NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana baru diujung pembicaraan

Kesibukan di warung makan Rania seolah tak pernah ada habisnya. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu pun berlalu dengan deru semangat dan kegigihan yang sama. Di balik meja panjang yang selalu penuh dengan aneka masakan lezat, Rania bergerak lincah melayani pembeli, dibantu oleh Mbak Siti yang kini sudah sangat paham betul seluk-beluk pekerjaan di sana. Di sudut belakang warung, di atas kursi kayu panjang yang selalu menjadi tempat favoritnya, si kecil Naya duduk dengan tenang. Gadis berusia tiga tahun itu asyik sekali memainkan boneka-bonekanya, sesekali bersenandung kecil atau berbicara sendiri seolah sedang bercerita kepada mainannya. Meski sibuk melayani pembeli, mata dan hati Rania selalu tertuju pada putri kecilnya itu. Sesekali ia menyempatkan diri untuk berbalik badan, tersenyum, atau sekadar mengusap kepala Naya dengan kasih sayang di sela-sela waktu luang yang sangat singkat.

Sementara itu, Dika yang kini berusia delapan tahun dan duduk di bangku Sekolah Dasar, juga sudah mulai bisa membantu ibunya sebaik mungkin. Sepulang sekolah dan setelah selesai mengerjakan tugas-tugasnya, Dika sering turun tangan membantu membereskan barang-barang, mencuci peralatan makan, atau sekadar menjaga adiknya agar Rania dan Mbak Siti bisa lebih fokus melayani pembeli. Sikap dewasa dan ketenangan Dika di usianya yang masih sangat muda itu sering kali menjadi kekuatan terbesar bagi Rania. Melihat anak-anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan berbakti, segala lelah dan keringat yang menetes terasa terbayar lunas bahkan lebih dari cukup.

Hari itu berakhir dengan hasil yang sangat memuaskan. Hampir semua masakan dan dagangan habis terjual hingga tetes terakhir, sebuah tanda bahwa usaha Rania semakin diterima dan dikenal luas oleh masyarakat sekitar. Setelah pintu warung ditutup dan semua peralatan dibersihkan serta disimpan rapi, Rania duduk sejenak di beranda rumahnya sambil menghela napas panjang namun lega. Ia menatap Mbak Siti yang sedang membereskan sisa-sisa barang.

"Mbak Siti, terima kasih banyak ya hari ini. Bantuannya luar biasa sekali," ucap Rania lembut sambil tersenyum.

Mbak Siti membalas dengan senyum tulus. "Ah, Ibu Rania ini ada-ada saja. Saya justru senang bisa membantu. Lagipula, rezeki kita sama-sama lancar berkat kerja keras Ibu juga."

Rania terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih rileks, "Kebetulan, saya ada rencana nih, Mbak. Hari Minggu besok, kita libur dulu ya warungnya. Biar kita sama-sama bisa istirahat seharian, beres-beres rumah, atau sekadar santai bersama keluarga. Saya lihat Mbak juga sudah mulai terlihat lelah akhir-akhir ini. Kita butuh waktu untuk mengisi tenaga lagi."

Wajah Mbak Siti langsung berseri-seri mendengar usulan itu. "Wah, boleh banget, Bu! Ide bagus sekali. Memang sudah saatnya kita tarik napas sebentar. Terima kasih ya, Bu Rania, pengertian sekali sama saya."

Rania mengangguk. Ia memang selalu berusaha bersikap adil dan baik kepada orang-orang yang ada di dekatnya, apalagi kepada mereka yang tulus membantunya. Baginya, kebahagiaan dan kenyamanan orang-orang di sekitarnya juga merupakan bagian dari keberhasilan yang sedang ia bangun.

Keesokan harinya, pagi datang dengan udara yang sejuk dan cerah. Matahari baru saja naik separuh, menyinari halaman rumah yang sederhana namun selalu bersih. Seperti kebiasaan Rania setiap pagi, ia sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia telah selesai memasak sarapan dan bekal untuk Dika, serta membereskan seluruh isi rumah hingga tampak rapi dan wangi. Di dalam kamar, kedua anaknya masih terlelap dalam tidur yang nyenyak. Dika dengan wajah polosnya yang mulai terlihat dewasa, dan Naya yang tidur meringkuk mungil sambil memeluk bantal kesayangannya. Rania tersenyum melihat pemandangan itu. Ia berjanji dalam hati akan melakukan apa saja demi kenyamanan dan kebahagiaan kedua buah hatinya.

