NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Akar yang Terlupakan

Gerimis tipis sisa semalam menyisakan bau tanah basah yang pekat di area Pemakaman Umum Giriloyo, sebuah kompleks kuburan tua yang terletak jauh di pinggiran kota. Di tempat yang sunyi ini, kepulan asap knalpot dan deru klakson jalanan Jakarta terdengar samar seperti bisikan masa lalu. Hanya suara gesekan daun pohon kamboja dan gesekan arit kecil yang memotong keheningan pagi.

Bramantyo berjongkok di atas tanah merah yang lembap, membersihkan sisa-sisa rumput liar yang tumbuh di sekitar batu nisan marmer putih bertuliskan nama ibunya. Pria yang dulunya selalu tampil necis dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah dan jam tangan mewah itu, kini hanya mengenakan kaos kerah pudar dan celana bahan yang ujungnya kotor terkena cipratan lumpur.

Garis gurat stres dan keriput di dahinya tampak jauh lebih dalam, menceritakan badai besar yang menghancurkan hidupnya dalam hitungan minggu setelah imperium bisnis Dirgantara Perkasa dinyatakan pailit oleh pengadilan korporasi.

Setelah badai kebangkrutan itu menghantam, Bramantyo memilih untuk menghilang tanpa kabar berita. Di mata media massa dan sirkel elite Jakarta, sosok mantan CEO Dirgantara Perkasa itu seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada yang tahu bahwa dengan sisa uang di rekening tabungan pribadinya yang hanya menyisakan beberapa puluh juta rupiah, ia memilih membeli sebuah rumah petak sederhana di dekat kampung pemakaman ibunya.

Di kampung ini, jiwa bisnis keturunan Wirawan yang mengalir di darahnya menolak untuk padam total. Berbekal sisa modal yang seadanya, Bramantyo mendirikan usaha kecil-kecilan: sebuah toko kelontong agen sembako yang melayani kebutuhan warga sekitar. Tentu saja, penghasilannya kini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan masa kejayaannya saat masih mengendalikan omzet triliunan rupiah per semester. Kini, setiap lembar uang sepuluh ribuan dari keuntungan menjual minyak goreng dan beras eceran harus ia hitung dengan teliti demi menyambung hidup.

"Bu..." gumam Bramantyo lirih. Suaranya bergetar hebat, tertahan di tenggorokan yang terasa mencekat. Jemarinya yang kini mulai kasar dan mengelupas di beberapa bagian mengusap permukaan marmer nako yang dingin. Sentuhan itu begitu gemetar, seolah ia sedang menyentuh pipi ibunya yang telah tiada. Kedua matanya yang sembap dan merah menatap kosong ke arah deretan huruf di nisan itu, sementara setitik air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, jatuh tepat di atas ukiran nama sang ibu.

"Bram salah. Semua yang dibilang Ayah dulu... ternyata benar. Maafkan aku, Bu." Bramantyo mencengkeram rumput di samping nisan hingga jemarinya memutih, menyalurkan rasa sesak yang menghantam dadanya. Bibir bawahnya bergetar hebat saat ia berusaha melanjutkan kata-katanya.

"Aku tak pernah mendengar kata-kata kalian untuk tidak menikahi Rania. Aku terlalu dibutakan oleh cinta, tapi sekarang tidak, Bu. Setelah pengkhianatan itu, aku tidak sudi lagi melihatnya. Aku telah membuangnya, Bu." Matanya mendadak menyalang perih, memancarkan amarah yang bercampur dengan kehancuran batin yang teramat sangat. Sudut matanya berkedut menahan luapan emosi yang menguras seluruh tenaganya.

"Aku benar-benar menyesal. Bu, aku malu untuk bertemu Ayah." Kepala Bramantyo terkulai lemas, menunduk hingga dahinya hampir menyentuh dinginnya batu marmer. Bahunya yang dulu tegap kini berguncang hebat.

"Tapi jujur Bu, aku kasihan sama dia. Aku belum pernah kembali ke rumah itu sejak pengumuman perusahaan kita pailit. Aku malu, Bu... tidak bisa menjaga amanah dan kepercayaan kalian. Aku benar-benar bodoh, hiks..." Tangisnya pecah. Isak yang bising dan menyedihkan keluar dari mulutnya yang tertutup telapak tangan, mencoba menyembunyikan kehancurannya dari kesunyian makam. Air matanya mengalir deras, membasahi tanah merah di bawahnya.

