MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 3, Part 2 [SUNKEN CAVE]
Dinding batu yang menjulang tinggi, basah oleh aliran air yang menyebar ke segala arah. Cahaya biru kehijauan memantul dari kristal-kristal alami diatas langit-langit gua, menciptakan bayangan berlapis yang bergerak seolah hidup. Air mengalir di lantai, awalnya setinggi mata kaki—namun Marva bisa melihat jelas bahwa semakin ke dalam, permukaannya naik.
Suara tetesan air menggema dan terus berulang.
“…Tempat ini membuat kekuatan ku tidak akan maksimal Bos.”
Marva tidak bisa menanggapi Leo secara langsung karena yag lain akan berfikiran aneh padanya.
“Ada apa Leo?” ucap Marva dalam hatinya.
“Lantai 3 menggunakan Elemen Air sebagai rintangannya. Ini akan melemahkan kekuatanku yang memiliki Elemen Api Bos.”
Marva menarik napas perlahan. “Apakah itu sangat berpengaruh Leo?”
“Apiku akan lebih lambat menyala. Konsumsi stamina akan meningkat, begitu juga mana.
Tapi…”
“…aku merasa ada sesuatu yang dari tadi menggangguku.”
“Selain karena Elemen Air ini?” lanjut Marva.
“Betul Bos, akan kuberitahu apa itu kalau sudah ku pastikan.”
Ini kali pertama Leo mengaku terbatas. Marva hanya bisa menenangkan Leo, mereka terus melangkah masuk kedalam gua, airnya dingin menyentuh pergelangan kakinya.
Setiap langkah terasa berat.
"Wow..." bisik Red, suaranya bergema kecil. "Ini... indah."
"Dan juga sunyi," tambah Kaela, waspada. Matanya memindai permukaan air yang tenang.
Marva hanya mengangguk, tetapi perhatiannya tertuju pada tangannya. Cincin Leo yang ada di jarinya terasa... dingin. Bukan hangat seperti biasanya. Seperti api kecil yang sedang berjuang untuk tetap menyala.
Setelah berjalan cukup jauh. notifikasi sistem muncul di depan mereka semua, dengan tulisan berwarna biru pucat:
“SELAMAT DATANG DI LANTAI 3 : SUNKEN CAVE”
[ELEMEN AIR DOMINAN]
>> DEBUFF PADA SEMUA ITEM: BER-ELEMEN API 40%.
>> DEBUFF PADA SKILL: BER-ELEMEN API 50%.
>> KONSUMSI MANA: BER-ELEMEN API NAIK 25%.
>> PASIF ELEMEN API DINONAKTIFKAN.
"Bukankah Pedang yang kamu pakai Va ber-elemen api," ucap Kaela yang langsung paham dengan situasi ini.
"Lima puluh persen?!" Red nyaris berteriak.
"Kekuatan Leader lumpuh setengah?"
"Dan kita juga tidak punya item atau skill bertipe air," tanggap Marva. "Kita harus hati-hati."
Marva mengepalkan tangannya. Dia merasakannya apa yang dirasakan Leo.
"Kita harus beradaptasi," ucap Marva.
"Kaela. Kecepatan dan ketepatanmu adalah kunci sekarang. Kamu harus mengincar titik lemah monster. Red, konsentrasi pada pada item yang bisa kita dapatkan di lantai ini, itu akan jadi penyelamat kita. Cari dan perhatikan, apapun yang efektif melawan Elemen Air."
Marva menjelaskan rencana itu pada Guild nya, sementara dia harus tetap bertarung dengan kondisi timpang.
Marva lalu melihat mereka berdua. "Apakah kalian percaya padaku, bahkan tanpa kekuatan penuh?"
Kaela adalah yang pertama mengangguk, matanya berbinar dengan tekad baru. "Aku selalu percaya padamu, Marva. Bukan hanya karena cincin itu tapi karena keteguhanmu."
Red menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. "Oke. Aku siap mem-backup Lead. Dengan Luck yang lebih tinggi, harusnya bisa nemuin sesuatu yang berguna di tempat becek begini. Atau... setidaknya kita tidak tenggelam."
Monster pertama yang mereka hadapi adalah Sekelompok Reptile Fish (Lv. 18, Nama Kuning-Kebiruan) yang menyergap mereka dari dalam air, saat mereka mencoba menyeberangi jembatan yang sudah rapuh.
Biasanya, Lion's Roar dapat membersihkan para monster hanya dalam satu tebasan. Sekarang, dia harus mengeluarkannya tiga bahkan empat kali, dan MP-nya terkuras -115 hanya untuk itu. Damage-nya pun menyedihkan.
Namun, Kaela menjadi pembeda kali ini. Dengan serangan bertipe Assasin miliknya, damage yang dihasilkan cukup tinggi, dia melompat dari satu batu ke batu lain, Twin Blades-nya menyambar cepat Ke Ell Thunder.
-75! -78! CRITICAL!
Damage-nya stabil. Sementara Red sibuk memukul monster belut dengan palu nya, untuk memberi efek stun agar para monster naik ke permukaan maka Marva dan Kaela bisa menyelesaikan sisanya.
