Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Keesokannya, koridor St. Jude’s Academy tidak lagi dipenuhi oleh bisikan samar atau spekulasi yang tertahan. Suasana berubah menjadi hening yang mencekam saat pintu utama terbuka, menampilkan pemandangan yang selama ini dianggap mustahil oleh penghuni sekolah elit tersebut.
Luciano Russo berjalan dengan langkah tegak, namun kali ini ia tidak sendiri. Jemarinya yang biasanya kaku dan hanya akrab dengan pena serta papan ketik, kini bertautan erat dengan tangan Paris Desmon. Tidak ada lagi jarak dua meter, tidak ada lagi pertemuan rahasia di perpustakaan, dan tidak ada lagi pesan singkat tersembunyi.
Mereka resmi go public.
Paris berjalan dengan jantung yang berdegup kencang, namun genggaman tangan Luciano yang hangat dan posesif memberinya kekuatan. Ia tidak lagi mengenakan sweater kebesaran; ia berdiri tegak dengan seragamnya, menunjukkan pada dunia bahwa ia bukan sekadar bayangan di balik punggung sang jenius.
Di tengah lobi, Max sudah berdiri menyandar pada pilar marmer, memperhatikan drama nyata di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia melihat bagaimana Luciano memegang tangan Paris seolah-olah gadis itu adalah aset paling berharga dalam portofolio keluarganya. Bagi Max, ini adalah sebuah anomali. Ini adalah kegagalan sistem.
"Lihatlah sang penakluk kita," suara Max menggema saat Luciano dan Paris sampai di hadapannya. Max menegakkan tubuh, memberikan senyum miring yang tidak sampai ke mata. "Aku tidak menyangka kau akan membawanya ke depan lampu sorot, Lucian. Bukankah rahasia itu lebih menyenangkan?"
Luciano berhenti tepat di depan Max. Wajahnya sedingin es, namun matanya memancarkan ketegasan yang mutlak. Ia tidak melepaskan tangan Paris, justru semakin mempererat tautan jari mereka di depan mata Max.
"Sudah waktunya semua orang tahu, Max," jawab Luciano pendek.
Max tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat hambar di tengah lobi yang kini mulai dikerumuni siswa-siswi. Ia mendekat, mencondongkan tubuhnya ke arah Luciano hingga jarak mereka hanya beberapa inci.
Di mata Max, Luciano telah menjadi "tidak asik". Rencana awal mereka hanyalah sebuah permainan—eksperimen liar untuk menaklukkan "anak desainer" itu dan membuangnya saat rasa penasaran itu tuntas.
Bagi Max, keseriusan Luciano adalah pengkhianatan terhadap kode etik "Tiga Pilar" yang ia bangun: bahwa wanita hanyalah pelengkap, bukan prioritas.
"Kau benar-benar serius padanya?" bisik Max dengan nada meremehkan, matanya melirik Paris sejenak seolah gadis itu hanyalah gangguan kecil. "Kau mau merusak reputasi Russo demi... ini? Ingat, Lucian, sekali kau memegang tangannya di depan umum, kau tidak bisa melepaskannya tanpa skandal besar."
Luciano menatap Max tanpa kedip. Dingin, tanpa ekspresi, namun penuh dengan keyakinan yang mematikan. Ia tidak butuh rumus matematika untuk menjawab pertanyaan itu.
Luciano hanya mengangguk pelan. Sebuah anggukan yang cukup untuk membungkam semua keraguan Max dan memberikan pernyataan perang terhadap siapapun yang mencoba mengusik gadis di sampingnya.
"Ya. Aku serius," ucap Luciano, suaranya rendah namun cukup keras untuk didengar oleh mereka yang berdiri di dekat sana.
Paris merasa matanya sedikit memanas. Di tengah rasa takutnya akan penghakiman orang-orang kaya di sekolah ini, pengakuan Luciano adalah perisai paling kokoh yang pernah ia miliki. Ia tidak tahu bahwa semalam Luciano hampir gila karena takut kehilangannya; ia hanya tahu bahwa saat ini, sang pangeran es telah memilihnya di depan seluruh dunia.
Max menarik diri, mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, namun seringainya tetap bertahan. "Baiklah, kalau itu maumu. Tapi jangan datang padaku saat keluarga Russo mulai memotong akses perbankanmu karena 'investasi' yang buruk ini, kawan."
Max berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan aura ketegangan yang masih pekat. Ia merasa Luciano telah berubah menjadi sosok yang membosankan—seorang budak cinta yang kehilangan logika tajamnya.
Di tempat lain, di sebuah kafe kelas atas di pusat kota, Kay sedang duduk di hadapan Rebecca Smith. Ia melewatkan momen "go public" sahabatnya karena ia harus menjalankan hukuman sebagai sopir pribadi Rebecca hari ini.
Kay menatap layar ponselnya yang menampilkan grup obrolan sekolah yang sedang meledak dengan foto-foto Luciano dan Paris. Hatinya terasa seperti dihantam palu godam.
"Kenapa wajahmu makin ditekuk, Brown?" suara Rebecca yang cerewet menginterupsi. Rebecca sedang menyesap latte-nya sambil memeriksa kuku-kuku jarinya. "Kau melihat mantan pacarmu menikah atau apa?"
Kay meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja. "Bukan urusanmu, Smith."
"Oh, ayolah. Aku tahu berita itu. Luciano Russo dan gadis pendiam itu, kan?" Rebecca menyeringai liar. "Aku tidak menyangka si jenius kaku itu punya nyali untuk menentang tradisi keluarganya. Tapi kau... kau terlihat seperti baru saja melihat hantu. Jangan bilang kau juga menyukai gadis itu?"
Kay tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan Manhattan yang sibuk. Di dalam pikirannya, ia masih memikirkan pengakuan Paris tentang "menikmati" malam itu. Ia merasa mual melihat foto Luciano yang memegang tangan Paris dengan begitu bangga.
Kau memegang tangan seseorang yang sudah kau hancurkan, Luciano, batin Kay dengan penuh kebencian.
Rebecca memperhatikan ekspresi Kay dengan teliti. Sebagai mantan atlet dan pengamat manusia yang tajam, ia mencium ada sesuatu yang jauh lebih gelap di balik diamnya Kay. "Kau tahu, Kay... terkadang pria yang paling diam adalah pria yang paling menderita. Jika kau terus seperti ini, kau akan menabrak Lamborghini-ku lagi besok pagi."
"Diamlah, Rebecca," desis Kay.
"Aku akan diam jika kau membawaku ke mal sekarang. Aku butuh tas baru untuk mengobati rasa bosanku melihat wajah murungmu," Rebecca berdiri, mengenakan kacamata hitamnya dengan gaya angkuh. "Ayo, supir. Tugasmu belum selesai."
Kay berdiri dengan malas. Ia merasa terasing dari dunianya sendiri. Luciano telah memilih jalannya, Max telah menunjukkan wajah aslinya, dan Paris... Paris telah terjebak dalam kebohongan yang Kay kira adalah kebenaran. Di hari Luciano dan Paris mendeklarasikan cinta mereka pada dunia, Kay menyadari bahwa ia adalah satu-satunya pilar yang sedang runtuh secara perlahan.
Pertempuran di St. Jude's baru saja memasuki babak baru.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