"Bodoh karena terlalu percaya sama orang-orang korporasi yang bermuka dua," bisiknya dengan sisa napas yang memburu. Matanya terpejam rapat, menyembunyikan tatapan seorang pria yang telah kehilangan segala-galanya, menyisakan raut wajah yang begitu kuyu dan menua belasan tahun dari usia aslinya.

Rasa penyesalan yang mendalam terus menggedor-gedor dinding batinnya setiap kali ia mengingat raut wajah keras Wirawan Dirgantara saat mendepaknya keluar dari jajaran direksi. Namun, untuk kembali dan mengakui kesalahannya langsung di hadapan sang maestro bisnis, ego dan rasa malunya sebagai seorang anak laki-laki terlalu besar menahan langkahnya. Ia merasa telah menjadi produk gagal terbesar dari silsilah keluarga Dirgantara.

Bramantyo menarik napas panjang yang terdengar sangat berat dan tidak stabil, mencoba meredakan detak jantungnya yang seolah berpacu dengan rasa sakit.

"Bram cuma kepikiran Elang sekarang, Bu," bisik Bramantyo lagi. Suaranya mendadak parau dan mengecil, nyaris habis tertelan angin pagi. Tatapan matanya yang sayu kini menerawang jauh ke langit abu-abu di atas pemakaman. Kedua tangannya yang berlumur tanah basah kini meraba dadanya sendiri, meremas kaos pudar yang dikenakannya seolah-olah tindakan itu bisa mengurangi rasa sesak yang mencekik rongga dadanya.

"Anak itu... Bram nggak tahu dia sekarang ada di mana." Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman getir yang sangat menyayat hati—sebuah senyum keputusasaan.

"Bram cuma bisa berdoa, semoga mentalnya nggak sehancur ayahnya ini." Setetes air mata terakhir mengalir lambat melewati pipinya yang cekung, jatuh menetes di atas tanah makam yang sunyi.

Bramantyo berdiri, mengibaskan debu tanah di celananya dengan gerakan pelan.

*

Pukul 10.00 pagi, atmosfer di dalam ruang kelas besar Fakultas Ekonomi Universitas Dirgantara terasa begitu menekan bagi Citra Kencana.

Sejak jam kuliah pertama dimulai, sepasang mata bulatnya yang memiliki ketajaman kanuragan mendeteksi adanya pergerakan sosial yang tidak wajar di sekeliling baris kursinya.

Di deretan kursi bagian belakang, Natasha berulang kali berbisik dengan Samudra sembari melemparkan pandangan licik yang sarat akan niat busuk. Kehadiran kilat layar ponsel Natasha yang terus menampilkan ruang obrolan grup rahasia kian menegaskan analisis Citra bahwa sebuah jebakan sedang dirancang untuk menjatuhkannya pagi ini.

Saat jam istirahat berbunyi dan seluruh mahasiswa mulai berhamburan keluar ruangan untuk menuju kantin, Citra sengaja menahan diri. Ia berpura-pura sibuk merapikan buku teks tebalnya ke dalam tas kanvas, membiarkan ruang kelas perlahan-lahan kosong. Dari sudut pandangnya, ia melihat Samudra sengaja berjalan melintasi mejanya dengan langkah kaki yang terburu-buru, lalu dengan gestur yang sangat teatrikal, menyenggol ujung meja Citra hingga beberapa lembar kertas tugas kuliahnya berserakan di atas lantai keramik.

"Oh, sori. Nggak sengaja, cewek pintar," ucap Samudra dengan nada meremehkan yang dibuat-buat, tanpa ada niat sedikit pun untuk membantu memungut kertas tersebut.

Di saat fokus Citra terbagi untuk melihat kertas yang berserakan, gerakan tangan Natasha yang berada di belakang tubuh Samudra bergerak dengan kecepatan tipis yang terlatih sebagai seorang selebram yang biasa memanipulasi sudut kamera.

