"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Guntur tertegun. Kata-kataku barusan seolah menampar harga dirinya yang selama ini dia jaga dengan sikap "dingin" buatannya itu. Selama ini, aku adalah orang yang paling mengagumi sifat irit bicaranya, menganggapnya sebagai tanda kedewasaan. Namun sekarang, melihatnya begitu cerewet mengurusi hidupku, dia terlihat menyedihkan.
"Fis, lo bener-bener berubah," desis Guntur, suaranya sedikit gemetar antara marah dan tidak percaya.
Aku tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke mata. "Lo yang bikin gue begini, Kak. Jadi jangan protes sama hasilnya. Bukannya lo harusnya seneng? Sekarang nggak ada lagi yang nungguin kabar lo, nggak ada lagi yang nanya lo udah makan atau belum. Lo bebas, kan?"
Aku sengaja menekankan kata 'bebas' tepat di depan wajahnya. Dari sudut mataku, Fita mulai melangkah mendekat. Dia tidak tahan hanya menjadi penonton di belakang punggung Guntur.
"Lo keterlaluan, Fis! Lo sengaja kan mau bikin Guntur ngerasa bersalah?" suara Fita memekik kecil, mencoba menarik simpati orang-orang di sekitar koridor yang mulai memperhatikan kami.
Aku menoleh ke arah Fita, menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Bikin dia ngerasa bersalah? Buat apa, Fit? Waktu gue terlalu berharga buat hal sampah kayak gitu. Gue cuma lagi ngasih jalan buat kalian. Bukannya itu yang kalian mau di Jogja? Dan oh, di kostan lo juga?"
Fita langsung bungkam. Wajahnya yang tadi memerah karena marah, kini berubah menjadi pucat pasi. Dia tidak menyangka aku akan sevokal ini di depan kelas.
"Jangan pernah sebut soal itu di sini," ancam Guntur dengan suara rendah yang ditekan.
"Kenapa? Takut reputasi 'kakak kelas idaman' lo hancur? Atau takut orang-orang tahu kalau kalian berdua cuma pengecut yang main di belakang?" Aku menepis bahu Guntur yang menghalangi pintu masuk kelas. "Mulai sekarang, anggap gue nggak ada. Tapi jangan harap gue bakal diam kalau kalian masih berani ganggu jalan gue."
Aku melangkah masuk ke kelas tanpa menoleh lagi. Di dalam, aku merasa puas. Rasa sakit yang semalam membuatku menangis hingga sesak, kini berubah menjadi energi dingin yang menguatkan. Aku tidak butuh Bintang dengan payungnya, atau siapa pun yang ingin mengobati lukaku. Aku hanya ingin mereka merasakan bagaimana rasanya menjadi orang asing di tempat yang dulu mereka anggap milik mereka sendiri.
Ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan dari nomor baru masuk.
"Fis, gue tunggu di parkiran pulang sekolah. Gue antar balik. – Radit."
Aku tersenyum miring. Permainan baru saja dimulai.
Aku membiarkan pesan Radit menggantung tanpa balasan. Aku ingin mereka tahu bahwa aku bukan lagi perempuan yang bisa didikte lewat layar ponsel. Begitu bel pulang sekolah memekakkan telinga, aku membereskan buku dengan gerakan tenang, menyampirkan tas di bahu, dan berjalan keluar kelas tanpa mempedulikan tatapan kaku dari teman-teman sekelasku.
Di koridor, aku melihat Guntur masih berdiri di sana, seolah-olah dia belum beranjak sejak perdebatan tadi. Dia menatapku, matanya seolah memohon penjelasan, tapi aku hanya melewatinya begitu saja seolah dia hanya tiang bangunan yang tak bernyawa.
Begitu sampai di area parkiran, pemandangan yang tersaji benar-benar sesuai dugaanku. Radit bersandar di motor besarnya dengan gaya angkuh yang menjadi ciri khasnya. Dia melepas kacamata hitamnya begitu melihatku mendekat, memberikan senyum penuh kemenangan yang sengaja ia tujukan pada Guntur yang mengekor di belakangku dengan jarak beberapa meter.
"Lama banget, Fis. Gue kira lo diculik sama 'hantu' masa lalu," sindir Radit sambil menyodorkan helm kepadaku. Suaranya sengaja dikeraskan, cukup untuk membuat Guntur yang berdiri tak jauh dari kami mengepalkan tangan.
Aku menerima helm itu, lalu menoleh sekilas ke arah Guntur yang wajahnya sudah merah padam. Di sampingnya, Fita tampak memegang lengan Guntur, entah untuk menahan laki-laki itu atau sekadar ingin menunjukkan kepemilikannya.
"Gue nggak butuh diculik buat pergi, Dit. Gue cuma perlu alasan buat nggak noleh ke belakang lagi," balasku sambil memakai helm.
"Fis! Kamu bener-bener mau pulang sama dia?" Guntur akhirnya meledak. Dia melangkah maju, namun langkahnya terhenti saat Radit menegakkan badan dan berdiri di depanku, menghalangi pandangan Guntur.
"Masalah buat lo, Tur? Urus aja cewek lo yang satu lagi itu. Fis bukan urusan lo lagi," sahut Radit dingin.
Aku naik ke atas motor Radit, melingkarkan tangan di pinggangnya—bukan karena aku merasa nyaman, tapi karena aku ingin melihat kehancuran di mata Guntur dan raut iri di wajah Fita. Pertunjukan ini jauh lebih memuaskan daripada sekadar menangis di kamar.
"Jalan, Dit," perintahku pendek.
Deru mesin motor Radit membelah keheningan parkiran, meninggalkan debu dan rasa malu yang kini berpindah alamat ke pundak mereka. Aku merasakan angin sore menerpa wajahku, membawa pergi sisa-sisa kenangan pahit yang mulai menguap.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2