Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Sesuap Nasi dan Sumpah di Atas Tanah
Langkah kaki Bramantyo terasa jauh lebih berat sore itu, bukan hanya karena beban tubuh paruh bayanya yang lelah setelah berjalan kaki dari area makam mendiang ibunya, melainkan karena tanggung jawab moral yang mendadak runtuh di pundaknya.
Di sampingnya, Sekar melangkah dengan tubuh yang masih sesekali tersentak kecil karena sisa syok.
Jaket kain pudar milik Bramantyo membungkus rapat tubuh ramping gadis itu, menyembunyikan pakaian sederhananya yang robek akibat kebiadaban dua preman kampung beberapa menit lalu saat matahari senja mulai tenggelam di cakrawala.
Sebelum mereka benar-benar melintasi batas gapura perkampungan di waktu magrib yang kian menggelap, Bramantyo menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah dengan papan kayu hijau bertuliskan "KANTOR KETUA RT 04".
Ia tahu betul, di tempat asing yang mengedepankan norma komunal yang ketat seperti ini, membawa seorang gadis muda yang bukan muhrim masuk ke dalam rumah petaknya menjelang malam hari adalah tindakan bunuh diri sosial.
Bramantyo mengetuk pintu kayu rumah tersebut dengan ketukan yang tegas dan teratur. Tak lama kemudian, pintu terbuka, memunculkan sosok pria paruh baya berkaos oblong putih dengan sarung yang melilit pinggangnya. Itu Pak joko, Ketua RT setempat.
"Loh, Pak Bram? Ada apa malam-malam begini? Dan ini... Nak Sekar kenapa?" tanya Pak Joko, matanya langsung menyipit penuh selidik saat melihat kondisi Sekar yang berantakan dan lengan kemeja Bramantyo yang bersimbah darah segar.
"Pak RT, maaf mengganggu waktunya," ucap Bramantyo, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan wibawa yang membuat Pak Joko langsung mendengarkan dengan serius.
"Tadi saya tidak sengaja berpapasan dengan Nak Sekar di dekat area pemakaman Giriloyo. Dia hampir saja menjadi korban kejahatan oleh dua preman kampung yang mabuk. Saya terpaksa mengambil tindakan untuk menghalau mereka. Salah satu preman terluka di bagian wajahnya dan mereka kabur ke arah semak luar."
Mendengar hal itu, wajah Pak Joko langsung menegang penuh amarah.
"Kurang ajar! Preman-preman itu memang sudah sering meresahkan warga kalau malam. Baik, Pak Bram. Saya akan kumpulkan pemuda karang taruna sekarang juga untuk menyisir keberadaan mereka."
Bramantyo mengangguk, lalu melirik ke dalam rumah Pak RT.
"Satu hal lagi, Pak RT. Saya berniat membawa Nak Sekar ke rumah saya untuk mengobati luka-lukanya dan menenangkan jiwanya yang terguncang. Namun, saya tidak mau ada fitnah atau kesalahpahaman di kalangan warga kampung ini. Jika berkenan, apakah Bu RT bisa ikut menemani kami di rumah saya selama proses pengobatan?"
Dari balik punggung Pak Joko, seorang wanita paruh baya bertubuh sedikit gempal melangkah maju dengan wajah penuh rasa iba. Itu Bu RT.
"Astaga, Sekar sayang... kok bisa jadi begini? Baik, Pak Bram, biar saya yang menemani Sekar. Pak, buruan panggil anak-anak ronda!" perintah Bu RT sembari langsung merangkul pundak Sekar dengan hangat, menuntun gadis itu menuju ke arah rumah petak sederhana milik Bramantyo.
**
Di dalam ruang tengah rumah petak Bramantyo yang hanya beralaskan tikar plastik tipis, suasana terasa begitu sunyi. Cahaya lampu neon kuning yang redup menerangi ruangan yang hanya berisi satu set meja kayu kecil dan tumpukan beberapa kardus sembako di sudut ruangan.
Bramantyo duduk di atas kursi kayu pendek, membiarkan Bu RT dengan telaten membersihkan luka goresan pecahan botol di lengan atasnya menggunakan cairan antiseptik dan kapas.
Sekar meringgis kecil saat rasa perih yang tajam menyengat kulitnya, sebagian tangannya baret-baret kemungkinan karena para preman itu dengan kasar mendekap dan menjatuhkannya di atas rerumputan. Bu RT dengan telaten, memberikan obat merah pada area kulit sekar yang luka.
