Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Pagi itu, Laura ter bangun; ia tersadar. Seluruh tubuhnya terasa berat, seolah malam telah membebani jiwanya dengan timah panas.
Di sebelah ranjang, ranjang Alex masih rapi. Pria itu sudah berangkat kerja, seperti biasanya, tanpa menyentuh istrinya, merasa puas dengan pengorbanan yang ia pikir ia buat untuk "kenyamanan" Laura.
Laura bangun, bergerak dengan kehati-hatian seorang prajurit yang terluka. Ia pergi ke kamar mandi, dan air dingin di shower menyadarkannya pada kenyataan. Tadi malam bukanlah mimpi buruk; itu adalah sebuah transaksi yang brutal dan mengikat.
Ia melihat pantulannya di cermin. Mata bengkak, tetapi rahangnya mengeras. Ia menyentuh kalung kunci perak di lehernya, sebuah lambang kepemilikan yang sekarang terasa dingin, tetapi tidak lagi menjijikkan. Pengakuan pahit yang ia ucapkan tadi malam—“Aku milikmu”—telah mengubah belenggu menjadi... identitas.
Aku adalah wadah, pikirnya, mengulangi kata-kata Lexi yang menusuk di puncak gairah mereka. Tugasmu baru dimulai.
Ini bukan lagi tentang perselingkuhan yang didasari rasa takut atau pemaksaan semata. Lexi telah menanamkan tujuan yang lebih besar, dan itu mengikat Laura pada takdir yang lebih gelap. Jika ia benar-benar mengandung benih Lexi, itu berarti kehancuran total bagi pernikahan dan hidupnya, namun anehnya, itu juga berarti kebebasan dari genggaman Alex yang penuh kepura-puraan.
Laura turun ke bawah dengan gaun rumahan yang lebih pas di badan, menuruti perintah Lexi,untuk berpakaian lebih seksi.
Lexi duduk di teras belakang, menyeruput kopi, berpakaian rapi seolah akan bekerja dari rumah, tetapi tatapannya—saat melihat Laura—jelas menunjukkan bahwa pekerjaannya sudah selesai semalam.
“Selamat pagi,” sapa Lexi, tanpa senyum, nadanya seperti seorang eksekutif yang puas dengan hasil negosiasi.
“Pagi,” balas Laura, mengambil tempat duduk yang jauh darinya, di seberang meja teras.
“Hari ini kamu tampak... lebih segar” ujar Lexi, mengaduk kopinya dengan santai. “Aku suka itu. Kepasrahan buta membosankan.”
Laura membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. “Aku melakukan apa yang kamu minta.”
Lexi meletakkan cangkir kopinya. “Tentu. Dan kamu melakukannya dengan baik. Tapi bukan itu maksudku. Aku ingin kamu mengerti apa yang terjadi, Laura. Kemarin, kamu adalah tawanan. Hari ini, kamu adalah mitra—dalam sebuah proyek.”
Kata “proyek” itu membuat Laura bergidik. “Apa yang akan kamu lakukan jika aku datang bulan?” tanyanya, langsung ke inti permasalahan, suaranya pelan tetapi tegas.
Senyum Lexi mengembang, sebuah seringai predator yang tertangkap kamera. “Jangan khawatir. Kita akan mencoba lagi. Berulang kali, sampai berhasil. Namun, aku cukup yakin dengan usahaku setiap malam. Aku tidak pernah gagal, Sayang.”
Ia beranjak, berjalan mendekati Laura. Ia tidak menyentuh. Ia hanya membungkuk, mencondongkan tubuhnya, menciptakan dinding otoritas yang tak kasat mata.
“Fokus, Laura. Kamu tahu taruhannya. Jika benihku tumbuh, kamu akan aman. Kamu akan menjadi ibu dari ahli waris yang sah. Jika tidak... kamu akan kembali padaku, setiap malam, sampai aku mendapatkan apa yang aku mau. Pilih saja belenggu mana yang lebih nyaman bagimu.”
Lexi menegakkan tubuhnya, bersiap berbalik, dan masuk ke dalam rumah.
"Kenapa tidak kamu cari saja wanita lain? Kenapa harus aku? Kamu tahu aku adalah adik iparmu,aku punya suami," Cicitnya,membuat Lexi kembali berbalik.
"Jangan menggurui ku soal apapun Laura,jika aku menginginkan mu mengandung darah daging ku,maka itulah yang akan terjadi," Desisnya penuh kemenangan.
Ia meninggalkan Laura, berjuang melawan mual yang bukan lagi dari ketegangan, tetapi dari kemungkinan yang jauh lebih nyata.
"Brengsek kamu Lexi,kamu tidak hanya menghancurkan hidupku,tapi juga pernikahan ku." Desisnya mengepalkan tangan dibawah sana.
***
Seminggu kemudian..
Sore itu, Laura menyadari ada yang berbeda. Rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa seperti memudar, tergantikan oleh sensasi baru yang aneh. Ia menyadari ia tidak datang bulan, dan tanggal siklusnya sudah terlewati dua hari.
