Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERUBAHAN MENJADI WUJUD MONSTER
Indah yang melihat Rian dicekik langsung panik.
"Hei, lepaskan dia dulu!"
Ia berusaha menarik tangan teman sekelasnya yang masih mencengkeram leher Rian.
Namun gadis itu sedang terbawa emosi.
Tangannya justru menepis tangan Indah.
"Masih membelanya setelah bermain-main dengan pedang yang dia berikan?"
Indah berkedip bingung.
"Aku hanya mencoba pedang yang diberikan Rian..."
"Pedangnya besar dan aku penasaran dengan kemampuannya."
Mendengar penjelasan yang masih setengah-setengah itu, wajah teman sekelasnya semakin merah.
Cengkeramannya malah bertambah kuat.
Rian mulai batuk-batuk.
"Khuk... khuk..."
"Indah... tolong jelaskan dengan benar..."
"Aku benar-benar tidak melakukan apa pun..."
Indah yang baru sadar letak kesalahpahaman nya langsung mengangguk cepat.
"Iya!"
"Rian hanya memberiku pedang es yang dia temukan di dungeon."
"Aku mencoba mengayunkannya dan menghabiskan terlalu banyak energi sampai pingsan."
Seketika suasana menjadi hening.
Cengkeraman di leher Rian perlahan mengendur.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
Teman sekelas itu menoleh ke arah Indah.
Indah mengerucutkan bibirnya.
"Aku sudah bilang dari tadi..."
"Kalian saja yang salah mengerti."
Beberapa murid langsung menoleh ke arah lain dengan wajah canggung.
Rian mengusap lehernya sambil batuk pelan.
"Untunglah akhirnya selesai juga..."
Teman sekelas yang tadi mencekiknya segera membungkuk.
"Maaf, Rian."
"Aku salah paham."
Rian tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa."
"Yang penting semuanya sudah jelas."
Suasana yang sebelumnya tegang akhirnya kembali tenang.
Namun belum lama mereka beristirahat, sebuah layar biru muncul di hadapan seluruh orang yang selamat.
[Sistem Pemulihan Aura]
Tulisan bercahaya itu membuat semua orang terdiam.
"Selamat kepada kalian yang berhasil bertahan hidup."
"Dan selamat kepada mereka yang memperoleh hadiah dari dungeon."
Suara sistem kembali terdengar.
"Aku datang sesuai janjiku untuk memberikan informasi tambahan."
"Pertama."
"Fitur penyimpanan telah diaktifkan."
"Kalian dapat menyimpan berbagai barang ke dalam ruang penyimpanan sistem."
"Ukuran ruang penyimpanan dapat ditingkatkan melalui berbagai cara di masa depan."
Semua orang langsung memperhatikan dengan serius.
"Kedua."
"Wheel atau roda keberuntungan telah diturunkan ke dunia."
"Kalian dapat memperoleh berbagai hadiah dengan memutar roda tersebut."
"Ketiga."
"Pedagang telah diturunkan."
"Kalian dapat menemukan mereka di Zona Aman."
"Selama berada di Zona Aman, kalian tidak akan diserang oleh zombie maupun monster."
Mata para murid langsung berbinar.
Akhirnya ada tempat yang benar-benar aman.
"Terakhir."
"Item dibagi menjadi beberapa tingkatan."
"Normal."
"Langka."
"Elite."
"Epik."
"Legenda."
"Semakin tinggi tingkatan suatu item, semakin besar pula kekuatan yang dimilikinya."
Setelah memberikan penjelasan tersebut, layar biru perlahan memudar.
"Informasi berikutnya akan diberikan pada waktu yang tepat."
"Bertahan hiduplah."
Dan sistem pun menghilang.
Semua orang mulai mendiskusikan informasi yang baru mereka dengar.
Rian melirik layar ponselnya.
Meski tidak ada sinyal, jam masih berjalan normal.
22:07.
"Sudah malam."
"Kita istirahat dulu."
Tidak ada yang membantah.
Hari yang panjang itu akhirnya berakhir.
...
Keesokan paginya.
Selasa.
Seluruh kelompok berkumpul di depan pintu gudang.
