Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
021
Roseo mengedarkan pandangannya saat Mary mengajaknya ke restoran ayam goreng cepat saji nomor satu di tanah air, ayam Kaepsi yang gerainya selalu ramai dikunjungi pengunjung.
Mary memesan paket berupa satu bucket ayam krispi dari restoran ayam cepat saji sebagai bentuk pelampiasan karena siang tadi ia hanya makan salad sayur dari kafe yang dikunjunginya.
Mary segera tersenyum cerah saat mengunyah kulit ayam yang renyah dengan aroma rempah yang begitu menggiurkan.
Roseo hanya diam dan memerhatikan Mary yang hanya memakan kulit ayam ke dua dari delapan potong ayam goreng di dalam bucket.
“Ayam goreng ini memang ayam goreng terbaik di semesta ini! Restoran ini harusnya buka bukan hanya di kota besar! “
“Sedih sekali rasanya, hanya untuk makan ayam goreng ini, aku harus pergi ke kota terdekat yang perjalanannya seharian!”
Mary berkomentar sambil menjilati tangannya yang belepotan saus sambal.
“Kenapa kau tidak makan, Ros?” Tanya Mary.
Roseo masih tetap diam.
"Tenang saja, Roseo! Aku sudah membayar semua ini! Kita tidak perlu patungan membayarnya! Jadi, kau cukup makan saja! Jangan merasa sungkan untuk tambah nasi, akan kupesankan lagi," cerocos Mary.
“Tidak ada lalapan segar dan sambalnya juga bentuknya aneh”.
Roseo akhirnya menjawab usai memberikan impresi pertamanya saat melihat menu ayam goreng yang dipesan Mary.
“Oh, astaga Ros! Ini ayam goreng kaepsi, bukan ayam goreng lalapan tenda pinggir jalan yang ada lalapan dan sambal terasi!"
"Apa ini pertama kalinya kau makan di restoran ini?” Tanya Mary.
“Benar,” jawab Roseo tanpa ragu.
“Haha, tapi kau tahu kan, restoran ini sangat terkenal sampai-sampai iklannya selalu seliweran di televisi,” Mary tertawa.
“Ya, aku tahu,” jawab Roseo lagi.
" Ros, apa kau tahu, saat baru pindah ke kota, hampir setiap hari aku pasti makan ayam goreng ini! Dan anehnya aku tidak pernah merasa bosan. Mungkin karena di kampung kita tidak ada restoran ini, jadi aku pun berpikir untuk terus menyantap ayam goreng ini selama aku masih tinggal di kota,” ucap Mary.
Roseo hanya diam dan mendengarkan Mary.
“Ayo makanlah, ini benar-benar enak, apalagi kulit ayam yang begitu renyah ini!” Kata Mary.
Mary melepas kulit ayam dari potongan ayam di piringnya lalu melumuri kulit ayam itu dengan saus sambal yang banyak.
“Percayalah, bagian paling enak dari ayam goreng ini adalah kulitnya”.
Mary berlagak seperti pemandu acara kulineran di televisi.
“Sampai-sampai ada ungkapan yang menyatakan, bahwa pria idaman untuk dijadikan suami adalah pria yang bersedia memberikan bagian kulit ayam goreng miliknya untuk sang kekasih,” lanjut Mary.
Roseo terperangah mendengar ucapan Mary.
“Hah?! Bagaimana bisa seorang pria yang baik hanya diukur dari kulit ayam?! Sungguh konyol,” sahut Roseo dengan penuh kesinisan.
“Haha, Roseo, itu hanya ungkapan!" Mary tertawa.
"Ungkapan bahwa tipe suami idaman adalah seorang pria yang hanya memberikan hal terbaik yang dimilikinya. Kalau dia tidak bisa memberikan hal terbaik, itu artinya pria tersebut bukanlah tipe suami idaman,” tukas Mary seraya tertawa.
"Dan, yang perlu kau ketahui lagi, Roseo. Aku sudah lama sekali tidak makan ayam goreng ini. Aku rasa sudah tujuh tahun aku tidak pernah memakannya. Jadi, ini sungguh rasa yang kurindukan, dan aku benar-benar senang sekali," cerocos Mary.