Sambil menunggu tukang sayur keliling yang biasanya lewat di jam-jam seperti ini, Rania duduk sebentar di teras sambil melipat baju. Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan khas penjual sayur keliling yang mendekat, disertai suara lonceng kecil dari gerobak dorongnya.

"Sayuuur... sayuuur segar...!"

Begitu suara itu terdengar, beberapa ibu-ibu tetangga dari rumah sekitar langsung berdatangan dan berkerumun di pinggir jalan, termasuk Rania yang segera beranjak mendekat membawa keranjang anyaman. Di sana ada Bu Yati, Bu Sumi, dan beberapa ibu lainnya—mereka adalah tetangga yang sudah lama mengenal Rania. Dulu, di masa-masa sulit saat Rania baru saja berjuang sendirian membesarkan Dika dan Naya, ada di antara mereka yang sering berbicara dengan nada sumbang, suka berkomentar pedas, atau memandang rendah kondisi ekonomi Rania yang serba kekurangan. Namun, ada juga yang diam-diam merasa kasihan dan memberikan perhatian kecil. Kini, seiring berjalannya waktu dan perubahan nasib Rania yang perlahan membaik, sikap mereka pun berubah. Komentar-komentar pedas itu hilang berganti dengan sapaan ramah, senyum lebar, dan nada bicara yang jauh lebih akrab.

"Eh, Rania... pagi-pagi sudah segar saja ya lihatnya. Dagangan pasti laris manis terus nih sampai bisa dandan cantik begini," sapa Bu Yati sambil memilih ikan asin di atas gerobak. Dulu, Bu Yati dikenal sebagai salah satu tetangga yang paling sering berkomentar tajam tentang kehidupan Rania.

Rania tersenyum sopan, tidak tersinggung sedikit pun. "Ah, Ibu Yati ini bisa saja. Cuma bersih-bersih rumah saja kok, biasa saja penampilan saya," jawabnya halus sambil memilih sayuran hijau yang tampak segar dan renyah.

Bu Sumi, yang juga dulu sering mengelus dada melihat perjuangan Rania, ikut menyahut sambil menunjuk tumpukan kangkung. "Memang benar lho, Rania. Kamu sekarang lain sekali dibanding dulu. Dagangan laku, keuangan pun alhamdulillah sudah mulai enak, anak-anak sehat dan pintar. Rezeki anak sholeh ya pasti mengalir terus ke ibunya."

Pembicaraan pun mengalir santai di antara mereka sambil sibuk memilih-milih kebutuhan dapur. Tiba-tiba, Bu Yati seolah teringat sesuatu yang penting, ia menoleh ke arah Rania dengan mata berbinar.

"Ngomong-ngomong Rania, kamu sudah dengar kabar belum?" tanyanya dengan nada berbisik seolah itu rahasia besar, meski sebenarnya didengar oleh semua ibu-ibu di situ.

Rania mengangkat wajah sedikit bingung. "Kabar apa ya, Bu Yati? Belum dengar apa-apa nih."

Bu Yati tersenyum lebar, lalu melanjutkan, "Itu lho, rumah kontrakan yang letaknya dekat sekali dengan rumah Pak RT. Penyewanya kan sudah tinggal cukup lama di situ. Katanya sih, mereka sekeluarga mau pindah ke luar kota karena urusan pekerjaan. Jadi beberapa hari lagi rumah itu akan kosong, dan pemiliknya akan menawarkan untuk disewakan lagi."

Mendengar itu, beberapa ibu lain langsung berkomentar serempak. "Iya, benar itu lho. Rumahnya bagus, Rania. Lebar, luas, halamannya cukup lega, dan letaknya strategis sekali. Jauh lebih enak dan nyaman dibanding kontrakan kecil yang kamu tempati sekarang itu."

