NovelToon NovelToon
CAHAYA DI RAHIM SUNYI

CAHAYA DI RAHIM SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Drama
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.

"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."

Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.

Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.

Haruskah Haniyah kembali...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Di Ujung Ambang Pintu

Matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar, menyentuh permukaan sprei katun yang masih hangat. Namun bagi Haris Abidzar, cahaya yang paling terang ada tepat di pelukannya. Ia tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah gerakan kecil saja bisa menghancurkan momen sempurna ini. Haris membiarkan jemarinya bermain lembut, membelai rambut Haniyah karena ia tertidur setelah zikir subuh yang panjang.

Lima tahun telah berlalu sejak kalimat "Saya terima nikahnya" diucapkan dengan satu tarikan napas di depan penghulu. Namun bagi Haris, setiap pagi tetap terasa seperti hari pertama bulan madu mereka. Ia adalah tipe pria yang masih sering mencuri pandang saat Haniyah sedang sibuk di dapur, atau sengaja memacu kendaraan pulang lebih awal hanya demi melihat senyum lelah namun tulus istrinya menyambut di ambang pintu. Bagi Haris, Haniyah adalah pelabuhan dari segala lelahnya dunia.

"Sudah bangun, Mas?" suara lembut Haniyah memecah keheningan yang nyaman itu.

Mata indah Haniyah perlahan terbuka, menemukan sepasang mata suaminya yang menatap dengan binar penuh kekaguman yang tak pernah pudar. Haris tersenyum lebar, senyum yang selalu berhasil membuat perut Haniyah terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu.

"Bagaimana aku bisa berhenti menatapmu kalau setiap hari kamu terlihat semakin cantik? Aku merasa seperti pengantin baru yang selalu takut kehilangan sedetik pun tanpamu, Hani," bisik Haris dengan nada yang dalam dan tulus.

Haniyah tertawa kecil, rona merah muda segera menjalar di pipinya yang bersih. Ia selalu merasa kecil di bawah tatapan memuja Haris. "Mas ini bicara apa pagi-pagi begini. Kita sudah lima tahun menikah, Mas. Masa masih sering gombal seperti remaja yang baru kasmaran?"

Haris tidak membalas dengan tawa. Ia justru bangkit sedikit, menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil terus memaku pandangannya pada wajah sang istri. Jemarinya merapikan anak rambut Haniyah yang menyembul dari balik kerudung yang baru dipakai Haniyah.

"Lima tahun, Lima puluh tahun, atau bahkan Lima abad pun, perasaanku tidak akan pernah berubah, Hani. Kamu adalah hadiah terbaik yang pernah Allah titipkan untuk menyempurnakan hidupku. Aku sungguh tidak butuh apa pun lagi di dunia ini, asalkan ada kamu yang selalu setia berdiri di sisiku," ucap Haris dengan nada yang begitu sakral.

Haniyah tertegun. Kalimat terakhir Haris selalu menjadi oase di tengah padang pasir hidupnya. Namun di saat yang sama, kalimat itu menjelma menjadi duri tak kasatmata yang menusuk ulu hatinya. Ia tahu Haris tulus mencintainya tanpa syarat. Ia tahu suaminya tidak pernah menuntut hal yang belum Allah gariskan. Namun, Haniyah juga sadar ada beban sosial dan harapan besar yang seharusnya mereka tanggung bersama, namun kini ia merasa memikulnya sendirian di atas pundaknya yang mulai rapuh.

"Mas mau sarapan apa hari ini?" tanya Haniyah, mencoba mengalihkan gemuruh di dalam dadanya yang mulai sesak oleh rasa haru dan sedih yang bercampur aduk.

Haris menarik hidung Haniyah dengan gemas sebelum menariknya kembali ke dalam dekapan hangat. "Nasi goreng buatanmu dan senyummu yang paling manis. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk menjadi energiku sampai sore nanti."

