NovelToon NovelToon
Temukan Aku Dengan Bismillah

Temukan Aku Dengan Bismillah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Namira Ahsya

Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.

Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.

Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.

Hanya satu jalan.

Temukan dia dengan Bismillah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 - Sebuah Janji Kecil

Ruang tamu rumah Isya kembali tenang.

Namun suasananya masih dipenuhi rasa penasaran.

Isya duduk di sofa sambil menatap dua anak kecil di depannya.

Ba’da masih berdiri di belakang kakaknya dengan wajah waspada.

Sementara Beby berdiri dengan tangan di pinggang seperti seorang hakim kecil yang siap menuntut keadilan.

Isya tersenyum kecil.

Ia menatap Ba’da terlebih dahulu.

“Ba’da…”

Ba’da langsung menjawab pelan.

“Iya kak…”

Isya menunjuk ke arah Beby.

“Sekarang ceritakan ke kakak… kenapa dia bilang kamu calon suaminya?”

Ba’da langsung menunjuk Beby dengan cepat.

“Itu dia yang bilang duluan!”

Beby langsung protes.

“Karena Ba’da sudah janji!”

Ba’da menggeleng kuat-kuat.

“Aku tidak janji!”

Beby langsung menunjuk lagi.

“Kemarin kamu bilang ‘iya’!”

Ba’da menggerutu.

“Itu karena kamu tanya terus!”

Isya menutup mulutnya menahan tawa.

Namun ia mencoba menenangkan mereka.

“Sudah… sudah… satu-satu.”

Ia menunjuk Ba’da.

“Ba’da dulu yang cerita.”

Ba’da menelan ludah.

Ia duduk di lantai sambil menyilangkan kaki.

Beby juga ikut duduk, tapi matanya masih mengawasi Ba’da dengan curiga.

Ba’da mulai bercerita.

“Waktu pertama Ba’da pindah sekolah…”

Isya mengangguk kecil.

Ia tahu Ba’da memang anak pindahan.

Ba’da melanjutkan.

“Di hari pertama… Ba’da belum kenalan siapa-siapa karena yang lain sudah saling kenal.”

Isya mendengarkan dengan tenang.

Sementara Beby menatap Ba’da tanpa berkedip.

Ba’da melanjutkan lagi.

“Terus waktu istirahat…”

“Ba’da duduk sendirian di bangku taman sekolah.”

Ia mengingat kejadian itu.

“Ba’da bawa roti dari rumah.”

“Tapi waktu mau makan…”

“Tiba-tiba ada yang datang.”

Ba’da menunjuk ke arah Beby.

“Dia.”

Isya menoleh ke Beby.

Beby langsung duduk tegak dengan bangga sembari menyilangkan tangannya.

Ba’da menirukan suara kecil waktu itu.

“Hallo.”

“Kenapa kamu sendiri?”

Ba’da menjawab jujur waktu itu.

“Karena Ba’da belum punya teman.”

Beby waktu itu langsung duduk di sampingnya.

Tanpa izin.

Tanpa canggung.

Ia bahkan langsung melihat roti di tangan Ba’da.

“Roti kamu kelihatannya enak.”

Ba’da mengangguk.

“Iya.”

Lalu Ba’da berkata polos.

“Mau?”

Beby langsung menjawab cepat.

“Mau.”

Isya tertawa kecil mendengar bagian itu.

"xixixi...."

Ba’da melanjutkan ceritanya.

“Ba’da kasih setengah roti.”

“Terus dia makan banyak banget.”

Beby langsung protes.

“Tidak banyak!”

Ba’da membalas.

“Banyak!”

Isya tertawa lagi.

Ba’da melanjutkan cerita.

“Setelah makan… dia bilang sesuatu.”

Ba’da menirukan suara Beby waktu itu.

“Kamu baik yaa.”

Ba’da menjawab polos.

“Memang.”

Isya hampir tertawa lagi.

Ba’da lalu berkata lagi.

“Terus dia tanya…”

Ba’da menoleh ke Beby dengan wajah sedikit kesal.

“Kamu mau jadi suami aku?”

Beby langsung berkata cepat.

“Itu kan cuma tanya di besar besarin amat deh!”

Ba’da menggerutu.

“Tapi kamu tanya lima kali!”

Isya menahan tawa.

Ba’da melanjutkan ceritanya.

“Ba’da bilang tidak.”

“Tapi dia tanya lagi.”

“Dan lagi.”

“Dan lagi.”

Beby langsung berkata.

“Karena kamu kan belum jawab!”

Ba’da mengangkat tangan.

