NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:95.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Perjalanan

Perjalanan mereka berlanjut. Roda kereta terus berderit pelan menyusuri jalan tanah yang membelah perbukitan dan hutan. Irama langkah kuda yang stabil menciptakan suasana tenang, hampir seperti alunan musik yang berulang.

Di dalam kereta kedua, Gao Rui kini tidak lagi duduk kaku seperti sebelumnya. Ia sedikit memiringkan tubuhnya menatap keluar melalui jendela kereta. Hamparan pemandangan terbentang luas di hadapannya.

Langit biru bersih tanpa awan, perbukitan hijau yang bergelombang, serta pepohonan tinggi yang sesekali bergoyang tertiup angin. Di kejauhan, tampak sungai kecil mengalir berkelok, memantulkan cahaya matahari seperti pita perak.

Untuk sesaat mata Gao Rui berbinar. Ekspresinya terlihat jelas, ia senang.

“Jadi ini rasanya…” gumamnya pelan.

Naik kereta kuda seperti ini ternyata jauh lebih nyaman dibandingkan berlari di jalanan panjang. Tidak perlu menguras tenaga, tidak perlu terus waspada terhadap pijakan. Ia hanya perlu duduk dan menikmati perjalanan.

Angin yang masuk dari jendela membawa aroma tanah dan dedaunan segar.

Gao Rui menyandarkan punggungnya perlahan. Namun tak lama kemudian, ia tersenyum kecil pahit.

“Walau… dari segi kecepatan…” bisiknya pelan.

Ia tahu. Jika ia berlari dengan seluruh kemampuannya, perjalanan seperti ini bisa ia tempuh jauh lebih cepat. Jarak yang mungkin memakan waktu berminggu-minggu dengan kereta, bisa ia pangkas menjadi jauh lebih singkat.

Tapi tatapannya kembali ke luar jendela.

“…pemandangan seperti ini memang hanya bisa dinikmati jika naik kereta kuda,” lanjutnya dalam hati.

Untuk pertama kalinya sejak lama ia merasa tidak terburu-buru.

Di seberangnya, Bai Kai melirik sekilas. Ia tidak berkata apa-apa. Namun sorot matanya yang tajam sedikit melunak melihat ekspresi Gao Rui yang berubah jauh lebih santai dibanding sebelumnya.

Hari pertama perjalanan Kelompok Dagang Harta Langit berjalan dengan lancar. Tidak ada gangguan berarti. Tidak ada penyergapan. Tidak ada binatang buas yang berani mendekat.

Dengan keberadaan belasan pengawal pilihan, serta dua pendekar tingkat tinggi seperti Rou Xi dan Bai Kai, jalur yang mereka lewati seolah menjadi aman dengan sendirinya. Bahkan beberapa kelompok kecil yang berpapasan memilih menyingkir dengan sendirinya begitu melihat formasi rombongan ini.

Langit perlahan berubah warna. Cahaya keemasan matahari sore meredup digantikan semburat jingga yang memanjang di ufuk barat. Hingga akhirnya malam pun tiba.

Rombongan perlahan berhenti di sebuah area terbuka yang cukup luas, di tepi hutan kecil. Tempat itu dipilih dengan cepat namun tepat, cukup terlindung, namun tetap memiliki ruang pandang yang luas untuk berjaga.

Perintah diberikan singkat. Semua orang langsung bergerak.

Api unggun dinyalakan. Kayu-kayu kering disusun rapi, lalu percikan api menyala perlahan membesar, mengusir dingin malam yang mulai turun.

Tenda-tenda didirikan dengan cepat dan efisien. Beberapa orang mulai menyiapkan bahan makanan. Suasana berubah menjadi hidup.

Gao Rui duduk di dekat api unggun. Cahaya api menari-nari di wajahnya memantulkan bayangan yang bergerak pelan. Matanya mengamati sekeliling.

Orang-orang Kelompok Harta Langit terlihat sibuk, namun tidak kacau. Setiap orang tahu apa yang harus dilakukan. Ada yang memotong bahan makanan, ada yang menyiapkan air, ada pula yang berjaga-jaga.

Tanpa sadar Gao Rui berdiri. Ia berjalan mendekat.

“Aku bantu,” katanya ringan.

Beberapa orang langsung menoleh. Lalu tersenyum. Namun hampir bersamaan, mereka menggeleng.

“Tidak perlu, Tuan Muda.”

“Silakan istirahat saja.”

“Biarkan kami yang mengurus.”

Nada mereka sopan, namun tegas.

Gao Rui mengerutkan kening sedikit.

“Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan,” katanya lagi, mencoba bersikeras.

Ia bahkan sudah mengulurkan tangan, berniat melakukan sesuatu untuk membantu.

Namun salah satu pria paruh baya yang tadi terlihat mengurus logistik langsung tertawa kecil.

“Tuan Muda,” katanya sambil menggeleng, “jika kau membantu… Nyonya akan memarahi kami.”

Gao Rui berhenti.

“Hah?”

Pria itu tersenyum lebar.

“Nyonya Ya sangat tegas dalam hal ini.”

Beberapa orang di sekitarnya ikut tertawa kecil. Gao Rui terdiam sejenak lalu menoleh ke arah sebuah tenda, seolah bisa melihat sosok Lan Suya di dalamnya.

Wajahnya langsung berubah pasrah.

“…baiklah,” gumamnya pelan.

Ia akhirnya mundur… kembali ke tempatnya di dekat api unggun. Duduk dan menatap api.

Ada sedikit ekspresi murung di wajahnya. Ia sebenarnya hanya ingin membantu. Namun tampaknya posisinya di mata mereka benar-benar berbeda.