"Terima kasih banyak, Pak Bram... kalau nggak ada Pak Bram tadi, saya nggak tahu lagi nasib saya sekarang gimana," lirih Sekar, suaranya bergetar halus sembari kedua tangannya mencengkeram tangan Bu RT menahan rasa perih.
"Sudah lah. Itu sudah tugas, sebagai tetanggamu untuk saling menjaga. Jangan terlalu dipikirkan yang penting sekarang kamu aman di sini," jawab Bramantyo lembut.
Sekar menundukkan kepalanya, setelah seluruh lukanya tertutup obat merah Bu RT memberikan segelas teh pada Sekar.
Sekar menatap permukaan teh yang beriak pelan. Entah karena atmosfer ruangan yang sunyi atau karena rasa aman yang baru pertama kali ia rasakan setelah sekian lama, air mata gadis itu kembali menetes satu demi satu, jatuh membasahi tikar plastik.
"Dengan apa aku harus membalas bapak. Selama ini bapak selalu menolong saya, memberikan beras, lauk pauk. Saya kadang malu pak, bapak terlalu baik bagi saya. Bagai seorang malaikat."
Bramantyo tidak berkomentar dia membiarkan Sekar untuk mencurahkan semua yang ada di dalam dadanya. Bu RT hanya mampu menyeka air matanya. Dia sangat tahu bagaimana kehidupan Sekar selama ini.
"Hiks.... Makasih banyak Pak. Jujur saja, sejak Ayah dan Ibu meninggal, saya seperti kehilangan arah," curhat Sekar lirih, membuka lembaran hitam kemiskinan yang selama ini ia kunci rapat di dalam hatinya.
"Dulu... waktu Ayah masih hidup dan mulai sakit-sakitan, kami bahkan sering menahan lapar berhari-hari. Ayah dipaksa tetap menarik becak meskipun dadanya sudah sesak, hanya demi mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah... hanya untuk sekadar membeli sepiring nasi yang harus dibagi tiga dengan Ibu."
Sekar menyeka air matanya dengan ujung jaket milik Bramantyo, suaranya kian serak oleh rasa perih kenangan masa lalu.
"Ibu sering menangis di sudut dapur yang kosong karena nggak punya apa-apa untuk dimasak. Orang-orang miskin seperti saya ini, mungkin hanya bagi beban bagi mereka. Dan hanya Bapak, dan keluarga Pak RT-lah yang selama ini baik. Demi bertahan hidup, saya harus bekerja memburuh cuci baju dari rumah ke rumah dari subuh sampai sore, tapi upahnya seringkali cuma cukup untuk membeli beberapa butir telur dan beras eceran yang kutuan."
Mendengar setiap baris kalimat yang meluncur dari bibir Sekar, dinding dada Bramantyo mendadak terasa seperti teriris oleh sebilah pisau yang teramat tajam. Rasa sesak yang luar biasa hebat menghantam ulu hati kesadarannya.
Ia teringat masa-masa kejayaannya saat masih menjabat sebagai CEO Dirgantara Perkasa di Jakarta beberapa bulan lalu. Di dunia elite lamanya, uang puluhan juta rupiah seringkali habis hanya dalam waktu satu malam untuk membayar tagihan botol minuman keras di kelab malam mewah, atau untuk membelikan hadiah barang-barang bermerek bagi kolega bisnisnya yang bermuka dua.
Ia menghambur-hamburkan kekayaan tanpa pernah memikirkan nilai dari selembar uang kertas, sementara di sudut bumi yang lain, di dekat makam ibunya sendiri, ada saudara sebangsanya yang harus bertaruh nyawa dan menahan lapar berhari-hari hanya demi sesuap nasi.
Gue benar-benar manusia picik di masa lalu, maki Bramantyo di dalam hatinya yang paling dalam, matanya memanas menahan rasa bersalah yang luar biasa pekat terhadap esensi kehidupan.
Penyesalannya terhadap didikan keras ayahnya, Wirawan Dirgantara, kini bermutasi menjadi sebuah kesadaran spiritual yang baru: kebangkrutan ini bukanlah kutukan, melainkan sebuah cara dari takdir untuk membersihkan jiwanya yang telah membusuk oleh gelimang harta.
Bu RT yang sejak tadi menyimak obrolan tersebut sembari merapikan sisa perban di lengan Sekar, mengembuskan napas panjang lalu menatap Bramantyo dengan binar mata penuh selidik khas wanita paruh baya perkampungan.
"Nah, mangkanya itu, Pak Bram... Nak Sekar ini anaknya rajin, jujur, dan berkelakuan baik. Tapi kasihan kalau harus terus memburuh cuci baju dengan kondisi lingkungan yang makin nggak nyaman begini," ucap Bu RT sembari melirik ke arah Sekar yang kembali menunduk malu.
