NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:538
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sambutan di Depan Pintu dan Candaan Sore

Semburat jingga di langit Bandung perlahan mulai meredup, berganti dengan warna ungu kebiruan khas senja. Alisha berjalan menyusuri gang menuju rumahnya dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada tadi pagi. Di bahunya, tas sekolahnya terasa pas, dan di dalam dekapannya, novel cokelat yang sempat "diculik" Shaka kini sudah kembali aman. Plus, sisa rasa manis cokelat pemberian cowok menyebalkan tapi peka itu masih tertinggal di indra pengecapnya.

Begitu berbelok di tikungan terakhir sebelum pagar rumah, Alisha mengernyitkan dahi.

Di atas undakan teras rumah, tampak sebuah siluet yang sangat familiar sedang berjongkok. Aleta. Gadis remaja itu masih mengenakan seragam putih abu-abunya, bedanya jilbabnya sudah agak miring dan tangannya sibuk mencabuti rumput liar di sela-sela semen teras dengan ekspresi super serius.

Alisha mempercepat langkahnya, lalu berhenti tepat di depan pagar. "Ngapain lo di luar? Jadi satpam komplek baru?"

Aleta langsung mendongak. Begitu melihat sang kakak berdiri di sana dengan wajah yang—keajaiban dunia—tidak sekaku tadi pagi, mata Aleta langsung berbinar lega. Ia buru-buru berdiri, menepuk-npuk debu di rok abu-abunya dengan gerakan dramatis.

"Kak Alisha!!! Ya ampun, akhirnya pulang juga! Jam segini baru kelihatan batang hidungnya!" seru Aleta dengan nada jenaka yang dibuat-buat seperti pembawa acara kuis.

Aleta melangkah maju, membuka engsel pagar besi rumah mereka dengan heboh. "Aku tuh sengaja berdiri di sini memantau hilal, tahu gak? Soalnya dari tadi bolak-balik nengok gang, Kak Alisha belum muncul juga. Aku kan heran, biasanya jam empat teng udah nongkrong di depan buku rumus sambil megang kalkulator, lah ini matahari udah mau tenggelam baru balik. Aku hampir aja mau lapor RT, kirain Kak Alisha diculik alien karena saking pinternya, mau diperas otaknya di luar angkasa!"

Alisha tidak bisa menahan senyum tipisnya. Ia membuka pagar, lalu melangkah masuk ke halaman. "Sembarangan lo kalau ngomong. Gak ada alien yang selera nyulik anak SMA sore-sore begini. Gue habis ada urusan bentar di sekolah, nyari barang yang ketinggalan. Lagian tumben banget lo nungguin gue di depan pagar begini? Biasanya jam segini lo udah posisi rebahan estetik di kamar sambil nonton video TikTok sampai kuota sekarat."

Aleta mengekor di belakang Alisha, berjalan mepet di samping kakaknya sambil mengamati wajah Alisha dengan lekat dari samping. Radar adiknya mendeteksi kalau mendung tebal yang menyelimuti Alisha sejak semalam—dan ledakan emosi tadi subuh—sudah menguap entah ke mana.

Setelah memastikan suasana hati Alisha bener-bener sudah aman terkendali dan tidak ada tanda-tanda "singa ngamuk", barulah Aleta memberanikan diri untuk menyenggol lengan Alisha, menanyakan hal yang sebenarnya mengganjal di hatinya sejak subuh.

"Kak..." panggil Aleta. Nadanya berubah sedikit lebih pelan, tapi tetap berusaha terdengar santai dan jenaka. "Tanya serius nih, jangan digebuk ya. Tadi pagi... Kak Alisha beneran kesurupan reog ya? Asli, serem banget tahu gak! Seumur-umur aku hidup sepuluh tahun bareng kakak, baru kali itu liat kak Alisha teriak kencang banget sampai suaranya melengking. Itu Kak Aryan yang biasanya tegap kayak tentara langsung kicep gak berkutik, loh. Mana Ibu yang lagi megang sudit di dapur juga langsung matung kayak patung Pancoran. Bapak aja sampai gak berani ngelinting tembakaunya lagi."

