Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Pujian
Malam itu Samira berdiri cukup lama di dapur. Tangannya bertumpu di meja, sementara pikirannya sibuk memikirkan satu hal sederhana menu makan malam.
Hal yang terlihat sepele, tapi selalu saja membuatnya bingung setiap hari.
Padahal sebenarnya Samudra bukan tipe suami yang banyak menuntut soal makanan. Apa pun yang dimasak oleh Samira, pria itu selalu makan dengan lahap. Begitu juga dengan Binar yang tidak pernah pilih-pilih makanan.
Namun tetap saja, sebagai seorang istri dan ibu, Samira selalu ingin menyajikan sesuatu yang terbaik.
“Mas, ada request mau dimasakin apa malam ini?” tanya Samira dari arah dapur. “Kalau ada bilang saja, biar aku masak itu hari ini.”
Samudra yang sedang duduk di ruang keluarga menemani Binar bermain hanya menjawab singkat tanpa menoleh.
“Enggak.”
Lalu ia menambahkan santai,
“Masak saja apa yang kamu mau masak. Gak usah dibuat ribet.”
Samira tersenyum tipis.
Namun di dalam hatinya ada rasa kecil yang terasa nyeri.
Kenapa sih jawabannya selalu begitu? batinnya.
Padahal aku cuma ingin sesekali dia minta sesuatu… apa saja.
Bukan karena ia keberatan memasak.
Justru sebaliknya.
Samira ingin merasa bahwa masakannya ditunggu, diinginkan, bukan sekadar dimakan karena tersedia.
Tapi Samira juga tahu dirinya tidak bisa memaksa.
Selama ini Samudra mau makan masakannya saja sebenarnya sudah lebih dari cukup.
Agar hatinya tidak semakin tenggelam dalam pikiran yang menyakitkan, Samira mengalihkan perhatian pada Binar yang sedang bermain boneka dan lego di lantai bersama Samudra.
Samira mendekat sambil berjongkok.
“Bibi mau makan apa hari ini, sayang?” tanyanya lembut.
Binar mengangkat wajahnya dengan mata berbinar.
“Ikan, Mama!”
Samira tertawa kecil.
“Lagi-lagi ikan?”
“Iya. Bibi suka ikan.”
Samudra yang mendengar itu akhirnya menoleh sekilas.
“Dia emang paling suka ikan?" Tanyanya.
Samira mengangguk pelan.
“Baiklah. Mama masak ikan.”
Ia kembali ke dapur. Mengeluarkan ikan dari kulkas, lalu mulai menyiapkan bumbu.
Dari ruang keluarga terdengar suara tawa kecil Binar yang sedang dipancing Samudra untuk balapan membuat rumah dari lego.
Samira diam sejenak.
Suara itu sangat merdu didengarnya, suara keluarga kecilnya.
Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah kebahagiaan sesederhana ini sudah cukup?
Atau sebenarnya ada sesuatu yang hilang yang tidak pernah mereka bicarakan?
Tak lama kemudian aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi dapur.
Samira memutuskan membuat ikan goreng sambal kecap kesukaan Binar, lengkap dengan sayur tumis dan sup hangat.
Sekitar tiga puluh menit kemudian meja makan sudah tertata.
“Mas, Bibi sayang… makan dulu,” panggil Samira.
Binar langsung berlari kecil ke meja makan.
“Wah ada ikan!” serunya senang.
Samudra menyusul di belakangnya.
Ia menarik kursi, lalu duduk tanpa banyak bicara.
Namun ketika melihat menu di meja, ia sedikit terdiam.
Ikan goreng.
Sambal kecap.
Sup bening.
Menu sederhana… tapi entah kenapa terasa sangat menggoda.
Samudra mengambil satu potong ikan, lalu mencicipinya.
Binar sudah makan dengan lahap.
“Enak banget, Mama!”
Samira tersenyum.
Samudra ikut mengambil nasi lagi. Lalu tanpa sadar ia berkata pelan,
“Ini… ikan gorengnya enak.”
Samira menoleh.
“Enak?”
Samudra tidak langsung menjawab.
“Iya enak.”
Tangan Samira berhenti sejenak di atas meja.
Ia tidak menyangka Samudra memuji masakannya.
Padahal sudah lima tahun menikah dan baru kali ini masakannya dipuji oleh sang suami.
Samira tersenyum kecil.
“Iya, terimakasih."
Samudra hanya mengangguk.
@@@
Sudah beberapa malam terakhir Samudra selalu menemani Binar bermain setelah makan malam. Hal kecil yang sebelumnya jarang terjadi, namun perlahan menjadi kebiasaan baru di rumah itu.
Namun malam ini sedikit berbeda.
Setelah selesai makan, Samudra tidak duduk di ruang keluarga seperti biasanya. Ia langsung berdiri, lalu berjalan menuju kamar tanpa mengatakan apa-apa.