Rania terdiam sejenak, tangannya yang sedang memegang ikat sayur terhenti. Ia mengingat rumah kontrakannya saat ini. Memang benar, rumah itu berukuran kecil, hanya terdiri dari dua kamar sempit, ruang tamu yang menyatu dengan ruang tengah, dan dapur yang sangat terbatas. Dulu, rumah itu sudah lebih dari cukup untuk mereka bertiga, dan Rania sangat bersyukur bisa memilikinya. Namun sekarang, seiring bertambahnya usia Dika dan Naya, serta semakin banyaknya barang-barang kebutuhan sehari-hari, rumah itu mulai terasa sempit dan sesak. Dika yang sudah mulai besar membutuhkan ruang lebih luas untuk belajar, Naya yang aktif bergerak butuh tempat bermain yang aman, dan Rania sendiri sering merasa kesulitan saat harus membereskan rumah karena ruang gerak yang terbatas.

Melihat Rania yang diam dan berpikir, Bu Sumi menambahkan lagi, suaranya terdengar tulus menyarankan, "Rania, kami semua kan sudah melihat perjuanganmu dari nol sampai sekarang. Dulu kamu susah sekali, kami tahu itu. Tapi sekarang keuanganmu sudah mulai membaik, usaha makin lancar. Daripada kamu bertahan di rumah sempit itu, kenapa tidak coba pikirkan untuk pindah ke sana? Rumah dekat Pak RT itu kan jauh lebih luas, lebih sehat, dan anak-anak pasti betah sekali main di halaman yang luas."

"Betul kata Bu Sumi," sambung Bu Yati yang kini sepenuhnya berniat baik memberi saran. "Kamu kan sudah bukan seperti dulu lagi yang harus berhemat mati-matian. Kondisi sudah memungkinkan, kan? Rumah itu juga letaknya aman, banyak tetangga baik, dan dekat sekali dengan jalan raya. Sangat cocok buat kamu yang setiap hari harus sibuk ke pasar dan mengantar anak sekolah. Daripada uangmu berputar saja, lebih baik dipakai untuk kenyamanan masa depan Dika dan Naya juga, kan?"

Kata-kata para tetangga itu masuk begitu dalam ke hati Rania. Ia sadar, saran mereka ada benarnya juga. Kehidupannya memang sudah banyak berubah. Ia tidak lagi harus memikirkan bagaimana caranya membeli beras untuk makan besok, atau cemas jika ada anak yang sakit karena tidak punya uang. Sekarang, rezeki datang cukup lancar, tabungan pun mulai terkumpul sedikit demi sedikit. Memikirkan kenyamanan kedua anaknya adalah prioritas utama bagi Rania. Jika ada kesempatan untuk memberikan tempat tinggal yang lebih layak, lebih luas, dan lebih sehat bagi Dika dan Naya, mengapa harus menolaknya?

Namun di sisi lain, Rania tetaplah wanita yang berhati-hati dan tidak mau gegabah. Ia tidak ingin terlalu berani atau boros hanya karena pendapat orang lain. Ia harus mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang.

"Iya ya, Bu... terima kasih banyak ya sarannya. Kalian semua baik sekali sama saya," jawab Rania perlahan sambil tersenyum tulus. "Memang sih, saya sendiri juga kadang merasa rumah sekarang mulai sempit kalau anak-anak sudah berlarian. Kalau yang dekat Pak RT itu luas dan bagus, pasti enak sekali buat Dika punya tempat belajar, dan Naya bisa main di luar tanpa takut terbentur apa-apa."

"Nah, itu dia! Makanya pikirkan baik-baik ya, Rania. Sayang lho kalau dilewatkan. Rumah itu jarang sekali kosong, biasanya orang sudah antre duluan kalau mau disewakan," tambah salah satu ibu lainnya.

Setelah selesai membayar belanjaannya dan berjalan pulang menuju rumah, pikiran Rania masih tertinggal pada pembicaraan tadi. Kata-kata para tetangga itu terus berputar di kepalanya. Ia melangkah masuk ke rumah, meletakkan keranjang sayur di dapur, lalu duduk sejenak di kursi teras. Matanya menatap sekeliling rumah kontrakannya yang kecil itu. Di sini, Dika dan Naya tumbuh besar. Di sini, ia melewati malam-malam panjang penuh air mata dan doa. Di sini pula ia mulai membangun harapan demi harapan. Namun, tak bisa dipungkiri, kebutuhan mereka kini sudah berbeda.

