Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicampakan
"Tidak, jangan sayang," pinta Laila menahan tangis.
Sejak tadi dia menahan tangan suaminya Gion, untuk tidak membereskan semua pakaiannya dalam koper besar itu.
"Sudahlah Laila, apa lagi yang ingin kamu pertahankan. Pernikahan selama lima tahun ini cuma sia-sia saja," cecar mama Ratih tak tahan melihat tingkah Laila yang berlebihan menurutnya.
"Enggak ma, aku nggak ingin bercerai dengan mas Gion, aku masih sangat mencintai dirinya. Biar bagaimana pun, aku hanya akan mencintai Mas Gion."
"Cinta kamu bilang? Makan itu cintamu!"
Bentak nyonya Wijaya kasar. Merasa muak mendengar satu kata itu terus saja.
"Memang benar keputusanku sejak awal nggak merestui pernikahan kalian," ungkap mama Ratih jujur yang benar-benar menusuk hati Laila.
"Mas, katakan pada mama Ratih. Akulah istrimu yang setia dari awal pernikahan ini. Aku yang menemani kamu. Dan kini kamu telah sukses, semua karena usaha kita bersama," desak Laila. Namun Gion enggan menjawab perkataan istrinya itu.
Setelah menutup koper besar yang berisi pakaian sang istri, Gion meraih tangan istrinya lalu menyeretnya keluar hingga pintu utama.
Sekali lagi dia melempar koper itu di depan Laila.
"Keluar kamu dari rumah ini, surat perceraian kita akan menyusul."
Gion benar-benar sedang mengusir Laila.
"Tega kamu mas," ucap Laila.
"Kini putraku tak ada lagi berurusan dengan kamu. Kamu wanita nggak guna. Nggak bisa kasih keturunan pada keluarga Wijaya.
Mama Ratih tersenyum sinis. Dia benar-benar menginginkan Laila tak lagi bersama putra tunggalnya ini.
" Putraku akan segera mendapatkan investasi dari perusahaan besar di Dubai. Jadi kamu jangan harap bisa datang dan mempermalukan suami kamu!"
Laila terisak, jemarinya yang gemetar berusaha menggapai ujung kemeja Gion yang tampak sangat rapi. Pria itu kini terasa sangat jauh, meski jarak mereka hanya selangkah. Sosok yang dulu berjanji akan menjaganya sampai mati, kini berdiri dengan tatapan sedingin es.
"Mas, tolong... dengerin aku sekali ini saja," pinta Laila dengan suara parau. "Kita bisa bicara baik-baik. Jangan usir aku seperti ini. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Mas."
Kali ini tangis Laila benar-benar pecah. Dia harus menanggung luka ini sendirian.
Gion hanya diam membisu. Ia membuang muka, enggan menatap mata sembab istrinya yang mulai memerah. Di sampingnya, Mama Ratih melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan yang tak disembunyikan sama sekali.
"Mas Gion!" Laila berteriak putus asa. Karena tak mendapat respon, ia nekat menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia bersimpuh, memeluk kaki suaminya dengan erat. "Aku mohon, Mas. Jangan buang aku. Aku janji akan lakukan apa pun. Kita ke dokter lagi ya? Kita program lagi. Kasih aku kesempatan sekali lagi untuk memberikan cucu buat Mama."
Gion merasa kakinya berat. Ada rasa risih yang menjalar ketika merasakan air mata Laila membasahi celana kain mahalnya. Baginya, pemandangan ini bukan lagi sebuah pengabdian, melainkan gangguan yang memalukan. Terlebih, sebentar lagi tamu agung dari Dubai akan tiba.
"Lepasin, Laila! Kamu bikin malu saja!" bentak Gion sambil mencoba menyentakkan kakinya.
"Nggak mau, Mas! Jangan tinggalin aku!" Laila semakin erat mendekap kaki itu, seolah jika ia melepasnya, hidupnya akan benar-benar berakhir.
"Lepas, bodoh!"
BUGH!
Gion kehilangan kesabaran. Ia mengayunkan kakinya dengan kekuatan penuh untuk melepaskan diri. Tendangan itu mendarat tepat di perut bagian bawah Laila, membuat wanita itu terpental dan jatuh terduduk di atas kerasnya paving blok halaman rumah mewah keluarga Wijaya.
