NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan dan Bisnis

Penerbangan dari Jeju ke Seoul terasa lebih sunyi dari biasanya. Ketegangan yang ditinggalkan Noah di restoran hotel tadi seolah ikut terbang bersama mereka, menyelimuti kabin pesawat pribadi dengan suasana yang kaku. Nathaniel kembali menjadi sosok mentor yang tak tersentuh, sementara Alessia hanya bisa sesekali melirik pria itu dari balik tumpukan berkas.

Begitu roda pesawat menyentuh aspal Bandara Gimpo, Alessia sudah membayangkan empuknya kasur di rumahnya. Namun, harapannya pupus seketika saat Nathaniel melirik arlojinya.

"Kita langsung ke kantor pusat, Nona Sinclair. Renovasi VIP Lounge sudah mencapai tahap akhir dan ada ketidaksesuaian antara desain awal dengan material yang datang. Ayah Anda ingin Anda yang memutuskannya sore ini," ucap Nathaniel tanpa nada kompromi.

"Sekarang? Nathan, aku baru saja turun dari pesawat!" keluh Alessia, meskipun kakinya tetap melangkah mengikuti ritme jalan Nathaniel yang cepat.

"Bisnis tidak mengenal kata lelah, Alessia. Mari jalan."

Sesampainya di mall pusat, bau cat segar dan debu konstruksi yang halus menyambut mereka. Area VIP Lounge yang dulunya sangat megah kini tertutup terpal plastik besar. Beberapa arsitek dan kontraktor sudah berdiri dengan cemas, memegang gulungan cetak biru yang tampak sangat rumit.

Alessia berdiri di tengah ruangan yang masih setengah jadi itu. Di hadapannya, berjajar sampel marmer, jenis kain sofa, hingga contoh pencahayaan. Matanya berkedip bingung menatap garis-garis arsitektural yang baginya tampak seperti labirin.

"Ms. Sinclair, kami mengalami kendala pada sistem pencahayaan tersembunyi (hidden lighting) di plafon. Jika kita menggunakan marmer Italia yang ini, pantulan cahayanya akan terlalu tajam bagi mata pengunjung. Tapi jika diganti ke marmer lokal, estetika old money yang Anda inginkan akan berkurang," jelas sang kepala proyek.

Alessia terdiam. Ia menatap marmer itu, lalu menatap Nathaniel yang berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap, memperhatikannya dengan tatapan menguji.

"Kak... aku tidak mengerti. Memangnya pantulannya akan seburuk itu?" bisik Alessia, menarik lengan jas Nathaniel agar pria itu mendekat.

Nathaniel melangkah maju, berdiri tepat di belakang Alessia sehingga gadis itu bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya di tengah ruangan yang dingin. Ia menunjuk ke arah sudut plafon.

"Lihat sudut kemiringannya, Alessia. Marmer bertekstur glossy akan memantulkan cahaya seperti cermin. Jika pengunjung duduk di sofa ini, mereka akan merasa silau. Gunakan logika 'kenyamanan pelanggan' yang kamu pelajari di mall pinggiran kemarin," Nathaniel membimbingnya dengan suara rendah yang menenangkan.

"Oh... jadi kalau kita pakai marmer yang permukaannya lebih matte, cahayanya akan lebih lembut?" tanya Alessia memastikan.

"Tepat. Dan untuk menjaga kesan old money, pilih kain beludru dengan warna yang sedikit lebih gelap untuk menyeimbangkannya," tambah Nathaniel.

Alessia mengangguk paham, mulai merasa percaya diri. Ia berbalik ke arah para kontraktor dan memberikan instruksi dengan tegas, persis seperti yang disarankan Nathaniel namun dengan gayanya sendiri.

Setelah para staf pergi untuk melanjutkan pekerjaan, Alessia menyandarkan punggungnya ke dinding yang baru dicat. "Ternyata membangun gedung lebih susah daripada membangun karakter di dalam novel, ya?"

Nathaniel menatapnya, ada binar kebanggaan yang coba ia sembunyikan. "Kamu belajar dengan cepat. Tapi jangan terlalu santai dulu. Masih ada kontrak dari Maverick Automotive yang masuk ke meja kerjamu sore ini."

Alessia tersentak. "Noah? Dia sudah mengirimkan proposal?"

Nathaniel hanya mengangguk kaku, namun rahangnya mengeras saat menyebut nama itu. "Sepertinya dia sangat serius ingin bekerja sama... atau setidaknya, sangat serius ingin menemuimu lagi."