"Toko agen sembako Pak Bram kan sekarang makin ramai, sering saya lihat Pak Bram kewalahan sendirian mengatur pembukuan dan mengangkat barang. Bagaimana kalau Nak Sekar ini diangkat saja jadi pembantu di rumah ini, atau ditugaskan buat mengurus toko sembakonya?"
Bramantyo terdiam sejenak, menimbang usulan tersebut dengan logika bisnisnya yang mulai kembali jernih. "Itu ide yang bagus, Bu RT. Kebetulan saya memang butuh orang yang teliti untuk menjaga kasir toko saat saya harus pergi mengambil pasokan barang ke pasar induk."
Bu RT tersenyum lebar, lalu memajukan tubuhnya sedikit ke arah Bramantyo dengan gurat seringai menggoda yang membuat atmosfer ruangan yang tadinya tegang mendadak berubah menjadi canggung.
"Atau... kalau mau lebih praktis lagi, Nak Sekar ini bisa dijadikan istri saja sama Nak Bramantyo. Toh Nak Sekar ini berparas cantik, sopan, dan masih sendiri, kan? Nak Bram juga hidup menduda dan sebatang kara di sini. Cocok toh? Biar ada yang mengurus hidup dan masa depan kalian berdua dari dasar rumah ini."
Mendengar godaan spontan dari Bu RT, wajah Sekar langsung memerah padam akibat rasa malu yang luar biasa hebat. Ia menyembunyikan wajahnya di balik cangkir tehnya, tidak berani mengangkat pandangan matanya sedikit pun.
Bramantyo sendiri langsung terbatuk kecil, salah tingkah menghadapi celetukan blak-blakan dari istri ketua RT tersebut.
"Ah... Bu RT bisa saja bercandanya. Saya ini sudah tua, Bu, gurat keriputnya sudah banyak. Yang penting sekarang kita fokus dulu menyelamatkan masa depan hidup Sekar lewat pekerjaan di toko."
Meskipun menepis godaan itu dengan tawa kecil yang kasual, di dalam hati Bramantyo, kehadiran Sekar malam itu telah resmi menanam sebuah benih tanggung jawab baru yang membuat jiwa bisnisnya kembali menyala penuh tekad: ia harus memperbesar usaha sembakonya ini, bukan lagi untuk pamer kemewahan seperti dulu, melainkan untuk memastikan tidak ada lagi air mata kemiskinan yang jatuh di bawah atap perlindungannya.
***
Sementara itu, di belahan sudut kota yang lain, atmosfer di Angkringan Tenda Arema telah sepenuhnya dikunci oleh keheningan tengah malam.
Setelah bentangan terpal plastik biru-oranye selesai digulung dan diikat kuat pada gerobak kayu milik Surya, Citra Kencana melangkah dengan ritme yang tenang menuju ke area taman mati yang terbengkalai di bagian belakang kompleks kompleks hunian kos-kosan.
Elang mengikuti dari belakang dengan langkah kaki yang kaku, sesekali meringis kecil menahan perih akibat memar kebiruan yang memenuhi kedua lengan bawahnya, ditambah dengan sisa kram di otot pahanya yang belum sepenuhnya pulih.
Namun, binar matanya malam ini memancarkan rasa percaya diri yang berlebihan, sebuah letupan ego muda yang membuncah setelah sore tadi berhasil merubuhkan Wijaya Samudra hanya dalam satu pukulan pendek di lorong pasar induk.
Begitu mereka tiba di bawah siraman cahaya temaram dari sebatang tiang lampu taman yang berkarat, Elang langsung mengambil posisi siaga. Ia menatap Citra dengan cengiran tipis yang penuh kemenangan.
"Cit, lo harus tahu apa yang terjadi di pasar induk sore tadi," ujar Elang, suaranya terdengar sombong dan penuh gairah.
"Samudra dan geng motornya mencegat gue sama Surya. Tapi gue lawan saja mereka, walaupun Samudra membawa pipa besi. Gue berhasil mengalahkannya sesuai dengan yang lo ajarkan ke gue. Gue mampu menembah arah gerakan tangannya, gue turunkan poros, tangkis pergelangan tangannya, lalu bugh! Satu pukulan langsung bikin dia berlutut megap-megap di tanah. Yang lo ajarkan benar-benar bekerja!"
Elang menantikan sebuah pujian, seulas senyuman, atau setidaknya anggukan kepala penuh pengakuan wibawa dari gadis beasiswa di hadapannya. Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh Citra Kencana justru sebaliknya.