“Ba’da sudah jawab!”

“Tapi kamu bilang belum!”

Isya benar-benar hampir tertawa sekarang.

Ba’da melanjutkan.

“Akhirnya Ba’da capek…”

“Terus Ba’da bilang…”

“Iya.”

Ba’da menunduk.

“Supaya dia berhenti tanya.”

Beby langsung berdiri dengan wajah penuh semangat dan kemenangan.

“NAH!”

“Dengar kan!”

“Ba’da bilang iya!”

Ba’da langsung panik.

“Itu karena kamu paksa!”

Beby melipat tangan.

“Janji tetap janji!”

Ba’da langsung menunjuk.

“Curang!”

Beby membalas.

“Tidak curang!”

Ba’da menggerutu.

“Curang!”

Isya akhirnya tidak tahan lagi.

Ia tertawa keras.

“HAHAHA!”

Ia memegang perutnya karena terlalu geli.

Dua anak kecil di depannya kembali berdebat dengan serius.

Padahal yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang sangat konyol.

Isya akhirnya berkata sambil tertawa.

“Jadi…”

“Semua ini hanya karena roti dan pertanyaan terus-terusan?”

Ba’da langsung mengangguk kuat.

“Iya!”

Beby mengangkat dagunya.

“Itu namanya usaha.”

Ba’da langsung berkata.

“Itu namanya memaksa!”

Beby menunjuk Ba’da lagi.

“Pokoknya kamu sudah janji!”

Ba’da langsung bersembunyi lagi di belakang Isya.

“Aku gak mau nikah!”

Isya tertawa lagi.

Rumah kecil itu kembali dipenuhi suara tawa dan pertengkaran kecil yang lucu.

Dan bagi Isya…

hari itu menjadi salah satu hari paling menghibur yang pernah ia lihat di rumahnya.

Dua anak kecil…

yang bahkan belum mengerti apa arti pernikahan…

sudah sibuk berdebat seperti pasangan sungguhan.

Dan Isya hanya bisa tersenyum melihat mereka.

Karena di balik semua keributan itu…

tersimpan kepolosan yang sangat manis.

Ruang tamu rumah Isya masih dipenuhi suasana lucu setelah Ba’da dan Beby saling berdebat tentang “janji” mereka.

Ba’da masih berdiri di belakang Isya dengan wajah cemberut.

Sementara Beby duduk dengan rapi, sesekali melirik Ba’da seperti sedang mengawasi sesuatu yang sangat penting.

Isya masih menahan tawa.

Namun tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari luar.

“Assalamu’alaikum…”

Suara nenek terdengar dari depan rumah.

Isya langsung menoleh.

“Wa’alaikumussalam, Nek!”

Nenek masuk ke dalam rumah sambil membawa tas belanja kecil.

Namun begitu melihat suasana ruang tamu…

Ba’da yang cemberut.

Beby yang duduk rapi.

Dan Isya yang wajahnya seperti menahan tawa.

Nenek langsung bertanya heran.

“Ini kenapa?”

Isya yang sejak tadi menahan tawa akhirnya tidak kuat lagi.

“Nek…”

Ia menutup mulutnya sambil tertawa kecil. “Isya mau cerita sesuatu.”

Nenek menaruh tasnya di meja.

“Apa?”

Isya kemudian menceritakan semuanya.

Mulai dari Ba’da yang sembunyi di bawah selimut…

Beby yang datang ke rumah…

hingga cerita roti di sekolah dan “janji” yang akhirnya membuat Ba’da disebut calon suami.

Nenek mendengarkan dengan serius.

Namun beberapa detik kemudian…

bahunya mulai bergetar.

Lalu nenek tertawa.

“HAHAHAHA!”

Tawanya bahkan lebih keras dari Isya.

Ba’da langsung menutup wajahnya.

“Kak… jangan cerita semuanya…”

Nenek mengusap air mata karena terlalu geli.

“Ya Allah…”

“Baru kelas dua SD sudah punya calon istri.”

Isya ikut tertawa lagi.

Ba’da semakin cemberut.

Beby malah duduk semakin tegak.

Seolah bangga dengan statusnya.

Nenek kemudian membersihkan tenggorokannya.

“Ehem…”

Ia menatap Ba’da dengan wajah pura-pura serius.

“Kalau begitu…”

Ba’da langsung merasa tidak enak.

Nenek melanjutkan dengan suara berat.

“Ba’da harus tanggung jawab.”

Ba’da langsung membelalakkan mata.

“Hah?!”

Isya langsung menimpali dengan serius pura-pura.

