Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJADI BEGITU SAJA
Begitu sampai di lobby hotel, kepala Anela makin pening.
Ia berhenti sebentar di dekat pintu keluar.
“Aku mabuk?” gumamnya pelan.
Lalu ia melihat gelas jus jeruk di tangannya yang sudah kosong.
“Ya kali mabuk vitamin C.”
Jangan-jangan aku dikerjain, pikirnya sekelebat.
Ia menunggu taksi online di dekat pintu. Sudah hampir sepuluh menit belum juga datang. Ia mengecek aplikasi lagi, merapikan rambut yang agak berantakan karena AC, lalu menghela napas panjang.
Ia sebenarnya sudah ingin pulang.
Rebahan.
Tidur.
Besok kerja lagi.
Tapi pikirannya malah muter ke satu nama.
Rico.
Belum selesai ia mengutuki otaknya sendiri, suara rendah itu muncul lagi dari belakang.
“Aku kira kamu sudah pulang.”
Anela menoleh.
Dan tentu saja—Rico berdiri di sana. Santai. Kemeja kasualnya tetap terlihat mahal walau gayanya simpel. Tangannya di saku, ekspresinya tenang seperti tadi.
“Belum,” jawab Anela. “Taksi online-nya kayak lagi galau. Nggak dateng-dateng.”
Rico melirik layar ponselnya. “Jam segini memang agak susah. Mau aku antar aja?”
Anela ragu sebentar.
Jangan bego, ini pemain basket nasional, aman lah… batinnya.
Akhirnya ia mengangguk. “Oke. Kalau nggak merepotkan.”
“Gak pernah repot buat kamu,” jawab Rico ringan.
Di dalam mobilnya, suasana beda.
Lebih tenang.
Lebih personal.
Musik pelan mengalun. Lampu jalan lewat satu per satu seperti slow motion.
“Capek?” tanya Rico.
“Lumayan. Hari ini banyak yang test drive. Rasanya kayak ikut lomba lari tapi pakai heels.”
Rico tertawa pelan. “Aku suka perempuan pekerja keras.”
Anela menyeringai kecil. “Aku juga suka pria pekerja keras.”
Rico menoleh, dan terbahak sebentar. “Noted!.”
Ketika mobil berhenti di depan apartemen Anela, suasana jadi hening. Musik jazz masih pelan terdengar menjadi backgsound.
“Makasih ya,” kata Anela sambil tersenyum melihat ke arah Rico dan bersiap membuka pintu.
“Tunggu.”
Ia berhenti.
“Aku boleh jujur?” tanya Rico.
Anela menoleh.
“Aku nggak mau malam ini cuma jadi kenalan lewat. Aku suka ngobrol sama kamu.”
Jantung Anela berdegup sedikit lebih cepat.
“Kita bisa lanjut ngobrol di tempatku… kalau kamu mau,” tambah Rico.
Anela tahu maksudnya.
Ia juga tahu ia sudah lama tidak merasa se-hidup ini.
Sekali saja, batinnya.
“Oke,” jawabnya pelan.
Apartemen Rico… bukan cuma bagus.
Itu level “wow”.
Langit-langit tinggi. Jendela kaca besar dengan pemandangan kota yang bikin napas tertahan. Sofa kulit gelap. Rapi. Maskulin.
Anela berjalan pelan.
Lalu langkahnya melambat.
Foto-foto besar di dinding.
Rico dengan jersey basket. Rico melompat hampir menyentuh ring. Rico mengangkat trofi dengan logo Indonesian Basketball League di belakangnya.
Anela mendekat ke lemari kaca.
Medali.
Plakat.
Foto tim nasional saat SEA Games.
“Oke… kamu bukan cuma ‘anak basket liga’ ya,” gumamnya.
Rico keluar dari dapur membawa dua gelas berisi jus jeruk.
“Kamu baru sadar?” tanyanya santai.
Anela menoleh. “Di hotel tadi aku mikir wajahmu familiar. Ternyata kamu itu Rico yang itu.”
Rico tersenyum kecil. “Itu cuma kerjaanku.”
Ia mendekat, menawarkan gelas yang ia bawa.
“Aku lebih suka yang ini,” katanya pelan. “Yang bisa ngobrol sama kamu tanpa kamera.”
Anela duduk di sofa. Tersenyum kikuk. Ia salah tingkah karena tatapan Rico.
Anela menghela nafas.
“Aku lagi pura-pura santai,” akunya.
“Aku lagi pura-pura nggak terlalu tertarik,” balas Rico menggantung.
Anela tertawa kecil. “Gagal total.”
Rico jadi lebih berani, semakin mendekat. Dan jarak mereka makin kecil.
Rico mengangkat tangannya perlahan, memberi ruang jika Anela ingin mundur.
Tapi Anela tidak bergerak.
Sentuhan di rahangnya ringan. Hangat.
“Kamu tahu nggak kamu bikin aku susah fokus daritadi?” bisik Rico.
“Kamu aja yang gampang goyah,” jawab Anela cepat.
Rico tertawa pelan. Ada perasaan gemas pada wanita yang selalu membalas dengan jenaka semua jurusnya ini.
Lalu tanpa basa basi, ciuman itu datang. Pelan. Seperti tes ombak. Tidak terburu-buru.
Anela membalas tanpa sadar. Tangannya menyentuh lengan Rico, merasakan tubuh atletis pria itu yang kokoh.