Dengan gerakan sangat senyap, Natasha menyelinap di sela-sela meja dan memasukkan sebuah amplop cokelat tebal berlogo "DOKUMEN RAHASIA DEKANAT: BOCORAN SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER" ke dalam kompartemen ritsleting depan tas kanvas milik Citra yang sedang terbuka.

Eksekusi jebakan itu selesai dalam waktu tiga detik. Natasha mundur setengah langkah, menyunggingkan senyum kemenangan yang luar biasa puas ke arah Samudra, memberi kode kilat bahwa barang bukti palsu itu telah sukses diselundupkan. Rencana mereka sangat sederhana namun mematikan: beberapa menit lagi, pihak keamanan kampus atas laporan "anonim" akan melakukan sidak acak, dan reputasi akademik Citra sebagai anak emas dosen akan hancur berantakan akibat tuduhan pencurian dokumen negara.

Namun, baik Natasha maupun Samudra tidak pernah menyadari satu hukum fisik yang absolut: Elang yang duduk di sudut ruangan yang berbeda, sejak awal telah mengunci fokus matanya pada gerak-gerik mereka.

Refleks mental Elang yang mulai menajam akibat tempaan latihan refleks dari Citra semalam membuatnya mampu membaca keganjilan dari setiap distorsi gerakan tubuh di sekitarnya. Ia melihat bagaimana pundak Natasha berotasi secara tidak wajar saat mendekati tas Citra, sebuah indikasi nyata dari tindakan penyusupan fisik yang baru saja ia pelajari teorinya dari Citra di bawah lampu taman.

Elang bangkit dari kursinya. Meskipun paha dan betisnya masih terasa kaku dan jalannya agak kaku akibat sisa kram latihan kuda-kuda, poros tubuhnya bergerak dengan ketegasan yang lurus. Ia melangkah memotong jalur jalan Natasha dan Samudra tepat di depan pintu keluar kelas yang mulai sepi.

"Mau ke mana lo berdua?" tanya Elang, suaranya berat, dingin, dan memancarkan wibawa baru yang membuat langkah kaki Samudra mendadak terhenti secara refleks.

Samudra mendengus kesal, mencoba menutupi rasa gugupnya dengan gertakan verbal yang biasa ia gunakan. "Bukan urusan lo, pangeran sate usus! Minggir dari depan pintu, jangan sampai kaki lo yang pincang itu makin parah karena nyari masalah sama gue."

Elang tidak membalas provokasi murahan tersebut. Mata tajamnya melirik sekilas ke arah ritsleting tas kanvas Citra yang sedikit menganga, menampilkan sudut amplop cokelat yang sengaja ditaruh oleh Natasha.

Logika Elang yang cerdas langsung bisa menyimpulkan skenario kotor apa yang sedang dimainkan oleh sirkel beracun ini untuk menghancurkan satu-satunya gadis yang peduli pada kebangkitannya.

Amarah sempat bergejolak di dinding dada Elang, namun ia teringat pesan Citra semalam: Kekuatan sejati itu bukan tentang seberapa keras lo bisa memukul, tapi tentang seberapa mutlak lo bisa mengendalikan diri.

Dengan gerakan tangan yang tenang namun memiliki kecepatan refleks yang konstan, Elang melangkah mendekati meja Citra. Sebelum Citra sempat menegakkan tubuhnya setelah mengambil kertas di lantai, jemari kasar Elang sudah bergerak masuk ke dalam ritsleting tas kanvas tersebut, menyambar amplop cokelat itu dengan satu sentakan cepat, lalu menyembunyikannya di balik lipatan jaket denim pudar yang dikenakannya.

Citra yang baru saja berdiri langsung menangkap pergerakan tangan Elang. Sepasang mata bulatnya berkilat tajam, menyadari ada sesuatu yang tidak beres yang baru saja terjadi di atas mejanya.

Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan pertanyaan, suara hentakan sepatu bot yang berat dari arah koridor luar mendadak memotong atmosfer ruangan.

Dua orang petugas keamanan kampus berpakaian seragam lengkap, didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, melangkah masuk ke dalam ruang kelas dengan wajah yang teramat serius.

