NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Mas Kawin, Syahadat.

Siang itu di pesantren Darun-Najah.

Hari berjalan seperti biasa. Santri lalu lalang--dari asrama ke aula, ke masjid, ke gedung madrasah, adalah ritme yang tak pernah benar-benar berhenti.

Beberapa mobil keluar masuk area pesantren juga bukan hal baru. Mobil tamu, wali santri, atau pengurus. Semua sudah biasa, tak lagi menarik perhatian lebih.

Tapi siang ini sedikit berbeda.

Dua mobil mewah memasuki gerbang Darun Najah. Berjalan pelan. Tapi terlalu pelan untuk disebut sekadar lewat.

Beberapa santri yang tengah melintas tanpa sadar menghentikan langkah. Mereka menoleh.

Bukan karena ingin tahu siapa yang datang--tapi karena kemewahan itu terasa tidak sejalan dengan kesederhanaan yang mereka hidupi setiap hari di pesantren.

Mobil pertama berhenti tepat di depan kediaman Kyai Fakih. Disusul mobil kedua di belakangnya.

Mesin dimatikan.Pintu terbuka. Agam turun lebih dulu, disusul Sagara setelahnya.

Langkahnya tenang. Tidak tergesa. Juga tidak menunjukkan sikap sebagai tamu.

Melainkan seseorang yang datang membawa urusan yang sudah diputuskan.

Tatapannya menyapu sekitar sekilas--cukup untuk memahami tempat, tanpa benar-benar memperhatikan.

Shafiya turun dari mobil kedua didampingi Widya--asisten Adinata residence yang ditugaskan melayani.

Mereka berhenti sejenak di depan teras.

Shafiya dan Sagara saling tatap singkat, sekedar memutuskan untuk Shafiya memimpin langkah.

Gadis itu maju, melangkah lebih dulu.

Tidak terlihat ragu, tapi juga tak terlihat ketenangan yang utuh.

Sagara menyusul, dengan jarak yang tetap dijaga. Langkahnya pun tak ragu, dan tak ada lagi ekspresi yang dapat dibaca di wajahnya selain itu.

Seorang santri membukakan pintu dan menyilakan masuk.

Shafiya menahan napasnya saat hendak memasuki ruang depan. Berhenti.

Ia berdiri di sana--di tanah yang selama ini menjadi rumahnya--dengan posisi yang tak lagi sama. Bukan sebagai anak yang pulang. Melainkan seseorang yang datang membawa sesuatu yang tak biasa dilakukan.

Kyai Fakih sudah menunggu. Beliau berdiri di tengah ruang dengan posisi tegak, terlihat tenang, tapi sorot matanya tak lagi menyimpan kehangatan yang seharusnya--saat menyambut putrinya datang.

Shafiya menyadari itu. Dan itu yang membuat langkahnya terhenti. Ia menatap abinya sebagai bentuk yang tak lagi utuh, karena sepasang matanya yang sudah berkaca-kaca.

Agam maju lebih dulu.

"Assalamualaikum, Kyai," sapanya, terukur.

Kyai mengangguk, menjawab salamnya disertai sedikit ulasan senyum. Kesopanan menyambut tamu tak pernah hilang dari beliau. Meski kini tidak dengan jiwa yang utuh.

"Sagara Deva Adinata."

Agam mengenalkan.

Sagara maju dua langkah, mengulurkan tangan, menyalami kyai dengan posisi badan tegak, seperti saat ia berhadapan dengan kolega di Adinata Holding.

Tak ada kata. Tak ada tanya. Hanya tatap mata kyai Fakih yang jatuh tepat ke Sagara, sesaat. Tapi cukup untuk menilai.

Shafiya maju kemudian.

"Abi..." Suaranya bergetar.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menunduk meraih tangan abinya, menciumnya beberapa kali sambil menahan isak.

Satu tangan kyai Fakih terangkat. Menepuk pundak putrinya. Lalu membimbingnya untuk kembali berdiri tegak.

"Shafa sudah memilih ini?"

Shafiya menarik napasnya sebentar sebelum menjawab. "Iya, Bi."

"Tegaklah dengan pilihan itu."

Tanpa menunggu jawaban Shafiya, kyai Fakih menyilakan Sagara dan Agam untuk duduk.

Kyai Fakih duduk lebih dulu.

Sagara dan Agam menyusul, menjaga jarak yang pantas.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

“Perjalanan lancar?” tanya Kyai Fakih akhirnya.

“Lancar, Kyai,” jawab Agam. Cepat, mewakili.

Kyai mengangguk, tatapannya lalu berpindah ke Sagara, bertahan beberapa detik.

“Segala sesuatu yang dimulai hari ini,” ucap kyai Fakih kemudian,

“akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya di hadapan manusia.”

Kalimat itu tidak diarahkan pada satu orang. Tapi jelas siapa yang dituju.

Sagara menatap lurus.

"Tentang itu. Saya tak sepenuhnya paham."

Ia berkata seadanya. Tidak serta merta berubah menjadi religius yang paham agama.

"Tapi, setiap keputusan yang saya ambil, sudah melalui pertimbangan," lanjut Sagara tetap dengan suara tenang. Seperti tatapannya yang sedikit pun tak menyimpan gelisah.

