Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Ekspresi Jayantaka berubah menjadi gelap. Anggur di tangannya mendadak terasa hambar. Jika memang tidak ada utusan, mengapa permaisurinya mendengarnya? Dan jika memang ada, mengapa kepala telik sandinya ini tidak tahu apa-apa?
Tepat pada saat ketegangan mulai mencekik udara pelataran, seorang komandan prajurit jaga—yang kebetulan adalah salah satu bawahan Panglima Haryasuta yang kini setia pada Pregiwa—berlari memasuki lapangan panahan. Ia berlutut di atas salju dengan napas terengah-engah, memegang sebuah tabung bambu yang masih tersegel malam merah tua.
"Ampun beribu ampun, Gusti Pangeran Mahkota!" lapor komandan itu dengan suara lantang yang membelah angin. "Hamba membawa pesan rahasia yang dicegat oleh pasukan patroli kami di perbatasan utara subuh tadi! Kurir yang membawanya... kurir itu berencana menyelundup ke ibu kota tanpa melalui pos pemeriksaan Senopati Argakusuma!"
Argakusuma terbelalak. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya, menghancurkan tatanan wewangian di rambutnya. "A-apa maksudmu, Komandan?! Tidak ada pesan yang boleh lewat tanpa stempelku!"
Jayantaka tidak memedulikan bantahan Argakusuma. Sang pangeran melangkah turun dari balkon dengan kasar, merebut tabung bambu itu dari tangan komandan prajurit. Ia memecahkan segel merah itu dengan ibu jarinya, menarik keluar secarik perkamen tua, dan membaca deretan tulisan sandi di atasnya.
Udara di pelataran panahan itu seolah membeku seketika.
Wajah Pangeran Jayantaka yang sebelumnya merah karena dingin, kini memerah padam karena kemurkaan yang meledak-ledak. Urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol keluar. Tangan yang memegang perkamen itu bergetar hebat karena amarah yang tak tertahankan.
Perkamen itu—yang sebenarnya ditulis dengan sangat teliti oleh Ki Randu di kedalaman Menara Gagak, menggunakan tiruan tulisan tangan sempurna dari salah satu pemberontak utara—berisi rincian pembayaran rahasia. Di dalamnya tertulis jumlah keping emas Swantipura yang diterima oleh pihak pemberontak sebagai ganti untuk membiarkan rute perdagangan ilegal tetap terbuka, dan pesan itu ditujukan secara eksplisit untuk "Sang Bunga Merah dari Swantipura", julukan rahasia yang biasa digunakan Argakusuma di kalangan pelacur elit.
"Pengkhianat..." geram Jayantaka, suaranya sangat pelan namun bergetar oleh hasrat membunuh yang murni.
Argakusuma mundur selangkah, lututnya tiba-tiba terasa tak bertulang. "G-Gusti Pangeran... apa isi surat itu? Hamba... hamba bersumpah tidak tahu menahu..."
"KAU MENJUAL PERBATASANKU UNTUK KEPINGAN EMAS DAN PELACUR?!" raung Jayantaka, suaranya menggelegar layaknya guntur di musim dingin. Sang pangeran meremas perkamen itu, melemparkannya tepat ke wajah tampan Argakusuma.
Argakusuma jatuh berlutut di atas salju, gemetar hebat melihat bukti palsu yang menjerat lehernya dengan sangat sempurna. "T-tidak, Gusti! Ini fitnah! Seseorang... seseorang mencoba menjebak hamba! Hamba adalah pelayan setia Gusti Pangeran! Hamba tidak pernah—"
"TUTUP MULUT KOTORMU!" Jayantaka menendang dada Argakusuma dengan sepatu bot berlapis bajanya, membuat bangsawan sutra itu terpelanting ke belakang, memuntahkan darah segar yang menodai salju putih. "Kau membiarkan mataku buta di Kurusetra! Kau membiarkan musuh merayap di bawah hidungku sementara kau mandi dengan wewangian murahan! Berapa banyak lagi rahasia keraton yang kau jual, hah?!"
Di atas balkon, Dewi Pregiwa menyaksikan pertunjukan kekerasan itu dengan wajah yang dikondisikan sedemikian rupa untuk terlihat ketakutan dan terkejut. Ia mengangkat kedua tangan pualamnya untuk menutupi mulutnya, melangkah mundur seolah ngeri melihat tumpahan darah. Namun, di balik kedua telapak tangannya itu, sebuah senyum kepuasan yang teramat dingin dan kejam terpahat sempurna.
