NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Sistem / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Fantasi / Harem
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.

Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.

Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.

Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Invasi Wilayah Utara Great Yan 5

Di saat Xu Mei ditinggalkan sendirian di ruangan kerja duke Bei Han untuk merenungkan tawaran ekspedisi menuju tambang kristal darah yang menggoda, sang Archduke melangkah pergi dengan elegan untuk sekadar menikmati hasil dari manipulasi psikologisnya.

Taman Es di sayap barat Istana Utara adalah sebuah keajaiban arsitektur yang dirancang khusus untuk memamerkan keindahan abadi dari daratan utara. Pohon-pohon pinus yang dilapisi kristal es abadi berdiri kokoh, memantulkan cahaya lampion-lampion giok yang berpendar lembut di tengah malam. Kolam-kolam buatan tidak berisikan air, melainkan kabut es padat yang mengalir layaknya sungai awan. Semuanya murni, putih, dan luar biasa dingin.

Namun, hukum alam di taman itu hancur berantakan malam ini.

Ruang dimensi di atas jembatan kristal terdistorsi hebat, melengkung dan robek dengan suara dengungan yang pelan. Dari dalam retakan spasial yang gelap gulita itu, sepatu bot berwarna hitam dengan sulaman emas melangkah keluar, memijak tanah beku taman tersebut.

Archduke Xuan keluar dari ruang spasial sepenuhnya, membiarkan retakan ruang tertutup di belakang punggungnya. Jubah hitamnya berkibar pelan.

Tepat saat sol sepatunya bersentuhan dengan tanah bersalju, sebuah fenomena yang menentang nalar terjadi. Akar Spiritual Kayu Surgawi di dalam tubuh Wu Xuan beresonansi secara pasif dengan lingkungan sekitarnya.

Es abadi yang telah membeku selama ribuan tahun tiba-tiba retak. Dari celah-celah retakan itu, tunas-tunas rumput spiritual berwarna zamrud tumbuh dengan kecepatan yang gila, menjalar dan mengubah hamparan taman es menjadi karpet hijau yang hangat. Bunga-bunga teratai api dan krisan jiwa bermekaran secara instan di udara beku, memancarkan pendaran cahaya warna-warni yang mengusir hawa dingin.

Bahkan, beberapa pohon spiritual tingkat Ranah Jiwa yang tadinya hanya berupa batang kristal mati, mendadak menumbuhkan dahan baru, mekar, dan menghasilkan buah-buah bercahaya keemasan. Dahan-dahan pohon itu bergerak merunduk dengan sendirinya, seolah memiliki kesadaran, menyodorkan buah-buah tingkat jiwa tersebut tepat ke hadapan Wu Xuan sebagai bentuk ketundukan flora terhadap penguasanya.

Di sekeliling paviliun taman, dua puluh pelayan wanita telah bersiaga untuk menyambut tamu paling agung yang pernah menginjakkan kaki di Utara.

Dua puluh pelayan ini adalah pilihan terbaik dari seluruh istana utara. Mereka mengenakan gaun musim dingin yang terbuat dari sutra rubah salju. Pakaian itu memang dirancang sedikit tebal untuk menahan dingin, namun jahitannya begitu ketat dan presisi di titik-titik tertentu, memperlihatkan lekuk tubuh yang begitu sempurna hingga mampu membuat seorang biksu suci membatalkan puasanya dan membakar matanya sendiri. Kulit mereka seputih pualam, dan wajah mereka memancarkan kecantikan fana murni yang menggoda.

Melihat fenomena alam yang berubah menjadi musim semi hanya dengan satu pijakan kaki sang Archduke, kedua puluh pelayan itu terkesiap. Lutut mereka lemas. Terpesona oleh keagungan dewa yang berdiri di hadapan mereka, mereka serentak menjatuhkan diri, menundukan diri dengan gemulai di atas rumput spiritual yang baru tumbuh.

