NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Potongan Kedamaian

​Waktu tiga puluh menit yang diberikan Asher terasa berputar begitu cepat di dalam kepala Chloe. Di bawah bayang-bayang ancaman suaminya yang mengatakan akan turun tangan sendiri untuk mendandaninya, Chloe bergerak dengan efisiensi yang tinggi. Dia membasuh tubuhnya dengan air hangat, menghapus sisa-sisa hawa demam yang sempat mendekam di pori-pori kulitnya, lalu melangkah ke dalam walk-in closet raksasa yang dipenuhi deretan pakaian mahal kurasi keluarga Sterling.

​Malam ini, Chloe memilih sebuah gaun hitam berbahan beludru ringan yang jatuh dengan sangat pas di tubuh mungilnya. Gaun itu memiliki potongan lengan panjang dengan kerah model boat-neck yang sopan namun tetap memancarkan keanggunan yang bersahaja. Warna hitam pekat dari gaun tersebut sengaja ia pilih untuk menyamarkan siluet tubuhnya yang sedikit menyusut akibat sakit selama beberapa hari terakhir. Tanpa perhiasan yang mencolok—hanya sebuah anting perak kecil berbentuk minimalis di kedua daun telinganya—dan rambut yang dicepol rapi ke atas menyisakan beberapa helai anak rambut di pelipis, Chloe melangkah turun ke lobi lantai bawah tepat pada menit kedua puluh sembilan.

​Asher sudah berdiri di sana, bersandar pada pilar marmer dekat pintu utama dengan setelan kemeja formal hitam yang lengannya digulung hingga sebatas siku, mengekspos jam tangan kronograf mewah dan urat-urat menonjol di lengan kokohnya. Pria itu melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu mengalihkan sepasang mata kelabunya untuk memindai penampilan Chloe dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada pujian verbal yang keluar dari bibir tipisnya, namun kilatan kepuasan yang samar di dalam manik matanya sudah cukup menjadi tanda bahwa Chloe telah memenuhi standarnya malam ini.

​"Tepat waktu," ucap Asher pendek, lalu membalikkan tubuhnya dan menuntun Chloe keluar menuju mobil yang sudah siap di pelataran.

​Restoran yang dipilih Asher bukan sekadar tempat makan biasa, melainkan sebuah restoran bintang lima berkonsep eksklusif yang terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di pusat distrik bisnis. Tempat itu terkenal dengan sistem reservasi ketat yang membatasi jumlah tamu setiap malamnya demi menjaga privasi tingkat tinggi bagi para pesohor dan petinggi kota.

​Begitu pintu lift berlapis emas terbuka langsung di lobi restoran, atmosfer kemewahan yang tenang langsung menyambut mereka. Lantai berkarpet tebal yang meredam setiap langkah kaki, dentingan musik klasik dari sebuah piano besar di sudut ruangan, serta pendar lampu kristal yang hangat menciptakan impresi yang teramat intim.

​"Selamat malam, Tuan Sterling," sebuah suara bariton yang teramat sopan memutus keheningan.

​Seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas tuksedo rapi—yang belakangan diketahui Chloe sebagai Maître d' atau kepala pelayan restoran tersebut—langsung berjalan membungkuk hormat begitu pandangan matanya menangkap sosok masif Asher. Wajah pelayan itu menunjukkan ekspresi pengenalan yang instan, campuran antara rasa hormat yang mendalam dan kewaspadaan yang tinggi. Kehadiran seorang Asher Sterling di tempat publik seperti ini selalu menjadi sebuah peristiwa yang menuntut pelayanan tanpa cela.

​"Meja khusus Anda di area sudut privat menghadap pemandangan kota sudah siap, Tuan. Mari, silakan saya antar," lanjut kepala pelayan itu dengan gestur tangan yang mengarahkan mereka menjauh dari area makan utama menuju sebuah sekat kaca buram yang lebih terisolasi.

​Asher hanya mengangguk kecil tanpa suara, menuntun Chloe di sampingnya dengan satu tangan yang diletakkan secara protektif di bagian belakang pinggang gadis itu. Sentuhan telapak tangan Asher yang hangat di balik kain beludru gaunnya sempat membuat Chloe menegang sejenak, namun dia memilih untuk tidak menarik diri dan mengikuti langkah suaminya dengan patuh.

