Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lukisan
Jenna terbatuk. Dia benar-benar kalah menghadapi Marco.
“Aku cuma bercanda … cuma bercanda.”
Marco tampaknya sedang senang memberikan kunci. Dia melempar satu lagi padanya. “Susah memanggil taksi dari sini. Supaya kamu tidak repot ke tempat kerja, pakai mobil ini.”
Jenna terdiam. Kenapa dia merasa seperti sedang dipelihara?
Tidak … kalau dipelihara harusnya disembunyikan di luar. Mana ada sugar daddy yang menyerahkan semua kunci rumah dan anaknya sekaligus?
Ini malah terasa seperti pasangan baru menikah. Dia teringat bagaimana Marco tiba-tiba melamarnya saat pertama kali bertemu.
Dia selalu merasa paham pria. Namun pria di depannya seperti sistem komputer dengan firewall tertinggi. Sama sekali tidak bisa dibaca.
Dia tidak tahu apakah keputusan tinggal di sini karena kelemahan sesaat akan membawa keberuntungan atau bencana.
Malam itu kondisi Juju memang tidak baik. Jenna akhirnya tidur di ranjang kecil bersama Juju.
***
Larut malam.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Seorang pria masuk dengan langkah ringan dan duduk di ujung tempat tidur.
Di bawah cahaya lampu yang hangat, wanita itu tertidur dengan tenang. Tangannya masih berada di posisi menepuk punggung Juju. Napasnya lembut. Bibirnya yang merah muda sedikit terbuka.
Bayangan gelap perlahan mendekat. Sedekat jarak napas. Hanya perlu sedikit lagi untuk menyentuh bibir itu. Namun pria itu tiba-tiba berhenti.
Sebuah ciuman lembut jatuh di dahi Jenna.
***
Keesokan paginya.
Jenna sebenarnya mengira dia akan sulit tidur di tempat baru. Namun dia tidur sangat nyenyak.
Saat bangun, Juju sudah terjaga. bakpau kecil duduk di sampingnya membaca buku dengan serius tanpa suara.
Sulit membayangkan anak yang begitu tenang bisa berubah seperti kemarin saat mengamuk.
“Selamat pagi, Sayang.”
Jenna duduk sambil memegang selimut. Juju langsung menatapnya dengan mata berbinar. Walau tidak bicara, Jenna tahu dia sedang senang.
Dia menyingkirkan rambut di dahi Juju. “Hari ini aku gak kerja. aku bisa temenin Kamu seharian di rumah.”
Mendengar itu, Juju tampak semakin bahagia. Bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat.
Hati Jenna hampir meleleh. “Sayang, lebih sering senyum ya. Kamu lucu banget kalau senyum.”
Setelah mencuci muka, mereka turun ke bawah. Sarapan sudah siap. Marco tidak terlihat. Dari sikap para pelayan, Jenna menebak dia sudah pergi bekerja.
Setelah sarapan, Jenna sempat khawatir bagaimana merawat anak. Namun ternyata semua berjalan sangat mudah. Pagi itu Jenna membaca naskah di sofa. Juju duduk di meja di sampingnya, membaca atau menggambar.
Keduanya saling diam namun rukun. Para pelayan hanya muncul sekali untuk mengantarkan camilan dan buah, bergerak sangat pelan agar tidak mengganggunya.
Sepertinya Juju memang menyukai ketenangan.
Di sudut ruangan, kepala pelayan tua sedang memperhatikan dua orang di ruang tamu itu.
Dia menyadari bahwa Jenna sama sekali tidak berusaha mendekati tuan muda kecil. Sejak pagi dia hanya fokus membaca naskahnya.
Tuan muda kecil menghabiskan waktu seperti biasanya, membaca buku atau menggambar. Sekilas tidak ada yang aneh. Namun jika diperhatikan lebih dekat, sesekali dia diam-diam melirik ke arah Jenna. Wajah kecilnya tampak hidup sekaligus tenang.
Sejak pertama melihat Jenna, kepala pelayan tua sebenarnya merasa khawatir. Dia takut tuan muda tertua tertipu oleh wanita itu hanya karena wajahnya yang luar biasa cantik.
Dari pengamatannya sejauh ini, wanita itu terlihat cukup aman. Tapi mungkin saja dia hanya menunggu kesempatan yang tepat untuk bergerak.
Terlalu banyak wanita yang mengincar posisi Nyonya Alamsyah dan mencoba segala cara untuk menjadi ibu tiri Juju. Dua tahun lalu bahkan pernah terjadi kejadian mengerikan yang hampir membuat tuan muda kecil celaka.
Sejak itu kepala pelayan semakin waspada. Apalagi tuan muda kecil juga tampaknya sangat menyukai wanita itu.
Tanpa terasa dua jam telah berlalu.
Saat Jenna hampir selesai membaca naskahnya, Juju sudah menyelesaikan gambarnya dan berlari kecil untuk menunjukkannya padanya.
Jenna mengangkat kepala dan melihat gambar itu. Wajahnya langsung penuh kejutan.
“Ini… ini gambar aku?”