"Aakhhh!" Laila meringis, kedua tangannya spontan memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa seperti diremas hebat.
Rasa nyeri itu datang menyerang dengan sangat intens. Laila terengah-engah, wajahnya pucat pasi. Namun, rasa sakit di hatinya jauh lebih besar saat melihat Gion justru mengibas-ngibaskan celananya yang kotor terkena debu dari tangan Laila, seolah istrinya itu adalah kotoran yang menjijikkan.
"Mas... sakit..." rintih Laila.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Laila merasakan ada cairan hangat yang mengalir di sela-sela kakinya. Ia menunduk perlahan, dan matanya membelalak hebat. Darah segar merembes cepat, mewarnai kain rok tipisnya dan menetes ke sela-sela paving blok yang putih.
"Mas... darah..." Laila gemetar hebat. Ia menatap Gion dengan pandangan memohon. "Mas, tolong aku... perutku sakit sekali..."
Bukannya iba, Mama Ratih justru mendekat dengan wajah penuh kejijikan. "Halah! Paling itu cuma akal-akalan kamu saja supaya Gion kasihan. Drama apa lagi yang kamu mainkan, Laila? Kamu pikir dengan berdarah-darah begitu, kami akan luluh?"
"Puas kamu sekarang melihat kekacauan ini?" lanjut Mama Ratih tajam. "Pergi kamu! Jangan kotori halaman rumahku dengan darah kotor kamu itu!"
Gion pun hanya melirik sekilas, lalu berbalik badan seolah tidak terjadi apa-apa. "Berhenti bersandiwara, Laila. Pergi sekarang atau aku panggil satpam untuk menyeretmu ke jalan raya."
"Tolong, Mas... ini benar-benar sakit..." suara Laila hampir hilang, kesadarannya mulai menipis seiring dengan banyaknya darah yang keluar.
"Nggak usah banyak alasan!" Mama Ratih maju, ia mencengkeram lengan Laila yang lemas dan menyeretnya paksa menuju gerbang. "Sebentar lagi putri wakil direktur Utama dari Dubai akan tiba. Kalau dia sampai melihat gembel berdarah-darah seperti kamu di sini, investasi putraku bisa batal!"
"Jangan, Mama... sakit... tolong panggil ambulans..." Laila merintih, kakinya terseret di atas kasar dan panasnya paving blok, meninggalkan jejak merah yang menyayat hati.
"Diam! Keluar!" Dengan tenaga yang masih kuat untuk ukurannya, Mama Ratih mendorong Laila hingga tersungkur di luar pagar besi yang menjulang tinggi. Brak! Pintu pagar itu ditutup rapat dan dikunci.
Tepat saat itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan gerbang. Seorang wanita muda dengan pakaian sangat elegan, kacamata hitam, dan aroma parfum yang sangat mahal turun dari kursi belakang. Ia adalah Sarah, putri dari calon investor besar dari Dubai.
Sarah berhenti sejenak, memandangi sosok wanita yang tergeletak lemah di depan gerbang dengan genangan darah di bawahnya.
Mama Ratih yang melihat kedatangan Sarah langsung mengubah ekspresinya 180 derajat. Ia tersenyum manis, seolah tak terjadi apa-apa. "Oh, selamat datang, Nona Sarah! Maafkan pemandangan tidak sedap ini. Ini hanya... mantan pembantu yang sedang cari masalah."
Mama Ratih menoleh ke arah satpamnya dengan tatapan galak yang tertutup senyum palsu. "Heh! Cepat singkirkan penghalang di depan mata ini! Jangan sampai tamu terhormat kita merasa tidak nyaman!"
Laila hanya bisa menatap nanar ban mobil mewah itu. Pandangannya kabur, dunia terasa berputar. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, satu hal yang terlintas di benaknya: Mas Gion, kamu baru saja membatalkan kerja sama dengan investor dari Dubai, karena kecelakaan kecil ini.
Oleh karena perbuatan burukmu. Bersiaplah menerima konsekuensinya.
Mata Laila perlahan terpejam sambil bersandar di tembok pagar rumah mewah milik Gion Wijaya. Sayup matanya sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri. Ia melihat dari balik lubang pagar, bagaiamana Gion memeluk wanita yang baru datang dengan pelukan hangat dan mesra. Yang tak pernah dia dapatkan walau cuma sekali.