“Apa ini gak terlalu cepat?” bisik Anela di sela napas.
"Nggak buatku", jawab Rico cepat, baginya hal itu menjelaskan bahwa ini tidak terlalu cepat karena ia tidak pernah begitu menginginkan wanita seperti saat ini.
Tapi Anela menganggapnya sebagai ungkapan bahwa ini bukan pertama kalinya ia membawa wanita ke apartemennya sejak pertemuan pertama.
Ciuman makin dalam. Namun dalam hati Anela, ini hanya malam yang lain dari biasanya, dan besok semuanya akan kembali seperti tidak pernah terjadi.
Kini tangan Rico di pinggang Anela, menahannya agar mendekat.
Anela tertawa kecil di sela napasnya. “Kamu biasa dominan?.”
“Aku atlet, biasa latihan disiplin tiap hari, aku selalu tau apa yang aku mau” balasnya.
Suasana berubah menjadi lebih panas. Lebih intens.
Anela merasa lama sekali ia tidak disentuh seperti ini—diperhatikan, diinginkan, dipandang seolah ia satu-satunya wanita cantik di dunia.
Ketika mereka akhirnya jatuh ke tempat tidur, semuanya terasa seperti gelombang yang sudah lama tertahan.
Tidak terburu-buru. Tapi juga tidak ragu.
Anela yang tadi mencoba terlihat kalem, akhirnya menyerah juga pada napas yang tak lagi teratur.
“Aku udah lama gak melakukannya,” aku Anela.
Rico tertawa rendah. “Tenang. Aku akan bikin kamu gak bisa melupakan malam ini.”
Ciumannya berpindah ke leher Anela, napas Rico terasa hangat di kulitnya.
Anela mendesah pelan, "Emhh...." ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan — perhatian dan sentuhan seorang pria yang membuatnya merasa diinginkan.
Mendengar desahan Anela, membuat Rico semakin berani, ia mulai melepas sebagian pakaian Anela, satu per satu dari atas hingga hanya menyisakan bagian intim bawah Anela yang masih tertutup kain tipis.
Anela seperti merasakan sensasi melayang saat Rico mulai menyentuh bagian dadanya, lalu mengeksplorasinya dengan perlahan, membuat napas Anela berubah tidak beraturan. Tubuhnya merespons sentuhan itu tanpa bisa ia kendalikan. "Emmmh...." desahan yang lebih panjang sekali lolos dari bibir ranum Anela. Rico melumatnya dan sejurus kemudian membaringkan Anela di kasur.
Rico tersenyum kecil, merasa berhasil membuat Anela kehilangan kendali dalam ketegangan hasrat yang mereka bagi malam itu.
Rico kembali menciumi Anela, ciuman itu makin panas, Rico tak sabar mengulum dan menghisap dua bukit kembar Anela secara perlahan, "Aaaah..." desahan-desahan panjang tak lagi terbendung.
Anela benar-benar sudah hilang kendali, Rico semakin berani, ia melepaskan seluruh pakaiannya, dan bersiap memulai penyatuan.
Anela tak sanggup menahan diri, dia menarik wajar rico dan menciumi nya lalu mengarahkan tongkat rico yang sudah tegang sempurna ke arah mahkotanya. Riko kembali tersenyum, ia benar-benar berhasil membuat partnernya kuwalahan, "Aku ambil pengaman dulu".
Begitu selesai dengan urusan pengaman, Rico membuka kaki Anela sedikit lebih lebar dan mendekatkan miliknya ke Anela. Ia menatap wajah wanita itu sejenak, memastikan Anela dapat menerima miliknya yang berukuran cukup besar untuknya.
Anela yang bertubuh mungil terlentang di kasur, berada di bawah dada Rico yang tinggi dan atletis. Perbedaan tinggi mereka membuat Rico sedikit menyesuaikan posisi—tangannya memegang pinggang Anela dengan lembut, menuntunnya agar lebih nyaman.
Anela menarik napas pelan ketika Rico semakin merapat. Matanya sempat bertemu dengan tatapan Rico, lalu ia tersenyum tipis, seolah memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.
Bless... Rico berhasil memasukan miliknya.
Anela terkesiap dan sedikit mengernyitkan dahinya. Meski ia telah siap, sudah lama ia tidak merasakan kedekatan seperti ini—terakhir sebelum Ziyo lahir, sekitar lima tahun lalu.
“Ah…” desahnya pelan.
Rico tidak terburu-buru. Ia bergerak perlahan, memberi waktu bagi Anela untuk menyesuaikan diri. Tangannya tetap menjaga pinggang wanita itu, memastikan posisinya nyaman meskipun tubuhnya jauh lebih besar dibanding Anela yang mungil.
Beberapa saat kemudian, ritme di antara mereka mulai menemukan alurnya sendiri. Napas Anela menjadi lebih cepat, jemarinya menggenggam bahu Rico ketika sensasi hangat itu semakin mengalir di tubuhnya.
“Ri...co…” desahnya lirih.
Mendengar itu, Rico semakin tenggelam dalam suasana yang mereka ciptakan bersama. Gerakannya menjadi lebih mantap, namun tetap menjaga kelembutan yang sejak awal ia berikan.
"Aaah...ooh....Anela, kamu hot banget sayang."
-----------------