*Menjeritlah lebih keras, anjing penjilat,* batin Pregiwa, matanya menatap tanpa kedip saat Argakusuma merangkak di atas salju, memohon ampun pada suaminya. *Ini baru permulaan. Aku akan mempreteli kerajaan ini pria demi pria, hingga kalian semua saling memakan daging kalian sendiri.*
"Bawa bangkai hidup ini ke penjara bawah tanah!" titah Jayantaka kepada para pengawal yang langsung bergerak maju menyeret Argakusuma. "Cambuk dia sampai dagingnya terkelupas dari tulangnya! Aku ingin tahu siapa saja yang terlibat dalam jaringan pengkhianatannya. Besok pagi, potong lidahnya dan gantung dia di gerbang utara sebagai makanan burung gagak!"
Jeritan putus asa Argakusuma menggema di pelataran panahan, memohon ampunan yang tak akan pernah datang, sebelum akhirnya suaranya hilang ditelan lorong batu keraton.
Jayantaka berdiri dengan dada naik turun menahan amarah yang masih mendidih. Ia memutar tubuhnya, menatap ke arah Pregiwa yang masih berdiri gemetar di atas balkon. Amarah sang pangeran seketika melunak saat melihat permaisurinya tampak begitu pucat dan ketakutan akibat insiden berdarah barusan.
Sang pangeran bergegas menaiki tangga balkon, merengkuh tubuh Pregiwa ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Permaisuriku. Kau tidak seharusnya melihat kekerasan seperti ini," ucap Jayantaka lembut, mengelus rambut panjang istrinya. "Kau benar. Firasatmu sangat tajam. Pria itu adalah serigala berbulu domba. Jika kau tidak mengingatkanku tentang utusan itu... entah sampai kapan aku akan memelihara ular berbisa di dalam keratonku sendiri."
Pregiwa membenamkan wajahnya di dada Jayantaka. Ia membiarkan aroma darah dari udara luar bercampur dengan napas suaminya. Ia membalas pelukan pria itu, meremas jubah kulit beruangnya dengan erat, memainkan peran sebagai istri yang mencari perlindungan dengan kualitas akting yang sanggup menipu para dewa.
"Hamba sangat ketakutan, Kanda..." bisik Pregiwa dengan suara bergetar yang dipalsukan dengan sangat brilian. "Jika orang yang paling Kanda percayai saja bisa berkhianat, lalu siapa lagi yang bisa menjaga keselamatan Kanda di istana ini?"
Pertanyaan itu tepat sasaran. Jayantaka mengeratkan pelukannya, matanya menerawang ke arah langit kelabu Swantipura. Paranoia telah tertanam sepenuhnya. Ia tidak akan pernah lagi mempercayai para bangsawan mudanya. Ia telah memotong telinganya sendiri, dan kini ia benar-benar buta.
"Jangan takut, Istriku. Mulai sekarang, aku tidak akan mempercayai siapa pun semudah itu," janji Jayantaka, tanpa sadar menyerahkan seluruh sisa kepercayaannya ke tangan wanita yang sedang ia peluk. "Aku harus mencari orang baru. Seseorang yang hidup di dalam bayang-bayang, yang tidak peduli pada emas maupun pangkat bangsawan. Seseorang yang hanya tahu cara mencari rahasia."
Di dalam pelukan sang pangeran, wajah Pregiwa yang tersembunyi dari pandangan itu tersenyum sangat lebar. Mata teduhnya yang sehitam malam berkilat oleh cahaya kemenangan yang mematikan. Papan catur telah dibersihkan. Sang Ratu baru saja menyingkirkan Mentri pertahanan lawan dengan menggunakan tangan Rajanya sendiri.
"Hamba yakin... Kanda akan menemukan orang yang sangat tepat untuk tugas itu," bisik Pregiwa lembut.
Esok hari, ketika nama Ki Randu secara kebetulan 'disarankan' oleh seorang pelayan tepercaya, Jayantaka akan mengira bahwa ia telah menemukan senjata rahasia terhebatnya. Namun nyatanya, ia baru saja menyerahkan belati yang sudah terhunus itu langsung ke tangan permaisurinya yang berhati pualam.
Di utara yang membeku ini, Dewi Pregiwa tidak hanya bertahan hidup; ia sedang membangun sebuah neraka yang sangat indah dan mematikan.