"Menyambut Yang Mulia Archduke Xuan," paduan suara merdu dari para pelayan itu mengalun bagaikan lonceng perak di tengah malam.

Wu Xuan tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun pada buah yang disodorkan oleh pohon spiritual di depannya. Ia memetik satu buah keemasan itu dengan santai, lalu berjalan melewati para pelayan menuju kursi santai berlapis kulit naga es di tengah paviliun.

Di luar, wajah Wu Xuan tetap kaku, elegan, dan memancarkan wibawa tiran yang tak tersentuh. Matanya yang keemasan menatap lurus, seolah kecantikan dua puluh wanita di sekitarnya tidak lebih berharga dari batu kerikil.

Namun, di dalam kepalanya, sifat asli dari jiwa pemuda Bumi itu sedang menari-nari kegirangan, merayakan kemenangan visual yang luar biasa ini.

'Astaga naga..., tolong aku,' monolog batin Wu Xuan, menahan senyum lebar yang nyaris menghancurkan wibawanya. 'Pakaian musim dingin yang ketat ini benar-benar sebuah mahakarya desain fashion tingkat dewa! Modis, elegan, namun lekuk tubuhnya... wow. Jika ini ada di duniaku, dua puluh pelayan ini sudah menjadi supermodel dengan bayaran jutaan yuan. Berada di puncak kekuasaan dunia kultivasi benar-benar tidak buruk. Sama sekali tidak buruk!'

Wu Xuan duduk di kursinya dengan postur yang sangat dominan. Ia mengibaskan tangannya pelan, sebuah isyarat tanpa kata.

Para pelayan yang sangat terlatih itu segera memahami tugas mereka. Beberapa dari mereka dengan sigap menyiapkan jamuan di atas meja giok—menuangkan anggur spiritual yang telah dihangatkan dan menyajikan hidangan daging beast kelas atas.

Sementara itu, sepuluh pelayan lainnya mengambil posisi di tengah rumput zamrud. Alunan musik dari instrumen dawai spiritual mulai dimainkan, mengalun begitu harmonis dan dalam.

Jika alunan musik spiritual ini didengarkan oleh manusia fana dari Bumi, jiwa mereka mungkin akan langsung terlepas dari tubuhnya karena mabuk dalam keindahan harmoni yang melampaui batas frekuensi manusia.

Para pelayan itu mulai menari. Gerakan mereka memadukan keanggunan air yang mengalir dan ketajaman angin musim dingin, sebuah tarian yang dirancang khusus untuk menyenangkan mata seorang penguasa.

Wu Xuan menyipitkan matanya, menikmati pemandangan dan alunan musik itu. Ia dilayani bak penguasa alam semesta. Sesekali, seorang pelayan yang bertugas menuangkan anggur akan secara tidak sengaja (namun sangat disengaja) menyentuhkan bahu atau lengannya ke lengan Wu Xuan, mencoba mencari celah untuk menarik perhatian sang Archduke—di mata mereka—yang memiliki kekuasaan mutlak ini.

Wu Xuan menghiraukan godaan-godaan kecil itu. Ia menatap buah tingkat jiwa yang bersinar keemasan di tangannya.

Tatapannya kemudian jatuh pada sosok pelayan utama yang menjadi pusat tarian. Gadis itu memiliki mata biru safir yang indah dan gerakan yang paling gemulai. Saat tarian mencapai jeda sejenak, gadis itu berlutut tak jauh dari kaki Wu Xuan, menundukkan kepalanya dengan napas yang sedikit tersengal.

Wu Xuan mengulurkan tangannya, menyodorkan buah spiritual bercahaya itu kepada sang penari.

"Makanlah," titah Wu Xuan singkat, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tidak bisa ditolak.

Penari itu mendongak, matanya terbelalak lebar karena syok. Buah dari pohon Ranah Jiwa yang ditumbuhkan langsung oleh kekuatan Archduke?! Ini adalah harta karun yang bisa meningkatkan kultivasinya! Wajah gadis itu merona merah, matanya bersinar akan keharuan saat ia menerima buah itu dengan kedua tangan yang gemetar.