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa dari penampilan Juju yang begitu pendiam, gaya gambarnya justru ternyata bergaya Fauvisme.
Fauvisme dikenal dengan penggunaan warna yang kuat dan kontras, serta goresan yang sederhana namun tegas untuk mengekspresikan perasaan terdalam.
Meski gambar orang dalam lukisan itu terlihat agak aneh, ciri-cirinya sangat jelas. Jenna bisa langsung mengenali bahwa orang yang digambar adalah dirinya.
Juju memeluk gambar itu dan mengangguk. Dia terlihat sedikit gugup, seolah takut Jenna tidak menyukainya.
“Ini… luar biasa! Boleh aku foto buat wallpaper HP aku?”
Jenna tidak sedang memuji asal-asalan. Dia memang menyukai gaya Fauvisme, terutama kontras warnanya yang kuat. Dilihat dari sudut pandang orang yang sedikit mengerti seni, kemampuan Juju sudah setingkat seniman hebat.
Juju menekan bibirnya malu-malu lalu mendorong gambar itu ke tangan Jenna.
Jenna menunjuk dirinya sendiri. “Buat aku?”
Juju mengangguk.
“Makasih! aku suka banget!”
Jenna langsung memeluk bakpau kecil dan mencium pipinya yang lembut.
Juju tertegun sejenak, lalu wajahnya langsung merah padam. Mata besarnya yang biasanya kosong kini terlihat jauh lebih hidup.
Saat mereka sedang hangat berinteraksi, Jenna mendengar langkah kaki dari atas.
Dia menoleh ke arah suara itu dan melihat Marco turun dari tangga. Dia mengenakan pakaian rumah yang santai, rambutnya sedikit berantakan seolah baru bangun tidur.
Biasanya Marco sudah sangat memikat. Tapi melihat perbedaan besar antara penampilannya yang rapi sehari-hari dan penampilannya yang santai sekarang, pesonanya justru terasa mematikan.
Jenna sempat terpaku cukup lama sebelum sadar kembali.
“Tuan Alamsyah, hari ini gak kerja?” Bukannya hari ini Senin?
“Ya. Hari ini istirahat,” jawab Marco sambil mengangguk.
Jenna baru menyadari sesuatu.
Dia baru saja menandatangani kontrak besar beberapa waktu lalu. Wajar kalau sekarang dia ingin beristirahat. Jadi Bos Besar Alamsyah juga tipe orang yang suka bangun siang.
Entah kenapa Jenna tiba-tiba merasa lebih dekat dengannya.
“Ini pertama kalinya Juju menggambar potret manusia,” kata Marco setelah melihat sekilas lukisan di tangan Jenna.
“Serius? Wah berarti aku terhormat banget!” kata Jenna senang.
“Mau makan apa siang nanti?” tanya Marco.
Sepertinya dia bahkan sudah siap menyiapkan makanannya juga. Jenna baru hendak menjawab ketika HPnya tiba-tiba berdering.
Telepon dari Luna.
Apa dia sudah menyiapkan peran kecil lagi untuknya?
“Halo.”
“Jenna, upacara pembukaan film Tanah Surga diadakan di Grand Mercure Hotel jam dua belas siang. Jangan terlambat.”
“APA? Jam dua belas? Hari ini?”
“Iya, hari ini.”
“Lunna, kenapa gak kasih tau dari tadi? Sekarang udah hampir jam sebelas!”
“Apa maksud Kamu gak kasih tau? aku kan udah kasih tau satu jam sebelumnya.”
“Satu jam? Itu aja gak cukup buat perjalanan, belum lagi aku harus dandan…”
“Itu masalah kamu. Jangan ganggu aku, aku lagi sibuk.”
Telepon langsung ditutup.
“Lunna! Sialan kamu!”
Jenna melempar HPnya. Setelah mengumpat, dia langsung membeku.
Juju terpaku.
Marco juga terpaku.
Jenna mengusap wajahnya, berharap bisa mengubur dirinya sendiri di tanah.
Dia terlalu emosi sampai lupa bahwa dia masih berada di rumah keluarga Alamsyah, bahkan ada anak kecil di sampingnya.
Dia memang tidak berniat berpura-pura menjadi wanita anggun di depan Marco. Tapi kalau sampai memberi pengaruh buruk pada Juju, itu masalah besar.
Dia berdeham. “Juju, anggap aja Kamu gak denger tadi. Jangan pernah belajar dari tante ya. Tante tadi bukan lagi ngomongin orang.”
Juju berkedip lalu mengangguk, walau terlihat tidak sepenuhnya mengerti.
Ada kilatan tawa di mata Marco.
“Ada apa?” tanyanya.
Jenna mengertakkan gigi.
“Upacara pembukaan Tanah Surga jam dua belas. Sekarang hampir jam sebelas tapi manajer aku baru ngasih tau. Dari sini ke Grand Mercure Hotel minimal lima puluh menit. Masa aku harus muncul di kamera tanpa makeup?”
“Kenapa tidak? Wajah polos kamu sudah cukup.”
Jenna terpaku. Dia tidak menyangka Marco bisa berkata semulus itu. Dia menggaruk kepala canggung.