​Meja bundar berbahan kayu ek gelap dengan taplak meja putih bersih dari kain linen premium menyambut mereka. Dari balik dinding kaca raksasa di samping meja, hamparan lampu-lampu kota malam hari membentang luas bagai lautan permata yang berkilauan, menawarkan pemandangan indah yang sempat membuat Chloe terpaku selama beberapa detik.

​Setelah mereka berdua duduk berhadapan, seorang pelayan lain datang membawa buku menu beludru hitam. Namun, sebelum pelayan itu sempat membukanya di hadapan Chloe, Asher menaikkan satu tangannya, memberikan isyarat pendek untuk menghentikan aktivitas tersebut.

​"Tidak perlu menu," ucap Asher dingin pada pelayan di sampingnya. "Sajikan semua menu andalan malam ini yang mengandung protein tinggi kualitas terbaik. Mulai dari hidangan pembuka hingga hidangan utama. Pastikan semuanya disajikan dalam kondisi hangat tanpa jeda yang terlalu lama."

​"Baik, Tuan Sterling. Pesanan Anda akan segera kami siapkan di dapur utama," jawab pelayan itu penuh kepatuhan sebelum akhirnya mengundurkan diri dengan langkah cepat tanpa suara.

​Chloe yang mendengar gaya pemesanan sepihak itu hanya bisa mengerutkan alisnya sedikit. Dia menatap Asher yang kini sedang melonggarkan satu kancing teratas kemeja hitamnya dengan santai.

​"Kau bahkan tidak menanyakan apa yang ingin kumakan, Asher," gumam Chloe pelan, suaranya hampir tenggelam di antara gesekan lembut alat makan perak yang sedang ditata ulang oleh pelayan.

​Asher menopang dagunya dengan satu tangan, menatap langsung ke arah sepasang mata rusa milik Chloe dengan tatapan kaku yang tidak menerima bantahan. "Tugasmu malam ini adalah mengisi kembali ruang kosong di dalam tubuhmu yang menyusut itu, Chloe. Kau tidak butuh memilih menu; kau hanya butuh memakan apa pun yang kusajikan di depanmu."

​Tidak butuh waktu lama bagi pihak restoran untuk mengeksekusi perintah sang penguasa distrik barat. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, meja bundar di hadapan mereka mulai dipenuhi oleh deretan piring porselen putih berukuran besar yang mengepulkan aroma gurih yang teramat menggugah selera.

​Pelayan demi pelayan datang berurutan, menata hidangan-hidangan yang didominasi oleh kandungan protein tinggi yang luar biasa melimpah. Mulai dari Wagyu Tomahawk Steak dengan tingkat kematangan medium rare yang disiram saus jamur truffle hitam yang kental, potongan Pan-Seared Salmon dengan kulit yang renyah keemasan di atas hamparan asparagus, semangkuk besar Seafood Bouillabaisse yang kaya akan potongan udang galah dan kerang kapis, hingga hidangan dada bebek panggang dengan glasir madu yang berkilau di bawah pendar lampu kristal.

​Melihat gunungan makanan mewah yang menutupi hampir seluruh permukaan meja bundar di hadapannya, Chloe seketika merasa pusing dan bingung. Sepasang matanya bergerak bolak-balik menatap potongan daging sapi yang tebal, salmon yang lembut, hingga sup seafood yang mengepulkan uap panas. Perutnya yang sempat kosong selama beberapa hari akibat demam mendadak merasa terintimidasi oleh porsi raksasa yang disiapkan Asher untuknya.

​"Asher... ini terlalu banyak," ucap Chloe, memegang garpu peraknya dengan ragu. "Aku bingung harus memulai makan dari piring yang mana."

​Asher yang sudah memegang pisau dagingnya sendiri tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Dia memotong sepotong kecil daging wagyu di piringnya, mengunyahnya dengan ritme yang teratur, lalu menunjuk ke arah piring salmon di dekat tangan kanan Chloe menggunakan ujung pisaunya.