Sepasang mata bulat milik Citra mendadak berkilat memancarkan binar tajam yang teramat dingin, pekat, dan mematikan di kegelapan taman. Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan lisan sedikit pun, tubuh ramping Citra bergerak maju dengan kecepatan drastis yang melampaui batas kecepatan normal pandangan mata Elang.
Plak!
Sebuah tamparan pendek namun memiliki bobot tekanan tenaga yang sangat padat mendarat telat di pipi kiri Elang, menimbulkan suara debukan yang berat yang menggema di keheningan taman mati.
Elang tersentak hebat, tubuhnya terdorong mundur dua langkah hingga hampir kehilangan keseimbangan. Rasa panas yang membakar langsung menjalar di permukaan kulit pipinya yang mendadak memerah samar. Matanya melebar karena syok, bercampur dengan rasa bingung dan amarah yang mulai bergolak di dinding dadanya.
"Cit! Apa-apaan lo?! Kenapa lo malah memukul gue?!" bentak Elang, suaranya meninggi menahan rasa perih.
"Karena lo sudah merasa hebat. Justru kesombongan itulah yang akan menghancurkanmu. Kejadian sore tadi itu belum seberapa dengan tantangan yang bakal lo hadapi ke depan yang akan semakan berat, Elang?" cicit Citra suaranya sangat rendah, jernih, namun memiliki bobot dingin yang langsung membekukan sisa kesombongan di dalam batin Elang.
Gadis itu berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
"Gue kan cuma membela diri, Cit! Mereka bawa senjata, mereka mau mematahkan kaki gue!" bela Elang, urat lehernya menegang menahan rasa tidak terima.
"Iya gue paham. Kamu pahami maksud gue, kamu jangan berbangga diri dulu dan jangan sombong, itu intinya. Karena yang lo hadapi bukan Samudra dan kawan-kawannya, ada mungkin musuh yang tersembunyi yang jauh lebih berbahaya dari itu. Camkan itu!" potong Citra cepat, tatapan matanya mengunci tepat pada manik mata Elang, menelanjangi motif terdalam dari batin pemuda tersebut tanpa ampun.
Elang membeku seutuhnya. Kalimat terakhir Citra terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh dinding pertahanan egonya. Citra melangkah maju satu depa, menatap Elang dengan pandangan yang sarat akan peringatan yang teramat berbobot.
"Jangan pernah mengandalkan atau mengharapkan bantuan dari luar, Elang! Tidak selamanya orang-orang di balik bayang-bayang itu akan mengasihi atau menyelamatkan raga lo saat badai yang sebenarnya tiba. Di dunia nyata yang kejam ini, begitu jaringan pengaman itu terputus, lo hanya akan memiliki diri lo sendiri di atas tanah keras."
Citra mengangkat sebatang ranting pohon kecil yang baru dari atas tanah, memosisikannya tepat di depan dada Elang.
"Karena lo sudah sombong, meski baru memiliki keahlian seupil, malam ini hukuman lo adalah menembus batas ketahanan yang sesungguhnya. Kita naikkan level latihannya ke tahap transisi energi batin. Buka kaki lo dua kali lebih lebar dari semalam. Turunkan poros tubuh lo sampai sejajar dengan lutut. Jangan bergerak, jangan berkedip, sampai fajar pertama menyentuh terpal angkringan."
Mendengar titah dingin tersebut, Elang tidak lagi memiliki nyali untuk membantah. Kesadaran baru merayap di dalam rongga dadanya: Citra benar.
Sore tadi ia selamat bukan karena ia sudah kuat, melainkan karena ia masih dinaungi oleh keberuntungan dan kebetulan dari pelindung misterius yang tidak ia ketahui identitasnya. Jika ia terus bermanja pada rasa aman yang semu itu, ia tidak akan pernah bertransformasi menjadi seorang pria yang mandiri.
Elang menarik napas panjang lurus melintasi rongga dadanya, mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga giginya berkerit. Ia menurunkan poros tubuhnya secara drastis, mengunci kedua lututnya membentuk posisi kuda-kuda rendah yang paling ekstrem, membiarkan otot pahanya kembali menjerit didera siksaan rasa sakit yang luar biasa hebat. Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahi, membasahi kaos oblong pudarnya di tengah malam yang dingin.
Citra berdiri di sampingnya dalam kesunyian yang magis, mengawasi setiap getaran saraf otot Elang dengan ketegasan tanpa iba.
[BERSAMBUNG]
like+ bunga🌹🤭
kalo berkenan mampir ya thor😉