Tak lama langkah kaki terdengar mendekat. Bai Kai muncul dari arah luar area perkemahan. Pakaiannya sedikit tertiup angin, namun ekspresinya tetap sama, tenang dan dingin.

Ia baru saja selesai memeriksa area sekitar. Tanpa banyak kata, ia duduk di samping Gao Rui. Beberapa saat hanya ada suara api yang berderak. Lalu Bai Kai berbicara.

“Tuan Muda… apa kau baik-baik saja?”

Gao Rui sedikit tersentak.

“Ah?” Ia menoleh.

Melihat ekspresi Bai Kai yang serius, ia langsung tersenyum tipis.

“Aku baik-baik saja.”

Nada suaranya ringan.

“…mungkin hanya sedikit lelah,” tambahnya.

Bai Kai mengerutkan kening. Seharian penuh Gao Rui duduk bersamanya di dalam kereta. Tidak ada pertarungan. Tidak ada perjalanan berat. Jika dibilang lelah itu tidak masuk akal.

Tatapannya meneliti wajah Gao Rui beberapa detik lebih lama. Namun pada akhirnya ia tidak bertanya lebih lanjut.

“Hm.”

Hanya itu jawabannya.

Ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah api unggun. Suasana kembali hening. Namun kali ini keheningan itu terasa lebih dalam.

Tak lama, aroma masakan mulai memenuhi udara malam. Daging panggang yang perlahan mengeluarkan minyak di atas bara, sup hangat yang mengepul dalam panci besar, serta roti kering yang dipanaskan kembali, semuanya berpadu menjadi wangi yang menggugah selera.

“Makan malam sudah siap!” seru salah satu anggota dengan suara lantang.

Orang-orang yang sebelumnya sibuk langsung berkumpul. Tidak butuh waktu lama, makanan mulai dibagikan. Mereka duduk melingkar mengelilingi api unggun, cahaya oranye dari kobaran api menerangi wajah-wajah yang kini tampak jauh lebih santai.

Namun tidak semua langsung makan. Beberapa pengawal tetap berdiri di posisi masing-masing, mata mereka waspada mengamati kegelapan di sekitar perkemahan. Hanya setelah giliran berganti, barulah mereka akan ikut menikmati makanan.

Suasana makan malam itu terasa hangat. Suara percakapan ringan terdengar di sana-sini. Tawa kecil sesekali pecah, mengiringi cerita perjalanan atau candaan sederhana. Tidak ada ketegangan seperti di medan pertempuran. Malam ini, mereka hanyalah sekelompok orang yang menikmati perjalanan bersama.

Gao Rui duduk di dekat api unggun, mangkuk di tangannya. Ia makan perlahan, bahkan cenderung sedikit.

Di sampingnya, Lan Suya duduk dengan tenang. Wanita itu sejak tadi diam, namun matanya sesekali melirik ke arah Gao Rui. Hingga akhirnya ia menghela napas pelan.

“Kau hanya makan sebanyak itu?”

Gao Rui tersentak sedikit. Ia menoleh, mendapati Lan Suya menatapnya dengan ekspresi datar namun tajam.

“A-ah… cukup kok,” jawabnya, sedikit gugup.

Alis Lan Suya sedikit berkerut.

“Cukup?” ulangnya. “Tubuhmu masih dalam masa pertumbuhan. Jika kau makan seperti itu, bagaimana bisa berkembang dengan baik?”

Nada suaranya tidak keras, namun jelas mengandung teguran.

Gao Rui langsung salah tingkah. Ia menatap mangkuknya, lalu kembali ke Lan Suya.

“Aku… tidak terlalu lapar,” gumamnya pelan.

Lan Suya menatapnya beberapa detik. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengambil sepotong daging dari piringnya dan meletakkannya ke mangkuk Gao Rui.

“Makan yang banyak.”

Singkat dan tegas.

Gao Rui terdiam sejenak, lalu wajahnya sedikit memerah.

“I-iya…” jawabnya pelan, lalu mulai makan lagi, kali ini dengan sedikit lebih cepat.

Di sekitar mereka, beberapa anggota Kelompok Harta Langit saling melirik. Senyum kecil mulai muncul di wajah mereka.

Beberapa bahkan menahan tawa. Interaksi itu terlalu… tidak biasa.

Salah satu pria yang duduk tidak jauh dari mereka sedikit memiringkan tubuhnya, lalu berbisik pelan kepada rekannya di samping.

“Lihat itu…”

Rekannya menoleh sekilas, lalu menyeringai tipis.

“Hm.”

Pria pertama kembali berbisik, suaranya hampir tak terdengar di tengah suara api yang berderak.

“Hanya saat berbicara dengan Tuan Muda saja… Nyonya Ya terlihat seperti manusia biasa.”

Rekannya menahan tawa, bahunya sedikit bergetar.

Sementara itu, di dekat api unggun, Gao Rui masih sibuk dengan makanannya, berusaha mengabaikan tatapan-tatapan yang mulai mengarah padanya.

Dan Lan Suya, ia kembali makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun entah kenapa, suasana di sekitar mereka terasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
sam
Jagoan turun tangan
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍💪💪💪💪🍩🍩🍩🍩☕☕☕🌹🌹🌹
y@y@
👍🏿💥👍🏼💥👍🏿
Hadi Wahyono
hadiah 1 mawar dan vote
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹 lagi
Andi Heryadi
sepertinya Gao Rui akan memberi ginseng seribu tahu buat tuan Shou,agar tuan Shou bisa perkasa dlm mantap2🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!