Rian berdiri paling depan.
"Hari ini kita akan keluar dari sekolah."
"Kita perlu mencari persediaan dan melihat keadaan di luar."
Andreas langsung tersenyum.
"Bagus."
"Aku juga ingin mencoba kekuatan baru ini."
Ia memejamkan mata.
Perlahan sisik merah menyala muncul di lengan dan lehernya.
Kuku-kukunya memanjang.
Pupil matanya berubah menyerupai ular.
Panas samar mulai menyebar dari tubuhnya.
"Kalau begitu, biarkan aku membuka jalan."
Andreas mengepalkan tinjunya dan hendak menghancurkan pintu gudang.
Namun tiba-tiba Indah berdiri di depannya.
"Jangan."
Andreas berkedip.
"Kenapa?"
"Kalau pintunya rusak, siapa yang ganti?"
Semua orang terdiam beberapa detik.
Andreas perlahan menurunkan tinjunya.
"...Masuk akal."
Akhirnya ia membuka pintu secara normal.
Begitu pintu terbuka.
GRRRRR...
Beberapa zombie langsung menoleh ke arah mereka.
Andreas tidak menunggu lebih lama.
Tubuhnya melesat ke depan.
Tinju kanannya menghantam kepala zombie pertama.
BRAK!
Zombie itu terpental ke dinding.
Dua zombie lain langsung menerjang.
Salah satunya berhasil menggigit lengan Andreas.
Namun Andreas tidak panik.
Sisik merah di lengannya memanas.
Api menyala dari sela-sela sisiknya.
WHOOSH!
Tubuh zombie itu langsung terbakar.
Andreas terus bergerak di tengah kerumunan zombie.
Meski berhasil mengalahkan mereka, napasnya mulai berat.
Keringat membasahi dahinya.
Beberapa menit kemudian koridor akhirnya kembali sunyi.
Andreas bersandar ke dinding.
"Huff..."
"Kekuatan ini memang hebat."
"Tapi menguras stamina cukup banyak."
Budi berjalan mendekatinya.
"Kalau begitu biar aku coba."
Api merah mulai muncul dari tubuhnya.
Ototnya membesar.
Bulu-bulu merah tumbuh menutupi kulitnya.
Dalam beberapa detik, sosok manusia itu berubah menjadi harimau raksasa yang diselimuti api.
Semua murid menatap dengan kagum.
Rian memperhatikan perubahan itu dengan serius.
"Transformasi penuh..."
gumamnya.
Sebelum Budi maju, Andreas menahan pundaknya.
"Hati-hati."
"Semakin banyak kekuatan roh yang digunakan, semakin cepat stamina terkuras."
Budi mengangguk.
"Aku mengerti."
Ia melangkah menuju koridor yang lebih jauh.
Tak lama kemudian suara benturan dan geraman zombie kembali terdengar.
BRAK!
BOOM!
GRRR!
Namun setelah beberapa menit, semuanya kembali sunyi.
Langkah kaki berat terdengar mendekat.
Sosok harimau api muncul dari ujung koridor.
Di tangan kanannya tergantung tubuh zombie yang sudah tidak bergerak.
Semua orang langsung mengenalinya.
Pak Bira.
Guru biologi mereka.
Budi melemparkan tubuh zombie itu ke lantai.
"Aku menemukannya di kelas 3B."
"Dia sedang memangsa murid lain."
Suasana langsung menjadi muram.
Meski sudah berubah menjadi zombie, Pak Bira tetaplah guru mereka.
Budi menghela napas.
"Aku terpaksa mengakhirinya."
Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Rian memperhatikan tubuh Pak Bira beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya kepada Andreas dan Budi.
"Kalian berdua berkembang cukup cepat."
"Namun masih ada perbedaan besar."
Andreas mengangguk.
"Aku juga merasakannya."
Rian menatap keduanya.
"Budi sudah mencapai transformasi penuh."
"Sedangkan kamu masih berada pada tahap transformasi parsial."
Andreas mengepalkan tangannya.
Kalau begitu, ia masih harus berlatih lebih keras.
Sementara itu, perjalanan mereka di luar sekolah baru saja dimulai.