Selama berkencan dengan Luke, Mary tidak pernah makan ayam goreng kaepsi lagi karena mantan kekasihnya itu melarang Mary untuk makan makanan cepat saji selain tinggi kolestrol juga tinggi kalori yang dapat merusak penampilan.
Roseo menatap Mary dengan tatapan penuh keheranan.
“Aku sungguh heran padamu, padahal beberapa saat yang lalu kau menangis tersedu-sedu. Tapi sekarang kau malah tertawa, seperti kata Roseo.
“Roseo! Bukankah sudah kukatakan, aku benar-benar sangat lapar. Dan memang sejak tadi siang aku ingin makan ayam goreng ini, tapi karena antrian yang mengular, aku hanya bisa menunggu,” kata Mary beralasan.
“Apa?! Kau belum ada makan sejak siang hanya gara-gara menunggu antrian?!” Roseo terperangah.
“Apa kau tidak kepikiran untuk mencari makanan lain? Apa di kota ini tidak ada makanan lain yang enak selain ayam goreng ini?” Tanya Roseo.
“Yah, habis bagaimana? Aku kan sangat suka ayam goreng ini. Jadi, aku harus bersabar menunggu, yang penting pada akhirnya aku bisa makan ayam goreng ini lagi,” jawab Mary sambil tersenyum sumringah.
Roseo benar-benar tak habis pikir dengan wanita di hadapannya ini.
Roseo akhirnya mengambil potongan ayam yang masih utuh lalu mengupas seluruh lapisan tepung yang menempel. Ia menyerahkan semua kulit ayam itu ke piring Mary.
“Kalau kau begitu suka kulit ayam, kau saja yang makan semuanya,” kata Roseo.
"Roseo, kau baik sekali! Haha!" Mary tertawa.
Mary kembali tersenyum sumringah melihat Roseo yang mulai memakan ayam goreng tanpa kulit.
Mary berhenti makan, ia sudah merasa cukup kenyang setelah menghabiskan setengah porsi nasi dan kulit ayam.
"Mawary, kenapa kau tidak menghabiskan makananmu?" Tanya Roseo.
"Aku sudah kenyang," jawab Mary.
"Mubazir sekali kalau kau tidak menghabiskannya," sahut Roseo.
"Ya, sudah, kau saja yang habiskan semuanya Roseo, daripada mubazir," Mary menimpali.
Roseo pernah hidup dalam keterbatasan yang di luar batas ketika ia masih kecil tatkala perekonomian keluarganya yang berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga Roseo menghabiskan semua ayam goreng tanpa kulit itu daripada mubazir.
Mary menyantap segelas es krim sundae vanila dengan taburan saus cokelat dan potongan kacang tanah sangrai sebagai hidangan penutup.
Mary baru menyantap dua suapan es krimnya, tiba-tiba gawai cerdasnya berdering memunculkan nomor telepon tanpa nama.
Mary langsung menyambar teleponnya dan segera keluar dari restoran untuk menjawab telepon tersebut.
Sementara itu, Roseo yang baru kembali dari mencuci tangannya terkejut karena Mary tidak ada di tempat duduk mereka.
“Astaga, wanita itu benar-benar, ya?! Baru ditinggal sebentar, sudah menghilang lagi,” keluh Roseo.
Roseo berjalan keluar restoran untuk mencari Mary.
Langkah pria itu terhenti saat menemukan Mary yang sedang berbincang ditelepon.
Roseo penasaran siapa yang menghubungi Mary, namun rasanya kurang pantas jika ia mencuri dengar.
“Aku akan menunggumu jika maumu begitu," ucap Mary.
Menunggu? Batin Roseo.
Siapa yang sedang ditunggunya?
"Aku tidak mungkin bisa melupakanmu secepat itu".
"Tentu saja aku masih mencintaimu, Luke!"
Roseo seketika membeku, entah mengapa ia merasakan rasa nyeri yang merambat di dadanya saat Mary mengucapkan kata cinta tapi bukan untuknya.
"Jadi, apakah ada kemungkinan bahwa kita akan kembali bersama suatu hari nanti?" Tanya Mary.
"Baiklah, kalau kau memang ingin aku menunggumu, aku akan menunggumu, Luke," ucap Mary.
Roseo hanya bisa tertunduk lesu. Sepertinya ia memang sudah salah karena mencuri dengar apa yang tidak seharusnya ia dengar.