Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Wang Chan
Malam itu, Desa Hitam terang oleh puluhan lentera kertas yang bergoyang pelan ditiup angin. Pelita-pelita kecil menggantung di setiap sudut panggung kayu yang didirikan di tengah lapangan.
Aroma masakan khas, babi panggang, nasi herbal, dan arak beras, masih menyeruak di udara bercampur tawa pecah dari warga yang duduk melingkar.
Beberapa pemuda tertawa keras sambil saling mendorong bahu, sementara para tetua tersenyum puas di kursi anyaman mereka, sesekali mengangguk bangga ke arah seorang anak laki-laki berjubah putih abu-abu yang duduk di tempat terhormat, Luo Peiran, penerima baru Sekte Bulan Kabut.
Luo Peiran tersenyum sopan, menerima setiap ucapan selamat dengan anggukan lembut.
Di sekelilingnya, orang-orang berebut menuangkan minuman ke dalam cangkirnya, seolah dengan menyentuh pahlawan desa mereka, sedikit keajaiban sekte akan menetes pada mereka.
Di luar lingkaran cahaya itu, di bangku kayu kasar dekat pohon tua yang menjulang di tepi lapangan, Wang Chan duduk sendirian.
Kakinya yang panjang dijulurkan ke depan, punggungnya bersandar pada batang pohon yang sudah berkerut. Cangkir kayu di tangannya sudah setengah kosong.
Matanya yang gelap mengikuti gerak-gerik orang-orang yang berpesta dari kejauhan, tatapannya datar, tapi ada sesuatu yang menggeletik di dadanya.
"Hahh..." Ia menghela napas. "Luo Peiran enak yah... bisa diterima di sekte besar."
Rasa iri tersebut bukan tanpa sebab, tapi Wang Chan memang terlalu lemah untuk masuk ke dalam sekte.
Ia sudah beberapa kali melakukan percobaan dan selalu gagal, bahkan membuatnya ditertawakan oleh warga desa.
Dua kali ujian masuk Sekte Bulan Kabut, tiga kali ke sekte-sekte kecil lainnya, semuanya berakhir sama.
Dia dipulangkan dengan tatapan iba yang lebih menyakitkan daripada ejekan terbuka. Dan ejekan itu selalu datang.
Dari tetangga sebelah yang bersiul sinis setiap kali lewat, dari teman sebayanya yang menyebutnya pecundang berulang, bahkan dari bibir beberapa ibu-ibu yang menggeleng kepala saat melihatnya berlatih sendiri di halaman belakang.
Kini desanya punya pahlawan baru. Dan Wang Chan tetap Wang Chan.
Cup!
Ciuman lembut terasa di pipi Wang Chan.
Bukan ciuman biasa. Ada kehangatan yang tertinggal di kulitnya, cepat dan ringan seperti sayap kupu-kupu yang lewat.
Wang Chan menoleh ke samping.
Di sana ada teman wanitanya, bisa dibilang teman karena mereka memang belum memiliki hubungan yang lebih dalam.
Rambutnya hitam panjang, diikat setengah ke belakang dengan pita kain biru pudar. Matanya menyipit membentuk bulan sabit, senyumnya lebar dan tanpa beban.
"Yaho, Wang Chan!"
Wanita itu cukup riang.
Menepuk-nepuk punggung Wang Chan dengan telapak tangan mungilnya, cukup keras hingga membuatnya tersentak sedikit.
"Qing Yi, sudah kubilang jangan lakukan itu..." Wang Chan memutar matanya malas. "Aku adalah sampah, bagaimana kalau ada yang melihatmu dekat-dekat denganku?"
Matanya tanpa sadar melirik ke arah kerumunan. Beberapa orang memang mulai menoleh.
Bukan karena ciuman tadi, masih terlalu jauh untuk dilihat jelas, tapi karena mereka melihat Qing Yi, gadis yang dikenal ramah dan cukup lincah, duduk di samping Wang Chan.
Sorot mata mereka beragam, ada iba, ada geli, ada yang langsung memalingkan muka seolah melihat sesuatu yang memalukan.
Qing Yi langsung mendengus pelan mendengar ucapan itu. Ia lalu duduk di samping Wang Chan tanpa peduli sedikit pun pada tatapan orang-orang sekitar.
Rok pendeknya berkibar ringan saat ia membungkuk, lalu ia merebut kendi minuman Wang Chan dari tangannya tanpa permisi.
"Sampah, sampah terus..." gumamnya. "Kalau kau memang sampah, kenapa masih terus mencoba masuk sekte sampai berkali-kali?"
Wang Chan terdiam.
Qing Yi meneguk sedikit minuman itu, lalu langsung mengernyitkan hidung karena rasa kerasnya, lalu melanjutkan,
"Orang yang benar-benar menyerah tidak akan mencoba lagi."
Wang Chan tertawa kecil pahit.
"Mencoba lalu gagal tetap saja memalukan."
"Itu menurut mereka." Qing Yi menunjuk kerumunan yang tengah berpesta dengan dagunya. "Orang desa ini hanya tahu memuji yang kuat dan menertawakan yang lemah."
"Dan mereka benar."