Meskipun terjadi kontras yang sangat dalam di sana. Pertimbangan Sagara mencakup penting atau tidak. Sedangkan bagi kyai Fakih, pertimbangannya tentang benar atau tidak.

Yang satu bergerak tentang "nilai".

Yang satu tentang "fungsi".

"Pertimbangan." Dan kata itu diulang oleh kyai Fakih--seolah sadar perbedaannya.

“pertimbangan tidak selalu sejalan dengan yang seharusnya dijaga.”

Agam diam. Tidak mengambil peran.

“Yang perlu dijaga, bagi setiap orang tidak sama." Sagara tidak berubah. Ucapannya tetap tenang. Presisi.

Kyai Fakih diam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Benar. Tapi akibatnya, tetap akan kembali pada yang menjalani."

Kyai Fakih tidak memberikan ancaman. Juga bukan peringatan. Itu hanya pernyataan.

"Saya tau." Teramat cepat Sagara menjawab. Ia tidak berusaha benar. Hanya konsisten dari awal.

"Baiklah."

Pembicaraan itu dianggap selesai--dengan dua cara pandang yang tidak benar-benar dalam garis yang sama.

"Akad, akan dilakukan nanti ba'da 'isya.

Silakan beristirahat lebih dulu."

Kyai Fakih berdiri. Dan sebelum melangkah pergi, beliau sempat bertanya.

"Sudah menyiapkan mas kawin untuk nanti?"

Sagara diam.

Agam juga tak menjawab. Satu reaksi yang dipahami oleh kyai Fakih bahwa: belum.

"Shafiya yang berhak menentukan."

Usai berkata demikian, kyai Fakih berlalu.

..

...

Agam berdiri di ambang pintu yang terkuak sedikit. Mengetuk sekali, hanya untuk mengalihkan atensi Shafiya yang duduk diam seorang diri di ruangan keluarga itu.

“Ning Shafiya."

Shafiya yang duduk di tepi sofa itu mengangkat wajah. Matanya masih tenang, meski lelah tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

“Ada yang ingin ditanyakan.”

Shafiya mengangguk pelan. “Silakan.”

Agam tidak langsung bicara. Ia bergeser sedikit ke samping. Dan dari balik bahunya, Sagara masuk. Langkahnya tetap sama, tenang, tanpa tergesa. Tatapannya jatuh pada Shafiya, lurus, tanpa basa-basi ia berkata.

“Mas kawin, kamu berhak menentukannya."

Sahfiya diam sejenak. Pandangannya lalu jatuh pada Sagara, menatap tepat.

Seolah memastikan--bahwa lelaki itu memang akan mendengar jawabannya, bukan sekadar menerima hasil.

“Saya tidak minta apa-apa," kata Shafiya pelan.

Agam sedikit mengernyit. Namun tidak menyela.

Sagara juga tidak bereaksi.

“Saya hanya ingin satu hal.”

Shafiya melanjutkan ucapannya.

“Pada saat akad nanti…Anda mengucapkan syahadat itu dengan benar. Tepat. Jelas.”

Matanya tidak lepas dari Sagara.

“Supaya saya tahu…”

Ia berhenti sepersekian detik. Memastikan Sagara benar-benar paham.

“…di pernikahan ini masih punya satu bagian yang tidak berdusta.”

Benar-benar sunyi setelah kalimat Shafiya jatuh.

Agam menahan napas tanpa sadar.

Namun Sagara tetap diam.

Tatapannya masih pada Shafiya. Lebih dalam dari sebelumnya. Bukan karena emosi--tapi karena menilai sesuatu yang tidak biasa.

Sagara tahu, permintaan itu sederhana.

Tapi tidak ringan.

Setelah beberapa detik berlalu.

“Cukup?” tanya Sagara akhirnya--seolah menegaskan bahwa ia sanggup.

Shafiya mengangguk.

“Baik.” usai kata singkat itu, Sagara berbalik. Ia melangkah keluar ruangan. Agam masih tinggal menatap Shafiya yang masih duduk diam seolah tenang.

"Anda yakin, ini benar, Ning Shafiya?"

Shafiya menatap lelaki yang menjadi gerbang awal jatuhnya ia di keluarga Adinata itu.

"Kebenaran tidak pernah menjadi dasar keputusan keluarga Adinata."

"Iya." Agam mengangguk.

"Dan karena itu saya menanyakannya padamu, Ning Shafiya."

Agam tidak bisa menutup mata bagaimana tatanan nilai yang menjadi pilar dalam keluarga kyai Fakih. Dan itu sangat bertolak belakang dengan keluarga Adinata. Kontras yang teramat tajam.

Dan Shafiya memilih berdiri di antaranya. Agam tahu. Posisi itu bukan hanya sekedar sulit.

"Masih ada waktu, jika ingin mundur."

Agam mengatakan itu bukan sekedar menawarkan.

Shafiya menatapnya, cukup terhenyak.

"Saya akan rapikan semuanya, jika kamu mau berhenti," lanjut Agam. Ia benar-benar memutuskan.

Shafiya diam. Cukup lama diam. Bukan karena bingung untuk menjawab, tapi karena saat ia menoleh ke belakang, pintu sudah benar-benar tertutup.

Shafiya menggeleng pelan.

Agam menarik napas, terasa lega. Di sini ia tahu, pilihan ini jatuh bukan semata-mata karena dirinya. Tapi, Shafiya juga ikut andil di dalamnya.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!