“Iya betul itu, Nek.”

Ba’da menatap kakaknya dengan wajah panik.

“Kak?!”

Nenek melanjutkan lagi.

“Kalau sudah janji dengan perempuan…”

“Laki-laki harus tanggung jawab.”

Beby langsung mengangguk pelan.

“Iya…”

Ba’da semakin panik.

“Tapi Ba’da masih kecil!”

Beby tetap mengangguk setiap beberapa detik.

“Iya, Nek.”

Wajahnya terlihat sangat serius.

Seperti murid yang sedang mendengarkan pelajaran penting.

Nenek melanjutkan dengan nada penuh wibawa.

“Suami yang baik itu harus rajin.”

Beby langsung mengangguk lagi.

“Betul.”

“Harus sayang kepada istrinya.”

Beby kembali mengangguk dengan semangat.

“Betul, Nek.”

“Dan harus mendengarkan kata istrinya.”

Beby mengangguk lagi.

“Iyaaaa.”

Isya yang melihat itu langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa.

Sementara Ba’da mulai gelisah di tempat duduknya.

Nenek melanjutkan dengan sangat serius.

“Kalau istrinya minta sesuatu…”

“Suami yang baik harus berusaha memenuhinya.”

Beby kembali mengangguk mantap.

“Nahh betul, Nek.”

Isya akhirnya tidak tahan.

Ia menoleh ke Ba’da dengan wajah pura-pura serius.

“Dengar itu Ba’da.”

“Calon suami harus rajin.”

Ba’da langsung cemberut.

Nenek menambahkan lagi dengan nada santai tapi menggoda.

“Kalau istrinya lapar…”

“Suami harus cari makanan.”

Beby langsung menunjuk Ba’da kecil.

“Iya.”

“Ba’da harus begitu.”

Ba’da langsung protes.

“Kenapa aku?!”

Isya tertawa kecil.

“Karena kamu suaminya.”

Ba’da menggeleng kuat-kuat.

“Aku bukan suami siapa-siapa!”

Beby langsung membalas cepat.

“Kemarin kamu bilang iya.”

Ba’da langsung memegang kepalanya.

Nenek kembali berdehem kecil.

“Ehem…”

Ba’da langsung diam.

Nenek melanjutkan lagi.

“Suami juga harus berani.”

“Tidak boleh sembunyi di balik kakaknya.”

Beby langsung menunjuk lagi.

“Iya!”

“Ba’da tadi sembunyi di balik kakaknya.”

Ba’da semakin kesal.

“Aku sembunyi karena kamu ngejar!”

Isya tertawa lagi.

“Hahaha…”

Ia sampai memegang perutnya.

Ba’da menatap kakaknya dengan wajah kesal.

“Kak Isya jahat.”

Isya hanya menyeringai.

Beby malah terlihat semakin puas.

Ia kembali mengangguk kecil.

“Iya, Nek.”

“Beby akan ingat itu semua.”

Ba’da langsung menatapnya tidak percaya.

“Kamu kenapa serius sekali?!”

Beby menjawab dengan wajah tenang.

“Karena itu pelajaran penting.”

Isya hampir tertawa lagi.

Melihat Ba’da yang semakin pusing menghadapi “calon istrinya”.

Namun beberapa saat kemudian nenek akhirnya berdiri sambil tersenyum.

“Hahaha Sudah… sudah.”

“Sekarang nenek mau masak dulu.”

Ia mengambil beberapa bahan dari tas belanjanya.

Baru saja nenek hendak berjalan ke dapur…

Beby tiba-tiba berdiri dengan semangat.

“Ahhh!”

Ia mengangkat tangannya kecil.

“Izinkan Beby membantu, Nek!”

Nenek tersenyum hangat.

“Wah… rajin sekali.”

Isya langsung menyeringai nakal.

Ia melirik Ba’da lalu berkata dengan nada menggoda.

“Ohhh… rajin sekali ya.”

Isya menoleh ke Beby.

“Beda sekali sama kalau sama pak suami.”

Isya langsung tertawa kecil.

“xixixi…”

Ba’da cemberut semakin dalam.

“Kak Isya…”

Beby malah tersenyum bangga.

“Tentu saja.”

“Calon istri harus rajin.”

Ba’dapun hanya duduk dengan wajah kesal…

seolah hidupnya tiba-tiba menjadi sangat berat di usia delapan tahun.

Dan di dapur rumah kecil itu…

tawa kecil terus terdengar.

Karena bagi Isya dan nenek…

menggoda Ba’da hari itu terasa terlalu menyenangkan.

