Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Siang itu, matahari bersinar sangat terang, seolah ikut menyinari kebahagiaan dan semangat yang sedang meluap-luap di dada Sania. Setelah meyakinkan kedua orang tuanya untuk menghadiri acara besar itu, Sania langsung mengajak ibunya, Bu Ratna untuk pergi berbelanja. Tujuannya hanya satu: mendapatkan gaun paling indah, paling mewah, dan paling berkelas agar saat hari acara tiba, penampilan mereka tak kalah dari siapa pun, dan semua mata akan tertuju pada mereka.
"Ayo, Bu! Kita harus cari gaun terbaik. Jangan sampai kita kalah cantik atau kalah mewah sama tamu-tamu lain nanti. Apalagi nanti kita akan ada di samping keluarga Pratama, penampilan kita harus sepadan dengan mereka," seru Sania penuh semangat sambil menarik tangan ibunya masuk ke dalam mobil mewah yang baru saja dibeli ayahnya berkat hasil curian dan kebohongan mereka.
Bu Ratna tersenyum lebar, hatinya pun sudah dipenuhi rasa bangga dan antusiasme. Ia merasa hidupnya kini semakin hari semakin indah. Dari dulu hidup pas-pasan, kini bisa berbelanja di tempat-tempat elit, bisa bergaul dengan orang kaya, dan sebentar lagi akan masuk ke lingkaran bisnis teratas.
"Siap, Nak. Ibu ikut saja kemauanmu. Kau yang lebih mengerti gaya dan selera masa kini," jawab Bu Ratna sambil merapikan pakaiannya.
Mereka pun menuju kawasan pusat perbelanjaan paling bergengsi di kota itu, tempat di mana butik-butik mewah dari merek-merek ternama dunia berjejer rapi. Sania sengaja memilih butik-butik yang paling mahal dan eksklusif. Baginya, harga bukan masalah, karena ia tahu ayahnya pasti rela mengeluarkan uang berapa pun demi gengsi dan citra diri mereka.
Mereka masuk ke salah satu butik terbesar yang memajang koleksi gaun pesta paling elegan dan berkelas. Suasana di dalamnya sejuk, wangi, dan sangat tenang, jauh berbeda dengan pasar biasa. Sania berjalan dengan dagu yang diangkat tinggi, matanya berkeliling menelusuri setiap gantungan gaun dengan pandangan kritis dan penuh selera. Bu Ratna mengikuti di belakangnya, sesekali menyentuh kain-kain halus yang berkilauan dengan rasa kagum.
"Wah... semuanya indah sekali ya, Nak. Mahal-mahal juga pastinya," gumam Bu Ratna takjub.
"Tentu saja, Bu. Di sini kualitasnya beda jauh sama toko biasa. Kita harus ambil yang paling bagus. Ingat, kita akan bertemu orang-orang besar," jawab Sania dengan santai sambil mengambil sebuah gaun berwarna emas gading yang berhias manik-manik halus.
Baru saja mereka sibuk memilih-milih dan memeriksa detail gaun, terdengar suara langkah kaki dan sapaan akrab yang membuat mereka berdua menoleh serentak.
"Eh... Bu Ratna ? Sania? Wah, kebetulan sekali ya di sini!"
Mata Sania langsung berbinar, dan senyum lebar serta manis segera mengembang di bibirnya. Di hadapannya, berjalan masuk dengan anggun dan berwibawa adalah Nyonya Pratama, ibu dari Yogie, yang juga sedang ditemani oleh asisten pribadinya. Nyonya Pratama mengenakan pakaian santai namun tetap terlihat mahal dan berkelas, wajahnya tampak segar dan cerah.
"Bu Nyonya! Wah, selamat siang, Bu. Iya ya, kebetulan sekali banget," sapa Sania dengan nada suara yang sangat ramah dan sopan. Ia segera mendekat dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan penuh hormat.
Bu Ratna pun ikut menyapa dengan wajah berseri-seri, merasa sangat bangga dan terhormat bisa bertemu calon mertua putrinya di tempat seindah ini. "Selamat siang, Bu. Apa kabar? Wah, tidak disangka bisa bertemu di sini."
Nyonya Pratama tersenyum lebar, menatap ibu dan anak itu dengan pandangan yang sangat bersahabat dan menyenangkan hati. Berbeda sekali dengan cara ia memandang Salwa dulu. Bagi Nyonya Pratama, kehadiran Sania dan ibunya adalah kebanggaan tersendiri.
"Kabar baik, terima kasih. Kebetulan sekali ya, saya sedang mencari gaun juga untuk acara minggu depan. Kalian juga sedang cari untuk acara itu, kan?" tanya Nyonya Pratama santai.
"Iya, Bu! Betul sekali," jawab Sania antusias. "Kami memang sengaja datang ke sini khusus untuk mencari gaun pesta. Kan sebentar lagi ada undangan besar dari Perusahaan Laksana Group itu, Bu. Kami tidak mau tampil asal-asalan, apalagi nanti akan ada banyak orang penting."
Nyonya Pratama mengangguk paham, lalu menatap Bu Ratih dengan sedikit rasa penasaran namun tetap ramah.
"Kebetulan sekali kita sama-sama punya tujuan ya. Omong-omong Bu Ratna.. saya agak heran lho. Tadi pagi Yogie cerita kalau undangan itu dikirimkan juga ke rumah kalian. Padahal kan kalau dilihat dari skala usaha, kalian hanya punya pabrik kecil. Kok bisa dapat undangan resmi dari perusahaan sebesar itu? Biasanya mereka sangat selektif sekali mengundang tamu."