​"Mulailah dari salmon itu. Teksturnya lembut dan tidak akan mengejutkan lambungmu yang baru saja sembuh," ucap Asher datar, nadanya terdengar seperti sebuah instruksi taktis di medan perang, namun memiliki fungsi yang sangat praktis bagi kondisi kesehatan Chloe saat ini.

​Chloe mengembuskan napas pendek, lalu mengikuti saran tersebut. Dia mengarahkan garpunya pada sepotong daging salmon, memotongnya perlahan, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa gurih yang kaya dan kelembutan daging ikan kualitas premium itu seketika memanjakan lidahnya, memicu kembali nafsu makannya yang sempat hilang selama berhari-hari.

​Selanjutnya, makan malam itu berlangsung dalam sebuah atmosfer yang tidak biasa bagi hubungan mereka berdua. Tidak ada perdebatan yang menguras emosi, tidak ada sindiran tajam mengenai insiden pameran lukisan atau eksistensi wanita di balkon galeri, dan tidak ada pula tuntutan kepatuhan fisik yang mengintimidasi dari pihak Asher.

​Mereka berdua menikmati hidangan di atas meja dalam sebuah kedamaian yang sunyi namun menenangkan. Asher makan dengan ritme cepatnya yang khas namun sesekali matanya akan bergerak diam-diam memperhatikan bagaimana Chloe mengunyah makanannya dengan pelan dari seberang meja. Setiap kali piring Chloe mulai kosong, Asher akan menggunakan sendok saji untuk memindahkan potongan protein lain—entah itu dada bebek panggang atau potongan udang dari sup—ke atas piring istrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sebuah tindakan domestik yang aneh, kaku, namun terasa sangat nyata dalam mengekspresikan perhatian tersembunyi miliknya.

​Chloe sendiri merasa kebingungannya perlahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dalam perutnya yang kini terisi penuh. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka digelar, Chloe merasa bisa duduk di satu meja bersama Asher tanpa perlu memasang perisai pertahanan yang tinggi di sekitar dirinya. Kedamaian sesaat ini terasa begitu berharga, sebuah gencatan senjata tak tertulis di antara sepasang manusia yang terikat dalam takdir yang rumit.

​Begitu makanan di atas meja habis tak tersisa dan piring-piring porselen disingkirkan oleh para pelayan yang cekatan, Asher langsung meminta tagihan. Pria itu tidak suka membuang waktu untuk sekadar mengobrol basa-basi pasca-makan di tempat umum. Dia segera bangkit berdiri setelah menyelesaikan pembayaran menggunakan kartu hitamnya, merapikan kembali lipatan kemejanya yang legam.

​"Ayo pulang," ucap Asher pendek.

​Chloe mengangguk, ikut bangkit berdiri dari kursinya. Rasa kenyang yang luar biasa dan kehangatan dari makanan berprotein tinggi itu mendadak memicu rasa kantuk yang samar di balik pelupuk matanya yang lelah.

​Perjalanan pulang menuju mansion kembali dilalui dalam keheningan yang solid di dalam kabin belakang mobil mewah mereka. Namun, berbeda dengan keheningan malam-malam sebelumnya yang selalu sarat akan ketegangan dan air mata, keheningan malam ini terasa jauh lebih tenang dan bersahabat.

​Chloe menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi kulit, menatap ke luar jendela melihat siluet pepohonan yang bergerak cepat di bawah sorot lampu jalanan. Di sampingnya, Asher duduk tegak dengan satu tangan bertumpu pada sandaran lengan tengah, matanya menatap lurus ke depan memikirkan jadwal bisnis organisasi esok hari.

​Meskipun tidak ada kata-kata manis yang terucap di antara mereka hingga mobil kembali memasuki gerbang besi raksasa mansion Sterling, Chloe tahu bahwa retakan di dalam hatinya malam ini telah mendapatkan sedikit perekat halus—sebuah pemahaman baru bahwa di balik dinding es yang membekukan jiwa suaminya, selalu ada cara tersendiri bagi seorang Asher Sterling untuk menjaga apa yang telah sah menjadi miliknya seutuhnya.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!