"Tidak."
Jawaban Qing Yi kali ini terdengar lebih serius. Hampir tidak pernah ia bicara seperti itu.
Biasanya ia ceria, meledak-ledak, dan mudah teralihkan oleh sesuatu yang berkilau. Tapi sekarang, kedua matanya menatap Wang Chan lurus-lurus.
Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan rambut hitam panjang wanita itu.
Cahaya lentera memantul lembut di wajahnya, pipinya yang sedikit tembam, hidung mungilnya, bibir yang tadi sesaat menyentuh pipi Wang Chan.
"Aku pernah lihat sendiri bagaimana kau berlatih sampai tanganmu berdarah," ucap Qing Yi pelan. "Tidak semua orang bisa melakukan itu."
Dia melihatnya.
Malam-malam larut saat seluruh desa tertidur dan Wang Chan berdiri di ladang belakang rumahnya yang kering, memukul tiang kayu dengan buku-buku jari telanjang sampai kulitnya mengelupas.
Saat pedang kayunya patah dan dia terus berlatih dengan tongkat, saat lututnya lebam karena jatuh berkali-kali dari pohon tempat dia berusaha melatih keseimbangan.
Qing Yi memang sering muncul tanpa diundang, membawa sebotol air atau sekadar duduk di dahan pohon sambil mengayun-ayunkan kaki, menonton dalam diam.
Wang Chan menatap minumannya.
"Kerja keras tidak selalu berarti hasil."
Qing Yi mendekat sedikit lalu menyenggol bahunya.
"Kalau begitu terus saja sampai berhasil."
"Hidup tidak sesederhana itu."
"Memang." Qing Yi tersenyum kecil. "Tapi kalau bahkan dirimu sendiri menganggap dirimu sampah... siapa lagi yang akan percaya padamu?"
Wang Chan sedikit terdiam mendengar ucapan itu.
Untuk sesaat, suara pesta di kejauhan terasa memudar.
Lampion-lampion yang bergoyang seperti bergerak lebih lambat, tawa-tawa orang menjadi samar, seolah angin malam sengaja menarik semua suara itu menjauh dan menyisakan hanya dia, Qing Yi, dan keheningan.
Matanya memandang Qing Yi yang sedang tersenyum santai sambil memainkan cangkir kayu di tangannya.
Di bawah sinar rembulan yang temaram, dia tampak berbeda. Atau mungkin Wang Chan yang baru sekarang benar-benar melihat.
"Aneh sekali..." gumam Wang Chan.
"Hm?"
"Kenapa kau masih mau berteman denganku?"
Qing Yi mengedip bingung seolah pertanyaan itu aneh.
Alisnya naik, mulutnya sedikit menganga, lalu dia tertawa kecil, bukan tertawa mengejek, tapi tertawa karena sungguh tidak mengerti mengapa pertanyaan itu perlu diajukan.
"Karena aku menyukaimu, ehe."
"Itu bukan alasan."
"Itu alasan terbaik."
Wang Chan tak bisa membalas.
Tepat ketika ia hendak membuka mulut lagi, entah untuk membantah atau sekadar menghela napas, sesuatu terjadi.
BRAK!
Suara keras terdengar dari tengah pesta. Bukan suara kayu jatuh atau meja terbalik.
Suara ini lebih dalam, lebih berat, seperti sesuatu yang besar menghantam tanah dengan seluruh kekuatannya.
Beberapa orang berseru panik.
"Monster!"
"Ada binatang iblis!"
Seekor makhluk besar menerobos masuk dari gerbang timur desa. Tingginya hampir menyentuh atap rumah-rumah terendah.
Tubuhnya mirip serigala raksasa, tapi punggungnya dipenuhi duri-duri hitam yang mengkilap seperti logam. Matanya menyala merah membara, dan dari moncongnya yang panjang keluar uap panas setiap kali ia menggeram.
Kaki depannya mencakar-cakar tanah, mengirimkan debu dan pecahan papan ke segala arah.
Kerumunan yang tadi tertawa riang langsung kacau balau. Anak-anak menangis, meja-meja kayu terbalik, sementara dari arah gerbang desa terdengar raungan mengerikan yang membuat tanah bergetar.
Para wanita berteriak saling panggil, lelaki-lelaki yang beberapa saat lalu bicara gagah kini lari tunggang langgang.
Arak tumpah, makanan berserakan, dan di tengah semua itu Luo Peiran berdiri membeku, tangannya gemetar memegang pedang yang belum pernah ia gunakan dalam pertarungan sungguhan.
Wang Chan spontan berdiri.
Di sebelahnya, Qing Yi menarik lengan bajunya.
"Wang Chan—"
"Jangan bicara dulu."
Matanya tertuju pada binatang itu. Pada orang-orang yang jatuh dan berhamburan.
Pada anak kecil yang terpisah dari ibunya, menangis di tengah lapangan tepat di jalur serangan makhluk itu.
"Qing Yi... apa pun keputusanku, apa kau akan menerimanya?"
Qing Yi menatapnya. Lalu, tanpa banyak bicara, ia mengangguk.
"Ya! Aku akan mengikutimu!"