satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Jejak Harimau
Keesokan paginya, Baron kembali ke Perguruan Naga Hitam. Ia telah memutuskan bahwa setelah Jarot dan Sugeng sembuh, mereka akan segera menyerang Satria untuk membalaskan dendamnya. Soal uang, ia tak perlu khawatir. Selain ayahnya yang merupakan pengusaha sukses, tadi malam ia juga menerima harta dari Nyai Mayang berupa perhiasan emas dalam jumlah yang sangat banyak.
Saat masuk ke dalam area perguruan, ia berpapasan dengan Darma yang kemarin sempat ia kalahkan.
"Darma, bagaimana perkembangan kondisi Jarot dan Sugeng?" tanya Baron.
"Sugeng sudah membaik, Tuan Muda. Hanya saja, kondisi Jarot belum ada perkembangan berarti," jawab Darma.
"Antarkan aku ke ruang perawatan sekarang," pinta Baron.
Darma mengangguk dan berjalan beriringan di depan Baron.
Di ruang perawatan, tampak Sugeng sudah bisa duduk tegak seperti biasa karena ia hanya mengalami luka dalam ringan. Sebaliknya, Jarot masih terbaring lemah. Luka akibat pukulan tenaga dalam milik Satria ternyata cukup parah hingga membuat organ dalam tubuhnya bergeser posisi.
"Bagaimana perkembanganmu, Sugeng?" tanya Baron saat melihat Sugeng sedang duduk mengatur pernapasan.
Sugeng mengakhiri latihan pernapasannya dan membuka mata mendengar ada yang bertanya. Ia mengangguk saat melihat Baron berdiri di dekatnya.
"Sudah lebih baik, Tuan Muda," sahut Sugeng.
"Kalau Jarot bagaimana keadaanmu?" tanyanya lagi.
"Kata Kak Wina, aku harus berobat selama beberapa bulan agar luka dalam dan organ tubuhku bisa kembali ke posisi semula," sahut Sugeng mewakili atau menirukan penjelasan yang ia dengar.
Baron terdiam. Ternyata luka dalam Jarot lebih parah dari yang ia kira.
"Pak Harya ke mana?" tanya Baron karena tak melihat sosok kepala keluarga Sutasoma itu di sana.
"Pak Harya sedang keluar, sepertinya sedang mencari sesuatu. Sejak beliau datang kemarin, paling hanya beberapa hari berada di perguruan, setelah itu sering pergi berhari-hari," sahut Sugeng memberitahukan kebiasaan Pak Harya yang sering keluar.
"Ada apa, Tuan Baron? Apakah mencari Pak Harya?" tanya Jarot yang sedari tadi hanya diam terbaring.
"Apakah Pak Harya tidak mengobatimu?" tanya Baron balik. Seingatnya dulu, Pak Harya memiliki ilmu pengobatan yang lumayan hebat. Bahkan tangan Baron yang pernah lumpuh dulu bisa bergerak kembali setelah diobati oleh Pak Harya.
"Kata Pak Harya, lukaku ini harus diurut secara rutin agar organ kembali ke posisi, dan hanya dengan obat-obatan herbal baru bisa menyembuhkannya. Beliau tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya untuk kasus ini," jelas Jarot.
"Rupanya begitu. Dulu memang Pak Harya pernah mengobati kelumpuhan tanganku menggunakan tenaga dalam," ucap Baron. "Kalau Ketua Candra di mana?" tanyanya kemudian.
"Aku di sini. Ada apa, Nak Baron?" Dari arah belakang terdengar suara menyahut.
Baron menengok, dan ternyata di pintu ruang perawatan sudah berdiri Ketua Candra yang baru saja berjalan masuk bersama Kuncoro.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Ketua Candra.
"Paman, aku berniat menyerang Satria setelah Jarot dan Sugeng sembuh. Bagaimana menurut Paman?" jawab Baron sekaligus bertanya.
"Bisa saja, tetapi kau tahu sendiri, jika kemampuan murid-muridku belum setara dengan dirimu saat ini," sahut Ketua Candra.
"Paman, biar aku saja yang melatih mereka," ucap Baron.
Ketua Candra mengangguk.
"Baik, itu lebih baik," sahut Ketua Candra sambil tersenyum.
Baron kemudian mengumpulkan semua murid di pelataran perguruan, tempat yang biasa digunakan untuk berlatih. Darma dan Kuncoro berdiri di sisi kanan dan kiri Ketua Candra.
"Hari ini, kalian akan dilatih langsung oleh Baron, didampingi oleh Kuncoro dan Darma," seru Ketua Candra saat semua murid telah berkumpul.
"Baik, Guru!" jawab serempak semua murid.
Baron maju ke depan, lalu membagi para murid menjadi tiga kelompok. Satu kelompok dilatih oleh Kuncoro, satu kelompok lagi dilatih oleh Darma, dan satu kelompok terakhir dilatih oleh dirinya sendiri. Baron menetapkan sistem pelatihan yang sangat keras bagi mereka, karena ia ingin nantinya Perguruan Naga Hitam akan memiliki murid-murid yang sakti mandraguna, dan tentunya akan berguna bagi rencananya.
Sementara di tempat lain, Pak Harya ternyata sedang sibuk mencari keberadaan Gelang Candra Kirana, peninggalan dari Eyang Resi Wiratama. Liontin yang ia pakai sebagai penunjuk keberadaan benda itu berdenyut dengan kencang saat ia berada di pusat Kota Bandar Lampung.