Setelah beberapa jam bertarung, Red mendapatkan Item Acid Vial (yang bisa me-reduce defense) monster bertipe air. Item itu menciptakan awan asam yang memberikan Damage Continue pada setiap monster.
Perlahan tapi pasti, mereka bisa akhirnya bisa mengalah setiap monster. Potion yang mereka gunakan, lebih banyak dari yang biasanya.
"Ini berjalan lebih mudah sekarang," ucap Marva sambil melihat MP-nya yang selalu terkuras.
"Bos sepertinya mulai terbiasa dengan pertarungan ini," bisik Leo di pikirannya.
“Setidaknya kita harus mencobakan,” jawab Marva.
Pertempuran selanjutnya, ternyata semakin sulit. Mereka bertemu dengan monster Marsh Nymph (Lv. 25, Nama Kuning). Monster itu tidak menyerang langsung tapi menyanyikan lagu melankolis, dan kabut tipis mulai memenuhi area mereka.
Pandangan mereka kabur. Arah menjadi tidak jelas. Dan gerak mereka terhambat.
"Sial... seperti nya ini skill utama monster itu!" teriak Red.
"Skill-nya mengacaukan indera kita!" seru Kaela.
Leo menyuruh Marva untuk menutup mata.
Daripada mengandalkan penglihatan, Leo menyuruhnya untuk coba merasakan Panas tubuh Kaela dan Red. Bahkan dalam kondisi berkabut sekalipun. Marva paham, secerca kekuatan Leo masih ada walau tidak kuat, ia merasakan kehangatan tubuh Kaela dan Red... dan sebuah titik dingin yang intens di tengah kabut oleh skill sang monster Nymph.
"Dia di tengah! Kaela, lurus dari posisimu sekarang, 10 langkah maju, serang!"
Kaela, mempercayai Marva sepenuhnya, melesat. Twin Blades-nya menembus kabut, mengenai sesuatu yang padat. -88! Nymph itu menjerit, kabut pun tersapu.
Mereka mengalahkannya. Tanpa Marva mengeluarkan skill api sekalipun.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Kaela, terkesima.
"Leo yang menyuruhku," jawab Marva sederhana.
Setelah beberapa saat, mereka menjelajahi sebuah ceruk gua terlihat. Mereka masuk kedalam nya, itu adalah safe zone yang ada di lantai 3. Dinding-dinding nya dihiasi oleh batu-batu permata yang sangat cantik, sementara di tengahnya ada sebuah Altar tapi altar itu retak oleh sebab yang belum mereka ketahui.
"Hore! Safe Zone!" seru Red yang langsung masuk untuk melepas penatnya.
Ternyata Safe Zone di lantai 3 memiliki buff Regen Hp dan Mp. Walaupun berjalan sangat pelan ketimbang memakai potion, setidaknya itu bisa membantu. Saat mereka istirahat, tiba-tiba mereka didekati oleh beberapa orang.
"Kupikir saat di lantai 2, kamu sudah mati Bocah Miskin!"
Ternyata itu adalah Elrian Vox, didampingi oleh lima orang anggota guild, yan bernama "VOX DOMINATION". Mereka terlihat peda dan juga angkuh, salah satu anggota mereka, seorang perempuan dengan rambut pirang, memegang sebuah tongkat dengan kristal biru di ujungnya yang memancarkan hawa dingin. Elrian memperkenalkan wanita itu sebagai mage support mereka :
Player ID : #87
Name : LYRIA FROST
Role : PLAYER
Level : 17
HP : 215/215
MP : 180/180
[STATUS : MAGE OF WATER ELEMENT]
Ini cukup menjelaskan, kenapa Elrian berlagak seperti orang yang paling hebat disini. Ternyata di dalam tim nya terdapat Player yang menggunakan elemen air sehingga lantai 3 hanya seperti tempat bermain bagi mereka.
"Aku tahu kekuatan mu tidak akan berguna disini, Bocah Miskin! Hahahahaha," ledek Elrian.
"Ternyata terjebak di menara ini, tidak menghilangkan sifat sombong mu," balas Kaela yang membela Marva. ”Kapan saja kita bisa mati disini, daripada mencari masalah dengan sesama player kenapa tidak luapkan emosi mu itu pada monster, tentu itu lebih menguntungkan bukan?”
"Ide yang menarik, meluapkan emosi ku ya!" Elrian tertawa kecil, seolah-olah sedang merencanakan sesuatu. “Bagaimana kalau aku menantang Guild mu dalam pertarungan GVG (Guild Versus Guild)”.
[WARNING] [WARNING] [WARNING]
Sistem mendeteksi ajakan pertarungan antar Guild, mengirim segera Guardian Of Tower : BALDERAS THE TANKER.
Langit-langit bergetar, suasana berubah menjadi merah. Area tempat Marva dan Elrian langsung dikelilingi penghalang. Penghalang itu sepertinya dipersiapkan untuk mereka yang siap bertarung antar Guild. Setelah sekian lama berada di Menara, akhirnya Role Seorang Guardian terlihat.
GUARDIAN OF TOWER: BALDERAS THE TANKER, BERADA DILANTAI 3 ......
Pertarungan antar guild siap dilaksanakan.
[BERSAMBUNG]