"Mohon perhatiannya. Kami menerima laporan mengenai hilangnya dokumen rahasia soal ujian akhir dari ruang dekanat pagi ini," ujar Wakil Dekan dengan suara lantang, matanya langsung menyapu ke arah Citra Kencana yang berdiri di tengah ruangan.

"Sesuai prosedur, kami harus melakukan pemeriksaan acak terhadap tas milik mahasiswa yang berada di ruangan ini sebelum jam istirahat selesai. Saudari Citra Kencana, harap letakkan tas Anda di atas meja untuk diperiksa."

Natasha yang melihat kedatangan pihak dekanat langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, bersiap menyaksikan kehancuran Citra dengan senyuman licik yang kian melebar di sudut bibirnya. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana beasiswa Citra akan dicabut dan gadis itu akan diarak keluar dari gerbang kampus dengan predikat seorang pencuri.

Citra tetap tenang. Tanpa ada riak ketakutan sedikit pun di wajahnya, ia menggeser tas kanvasnya ke tengah meja, mempersilakan petugas keamanan untuk membuka seluruh kompartemen ritsletingnya.

Petugas pertama mulai merogoh bagian dalam tas, mengeluarkan beberapa buku catatan kuliah, wadah pensil, dan botol air mineral milik Citra. Mereka memeriksa setiap sudut lipatan kain dengan teliti, termasuk kompartemen depan tempat Natasha menyelundupkan amplop cokelat tadi.

Satu menit berlalu dalam keheningan yang mencekam.

"Kosong, Pak. Tidak ada dokumen apa pun di dalam tas ini," lapor petugas keamanan tersebut setelah menyelesaikan pemeriksaannya.

Senyum di wajah Natasha membeku seketika.

Sepasang matanya melebar karena syok yang luar biasa hebat. Ia menoleh ke arah Samudra dengan tatapan panik, sementara Samudra sendiri sama-sama terperangah tidak percaya.

Nggak mungkin! Gue lihat sendiri tadi amplopnya sudah masuk ke dalam tas itu! teriak batin Natasha yang mulai didera rasa cemas yang mendalam.

"Pemeriksaan selesai. Laporan anonim itu tampaknya tidak akurat. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Saudari Citra," ucap Wakil Dekan sebelum berbalik badan mengajak tim keamanan untuk meninggalkan ruangan.

Begitu rombongan dekanat keluar dari pintu kelas, Elang melangkah maju tepat di hadapan Natasha dan Samudra. Dengan gerakan yang lambat namun penuh tekanan intimidasi, ia mengeluarkan amplop cokelat dari balik jaket denimnya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas meja di depan dada Natasha.

"Gonggongan an-jing kalian... ternyata cuma menghasilkan trik murahan kayak gini?" bisik Elang, suaranya sangat rendah namun sarat akan nada ancaman yang membuat bulu kuduk Natasha berdiri tegak.

"Lo berdua salah memilih lawan. Sekali lagi lo coba-coba menyentuh Citra dengan cara kotor seperti ini... gue sendiri yang akan memastikan hidup lo berdua di kampus ini berubah jadi neraka yang sesungguhnya."

Samudra mencengkeram amplop cokelat itu dengan tangan yang gemetar halus karena perpaduan rasa malu dan amarah yang menumpuk di ulu hatinya. Ia ingin membalas kata-kata Elang, namun sorot mata baru milik mantan pangeran kampus itu begitu mengikat hingga membuat tenggorokannya tercekat tanpa mampu mengeluarkan satu vokal pun.

Elang berbalik badan, menyambar tas ranselnya sendiri, lalu melangkah keluar kelas dengan punggung yang tegak lurus, mengabaikan sisa rasa kram di kakinya yang kini terasa seperti tanda kehormatan baru bagi ketangguhan jiwanya.

Citra Kencana berdiri mematung di samping mejanya, menatap punggung Elang yang perlahan menghilang di balik tikungan koridor luar.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal pemuda manja tersebut, ada seulas senyum kepuasan yang murni yang terukir di sudut bibir ranum Citra. Jiwa Nyai Kencana di dalam raganya mendadak menangkap frekuensi yang sangat kokoh: murid barunya telah resmi menembus batas ego dan mulai bertransformasi menjadi seorang pelindung sejati yang siap bertarung di medannya yang baru.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!