Alisha menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah yang masih tertutup. Ia berbalik, menatap adik bungsunya yang sedang memasang wajah sok polos, mengerjapkan mata berkali-kali namun sebenarnya penuh rasa cemas itu. Mengingat ledakan emosinya tadi pagi pada Kak Aryan memang membuat Alisha sedikit merasa bersalah, tapi berkat "terapi" dari Shaka di taman tadi, kini dia bisa menanggapinya dengan kepala dingin.

Alisha mengangkat novel cokelatnya, lalu menjitak pelan kening Aleta menggunakan ujung buku tersebut. Puk!

"Heh, jaga ya itu mulutnya. Siapa yang kesurupan reog?" ketus Alisha, walau senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Gue cuma lagi melatih vokal aja pagi-pagi biar paru-paru gue sehat. Lagian lagak Kak Aryan tuh yang keterlaluan, hobi banget mau bikin heboh satu sekolah. Gue kan kesal."

Aleta memegangi keningnya sambil meringis jenaka, meski jitakan itu sama sekali tidak sakit. "Ya habisnya tumben banget kak Alisha ngegas sampai level maksimal begitu! Biasanya kan kalau Kak Aryan udah mode galak atau ngomel, Kak cuma jawab 'iya Kak, oke Kak, siap Kak' pendek banget kayak tentara baru masuk barak. Makanya aku sama Ibu tadi pagi langsung auto-sholawatan di dalam hati, takut rumah kita roboh karena Mbak Alisha ngamuk. Tapi... berarti sekarang Mbak Alisha udah gapapa, kan? Mood-nya udah balik ke setelan pabrik? Gak bakal ada piring terbang di dalam rumah malam ini?"

Alisha mengembuskan napas pendek, lalu tersenyum hangat—senyum tulus dan lepas pertama yang dilihat Aleta sejak kemarin sore.

"Udah gapapa, Teta cerewet. Gue udah waras lagi, gak usah lebay deh lo," jawab Alisha santai, kali ini tangannya terulur untuk mengacak-acak jilbab adiknya yang memang sudah miring itu hingga makin berantakan. "Udah ah, minggir. Gue mau masuk, mau mandi. Badan gue gerah banget, bau taman sekolah."

"Eits, bentar dulu, jangan masuk dulu!" Aleta menahan pintu dengan badannya, merentangkan kedua tangan menghalangi jalan Alisha sambil menaik-turunkan alisnya berkali-kali. "Asyeeeykk! Berarti kalau udah waras, aman dong ya? Ntar malam aku bisa nanya tugas matematika bab logaritma lagi, kan? Sumpah demi apa pun ya Kak, kemarin pas kakak lagi mode zombi, aku terpaksa nanya ke Kak Aryan. Bukannya paham, aku malah makin pusing tujuh keliling! Kak Aryan kalau ngejelasin rumus sekecamatan panjangnya, mana mukanya tegang banget kayak mau ngajak berantem guru matematikanya. Aku boro-boro ngerti, yang ada malah gemeteran takut salah hitung!"

Alisha tertawa renyah, tawa khasnya yang renyah akhirnya terdengar lagi, membuat suasana teras rumah mereka mendadak terasa begitu hidup.

"Iya, iya, ntar malam masuk aja ke kamar gue, bawa buku lo. Gue ajarin sampai lo pinter," sahut Alisha sambil mendorong pelan bahu adiknya agar bergeser dari depan pintu. "Tapi gak gratis ya. Bayarannya, lo harus pijitin pundak gue minimal setengah jam. Pegal banget hari ini."

Aleta langsung memberikan sikap hormat dengan dua jarinya di pelipis, wajahnya cerah bukan main. "Siap, Bos Alisha! Jangankan setengah jam, satu jam juga aku jabanin demi nilai matematika gak remedial! Tarik sis, semongkooo!"

Aleta langsung membuka pintu rumah lebar-lebar dengan gaya kocaknya yang heboh, mempersilakan kakaknya masuk layaknya menyambut tamu agung. Alisha hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib adiknya, melangkah masuk ke dalam rumah yang kini tidak lagi terasa sunyi dan dingin di hatinya.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!