Nenek mulai menyiapkan bahan masakan di dapur.

Isya berdiri di samping sambil memperhatikan.

Sementara Beby berdiri sangat dekat dengan nenek dengan wajah penuh semangat.

Seperti asisten kecil yang sangat serius.

“Nenek, Beby bantu ya.”

Nenek tersenyum.

“Iya, boleh.”

Beby langsung mengambil beberapa bahan dengan hati-hati.

Namun matanya sesekali melirik ke arah ruang tamu.

Di sana Ba’da duduk sambil cemberut.

Masih kesal karena terus digoda.

Beby mendekat sedikit ke nenek.

Ia berbisik pelan.

“Nek, nenekk…”

Nenek menoleh.

“Iya?”

Beby menunjuk pelan ke arah ruang tamu.

“Itu Ba’da.”

Nenek mengangguk kecil.

“Iya, kenapa?”

Beby lalu berkata dengan suara serius seperti sedang memberikan ide besar.

“Nanti kalau Ba’da makan…”

“Kasih garam yang banyak saja, Nek.”

Nenek mengernyit.

“Loh kenapa?”

Beby menjawab polos.

“Biar orangya gak ngeselin.”

Nenek tertawa kecil kemudian menasehati sdikit.

“Kasihan Ba’da nanti kalau makan terlalu asin.”

Beby mengangguk kecil.

“Ahh iya juga Nek.”

Namun matanya tetap menatap Ba’da di ruang tamu.

Beberapa detik kemudian Beby mendekat lagi sedikit ke nenek.

“Nek, nenek…”

Nenek menoleh.

“Iya?”

Beby berkata dengan wajah polos.

“Kalau kasih cabe banyak… mungkin gak apa-apa ya?”

Isya tertawa.

“Hahaha…!”

Nenek juga ikut tertawa kecil.

Sementara Ba’da yang duduk di ruang tamu langsung berdiri.

“Aku dengar itu!”

Beby menoleh dengan santai.

“Bagus.”

“Berarti kamu harus berhenti ngeselin.”

Ba’da langsung menggerutu.

“Aku yang ngeselin?!”

Isya pun tertawa.

“Hahaha!”

Nenek tertawa kecil.

“Hahaha… sudah… sudah.”

Kemudian waktu pun berlalu…

makanan sederhana sudah siap di meja makan.

Isya membantu menata piring.

Beby juga ikut membantu dengan sangat serius.

Ia meletakkan sendok dengan hati-hati.

Terlihat sangat giat dan rajin.

Nenek tersenyum melihatnya.

“Wah… Beby rajin yaa.”

Beby tersenyum malu-malu.

“Hihi… sedikit saja, Nek.”

Ba’da duduk di kursinya dengan wajah masih sedikit kesal.

Namun ketika melihat makanannya…

wajahnya langsung berubah.

“Ba’da boleh makan?”

Nenek mengangguk.

“Iya, makan saja.”

Mereka pun makan bersama di meja kecil itu.

Isya sesekali masih tersenyum melihat Ba’da yang makan dengan cepat.

Sementara Beby makan dengan rapi.

Sesekali ia melirik Ba’da.Seolah memastikan “calon suaminya” itu tidak kabur lagi.

Namun suasana makan terasa hangat dan sederhana.

Beberapa saat kemudian…

terdengar suara dari luar rumah.

“Assalamu’alaikum…”

Suara seorang wanita terdengar dari depan rumah.

Beby langsung menoleh.

Matanya berbinar.

“Itu mama!”

Isya berdiri dari kursinya.

“Sebentar ya.”

Ia berjalan ke depan rumah lalu membuka pintu.

Di sana berdiri seorang wanita dengan wajah ramah.

Wanita itu tersenyum sopan.

“Maaf… apakah Beby ada di sini?”

Isya mengangguk ramah.

“Iya, Beby main ke sini.”

Beby segera berdiri lalu berjalan kecil mendekat.

“Mama!”

Wanita itu tersenyum sambil mengusap kepala Beby.

“Kamu di sini rupanya.”

Nenek juga keluar dari dapur sambil tersenyum hangat.

“Oh ini ibunya Beby ya.”

Wanita itu menunduk sedikit dengan sopan. “Iya, Bu. Maaf kalau Beby merepotkan.”

Nenek menggeleng sambil tersenyum.

“Tidak sama sekali. Anak ini malah membantu di dapur.”

Beby tersenyum kecil mendengar itu.

Isya ikut tersenyum.

Suasana perkenalan mereka terasa singkat namun hangat.

