Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
malam reuni akhirnya datang juga.
Hari itu berjalan cukup padat bagi Yusallia, seperti biasa. Sejak pagi ia sudah disibukkan dengan jadwal pasien yang tidak terlalu memberi banyak jeda. Namun entah kenapa, sejak bangun pagi tadi, ada satu hal kecil yang terus berada di sudut pikirannya.
Reuni kecil. Bukan acara besar. Bukan acara formal.
Hanya kumpul santai dengan beberapa teman dekat SMA yang sudah lama tidak benar-benar duduk bersama dalam suasana tanpa tekanan.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali Yusallia datang ke tempat seperti club hanya untuk bersosialisasi.
Biasanya, waktunya habis untuk pekerjaan. Atau untuk pulang lebih cepat. Atau sekadar menghindari keramaian yang terasa melelahkan.
Tapi kali ini berbeda. Mungkin karena Bryan yang mengajaknya.
Atau mungkin… karena ia juga ingin melihat bagaimana rasanya kembali ke bagian hidup yang dulu terasa sederhana.
Jam kerja hari itu akhirnya selesai menjelang sore.
Langit di luar rumah sakit mulai berubah warna. Tidak terlalu gelap, tapi juga tidak seterang siang tadi.
Yusallia merapikan meja kerjanya seperti biasa, memastikan tidak ada berkas yang tertinggal dalam keadaan berantakan.
Tangannya bergerak pelan, lebih santai dibandingkan biasanya.
Hari ini tidak terlalu berat. Ia mengambil tasnya, lalu berdiri.
Baru saja ia melangkah keluar dari ruangannya, ponselnya bergetar pelan.
Satu notifikasi pesan masuk. Nama Bryan muncul di layar. Tanpa sadar, sudut bibir Yusallia sedikit terangkat.
Ia membuka pesan itu sambil berjalan pelan menuju area parkir.
Bryan:
> Lo udah selesai kerja? 😄
Yusallia mengetik sambil berjalan.
Yusallia:
> Baru aja kelar
> Kenapa?
Balasan muncul tidak sampai satu menit.
Bryan:
> Mau ngabarin aja
> Nanti kumpulnya jam 9 ya
Yusallia berhenti sebentar di dekat mobilnya.
Jam 9. Masih cukup waktu untuk pulang dulu.
Yusallia:
> Oke
> Di tempat yang lo bilang kemarin kan?
Bryan:
> Iya
> VIP room udah dibook sama anak-anak 😆
Yusallia bisa membayangkan betapa hebohnya teman-teman lamanya mengatur hal seperti itu.
Tidak banyak yang berubah rupanya.
Bryan:
> Lo langsung ke sana atau pulang dulu?
Yusallia:
> Pulang dulu lah
> Masa dari RS langsung ke club 😑
Bryan langsung membalas.
Bryan:
> Ya kali aja lo mau bikin konsep dokter misterius yang dateng ke Club kayak hari Halloween 🤣
Yusallia tersenyum kecil.
Yusallia:
> Nggak segitunya juga
Beberapa detik kemudian, pesan baru muncul lagi.
Bryan:
> Mau berangkat bareng?
> Gue bisa jemput
Yusallia menatap layar ponselnya beberapa detik.
Entah kenapa, ia merasa ingin berangkat sendiri. Bukan karena tidak mau ditemani. Tapi mungkin, ia ingin memberi dirinya waktu sebentar. Waktu untuk menyesuaikan diri.
Yusallia:
> Nggak usah
> Gue bawa mobil sendiri aja
Bryan membalas cepat.
Bryan:
> Yakin?
Yusallia:
> Iya santai 😄
Bryan:
> Oke deh
> Nanti kabarin kalau udah sampai
Yusallia:
> Iya
Bryan:
> Jangan tiba-tiba ngilang ya 😑
Yusallia tertawa kecil pelan.
Yusallia:
> Nggak lah
Bryan:
> Good
> See you nanti
Yusallia:
> See you
Chat berakhir. Yusallia memasukkan ponselnya ke tas.
Ia masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, lalu perlahan keluar dari area parkir rumah sakit.
Perjalanan pulang terasa cukup tenang. Lalu lintas sore hari tidak terlalu padat.
Radio mobil menyala pelan, mengisi ruang dengan musik yang tidak terlalu ia perhatikan.
Pikirannya sesekali kembali ke rencana malam ini.
Sudah lama ia tidak berdandan untuk acara santai seperti ini. Biasanya ia memilih pakaian yang nyaman dan sederhana. Tidak terlalu mencolok. Dan tidak terlalu formal.