"T-Terima kasih atas anugerah luar biasa ini, Yang Mulia," bisik gadis itu dengan suara bergetar.

Melihat adegan itu, kesembilan belas pelayan lainnya menggigit bibir mereka. Kecemburuan yang sangat pekat langsung menyebar di antara mereka. Mereka menatap penari itu dengan pandangan iri yang nyaris membakar, bertanya-tanya mengapa bukan mereka yang dipilih oleh Archduke.

Di atas kursinya, Wu Xuan hanya tersenyum tipis di dalam hati. Memainkan emosi orang, sekecil apa pun skalanya, selalu menjadi hobi kecilnya untuk mengusir kebosanan. Ia kembali bersandar, membiarkan dinamika kecemburuan itu menari di sekitarnya, sementara ia terus menikmati alunan musik.

Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki yang sedikit tergesa-gesa terdengar dari ujung jembatan kristal.

Musik seketika berhenti. Para pelayan langsung menunduk serempak dan mundur memberi jalan.

Dari balik bayang-bayang lampion, Nyonya Utama Utara, Xu Mei, melangkah masuk ke area paviliun. Ia telah berganti pakaian. Gaun ungu gelapnya yang kotor oleh darah telah diganti dengan gaun sutra tebal berwarna biru malam yang sangat elegan, dengan belahan yang cukup tinggi untuk mempermudah pergerakan, namun tetap memancarkan keagungan seorang penguasa. Di tangannya, ia membawa sebuah botol giok panjang berisi anggur khusus yang telah disimpan selama ratusan tahun.

Melihat Xu Mei datang, Wu Xuan tahu bahwa jaring yang ia pasang telah menangkap mangsanya. Wanita ini telah memantapkan jawabannya.

Tepat saat Xu Mei melangkah ke tengah taman, cuaca di atas Istana Utara mendadak memburuk. Awan kelabu berkumpul dengan cepat, dan salju mulai turun dengan lebat, diiringi angin yang cukup menusuk. Kepingan salju mulai berjatuhan ke arah rambut Xu Mei yang telah disisir rapi.

Sebelum satu kepingan salju pun sempat menyentuh rambut wanita itu, Wu Xuan telah bergerak.

Ia tidak menggunakan teknik ruang atau kecepatan cahaya. Baginya Ia hanya melangkah dengan kecepatan normal, namun langkahnya begitu berwibawa dan penuh dominasi. Dalam beberapa detik, ia sudah berdiri tepat di hadapan Xu Mei.

Dengan sebuah gerakan romantis yang sangat mengalir dan natural, Wu Xuan mengangkat sebelah tangannya, mengeluarkan jubah hitam kebesarannya yang lebar, lalu membentangkannya di atas kepala Xu Mei seperti sebuah kanopi darurat.

Jubah hitam itu menghalau semua kepingan salju yang jatuh. Di bawah naungan kain yang memancarkan kehangatan Qi murni itu, Xu Mei mendongak. Jarak mereka kini sangat dekat. Ia bisa mencium aroma cendana dan laut dalam dari tubuh Wu Xuan. Matanya bertabrakan langsung dengan mata emas kristal sang Archduke yang menatapnya dengan kelembutan yang mematikan.

"Saljunya mulai lebat," ucap Wu Xuan dengan suara bariton yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan yang hanya diperuntukkan bagi mereka berdua. "Akan sangat disayangkan jika rambut indah ini menjadi basah."

Dada Xu Mei berdebar dengan kecepatan yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun pernikahannya dengan Duke Bei Han. Pesona pria ini, kelembutannya yang diberikan tepat di tengah penderitaan dan pengkhianatan yang dialaminya, adalah racun termanis yang tidak memiliki penawar.