———

Malam itu, kediaman keluarga Sinclair terasa jauh lebih hangat dibandingkan dinginnya marmer di mall pusat tadi siang. Meja makan kayu mahoni yang besar itu sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan rumahan yang aromanya menggoda selera.

Nathaniel berdiri kaku di samping kursinya. Meskipun ini adalah makan malam keluarga, ia tetap mengenakan kemeja formal putih yang disetrika sempurna dengan dasi sutra berwarna gelap. Baginya, pakaian adalah perisai sekaligus tanda penghormatan.

William Sinclair yang baru saja melepas kacamata bacanya, menatap Nathaniel sambil menggelengkan kepala pelan.

"Nathan... kamu bisa melepaskan jasmu itu. Ini bukan ruang rapat direksi," kata William dengan nada kebapakan yang lembut.

"Sudah terbiasa, Tuan. Saya merasa lebih siap jika berpakaian seperti ini," jawab Nathaniel kaku, tangannya bergerak merapikan letak sendok di depannya.

William menghela napas panjang, ada binar jenaka sekaligus haru di matanya. "Ini di luar kantor, tidak bisakah kamu memanggilku ayah atau paman saja? Jangan panggil 'Tuan' di depan sup iga ini," rajuk William.

Rosetta yang baru saja meletakkan semangkuk salad buah di tengah meja, ikut menimpali sambil tersenyum hangat ke arah Nathaniel. "Iya, Nathan. Padahal kami sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri sejak dulu. Kamu sudah menjaga Alessia dan perusahaan ini lebih dari siapa pun."

Nathaniel tertegun. Kata "anak sendiri" selalu menjadi beban sekaligus anugerah baginya. Ia melirik Alessia yang sedang sibuk menuangkan air putih, lalu kembali menatap pasangan suami istri yang telah menariknya dari kegelapan masa lalu itu.

"Hm... iya... Ayah... Ibu," ucap Nathaniel ragu. Suaranya terdengar sedikit bergetar saat mengucapkan kata-kata yang sudah sangat lama tidak ia ucapkan kepada siapa pun.

Alessia yang mendengar itu langsung menoleh dan tersenyum sangat lebar. "Nah, begitu dong! Kalau di rumah panggil Ayah dan Ibu, kalau di kantor panggil Mentor, kalau di luar kantor... panggil Nathan saja," goda Alessia sambil mengerlingkan matanya.

Makan malam pun dimulai dengan suasana yang jauh lebih santai. Namun, di tengah pembicaraan tentang rencana liburan keluarga, William tiba-tiba menatap Nathaniel dengan tatapan serius yang berbeda dari sebelumnya.

"Nathan, aku mendengar Noah Maverick menemuimu di Jeju? Ayahnya baru saja menghubungiku tadi sore. Dia sangat ingin menjodohkan Noah dengan Alessia untuk memperkuat aliansi bisnis kita," ucap William tenang.

Seketika, suasana di meja makan mendadak senyap. Sendok di tangan Nathaniel berdenting pelan saat menyentuh piring porselen.

Alessia meletakkan sendoknya dengan dentangan yang cukup keras hingga memecah keheningan di meja makan. Wajahnya yang tadi ceria seketika berubah masam, alisnya bertaut menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat.

"Hah? Apaan sih?! Ayah kan gak mungkin jual anak ayah demi bisnis," gerutu Alessia kesal. Ia melirik Nathaniel sejenak, seolah mencari dukungan moral dari pria yang duduk di seberangnya.

Mendengar gerutuan itu, sebuah beban berat yang seolah menghimpit dada Nathaniel sejak di Jeju tadi mendadak luruh. Ia tetap menunduk, menyibukkan diri dengan memotong daging di piringnya, namun sudut bibirnya yang kaku hampir saja mengkhianatinya dengan sebuah senyuman lega yang tipis. Respon Alessia adalah jawaban yang paling ingin ia dengar, meski ia tahu dirinya tidak punya hak untuk merasa sebahagia ini.

William tertawa lepas melihat reaksi putri tunggalnya. Ia mengusap rambut Alessia dengan penuh kasih sayang, menatapnya dengan binar kebanggaan yang tak tertandingi oleh keuntungan saham mana pun.