Kepanikan menjalar, tetapi segera digantikan oleh ketenangan dingin. Realisasi atas perkataan Lexi memberinya keberanian yang aneh.
Malam harinya, Alex pulang dengan membawa hadiah: sepasang anting berlian kecil.
“Aku tahu kamu lelah, Sayang,” kata Alex, nadanya penuh penyesalan. “Aku minta maaf sudah terlalu fokus pada pekerjaan. Aku ingin menebusnya. Kita akan liburan akhir pekan ini. Kita bisa berdua saja…”
Ia berjalan mendekat, ingin memeluk Laura.
Laura menegang. Kalung kunci perak itu, disembunyikan di bawah kerah blusnya, terasa dingin. Jangan sampai aku kecewa, Sayang. Kau memastikan dia tidak menyentuh milikku.
Laura tersenyum pahit. Ini adalah ujian pertamanya sebagai 'wadah' Lexi.
“Terima kasih, Sayang,” bisik Laura, menyentuh pipi Alex dengan lembut. “Antingnya cantik sekali.”
Ia mundur selangkah, dan dengan air mata yang ia paksakan muncul di matanya, ia berbisik, “Aku tidak enak badan. Aku merasa... aku ingin muntah. Dan aku sangat takut… Alex, aku rasa kita harus pergi ke dokter besok pagi.”
Alex terkejut. “Ke dokter? Ada apa, Laura? Apa perutmu masih kram?”
Laura menggeleng, menggenggam perutnya. “Aku tidak tahu. Tapi aku terlambat datang bulan. Dan aku takut… aku sangat takut jika ada yang salah denganku. Mungkin aku... mungkin aku punya penyakit, yang membuat aku tidak bisa memberimu anak, Alex.”
Wajah Alex berubah pucat, kehilangan senyum romantisnya. Rencana liburan dan sentuhan mesra seketika terlupakan. Keinginannya yang terbesar—seorang pewaris—kini terancam.
“Aku... baiklah, kita akan ke dokter. Besok pagi. Kamu harus tenang, Sayang. Aku yakin tidak ada apa-apa,” kata Alex, memeluk Laura, tetapi bukan dengan gairah, melainkan dengan kekhawatiran dan ketakutan akan kegagalan.
Laura membalas pelukan Alex, dan dalam pelukan itu, ia merasakan kemenangan Lexi. Kebohongan kecilnya, yang disamarkan sebagai ketakutan, telah menjadi tameng sempurna. Alex tidak akan menyentuhnya sampai dokter memastikan semuanya baik-baik saja—atau mengonfirmasi kecurigaannya.
Di malam hari, setelah Alex tertidur lelap dengan pikiran yang berkecamuk, Laura pergi ke kamar mandi. Ia meraih kotak P3K dan menemukan alat uji kehamilan.
Dengan tangan gemetar, ia melakukan tes.
Dua garis merah muncul. Jelas, tak terbantahkan.
Laura menatap hasilnya. Benih Lexi. Proyek itu telah berhasil.
Ia tidak menangis, ia juga tidak berteriak. Ia hanya merasakan gelombang realisasi yang mematikan. Ia membawa kehancuran dan kehidupan baru secara bersamaan.
[NOMOR TIDAK DIKENAL]: Selamat. Proyek berhasil. Kenakan kuncimu malam ini. Dan nikmati tidurmu. Jangan pernah mencopotnya. Aku akan menghubungimu lagi setelah pertemuan pertamamu dengan dokter.
Laura mematikan ponselnya. Lexi tidak datang malam ini. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan dan kini ia menarik dirinya, meninggalkan Laura sendiri, hamil, terikat pada kuncinya, dan sepenuhnya terisolasi.
Laura berjalan ke ranjang, berbaring. Ia menyentuh perutnya, tempat kehidupan Lexi junior kini tumbuh.
Ia adalah seorang wanita yang hamil oleh kakak iparnya, terikat oleh kalung kunci, dan terdampar dalam pernikahan palsu.
Tapi malam ini, ia telah diberikan yang paling brutal dari semua hadiah: istirahat.
Dan yang lebih menakutkan, ia merasa lega.
Laura tidak tidur malam itu. Begitu fajar menyingsing, ia bergerak ke kamar mandi dan berganti pakaian.
“Aku sudah menelepon dokter kandungan terbaik, Sayang. Jam sepuluh pagi. Kita pergi bersama,” kata Alex, nadanya menunjukkan betapa pentingnya janji temu ini.
“Terima kasih, Alex,” balas Laura, suaranya berhasil terdengar lemah dan rapuh, menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam dirinya.
Lexi tidak ada saat sarapan, tetapi aura kehadirannya terasa di seluruh rumah. Laura tahu ia harus segera bertindak. Ia tidak bisa menunggu, tidak bisa membiarkan kehamilan ini menjadi kenyataan yang dingin dan terencana.
bersambung...