NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Master Q adalah sosok Yang Mulia, pribadi yang melampaui batas kehormatan biasa dan menapaki jalan kemuliaan sejati.

Master Q memiliki tiga tugas utama: menjinakkan Q; memelihara Q; menggunakan Q.

Di tengah kebingungan dan misteri yang menyelimuti kesadarannya, Bagas Pratama terbangun dan mendapati dirinya bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu, di sebuah dunia yang dikuasai oleh lautan luas, mesin uap, bajak laut, deru meriam, ramuan-ramuan misterius, serta keberadaan Q dan Anomali.

Ikuti perjalanan Rostav Zertu menghadapi bahaya dan konspirasi yang memburunya, saat dia terjerat dalam intrik organisasi-organisasi rahasia yang mengendalikan dunia dari balik kabut.

Inilah kisah tentang "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Kegelapan

Pada momen terkutuk itu, sepasang mata keruh tanpa kelopak milik Anomali ikan mengunci pandangannya tepat pada Cia. Tatapan kosong dan penuh rasa lapar itu seketika memaku seluruh sendi Cia, membekukannya dalam teror yang melumpuhkan. Tanpa peringatan, makhluk itu melesat membelah air, rahangnya yang mengerikan bergetar haus darah.

​Cia terjebak di neraka bawah air. Di belakangnya, Anomali cacing raksasa menggeliat menuju ke arahnya, sementara di depannya, monster bersisik itu datang seperti maut yang menjemput.

Pikirannya buntu, terkoyak oleh kepanikan. Tanda penyelamat di lengan kanannya mati fungsi, menyisakan keputusasaan yang mencekik.

​Tepat ketika moncong kedua monster itu hampir merobek dagingnya, insting bertahan hidup Cia meledak. Dengan jeritan parau yang tertelan air, dia menghentakkan ekornya brutal, melesat ke atas layaknya roket yang lolos dari gravitasi bumi.

​Boom!

​Kedua predator yang melaju dengan kecepatan tinggi itu tidak sempat mengerem momentum gila mereka. Wajah bertemu wajah. Hantaman itu begitu masif, menciptakan gelombang kejut yang terdengar seperti ledakan bom dinamit di kedalaman laut.

​Dampaknya mengerikan. Kedua monster itu terpental belasan meter, menghantam dinding batu karang hingga retak runtuh. Karang-karang tajam hancur berkeping-keping, menusuk dan merobek kulit mereka sendiri, menyemburkan anyir darah pertanda perang suci perebutan mangsa telah dimulai.

Cia terus memompa ekor ikannya tanpa berani menoleh. Air mata ketakutan bercampur dengan asinnya air laut. Otot-otot ekornya menjerit protes, dipaksa bergerak melampaui batas manusiawi hingga beberapa sisiknya mulai terkelupas dan berdarah karena tekanan air. 'Jangan menoleh ke bawah! Jangan pernah melihat ke bawah!' pikirannya hanya dipenuhi satu obsesi gila, yaitu mencapai permukaan atau mati terkoyak.

​Sementara di dasar yang gelap, kegagalan menangkap Cia memicu kemarahan primitif. Kedua Anomali itu saling mengaum gila, melampiaskan nafsu membunuh yang tak tersampaikan pada satu sama lain. Air laut di sekitar mereka mulai bergolak hebat.

​Mereka melesat berhadapan. Anomali cacing membuka corong mulut lingkarannya yang dilapisi ratusan gigi silet berputar, sementara Anomali ikan merenggangkan rahangnya yang terbelah vertikal menjadi empat kelopak mengerigi, siap mengunyah apa pun menjadi bubur daging.

Tepat pada jarak kritis lima meter, Anomali cacing memamerkan kelincahan yang menjijikkan. Tubuhnya meliuk ekstrem seperti ular, menghindari gigitan maut sang lawan. Memanfaatkan celah itu, tubuhnya yang panjang dan berlendir dengan cepat melilit Anomali ikan, erat, mencekik, dan mematikan.

​Anomali ikan menggelepar histeris, sirip-siripnya mencakar air dengan liar. Tapi, lilitan itu kian menyempit. Bentuk anatominya yang kaku membuatnya mustahil untuk menggigit balik. Anomali cacing terus merayap memutari tubuh korbannya, mengunci gerakan sang ikan hingga bagian kepala mereka saling berhadapan dalam jarak beberapa inci.

