NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Gurun Waktu yang Membeku

Surga Pertama - Wilayah Tak Bertuan.

Celah bayangan memuntahkan isinya dengan kasar ke atas permukaan yang terasa seperti hamparan kristal halus.

Shen Yu mendarat dengan ringan, jubah hitamnya berkibar meredam gaya jatuh. Di sebelahnya, Lin Xue turun dengan anggun, pedang teratainya siap di tangan. Di belakang mereka, tiga ratus kultivator fana berjatuhan bergulingan, batuk-batuk menghirup udara yang terasa sangat ganjil.

Lorong bayangan di atas mereka menutup dengan suara letupan pelan, memutuskan mereka sepenuhnya dari Puncak Darah dan amukan sang Dewa Sejati.

Keheningan yang menyambut mereka sangat mencekam. Tidak ada lolongan badai Kalpa Angin Salju. Langit di atas mereka bukan lagi kelabu, melainkan warna senja yang membeku secara permanen campuran antara ungu pekat dan emas kusam yang tidak pernah berubah.

Sejauh mata memandang, yang terhampar hanyalah lautan bukit pasir berwarna perak pucat. Butiran-butiran pasir itu melayang pelan beberapa inci di atas tanah, bergerak membentuk pusaran-pusaran kecil tanpa ada angin yang meniupnya.

"Kita berhasil lolos..." salah satu kultivator di barisan belakang menghela napas lega. Ia melangkah maju, keluar dari sisa-sisa bayangan lorong Tuan Muda Tanpa Wajah, dan menginjak pasir perak tersebut.

"Berhenti!" bentak Lin Xue mendadak, mata ungunya melebar saat insting Dao Kehidupan-nya menjeritkan bahaya.

Namun peringatan itu terlambat satu detik.

Kaki kultivator itu menginjak pusaran pasir perak. Seketika, pria bugar di tingkat Dewa Fana Tahap Awal itu menjerit dengan suara yang terdengar berlapis-lapis.

Dalam hitungan kedipan mata, kulit di kakinya mengering, keriput, dan membusuk. Efek itu merambat ke atas dengan kecepatan mengerikan. Rambut hitamnya rontok menjadi putih, zirah besinya berkarat dan hancur menjadi debu merah.

Hanya dalam tiga tarikan napas, pria yang bisa menghancurkan gunung di dunia fana itu berubah menjadi tengkorak rapuh, lalu runtuh menjadi tumpukan abu perak yang menyatu dengan gurun tersebut.

Dua ratus sembilan puluh sembilan kultivator fana lainnya mematung. Darah mereka serasa berhenti mengalir. Tidak ada serangan musuh. Tidak ada formasi pembunuh. Pria itu mati hanya karena berjalan.

"Jangan ada yang bergerak satu inci pun!" suara Shen Yu menggelegar, sarat dengan Dao Ketiadaan yang memaksa otot setiap orang di sana membeku di tempat.

Shen Yu berlutut, menatap lekat-lekat butiran pasir perak yang melayang di dekat ujung sepatunya. Ia mengulurkan tangannya, membiarkan sedikit Api Ketiadaan menyentuh pasir tersebut.

Pasir itu tidak terbakar. Sebaliknya, ia mencoba menyedot eksistensi Ketiadaan Shen Yu, mempercepat laju kehancuran api hitam tersebut.

"Ini bukan gurun pasir biasa," gumam Shen Yu, rahangnya mengeras. Ia berdiri dan menatap lautan perak di depan mereka. "Ini adalah Gurun Waktu yang Membeku. Butiran perak ini bukanlah batu... ini adalah fragmen-fragmen waktu dari era yang telah mati."

Lin Xue melangkah dengan sangat hati-hati, memastikan pijakannya selaras dengan energi Shen Yu. "Pusaran itu... arus waktu di sini tidak stabil. Satu langkah yang salah ke dalam pusaran pasir berarti mempercepat usia kita ribuan tahun dalam satu detik. Hukum kehidupan tidak akan bisa melawannya."

Kepanikan mulai merayapi barisan pasukan.

"L-Lalu bagaimana kita bisa keluar dari sini, Tuan?!" tanya salah satu mantan patriark dengan suara bergetar. "Kita terjebak! Terbang akan memicu tekanan udara, berjalan akan mengikis usia kita!"

Shen Yu tidak menjawab kepanikan mereka. Tiran itu tidak pernah mengenal kata terjebak. Ia merogoh saku jubah bagian dalamnya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam kecil benda yang dilemparkan oleh Tuan Muda Tanpa Wajah sebelum mereka melarikan diri.

Tuan Muda itu mengatakan benda ini adalah kunci untuk bertahan di sini, batin Shen Yu.

Ia mematahkan segel kunci di kotak tersebut dan membukanya.

Hawa dingin yang sangat kuno menyeruak keluar. Di dalam kotak itu, terbaring sebuah bola seukuran kepalan tangan. Benda itu menyerupai bola mata makhuk kosmik purba, namun irisnya telah membatu menjadi kristal kelabu, dipenuhi oleh ukiran roda gigi dan rune yang bergerak.