Rania mulai berpikir jauh ke depan. Jika ia pindah ke rumah yang lebih besar, berarti biaya sewa pasti akan jauh lebih tinggi daripada yang ia bayarkan sekarang. Ia harus menghitung dengan teliti berapa besar selisih harganya, apakah pendapatan warung cukup untuk menutupinya tanpa mengganggu tabungan pendidikan anak-anak, dan apakah benar-benar rumah itu sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Ia juga harus memikirkan biaya pindahan, perbaikan kecil, dan kebutuhan lainnya.

"Aku harus cari tahu dulu berapa harga sewanya, siapa pemiliknya, dan bagaimana persyaratannya," gumam Rania pelan pada dirinya sendiri. Ia tidak mau mengambil keputusan terburu-buru hanya karena saran orang lain, meski niat mereka baik. Namun, ia mengakui bahwa ide pindah ke tempat yang lebih luas dan nyaman itu sangat menggiurkan dan terasa sangat tepat waktunya.

Dari dalam kamar, terdengar suara kecil memanggil, "Ibu... Ibu di mana?"

Itu suara Dika yang baru bangun tidur. Tak lama kemudian muncullah Dika dengan rambut yang masih berantakan, diikuti Naya yang berjalan terhuyung-huyung sambil mengucek matanya. Melihat kedua anaknya itu, hati Rania meleleh seketika. Ia bangkit berdiri, menyambut mereka berdua dengan pelukan hangat.

"Nah, sudah bangun anak-anak Ibu yang ganteng dan cantik ini? Ayo mandi dulu, nanti kita sarapan enak ya," ucap Rania sambil mencium kening mereka bergantian.

Saat melihat Dika dan Naya tertawa ceria di hadapannya, tekad Rania semakin menguat. Apa pun keputusan yang akan ia ambil nanti, satu hal yang pasti semuanya akan ia lakukan demi kebahagiaan dan kenyamanan kedua anaknya. Ia bertekad hari ini atau besok akan menyempatkan diri bertanya kepada Pak RT atau tetangga lain yang tahu persis tentang rumah kontrakan itu, mencari tahu detail harga sewa, ukuran, dan segala hal lainnya. Rania ingin memastikan, apakah langkah pindah rumah ini adalah jalan yang tepat untuk melangkah maju ke babak baru kehidupan mereka yang lebih baik lagi.

1
Yayang Suami Risa
Wah Dika Jadi semangat lagi ya di semangati pak Sandi
Yayang Suami Risa
Semangat Rania hidupmu berubah jadi lebih baik
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Dika kagum sama pak Sandi ya
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Pasti uang hasil jualan Rania di tabung ya
@Me and You Married
Dika ayo semangat kerjakan soal ujian ya supaya naik kelas
@Me and You Married
Rania alhamdulilah warung kamu semakin laris ya beda jauh saat dulu sehari baru buka warung
@Yayang Risa Couple Happy
Dika kamu di beri semangat oleh pak Sandi
@Yayang Risa Couple Happy
Rania pasti punya banyak uang
Ya Ris Tak Terpisahkan
Dika jadi semangat lagi setelah di semangati pak Sandi
Ya Ris Tak Terpisahkan
Enak semua menu buatan Rania pantas laris manis ya
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐᵃsʸ𝐀⃝🥀🤎⒋ⷨ͢⚤
Kamu hidup enak tanpa memikirkan keluarga yg kamu tinggalkan Bara setidaknya kirim lah uang sedikit untuk keperluan mereka sehari-hari bukan keluarga baru mu saja yg kau perhatikan
@ Yayang Risa Selamanya
Pak Sandi anda di kagumi oleh Dika
@ Yayang Risa Selamanya
Rania menu makanan kamu lezat dan enak semua
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Pak Sandi menyemangati Dika supaya semangat
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Rania memang ramah dalam melayani pembeli makanya banyak pelanggan
Risa Yayang Cinta Sejati
Dika semangat kerjakan soal karena ingat perjuangan ibunya buat Dika dan Naya
Risa Yayang Cinta Sejati
Menu makanannya tambah lagi dong Rania
@Yayang Suami Ris4
Dika merasa ibunya berjuang buat dia dan Naya pasti dia bakal berusaha kerjakan soal
@Yayang Suami Ris4
Semua menu gorengan di warung Rania enak semua ya
Suamiku Paling Sempurna
Ayo Dika semangat kerjakan soal dengan baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!