Crack!

​Suara mengerikan dari tulang-tulang rusuk yang patah dan hancur bergaung di dalam air. Lilitan sang cacing begitu kuat hingga meremukkan organ dalam Anomali ikan. Monster tanpa sisik itu melolong kesakitan, sebuah lolongan penderitaan yang begitu melengking hingga mampu memecahkan gendang telinga dalam radius seratus meter. Cairan empedu dan darah mulai merembes dari insangnya yang robek.

​Tak peduli pada jeritan sekarat korbannya, Anomali cacing menjulurkan delapan tentakel berduri yang mengelilingi mulutnya. Tentakel-tentakel kelam itu menancap dalam, mencengkeram erat empat kelopak rahang vertikal milik Anomali ikan.

Crash!

​Dengan satu hentakan bertenaga monster, Anomali cacing merobek paksa mulut ikan itu hingga terbelah dua, terus memanjang sampai ke bagian perutnya. Kulit terkelupas, daging terkoyak, dan tulang belakangnya patah menjadi beberapa bagian.

​Lautan instan berubah menjadi neraka hitam kemerahan. Darah kental yang pekat, potongan daging yang masih berdenyut sisa kehidupan, usus yang terburai, dan cairan lambung yang korosif menyembur keluar, mengunyah kejernihan air laut menjadi sup mutilasi yang menjijikkan.

​Anomali cacing melepaskan raungan kemenangan yang menggetarkan air, sebelum akhirnya mulai berpesta. Dengan rakus dan babi buta, dia menjejalkan potongan tubuh mangsanya yang masih bergetar ke dalam mulut berputar miliknya. Memamah daging, menghancurkan tulang, dan menelan segalanya tanpa sisa dalam hitungan detik, menyisakan air laut yang menghitam dan berbau amis kematian yang pekat.

Setelah menghabiskan hadiah kemenangannya, dia mengangkat kepalanya, walaupun dia tak memiliki mata, tapi dia dapat merasakan Cia yang tengah ketakutan berenang menuju permukaan.

Roar!

Auman terdengar sekali lagi. Anomali ikan melesat dengan kecepatan tak masuk akal, menyusul mangsanya.

Sementara itu, Cia yang mendengar suara auman itu membuat jantungnya berdetak dengan lebih cepat, seolah-olah dapat meledak kapan saja. Dia tetap memaksakan dirinya sendiri, beberapa sisik di ekornya terkelupas lagi, darah merah segar segera keluar melalui lukanya.

'Ayah, Ibu, tolong Cia,' Cia berharap dalam hati, ada sebuah keajaiban yang dapat menolongnya. 'Dewi Bulan Malam, kumohon selamatkan hamba-Mu ini!'

Cia berdoa kepada Sang Ilahi yang dia percayai, tapi tetap saja, tak ada respon. Dia tetap berada di dalam lautan, dikejar oleh makhluk mengerikan.

'Dewi Bulan Malam yang menguasai malam; Ibu kegelapan dan misteri; Permaisuri mimpi dan ilusi. Pemuja-Mu, memohon kepada-Mu, selamatkanlah hamba,' Cia berdoa menggunakan Nama Kehormatan Dewi Bulan Malam, tapi tetap saja dia masih berada dalam kondisi yang sama.

Dia melirik ke belakang, jantungnya hampir berhenti berdetak ketika melihat Anomali cacing semakin dekat dengannya.

Karena dilanda kepanikan dan ketakutan yang begitu dahsyat, dia berteriak dalam hati dengan seluruh sisa harapan yang masih dimilikinya.

'Kumohon... siapa pun, selamatkan aku... Dewi Bulan Malam, Dewa Matahari Menyala Abadi, Dewa Pengetahuan dan Kebijaksanaan, Dewa Badai, Dewa Pertempuran, Dewa Uap dan Mesin, Ibu Pertiwi.

'Kumohon! Dengarkan aku! Selamatkan aku!'

Tapi tidak ada jawaban. Tidak ada keajaiban. Tidak ada tangan ilahi yang terulur kepadanya.

Ketakutannya semakin dalam, menghancurkan sisa-sisa keyakinan dan harga dirinya.

'Tidak... tidak peduli siapa pun...' pikirnya dengan putus asa. 'Dewa, roh, atau makhluk apa pun yang mampu mendengarku...'