Bu Ratna sedikit tersentak karena pertanyaan itu, namun Sania dengan cekatan langsung menyahut sambil tersenyum percaya diri, seolah sudah menyiapkan jawaban itu dari jauh-jauh hari.
"Begini lho, Bu Nyonya... Ibu dan Ayah saya juga sempat kaget dan bingung di awal. Tapi kan sekarang kami sudah sangat dekat dan akrab sekali dengan keluarga Ibu. Perusahaan Laksana Group pasti sudah melakukan riset dan tahu betul hubungan baik antara keluarga kita dan keluarga Pratama. Jadi, mereka mengundang orang tua saya karena mereka menghargai hubungan kekeluargaan dan kerja sama kita. Mereka menganggap kami satu lingkaran dengan Ibu dan Ayah."
Sania menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih bangga dan penuh perhitungan.
"Dan selain itu... Ayah saya berniat memanfaatkan momen emas ini, Bu. Ayah berencana memperkenalkan diri dan mempromosikan pabrik kami di sana. Siapa tahu nanti ada peluang kerja sama, kan? Kalau kami bisa kenalan dengan pengusaha-pengusaha besar, pabrik kami bisa berkembang pesat. Ayah saya sangat berharap kehadiran kami di sana bisa menjadi jalan rezeki baru bagi usaha kami, sekaligus menambah nama baik keluarga Pratama juga tentunya."
Mendengar penjelasan itu, Nyonya Pratama langsung tersenyum puas dan mengangguk-angguk setuju.
"Wah, pandai sekali pemikiran kalian. Benar juga, sih. Memang betul, karena kita sudah seperti keluarga sendiri, jadi wajar saja kalau nama kalian ikut terangkat. Dan ide Ayahmu itu bagus sekali, Sania. Manfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Nanti saat kami memperkenalkan kalian, kami akan pastikan kalian terlihat sebagai keluarga yang terpandang dan terpercaya. Siapa tahu nanti ada yang tertarik bekerja sama, itu keuntungan besar buat kalian."
Suasana pun menjadi semakin akrab dan hangat. Nyonya Pratama malah terlihat sangat senang dan bersedia membantu mereka memilih gaun terbaik.
"Ayo, jangan berdiri saja. Mari kita pilih bersama-sama. Saya cukup paham selera dan gaya apa yang cocok untuk acara sebesar itu. Saya bantu pilihkan ya, supaya penampilan kita serasi dan sama-sama berkelas. Biar nanti kalau kita masuk ruangan pesta bersamaan, kita terlihat sebagai keluarga besar yang sangat hebat dan disegani," tawar Nyonya Pratama dengan tulus.
"Benarkah, Bu? Wah, senang sekali kami. Terima kasih banyak," seru Sania gembira. Itu adalah hal terbaik yang bisa terjadi. Mendapatkan saran dan bantuan langsung dari calon ibu mertua yang memang berkelas tinggi adalah kebanggaan tersendiri baginya.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan menyusuri deretan gaun indah itu. Nyonya Pratama dengan cermat dan telaten membantu Bu Ratna memilihkan gaun yang sopan namun tetap mewah dan berwibawa, yang cocok untuk seorang ibu dari calon menantu keluarga Pratama. Sedangkan untuk Sania, Nyonya Pratama sangat teliti memilihkan gaun yang paling mempesona, paling anggun, dan paling indah, karena baginya, Sania adalah permata yang harus bersinar paling terang di samping putranya.
"Nah, ini pas sekali untukmu, Sania," ucap Nyonya Pratama sambil menyerahkan sebuah gaun berwarna biru langit yang dihiasi permata berkilauan di bagian pinggang dan bahu. Warnanya lembut namun berkelas, potongannya pas dan sangat elegan. "Warna ini sangat pas dengan kulitmu, dan potongannya sangat anggun. Nanti kalau kau pakai ini berdiri di samping Yogie, kalian akan terlihat seperti pasangan bangsawan sejati. Semua orang pasti akan iri melihat keindahan dan keserasian kalian."
Sania menerima gaun itu dengan mata berbinar bahagia. Ia membayangkan dirinya mengenakan gaun itu, berjalan masuk ke tempat pesta dengan lengan bergandengan erat dengan Yogie, sementara semua orang menatapnya kagum. Di dalam benaknya, ia kembali membayangkan wajah Salwa. Lihatlah, Kak. Dulu kau diusir dengan pakaian lusuh di tengah hujan. Sekarang aku akan memakai gaun termahal, termewah, dan didampingi oleh orang-orang paling berkuasa. Kau kalah jauh, Kak. Kau tidak akan pernah bisa menandingiku.
Sementara itu, Bu Ratna hanya tersenyum bahagia melihat putrinya dimanja dan dihargai sedemikian rupa oleh Nyonya Pratama. Ia merasa keputusan jahat yang dulu mereka ambil membuang Salwa dan memusatkan segalanya pada Sania adalah keputusan paling tepat dalam hidup mereka.
Mereka bertiga tertawa dan mengobrol dengan sangat gembira di dalam butik mewah itu, tenggelam dalam rasa bangga, kesombongan, dan mimpi indah mereka tentang kejayaan yang menanti di depan mata. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa gaun-gaun indah yang mereka beli itu, sebenarnya adalah pakaian yang akan mereka kenakan saat mereka berhadapan dengan kehancuran terbesar dalam hidup mereka. Mereka bersiap untuk pesta kemenangan, padahal sesungguhnya mereka sedang bersiap untuk datang ke pesta pembalasan dendam yang sudah disiapkan khusus untuk mereka.
Bersambung,,,