjang.

Berbalik.

Masuk ke gang lagi, berjalan ke arah rumah, dengan langkah yang tidak berubah dari waktu aku keluar tadi.

Biasa.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Seperti yang sudah sangat sering aku lakukan.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!