____________________________________________
Sesampainya di rumah, suasana terlihat cukup tenang. Lampu ruang tamu menyala hangat. Tidak banyak suara.
Ia langsung menuju kamarnya setelah menyapa singkat asisten rumah tangga yang kebetulan sedang merapikan meja makan.
Di dalam kamar, ia meletakkan tasnya di kursi. Lalu berdiri sebentar di depan lemari.
Memikirkan apa yang sebaiknya ia pakai. Tidak terlalu mencolok. Dan tidak terlalu santai. Yang Cukup pas untuk dipakai ke Club biasanya.
Ia akhirnya memilih pakaian yang sederhana tapi tetap rapi. Gaun panjang selutut dengan bewarna gelap. Tidak berlebihan. Tapi cukup membuatnya terlihat berbeda dari kesehariannya di rumah sakit.
Setelah selesai bersiap, ia duduk sebentar di tepi tempat tidur. Melihat jam. Masih ada waktu.
Ia merapikan rambutnya sekali lagi. Memastikan semuanya terlihat cukup baik. Tidak perlu sempurna. Hanya cukup untuk hadir dalam acara reuni tersebut.
Beberapa saat kemudian, ia mengambil tas kecil, ponsel, dan kunci mobil. Lalu keluar dari kamar.
Rumah masih cukup sepi.
Ia masih tidak melihat orang tuanya. Karena memang belum pulang dari perjalanan kerja luar kota mereka yang sampai dua bulan.
Ia langsung menuju garasi. Mobil dinyalakan. Malam mulai turun perlahan.
Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Gedung-gedung terlihat lebih hidup dibandingkan siang hari.
Perjalanan menuju club memakan waktu sekitar empat puluh lima menit.
Semakin mendekat, suasana jalan mulai berubah. Lebih ramai. Lebih terang. Dan lebih berisik.
Tempat-tempat hiburan malam mulai dipenuhi orang. Mobil-mobil terparkir di sepanjang jalan.
Beberapa orang terlihat berdiri di depan pintu masuk club, tertawa, mengobrol, atau sibuk dengan ponsel mereka.
Yusallia memarkir mobilnya di area parkir yang tersedia.
Ia menarik napas pelan sebelum turun.
Ia menghubungi Bryan lewat pesan untuk mengabari bahwa ia telah sampai
Yusallia:
> Gue sudah sampai di Club.
> Ruangan VIP berapa?
Suara musik dari dalam club sudah terdengar samar bahkan dari luar. Dentuman bass yang teredam. Lampu-lampu neon yang terlihat dari balik pintu kaca.
Sambil menunggu balasan dari Bryan, ia pun melangkah masuk ke dalam Club.
Suasana langsung berubah. Lampu redup.
Musik cukup keras, tapi tidak terlalu mengganggu.
Orang-orang memenuhi area utama. Beberapa duduk santai, beberapa berdiri mengobrol.
Balasan Bryan hadir sebelum dia berjalan kearah staf yang berjaga.
Bryan:
> Good
> Bilang aja ruang VIP yang dipesan atas nama Dirgantara
Yusallia membalas dengan cepat
Yusallia:
> Oke
Yusallia menghampiri seorang staf yang menyapanya dengan sopan.
“Selamat malam, ada yang bisa dibantu?”
“Saya ingin ke VIP room yang sudah dipesan atas nama Dirgantara,” jawab Yusallia pelan.
"Baik, bisa ke lantai atas dengan ruangan 03" Balas staf itu mengangguk, lalu mempersilahkannya ke lantai atas
Yusallia pun kemudian naik ke tangga lantai atas yang berisikan ruang VIP.
Lorong menuju VIP room sedikit lebih tenang dibandingkan area utama. Suara musik masih terdengar, tapi tidak sekeras di luar dan di bawah.
Langkah Yusallia terasa pelan. Ada sedikit rasa gugup yang tidak ia akui.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bertemu beberapa dari mereka.
Pintu VIP room pun ia ketuk dua kali, sampai ada yang mempersilahkan masuk. Dan kemudian ia buka pelan.
Suara tawa langsung terdengar. Beberapa orang langsung menoleh ke arah pintu.
Dan dalam satu detik—Wajah-wajah familiar dari masa SMA menyambutnya kembali.
Bryan adalah salah satu yang pertama berdiri. Senyumnya langsung terlihat begitu melihat Yusallia.
“Finally,” katanya santai.
Yusallia tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa mungkin tidak apa-apa sesekali kembali ke masa lalu. Walaupun hanya untuk beberapa jam.