Lalu, dengan suara hati yang nyaris pecah oleh keputusasaan, dia menjerit:

'Aku memohon kepada siapa saja! Dewa jahat yang membawa kehancuran, dewa kuno yang telah lenyap dari sejarah, bahkan iblis atau penguasa neraka sekalipun!

'KUMOHON!

'SELAMATKAN AKU!'

Jarak antara dirinya dengan Anomali itu hanya berkisar kurang dari sepuluh meter. Sentuhan tentakel berduri Anomali cacing itu baru saja mengikis ujung ekor Cia yang terluka, siap mengoyak dan melumat dagingnya dalam satu hisapan rakus.

Tapi, tepat pada detik krusial itu, ruang di sekitar mereka mendadak membeku. Udara laut mendingin ekstrem, dan dari kekosongan terdalam, mewujud sekelompok kabut hitam pekat berwujud energi gelap yang murni, pekat, dan jahat. Energi itu meledak, menyelimuti seluruh tubuh sang monster dalam sekejap mata.

​Anomali cacing itu seketika menggeliat histeris. Seluruh insting predatornya lenyap, digantikan oleh kebingungan, ketakutan, dan rasa sakit yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Dari dalam kabut legam itu, muncul puluhan... tidak, ratusan tangan-tangan kurus berwarna hitam legam dengan kuku-kuku tajam yang membusuk.

Tangan-tangan kegelapan itu menancap dalam-dalam ke dalam dagingnya, mencengkeram tulang belakangnya, dan menahan makhluk raksasa itu hingga tak mampu bergerak satu inci pun. Monster itu tersiksa hebat, rongga mulutnya terbuka lebar memuntahkan auman paling melengking dan mengerikan, menggetarkan fondasi lautan.

Cia yang mendengar suara auman monster yang penuh ketakutan dan kesakitan seketika melirik ke belakang. Tatapannya membelalak ketika melihat energi berwarna gelap pekat menyelimuti tubuh Anomali cacing itu. Walaupun dia tak dapat melihat apa yang terjadi di dalam, dia tahu Anomali cacing itu sedang tersiksa.

Melihat itu, Cia bergumam dalam hati, 'apakah ada yang mendengar doa-ku?' entah kenapa, hati Cia menjadi lebih lega, detak jantungnya, entah kenapa mulai menurun. Dia menyatukan kedua tangan di depan dada dan berkata dengan tulus dalam hati, 'siapa pun Engkau. Aku, Agaricia Palmata, sangat berterima kasih pada-Mu.'

Sementara itu, di dalam energi kegelapan murni, Anomali cacing mencoba memberontak, memutar tubuhnya yang berlendir dengan sisa tenaga yang ada. Tapi, setiap kali ototnya menegang, tangan-tangan kegelapan itu justru mencengkeram lebih dalam, merobek kulit dan tubuhnya hingga hancur.

Detik berikutnya, bukan lagi sekadar siksaan fisik. Jutaan bisikan gaib yang penuh kengerian purba, kutukan terlarang, dan suara jeritan jiwa-jiwa yang membusuk langsung membanjiri benak sang Anomali. Saraf-saraf otaknya dipaksa mencerna kegilaan yang tak masuk akal hingga organ sensoriknya meletup hancur.

​Anatomi tubuh monster itu mulai dipelintir secara brutal dan tidak wajar oleh kekuatan tak kasat mata.

​Krek! Crack! Blam!

​Kepalanya diputar paksa melingkar tiga ratus enam puluh derajat hingga jaringan lehernya terpelintir bak kain perasan, menyemburkan darah merah kental dari sela-sela lipatan kulitnya. Tulang-tulang di sepanjang tubuhnya retak, remuk, dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan tajam yang justru menusuk dan mencacah organ dalamnya sendiri dari dalam. Dagingnya melunak, mulai membusuk dan hancur seperti bubur daging yang mendidih.

​Anomali cacing itu menganga, mencoba melengkingkan jeritan sekarat yang paling murni. Tapi, tidak ada satu pun gelombang suara yang keluar. Konsep suara, gema, bahkan getaran air di sekitar energi gelap itu seolah-olah telah runtuh dan terhapus sepenuhnya dari realitas. Dia mati dalam kesunyian yang absolut dan menyiksa.

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!