Mata Kompas Purba.

Begitu kotak itu terbuka, Mata Kompas itu tiba-tiba melayang ke udara. Iris kelabunya memancarkan cahaya biru pucat yang menembus hamparan pasir perak di depan mereka.

Ajaibnya, di bawah sorotan cahaya biru itu, butiran-butiran pasir waktu yang liar tampak melambat dan tertata. Cahaya kompas itu memproyeksikan sebuah jalur sempit lebarnya hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan yang membelah lautan waktu yang membeku itu. Jalur itu berkelok-kelok melintasi bukit pasir, menghindari pusaran-pusaran mematikan yang tidak kasat mata.

"Ia menstabilkan hukum waktu dalam radius cahayanya," Lin Xue menganalisis, matanya memancarkan ketakjuban. "Jalur ini adalah 'titik nol', di mana waktu tidak berjalan maju maupun mundur."

Shen Yu menyeringai tipis. Ia meraih Mata Kompas itu, membiarkannya melayang beberapa inci di atas telapak tangannya.

"Baris berdua ke belakang," titah Shen Yu mutlak pada pasukannya. "Ikuti tepat di mana aku melangkah. Jika ada di antara kalian yang tersandung keluar dari jalur cahaya ini, aku tidak akan membuang tenagaku untuk menyelamatkan fosil kalian."

Pasukan fana itu segera merapatkan barisan, tidak berani bernapas terlalu keras. Shen Yu melangkah memimpin di depan bersama Lin Xue, memasuki labirin waktu yang mematikan.

Perjalanan melintasi Gurun Waktu adalah siksaan mental yang jauh melebihi siksaan fisik di penjara bawah tanah.

Sepanjang perjalanan di atas jalur cahaya biru itu, mereka melihat ilusi-ilusi dari era yang telah terkubur. Di satu bukit pasir, mereka melihat bayangan naga kosmik yang membeku di tengah aumannya, dagingnya perlahan terkikis oleh pasir. Di lembah yang lain, mereka melihat proyeksi pertempuran jutaan kultivator purba yang terulang terus-menerus dalam putaran waktu tanpa akhir.

Keheningan gurun ini membuat detak jantung mereka terdengar seperti tabuhan genderang.

Setelah berjalan entah berapa jam atau mungkin berapa tahun, karena waktu tidak memiliki makna di tempat ini Mata Kompas Purba di tangan Shen Yu mulai berdenyut dengan ritme yang lebih cepat. Cahaya birunya semakin terang, menunjuk langsung ke arah pusat sebuah badai pasir perak raksasa yang menjulang hingga menembus langit senja abadi.

"Guru, lihat itu," Lin Xue menunjuk ke arah mata badai tersebut.

Di pusat pusaran waktu raksasa itu, terdapat sebuah area berbentuk kawah besar di mana pasir perak sama sekali tidak berani masuk.

Di dalam kawah kedap waktu itu, berdiri pilar-pilar batu obsidian raksasa yang retak dan dipenuhi lumut keabadian. Di ujung anak tangga batu yang telah hancur separuh, terdapat sebuah gerbang lengkung kuno. Di atas gerbang itu terbuat dari perunggu kosmik yang hampir hancur, bertuliskan tiga karakter purba yang memancarkan aura arogansi yang mampu menandingi Shen Yu sendiri:

SEKTE PENELAN ERA.

Ini bukan sekadar tempat berlindung. Ini adalah makam dari peradaban yang berani menantang hukum waktu Tiga Puluh Tiga Surga di masa lampau.

"Tuan Muda Tanpa Wajah tidak hanya mengirim kita untuk lari," Shen Yu menghentikan langkahnya tepat di batas antara badai pasir dan area kawah reruntuhan. Matanya yang hitam legam menatap gerbang raksasa itu dengan ambisi yang berkobar. "Dia mengirim kita ke perbendaharaan peninggalan penguasa purba."

Shen Yu melangkah masuk melewati batas kawah, diikuti oleh Lin Xue dan barisan pasukannya yang kelelahan namun bersyukur masih bernapas.

Udara di dalam reruntuhan ini terasa sangat berbeda. Sangat purba, sangat berat, namun anehnya... damai.

Namun, kedamaian di Alam Atas hanyalah ilusi sebelum bilah pedang diayunkan. Begitu orang terakhir dari barisan pasukan Shen Yu melangkah masuk ke dalam kawah, Mata Kompas Purba di tangan Shen Yu tiba-tiba meredup dan menutup irisnya sepenuhnya, kembali menjadi batu mati.

1
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka...
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Bambang Widono
👍👍🙏🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏
Bambang Widono
mantab lanjut Thor 👍👍💯💯💯💯👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
aleena
semua karyamu pasti bagus bagus
💪💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih 🙏
total 1 replies
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!