Beberapa saat kemudian Beby kembali menoleh ke dalam rumah.

Matanya mencari Ba’da.

Ba’da duduk makan sambil memandang ke arah pintu.

Beby melambaikan tangannya kecil.

“Ba’da!”

Ba’da menjawab datar.

“Apa…”

Beby tersenyum manis.

“Beby pulang dulu ya.”

Ba’da langsung mengangguk cepat.

“Iya.”

Beby lalu menggandeng tangan ibunya.

Ia menoleh sekali lagi ke arah rumah itu.

“Assalamu’alaikum!”

Isya dan nenek menjawab bersama.

“Wa’alaikumussalam.”

Tak lama kemudian…

Beby dan ibunya berjalan pulang.

Rumah kecil itu kembali tenang.

Ba’da menghela napas panjang sambil bersandar di kursinya.

“Capek sekali hari ini…”

Isya tertawa kecil melihat wajah adiknya.

Hari itu benar-benar penuh kejadian lucu…

yang mungkin akan selalu mereka ingat.

---Namira Ahsya\_\_

1
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝑀𝑎 𝑆𝑦𝑎𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑖𝑙𝑚𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑝-𝐾𝑎𝑛𝑛 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝚗𝚘𝚟𝚎𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚛𝚒𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚒 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚗𝚊𝚖𝚞𝚗 𝚍𝚒 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚗𝚢𝚊𝚔 𝚖𝚊𝚔𝚗𝚊 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝚊𝚔𝚞𝚞 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚗𝚊𝚖𝚊 𝚋𝚎𝚋𝚢 𝚒𝚝𝚞 𝚠𝚊𝚗𝚒𝚝𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚌𝚊𝚗𝚝𝚒𝚔 𝚍𝚒 𝚜𝚎𝚔𝚘𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚞𝚞 𝚔𝚊𝚗𝚗 ..

. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝚑𝚒𝚑𝚒 𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚔𝚎𝚔 𝚊𝚙𝚊𝚊 𝚊𝚓𝚓 𝙿𝙳-𝙽𝚢𝚊𝚊𝚊 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝑑𝑒𝑓𝑖𝑛𝑖𝑠𝑖 𝑐𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑖𝑟𝑖-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 ,, 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛 𝑝𝑢𝑛 𝑑𝑖 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑐𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑘𝑎𝑙𝑎ℎℎ ..

. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝑗𝑎𝑑𝑖𝑖𝑖𝑖 𝑏𝑎𝑝𝑒𝑟𝑟𝑟 𝑏𝑎𝑐𝑎-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 ,,
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..

. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐧𝐞𝐱𝐭
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐚𝐡𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐩𝐞𝐫 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 ,,
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐴ℎ𝑛𝑎𝑓𝑓 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑢𝑢𝑢 ,, 𝑙𝑜𝑣𝑒 𝑙𝑜𝑣𝑒 𝑠𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑘𝑒𝑒𝑒𝑏𝑜𝑜𝑜𝑜𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔𝑔𝑔𝑔 ..

. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝒓𝒆𝒌𝒐𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒔𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒆𝒕 𝒏𝒐𝒗𝒆𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒊𝒍𝒎𝒖 𝒂𝒈𝒂𝒎𝒐-𝑵𝒚𝒂𝒂𝒂 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐷𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑝𝑎ℎ𝑎𝑚 ,, 𝑏𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑠𝑎𝑖 𝑛𝑜𝑚𝑒𝑟 𝑠𝑎𝑡𝑢 ..

. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..

. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐃𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦 ,, 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐬𝐨𝐬𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐧𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐚𝐝𝐢𝐤-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 ..

. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭-𝐋𝐚𝐡𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐣𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐬𝐚𝐢 ..

. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐀𝐲𝐚𝐭 𝐤𝐞 𝐬𝐮𝐤𝐚𝐚𝐚𝐧-𝐊𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐚𝐧𝐧 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 .

. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 ..

. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐮 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐬𝐮𝐣𝐮𝐝" 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐮𝐮 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢𝐠𝐚 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐨'𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐚𝐝𝐳𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐛𝐮𝐛 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐮𝐦𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠 ..

. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..

. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐡𝐢𝐡𝐢 ,, 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐠𝐞𝐣𝐞𝐤 𝐠𝐚𝐤 𝐬𝐢𝐡𝐡𝐡 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 𝐥𝐢𝐚𝐭 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐞𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐢𝐬𝐡𝐡 𝐢𝐬𝐡𝐡𝐡 𝐢𝐬𝐡𝐡𝐡 ,, 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐤𝐞𝐤 𝐤𝐢𝐭𝐚𝐚𝐚𝐚 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐤𝐮𝐫𝐨 😗😗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!