Ia mengikuti petunjuk yang diberikan oleh cahaya dari liontin tersebut. Setiap kali sampai di belokan jalan, ia berhenti sejenak untuk melihat apakah cahaya liontin itu semakin terang atau semakin redup. Jika terang, ia akan terus melaju, tetapi jika redup, ia akan kembali ke jalan sebelumnya dan mencari arah lain. Perlahan namun pasti, arah pergerakannya menuju ke Kalianda, dan ia pun mengemudikan mobilnya ke arah sana.
Sementara itu di tempat Satria, Desa Munjuk Sempurna pagi itu sedang dalam keadaan geger. Dua ekor hewan ternak milik warga ditemukan tewas diterkam harimau. Pak Karna yang menjabat sebagai mandor sekaligus kepala keamanan di sana segera mengumpulkan warga di lapangan balai desa.
Suasana sangat berisik. Warga saling berbisik satu sama lain membicarakan tentang kambing milik Pak Sarmi yang menjadi korban diterkam harimau tepat di dalam kandangnya sendiri.
"Semuanya harap tenang!" teriak Pak Karna berseru menggunakan pengeras suara di tangannya.
Warga seketika diam, dan keadaan menjadi hening seketika.
"Kita akan membahas tentang harimau yang tadi malam menyerang hewan ternak milik Pak Sarmi. Bagaimana menurut pendapat kalian?" tanya Pak Karna.
Seorang warga mengangkat tangan.
"Iya, Kardi. Ada saran apa?" tanya Pak Karna.
"Baiknya kita cari keberadaan harimau itu, apakah sudah kembali ke gunung atau masih berkeliaran di kebun warga. Kita harus memastikan agar tidak ada korban jiwa dari manusia," ucap Pak Kardi menyatakan usulannya.
"Bagaimana dengan pendapat yang lainnya?" tanya Pak Karna lagi memancing warga lain.
"Kami setuju dengan usul Pak Kardi. Kami jadi tak berani bekerja di kebun jika belum diketahui keberadaan harimau itu," ucap salah satu warga mewakili yang lain.
"Baiklah. Kalian segera bentuk kelompok, satu kelompok berjumlah dua belas orang. Kita akan melakukan pencarian secara berkelompok agar saling menjaga," ucap Pak Karna memberi instruksi.
Warga segera membentuk kelompok-kelompok. Satria, Bimo, dan Hadi ikut serta dalam tim pencarian. Sementara itu, Niken dan Rani justru disuruh pulang kembali ke Tanjung Karang mengingat keadaan di desa yang masih rawan, dan juga karena mereka berdua harus kuliah.
Setelah pembagian kelompok selesai, mereka segera berpencar ke tiga arah berbeda. Satria yang kebetulan berada satu kelompok dengan Pak Karna, segera memberitahukan bahwa tadi malam di kebun yang ia jaga adalah tempat awal mula ia mendengar suara harimau itu.
Mereka pun segera bergerak menuju kebun yang dijaga Satria.
"Pak, lihat itu!" seru seorang warga sambil menunjuk ke tanah yang agak gembur. Di sana tercetak sebuah jejak tapak kaki hewan yang sangat besar.
"Benar, ini jejak tapak harimau," ucap Pak Karna sambil berjongkok memeriksa jejak tersebut dengan saksama.
Mereka pun segera menyusuri jejak itu, namun langkah mereka terhenti karena jejak kaki besar itu terus mengarah masuk ke dalam kawasan Gunung Rajabasa.
Tak lama kemudian, kelompok pencari lainnya juga berdatangan di titik yang sama.
"Jejaknya mengarah ke gunung, Pak," ucap salah satu warga dari kelompok lain.
"Kalau begitu, kita naik," ucap Pak Karna memutuskan. Para warga pun mengangguk setuju.
Satria dan Pak Karna memimpin di barisan paling depan mengikuti jejak tapak harimau itu. Namun, hingga matahari mulai condong ke barat menjelang sore, mereka tak menemukan apa-apa. Jejak itu terus menanjak naik hingga ke puncak Gunung Rajabasa.
Saat sampai di batas hutan rimba yang cukup lebat dan curam, Pak Karna menghentikan langkahnya. Ia lalu berbalik menghadap para warga yang tampak lelah.
"Kita tak bisa naik lagi. Hari sudah mulai sore, dan juga kita tak tahu berapa banyak harimau atau hewan buas lain yang ada di sana. Sekarang kita pulang sebelum benar-benar gelap. Jalan pulang tetap bergerak berombongan, jangan ada yang memisahkan diri. Besok kita akan berkoordinasi dengan pihak berwenang dan penjaga hutan!" perintah Pak Karna dengan tegas.
Warga mengangguk paham, lalu memutar badan dan berjalan menuruni bukit dengan langkah yang sedikit terburu-buru.
Satria, Hadi, dan Bimo berjalan di posisi paling belakang. Sebelum benar-benar berbelok masuk ke jalan turun, Satria sempat menoleh ke arah atas. Di antara celah pepohonan yang rapat, ia merasa seolah-olah ada sepasang mata besar yang menyala-nyala menatap tajam ke arah mereka dari kejauhan, lalu menghilang seketika ditelan bayangan pohon besar.
"Sat, kenapa malah berhenti?" tanya Bimo yang menyadari Satria tidak ikut berjalan.
Satria menggelengkan kepala, berusaha menepis perasaan diawasi yang dirasakannya itu.
"Tidak apa-apa. Ayo kita pulang," ajak Satria sambil kembali melangkah menyusul rombongan di depannya.