Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24.
Suasana pesta yang tadinya khidmat kini berubah menjadi riuh gembira. Meskipun diselenggarakan secara mendadak, acara ini tidak kehilangan kesan—justru kesederhanaannya yang menggabungkan kehangatan keluarga dan gaya Eropa yang elegan membuat setiap tamu merasa nyaman. Bunga-bunga segar yang menyebar wangi, lampu-lampu gantung yang memancarkan cahaya lembut, dan alunan musik klasik yang dimainkan secara langsung menjadi latar sempurna bagi perayaan ini.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di gerbang. Dari dalamnya keluar sosok wanita tua yang masih tegap dan anggun, dengan wajah yang memancarkan kebijaksanaan dan kemewahan alami. Itu adalah Nenek Alana, Aretha Dubois, yang sengaja menempuh perjalanan jauh dari Lyon demi cucu kesayangannya.
"Nenek!" seru Alana saat melihatnya, segera berlari menghampiri dan memeluk erat wanita itu.
Aretha mengelus punggung cucunya dengan senyum penuh kasih, lalu matanya beralih ke arah Aslan yang mengikuti di belakang Alana. Wanita itu menatap Aslan lekat-lekat, seolah menilai pria itu, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat.
"Akhirnya... Aku sudah mendengar banyak cerita, Nak," ucap Aretha dengan aksen Prancis yang lembut namun tegas, lalu ia menjabat tangan Aslan. "Jaga cucuku baik-baik. Jika kau menyakiti hatinya, ingat, aku masih punya kekuatan untuk membuat hidupmu sulit, meskipun aku sudah tua."
Aslan tersenyum hormat, membungkuk sedikit. "Tenang, Nenek. Kehidupanku sendiri akan aku pertaruhkan demi menjaganya."
Aretha tertawa puas, tampak puas dengan jawaban itu. Kehadirannya menambah kehangatan tersendiri, dan ia pun segera bergabung dengan Marcel dan Annabelle, berbagi cerita masa lalu yang membuat suasana semakin akrab.
Saat matahari benar-benar tenggelam dan tamu-tamu lain mulai berpamitan, Aslan mengajak ketiga sahabatnya—Argon, Zayn, dan Steven—menuju sebuah ruang santai pribadi yang terletak di sayap terpisah dari kediaman Lenoir. Ruangan itu dilengkapi bar mini, perabotan kulit tua, dan rak buku yang penuh, tempat mereka biasa berkumpul sejak remaja. Pintu ditutup rapat, dan batasan formalitas pun hilang.
"Ayo, buka wiski terbaikmu, Aslan. Hari ini layak dirayakan!" seru Argon, langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa besar dengan gaya santainya.
Aslan tertawa, mengambil botol minuman keras dari lemari dan menuangkannya ke dalam gelas-gelas kristal. "Kalian memang tidak pernah mau melewatkan kesempatan."
Mereka bersulang, lalu percakapan pun mengalir liar, mulai dari kisah kenakalan masa lalu, proyek bisnis yang rumit, hingga gosip tentang kenalan mereka yang sedang jatuh cinta. Namun, tak lama kemudian, topik pun kembali berputar ke arah tuan rumah.
Argon menyesap minumannya, lalu menatap Aslan dengan senyum jahil yang tak pernah hilang dari wajahnya. "Jujur saja ya, Kawan... sampai sekarang aku masih sulit percaya. Ingat tidak, setahun yang lalu di sini juga, kau yang berteriak paling keras kalau perjodohan itu adalah penjara dan kau tidak akan pernah mau terikat pada wanita yang bahkan belum kau kenal?"
Steven tertawa, ikut menimpali. "Benar juga. Kau bilang, 'Biarkan mereka mengatur urusan bisnis, tapi hidupku adalah milikku'. Dan lihat dirimu sekarang? Mengadakan pertunangan mendadak dalam waktu kurang dari 24 jam seolah kalau terlambat sedetik saja, Alana akan hilang ditelan bumi."
Aslan hanya tersenyum tipis, memutar gelas di tangannya, matanya tampak jauh dan lembut. "Dulu aku bicara begitu karena aku belum bertemu dengannya yang sebenarnya. Aku hanya melihatnya sebagai nama dalam perjanjian, sebagai beban. Tapi sekarang... aku menyadari bahwa dia adalah satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku yang penuh aturan dan perhitungan."
Zayn, yang biasanya lebih pendiam, mengangguk mengerti. "Kita semua melihat perubahanmu, Aslan. Kau jadi lebih tenang, lebih fokus. Jelas sekali siapa yang menjadi alasan di baliknya."
"Tapi tetap saja, caramu melakukannya terlalu mendadak," Argon kembali menyela, masih dengan nada menggoda. "Apa kau takut dia kabur kembali ke Yogyakarta dan membawa hatimu bersamanya, hah?"
"Mungkin saja," jawab Aslan jujur, senyumnya melebar. "Jarak itu sudah cukup menyiksa selama ini. Aku ingin dia tahu, dan seluruh dunia tahu, bahwa dia milikku. Bahwa dia punya alasan untuk kembali, atau alasan untuk membawaku ikut bersamanya."
Mereka terus berbincang hingga jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Kota di luar sudah sunyi, dan suasana di dalam rumah pun mulai hening.