Samira yang melihat itu hanya terdiam.
Sebenarnya ia sudah sangat terbiasa dengan sikap Samudra yang seperti itu. Dulu, selama bertahun-tahun, memang begitulah rutinitasnya. Setelah makan, Samudra akan masuk kamar dan menutup dirinya sendiri dari dunia luar.
Samira tidak pernah mengatakan apa-apa.
Lagi pula… apa yang bisa ia katakan?
Selama lima tahun menikah, Samira selalu berhati-hati agar tidak mengusik ketenangan suaminya. Ia tidak pernah menuntut, tidak pernah memaksa, bahkan jarang bertanya.
Namun malam ini, entah kenapa pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Bukankah rumah tangga seharusnya tidak seperti ini?
Apa hubungan aku dan Samudra masih bisa disebut sebagai suami istri… atau sebenarnya kami hanya seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah?
Samira menunduk menatap tangannya sendiri.
Apa Samudra benar-benar pernah menganggapku sebagai istrinya?
Atau mungkin…
aku hanya dianggap sebagai orang yang mengurus rumah… mengurus anaknya…
seperti pembantu… atau sekadar babysitter bagi Binar.
Dada Samira terasa sesak memikirkan itu semua.
Namun seperti biasa, ia hanya memendamnya dalam hati. Samira tidak ingin bertanya macam-macam pada Samudra yang justru bisa membuat pria itu semakin tidak nyaman.
“Mama… Papa ke mana?” tanya Binar tiba-tiba.
Sepertinya Binar juga heran karena malam ini papanya tidak menemaninya bermain seperti beberapa malam sebelumnya.
Samira tersenyum tipis.
“Hmm… Papa kayaknya kecapekan, sayang. Sekarang Papa sudah bobok,” jawabnya lembut. “Hari ini Binar main sama Mama dulu, ya.”
Binar menganggukkan kepalanya.
“Iya, Ma.”
Lalu dengan wajah semangat ia menarik tangan Samira.
“Ma, Binar mau tunjukin Mama rumah yang Binar buat!”
Anak kecil itu segera menunjuk susunan lego di atas karpet ruang keluarga. Sebuah rumah kecil yang baru setengah jadi.
Samira ikut duduk di lantai.
“Wah… bagus sekali.”
“Ini kamar Mama,” kata Binar sambil menunjuk satu bagian kecil dari lego.
“Terus ini?”
“Itu kamar Binar sama Papa!”
Samira tersenyum.
“Kalau dapurnya di mana?”
Binar berpikir sebentar, lalu mengambil beberapa balok lego lagi.
“Ini dapur Mama.”
Ia lalu menambahkan satu potongan kecil di sampingnya.
“Ini kursi makan.”
Samira membantu menyusun beberapa bagian lainnya.
Jika kalian bertanya kenapa Binar tidak bertanya lagi tentang papanya…
Mungkin karena anak kecil itu sudah terbiasa.
Jika Mamanya tidak ada, ia pasti akan mencarinya terus.
Namun jika Papanya tidak ada…
Binar hanya menunggu jawaban, lalu melanjutkan bermain seperti biasa.
Tanpa sadar, Samira memperhatikan anaknya yang sedang serius menyusun lego.
Ada perasaan hangat sekaligus sedih yang bercampur di dadanya.
Anak sekecil ini sudah belajar memahami keadaan.
Tak lama kemudian rumah lego itu akhirnya selesai.
“Ma! Jadi!”
Samira bertepuk tangan kecil.
“Cantik sekali rumahnya.”
Binar tersenyum lebar.
“Kalau rumah kita beneran kayak gini enak ya, Ma.”
“Kenapa?”
“Karena Mama sama Papa sama Binar bisa main terus di ruang tengah.”
Kalimat sederhana itu membuat Samira terdiam sejenak.
Ia mengusap rambut anaknya dengan lembut.
“Iya… pasti seru.”
Namun dalam hati Samira bertanya pelan.
Apakah suatu hari rumah mereka benar-benar bisa seperti itu?
Sementara itu—
Di dalam kamar, Samudra tidak benar-benar tidur.
Ia hanya berbaring di atas tempat tidur dengan mata terbuka.
Dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, suara tawa kecil Binar masih terdengar dari ruang keluarga.
Samudra memejamkan matanya sebentar.
Beberapa hari terakhir ia sengaja menghabiskan waktu bersama Binar.
Entah kenapa… ada rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan.
Takut kehilangan sesuatu.
Namun malam ini ia kembali menarik dirinya menjauh.
Karena semakin dekat ia pada mereka—
Semakin sulit baginya untuk melakukan keputusan yang sudah ia pikirkan selama ini.
Tapi justru karena itulah…
Setiap kali mendengar tawa Binar di luar sana—
Dada Samudra terasa semakin berat.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!