Xu Mei menelan ludah, wajahnya memerah sempurna di bawah bayangan jubah Wu Xuan. Ia memalingkan wajahnya sedikit untuk menyembunyikan kegugupannya, lalu menatap tajam ke arah dua puluh pelayan yang masih berada di taman.

"Kalian semua. Pergi," perintah Xu Mei, suaranya berusaha keras untuk tetap terdengar seperti seorang Nyonya Utama. "Tinggalkan taman ini sekarang."

Para pelayan itu, yang sudah menyadari suasana intim yang tidak boleh dilihat oleh mata mereka, segera membungkuk dalam-dalam dan berlari pergi secepat angin, meninggalkan taman itu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara salju yang jatuh.

Kini, hanya ada mereka berdua di tengah paviliun.

Xu Mei mengangkat botol giok di tangannya. Ia memberanikan diri untuk kembali menatap mata Wu Xuan.

"Aku membawakan Anggur Teratai Es... anggur terbaik yang dimiliki Utara," ucap Xu Mei perlahan. Ia mengambil napas dalam-dalam, menguatkan hatinya. "Dan... aku telah mengambil keputusanku, Yang Mulia. Aku akan ikut denganmu. Kita akan pergi menjelajahi Tambang Kristal Merah itu bersama-sama."

Senyum Wu Xuan perlahan mengembang. Sebuah senyuman tenang, penuh perhitungan, dan memancarkan aura kemenangan yang elegan. Ia menurunkan jubahnya perlahan dari atas kepala Xu Mei.

"Pilihan yang sangat bagus, Nona Xu Mei," puji Wu Xuan dengan tulus. "Saat ini, Wilayah Utara sangat membutuhkan seorang pemimpin yang kuat. Bukan sekadar penguasa yang mengatur pemerintahan, melainkan seseorang yang memiliki kekuatan murni untuk mengendalikan kekuasaan."

Wu Xuan mengambil botol anggur dari tangan Xu Mei dengan gerakan halus, jari-jari mereka bersentuhan sejenak. Ia menuangkan anggur itu ke dalam dua cawan giok di atas meja.

"Aku pastikan akan membantumu menerobos batas kultivasimu," lanjut Wu Xuan, menyerahkan satu cawan kepada Xu Mei. "Sebagai imbalan atas tambang dan... persahabatan kita."

Mendengar kata "persahabatan", ada sedikit rona kekecewaan yang berkedip di mata Xu Mei.

Di sinilah letak kecerdasan psikologis Wu Xuan yang paling mengerikan. Sebagai seorang pria yang menguasai seni menaklukkan lawan—baik di medan perang perasaan psikologis—Wu Xuan tahu persis kapan harus menyerang dan kapan harus mundur.

Ia tidak melakukan godaan murahan lebih lanjut. Ia tidak menarik pinggang wanita itu, tidak mencoba menciumnya, dan tidak melontarkan rayuan gombal lainnya. Ia menggunakan taktik tarik ulur (push and pull) pada level maestro.

'Tidak siasia aku mempelajari seni psikologi hubungan.' Gumam Wu Xuan. 'Wanita ini sudah mulai menunjukan tanda-tanda kepatuhan."

Setelah memberikan kenyamanan dan menyelamatkannya dari keputusasaan, Wu Xuan sengaja membangun kembali jarak emosional sebagai seorang sekutu bisnis yang terhormat.

Mengapa? Karena Xu Mei adalah seorang wanita dewasa, seorang penguasa yang baru saja terluka oleh pengkhianatan suaminya. Jika Wu Xuan terlalu agresif menekannya sekarang, ego dan harga diri Xu Mei sebagai Nyonya Utama akan bangkit untuk melawan, menciptakan benteng pertahanan mental yang akan merepotkan di kemudian hari.