"Iya... semua akan Ayah serahkan padamu. Perasaanmu adalah milikmu, Sayang. Ayah tidak akan pernah memaksamu menikah hanya untuk angka di atas kertas," kata William lembut, namun nadanya penuh wibawa. "Lagipula, bisnis Ayah sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupmu aman sampai anak cucu nanti. Sinclair tidak butuh aliansi Maverick untuk tetap berdiri tegak."

Rosetta ikut tersenyum, mengusap punggung tangan Alessia. "Kami hanya ingin kamu bahagia, Nak. Menikah itu urusan hati, bukan urusan neraca keuangan."

Nathaniel terdiam, meresapi setiap kata yang diucapkan William. Ia merasa sangat kecil di tengah kemurahan hati keluarga ini. Mereka begitu tulus, begitu menghargai kebahagiaan Alessia di atas segalanya.

Namun, di balik rasa leganya, sebuah pertanyaan pahit kembali muncul di benak Nathaniel: Jika perasaan Alessia adalah miliknya sendiri, apakah ada ruang kecil di sana untuk seseorang yang hanya seorang pengawal bayangan seperti dirinya?

"Tapi, Nathan," suara William kembali memanggilnya, membuyarkan lamunannya. "Sebagai mentornya, bagaimana menurutmu soal Noah? Secara profesional, apakah kerja sama dengan Maverick Automotive akan menguntungkan bagi divisi lifestyle kita?"

Nathaniel berdeham, mencoba mengembalikan mode profesionalnya meski hatinya sedang bergejolak. Ia menatap William dengan tatapan yang kembali tajam dan objektif.

"Secara data, Maverick memiliki basis pelanggan yang sangat loyal di kalangan kelas atas, Ayah," jawab Nathaniel, kali ini lebih lancar memanggil William dengan sebutan itu. "Jika kita membuka showroom eksklusif di sayap barat mall, itu akan meningkatkan traffic pengunjung pria secara signifikan. Namun..."

Nathaniel melirik Alessia sebentar sebelum melanjutkan.

"...Namun, kerja sama bisnis tidak harus melibatkan urusan pribadi. Kita bisa mengambil keuntungannya tanpa harus memberikan apa pun yang tidak ingin diberikan oleh Ms. Sinclair."

Alessia tersenyum puas mendengar pembelaan Nathaniel. "Dengar itu, Yah? Mentor kesayanganku saja setuju kalau bisnis dan perasaan itu beda kotak!"

"Aku dan Noah berteman baik, kalau kami nantinya akan berkencan, itu beda urusan lagi Yah. Tapi aku tidak mau menikah karena bisnis," lanjut Alessia dengan nada santai, tanpa menyadari bahwa setiap katanya adalah duri bagi pria yang duduk di seberangnya.

Nathaniel mengepalkan tangannya di bawah meja, menyembunyikannya dari pandangan siapa pun. Berkencan? Kata itu berputar-putar di kepalanya. Benar saja, Noah memiliki segalanya yang tidak dimiliki Nathaniel: masa lalu yang manis, status yang setara, dan kebebasan untuk mencintai Alessia tanpa beban hutang budi.

"Tentu saja," sahut William sambil tertawa kecil, melirik istrinya. "Selama kamu bahagia, Ayah tidak keberatan siapa pun pria yang akan berjalan di sampingmu nanti. Entah itu Noah, atau... siapa pun yang bisa menjagamu lebih baik dari Ayah."

Tatapan William sempat beralih pada Nathaniel selama satu detik, sebuah tatapan yang sulit diartikan, sebelum kembali fokus pada supnya.

Nathaniel hanya bisa terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia merasa seperti seorang penjaga mercusuar yang hanya bisa menatap kapal indah berlayar menjauh dari daratannya. Ia bertugas memastikan Alessia aman, memastikan cahayanya tetap terang, namun ia tahu dirinya tidak akan pernah menjadi pelabuhan terakhir bagi gadis itu.

"Nathan, kenapa diam saja? Supnya keburu dingin," tegur Rosetta lembut.

"Ah... maaf, Ibu. Saya hanya sedang memikirkan strategi untuk pertemuan dengan Maverick besok pagi," jawab Nathaniel cepat, kembali memasang topeng profesionalnya yang kaku.

Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya. Ia tidak sedang memikirkan strategi bisnis; ia sedang memikirkan bagaimana caranya tetap bersikap biasa saja saat besok ia harus melihat Noah menatap Alessia dengan tatapan yang sama seperti yang ia simpan rapat-rapat di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!