"Waduh, sudah larut begini. Ibuku pasti akan marah kalau aku pulang terlambat." Ucap Steven Argan berdiri dan meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Kita juga harus pergi. Terima kasih untuk minumannya dan perayaannya, Aslan. Semoga bahagia selalu," ucap Zayn, diikuti anggukan Argon.
Mereka bertiga berpamitan, berjabat tangan erat dengan Aslan. Sebelum masuk ke mobil, Argon bahkan berteriak sedikit, "Jangan lupa undang kami di pernikahan nanti di Indonesia ya! Aku mau lihat bagaimana suasana Yogyakarta!"
Aslan melambaikan tangan, tertawa. "Pasti. Hati-hati di jalan."
Setelah gerbang tertutup kembali, Aslan kembali masuk ke dalam rumah yang kini sepi. Lampu-lampu utama sudah dipadamkan, hanya menyisakan lampu penerang di lorong yang memancarkan cahaya samar. Ia berjalan menuju kamarnya, namun begitu sampai di depan pintu, ia tahu ia tidak akan bisa memejamkan mata. Pikiran dan hatinya terlalu penuh dengan gambar wajah Alana, dengan kenyataan bahwa gadis itu kini resmi menjadi tunangannya. Perasaan itu membuatnya gelisah dengan cara yang manis.
Tanpa sadar, kakinya berbelok arah, membawanya menyusuri lorong lain menuju kamar tamu tempat Alana menginap. Pintu kamar itu terkunci, tapi bagi Aslan yang tumbuh besar di rumah ini dan mengetahui setiap seluk-beluknya, serta memiliki akses ke setiap kunci cadangan yang disimpan di tempat rahasia, itu bukanlah halangan. Dengan gerakan perlahan dan terlatih, ia membuka kunci pintu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, lalu menyelinap masuk.
Ruangan itu remang, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai. Aslan berjalan pelan, sepatunya tidak mengeluarkan suara di atas karpet tebal. Tiba-tiba, ia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi yang terhubung dengan kamar itu. Cahaya juga menyala dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Aslan segera bergerak cepat dan diam-diam bersembunyi di balik tirai tebal yang menutupi sudut ruangan. Ia menahan napas sepenuhnya, memastikan kehadirannya tidak terdeteksi.
Tak lama kemudian, suara air berhenti. Pintu kamar mandi terbuka, dan Alana keluar.
Gadis itu masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem yang longgar namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang anggun. Kulitnya masih tampak basah dan bersinar terkena cahaya, wajahnya bersih tanpa riasan, terlihat sangat alami dan cantik. Alana tampak santai dan tidak curiga, bahkan sedikit menyenandungkan lagu pelan berjalan menuju meja rias.
Aslan berdiri diam di balik tirai, matanya tak bisa lepas menatap Alana. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut tertangkap, tapi karena keindahan pemandangan di depannya. Ini adalah sisi Alana yang sangat pribadi, sisi yang belum pernah dilihat siapa pun selain keluarganya, dan kini hanya ia yang menyaksikannya.
Setelah meletakkan handuk basah ke keranjang, Alana berbalik badan, dan itulah saat matanya menangkap bayangan sosok tubuh di balik tirai yang sedikit bergerak.
"Siapa...?" Alana terperanjat, mundur selangkah dengan tangan menutupi dadanya secara naluriah.
Saat Aslan melangkah keluar dari persembunyiannya, wajah Alana berubah pucat lalu seketika merah padam, campuran antara kaget dan rasa malu yang luar biasa. Ia seolah ingin menghilang ke dalam tanah.
"A- Aslan?! Apa yang kau lakukan di sini?!" suaranya bergetar, matanya membelalak. Ia menarik ujung gaun tidurnya agar tertutup lebih rapat, wajahnya menunduk karena tidak berani menatap mata pria itu. "Dan... dan bagaimana kau bisa masuk? Pintu aku kunci rapat-rapat!"
Aslan hanya tersenyum, senyum yang tampak nakal namun juga penuh kasih sayang. Ia tidak menjawab pertanyaan tentang bagaimana ia bisa masuk, seolah itu adalah rahasia yang tak ingin ia bagikan. Sebaliknya, ia mulai melangkah maju, satu langkah demi satu langkah, perlahan mendekati gadis yang kini tampak gemetar di hadapannya.
"Biarkan itu menjadi rahasiaku, Sayang," bisiknya, suaranya rendah dan bergetar di keheningan malam.
Jarak di antara mereka semakin menipis. Aslan berhenti hanya beberapa senti di depan Alana, sehingga gadis itu bisa merasakan hangatnya napas pria itu. Ia mengangkat tangannya, perlahan menyentuh pipi Alana yang panas karena malu, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.
"Aku tidak bisa tidur," aku Aslan jujur, matanya yang biru menatap tajam dan dalam. "Karena setiap kali aku memejamkan mata, aku hanya melihat wajahmu. Dan aku sadar... aku ingin melihatnya secara nyata. Aku ingin memastikan bahwa semua ini bukanlah mimpi. bahwa kau benar-benar sudah menjadi tunanganku, bahwa kau benar-benar nyata, Alana." Ucap Aslan menatap gadis itu dengan penuh kasih.