Sebaliknya, dengan bersikap seperti seorang pelindung elegan (gentleman) yang menjaga batas, Wu Xuan memberikan ruang bagi Xu Mei untuk menyesuaikan perasaannya sendiri. Ia membiarkan wanita itu yang memikirkan sentuhan-sentuhannya, membiarkan wanita itu yang mengonstruksi imajinasinya sendiri di malam yang dingin ini. Pada akhirnya, ketika benih itu mekar, Xu Mei sendirilah yang akan menyerahkan dirinya secara sukarela tanpa ada paksaan sedikit pun.

"Kita berangkat besok fajar," ucap Wu Xuan, mengangkat cawannya dan mendentingkannya pelan pada cawan Xu Mei yang masih terdiam dalam pikirannya sendiri. "Minumlah. Malam ini, istirahatkan tubuh dan pikiranmu. Mungkin perjalanan akan sedikit panjang."

"Aku akan mengirim bawahanku untuk mengurus pertahanan besok, jadi kau tidak perlu khawatir." Ucap Wu Xuan, lalu meneguk anggur yang manis tersebut, sambil memandang bibir lembut Xu Mei.

Xu Mei menatap cawannya, lalu menatap wajah tampan Wu Xuan yang kini memancarkan wibawa murni seorang penguasa agung. Hatinya terasa diombang-ambingkan oleh lautan emosi yang aneh. Ia mengangguk pelan, meminum anggur es itu hingga tandas. Rasa dingin anggur itu membakar kerongkongannya, namun tidak bisa memadamkan api baru yang mulai menyala di dasar jiwanya.

Besok, mereka akan pergi ke tambang mematikan di Utara. Tempat di mana nyawa dipertaruhkan, dan di mana sang Archduke berencana merampas warisan takdir yang seharusnya menjadi pijakan bagi sang protagonis Chu Zhang.

Bersambung...

1
Fajar Fathur rizky
bikin wuxuan menunjukkan kekuatan alkemisnya thor bikin kedua leluhur itu ketakutan bikin kedua leluhur itu menjadi boneka perang wuxuan
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 50
Fajar Fathur rizky
cepat bikin bab 48 bikin wuxuan dapat hadiah besar thor protagonis itu gagal
Fajar Fathur rizky
thor gambar yan meli mana thor
EGGY ARIYA WINANDA: Nanti kalau wu xuan udah pulang ke selatan dinasti.
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 46
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 45 thor
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan licik orang yang mau meracuni klanya bikin bantai bikin orang yang mau meruntuhkan tambang spritual juga di bantal semua sampai tak tersisa bikin faksi ibu kota ketakutan bikin wuxuan meracuni semua anggota Kekaisaran great yan termasuk kedua leluhur itu bikin ranah kultivasi mereka turun sampai ranah primordial suci tahap awal bikin mereka menua
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan bikin pil racun yang menurunkan ranah kultivasi kedua leluhur itu sampai ranah primordial suci tahap awal thor bikin wuxuan licik
Fajar Fathur rizky
bikin semua orang yang di suruh itu mati oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
yan maier yang ada elu yg bakal di taklukkan oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
bikin Kekaisaran great yan bangkrut thor
Fajar Fathur rizky
bikin nanti bantai leluhur itu dan kaisar Kekaisaran great yan dengan cara paling kejam thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin wuxuan bantai para pembunuh itu dengan cara paling kejam thor bikin tubuh mereka jadi makanan hewan kontraknya
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 44 thor
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi wuxuan sampai ranah tinggi thor pengen liat dia bantai kaisar Kekaisaran great yan termasuk dua leluhur itu dan taklukin ibu suri itu thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin ranah kultivasi yan dobu dan yan chaoran turun sampai ranah primordial suci tahap awal
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
nanti jika wuxuan jika sudah berada di ranah tribulasi dunia tahap puncak bantai kedua leluhur Kekaisaran great yan itu dengan cara paling kejam Dan keji thor
Fajar Fathur rizky
chapter 42 bikin wuxuan kejam kepada musuhnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!