Kemesraan yang tenang itu tiba-tiba terinterupsi oleh dering keras bel rumah. Suara itu terdengar sangat menuntut, berkali-kali ditekan tanpa jeda seolah-olah sang tamu sedang dalam keadaan darurat yang hebat. Haris mengernyitkan dahi, merasa sedikit terganggu karena waktu berkualitasnya terusik.

"Siapa yang bertamu sepagi ini?" tanya Haris heran sambil melirik jam dinding yang baru menunjuk angka tujuh.

"Biar Niya yang lihat, Mas. Mungkin tukang paket atau tetangga yang ingin meminta tolong," ujar Haniyah sambil bergegas bangun dan merapikan pakaian serta jilbabnya.

Namun, saat pintu depan dibuka, jantung Haniyah seolah berhenti berdetak. Seluruh sendinya terasa lemas seketika. Di sana, di balik pintu kayu itu, berdiri sosok wanita dengan pakaian formal yang sangat rapi. Tatapannya dingin, setajam silet, dengan tangan yang bersedekap di depan dada. Ibu Rosita, mertuanya.

"Mama? Silakan masuk, Ma. Haris ada di dalam, sedang bersiap," sapa Haniyah, berusaha tetap menjaga kesopanan meski suaranya sedikit bergetar karena rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.

Rosita melangkah masuk tanpa menyahut sapaan menantunya sedikit pun. Ia langsung berjalan menuju sofa ruang tamu dan duduk di sana dengan posisi tegak yang mengintimidasi. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan yang tertata rapi, seolah sedang mencari debu atau cacat di rumah itu. Haris, yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian santai, tampak terkejut melihat kehadiran ibunya.

"Mama? Tumben sekali Mama sudah sampai di sini pagi-pagi. Ada apa? Apa ada kabar penting dari rumah?" Haris mendekat, lalu mencium tangan ibunya dengan takzim.

"Mama memang mau bicara penting. Tapi hanya dengan istrimu. Haris, kamu masuklah ke kamar dulu atau mandi sana. Ini urusan antar perempuan," perintah Rosita dengan nada bicara yang tidak bisa dibantah.

Haris menatap Haniyah dengan cemas. Ia tahu persis bagaimana watak ibunya yang keras. "Bicara apa, Mah? Kalau ini soal keluarga, aku rasa aku juga punya hak untuk tahu dan mendengarnya."

"Haris, jangan mulai membangkang. Mama bilang ini urusan perempuan. Jangan membantah Mama hanya karena kamu ingin terus menempel pada istrimu," suara Rosita meninggi satu oktaf.

Haniyah memberikan kode dengan anggukan kecil serta senyum tipis pada Haris, mencoba meyakinkan suaminya bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Tidak apa-apa, Mas. Temani Ibu dulu sebentar di sini, aku akan ke dapur untuk buatkan teh hangat."

Setelah Haris masuk ke dalam kamar dengan langkah ragu, suasana di ruang tamu berubah menjadi mencekam secara instan. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu. Haniyah meletakkan secangkir teh melati hangat di meja dengan tangan yang masih gemetar, namun Rosita bahkan tidak melirik cangkir itu sama sekali.

"Duduk, Haniyah," perintah Rosita pendek.

Haniyah duduk di kursi seberang dengan posisi menunduk, tidak berani menatap mata mertuanya yang membara.

"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Rosita ketus, meski ia tahu persis jawabannya.

"Sudah jalan Lima tahun, Mah," jawab Haniyah pelan, nyaris berbisik.

"Lima tahun. Dan rumah ini masih sesepi kuburan. Tidak ada tangis bayi, tidak ada tawa anak kecil. Kamu tahu kan, Haris itu anak laki-laki satu-satunya di keluarga besar kita? Dia punya tanggung jawab besar untuk meneruskan nama dan garis keturunan keluarga. Tapi lihat dirimu, Haniyah. Rahimmu masih sunyi seperti tanah tandus yang tidak bisa ditanami benih apa pun," ucap Rosita dengan kata-kata yang begitu berbisa.

Kalimat itu menghujam jantung Haniyah, lebih perih dari sayatan benda tajam. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Mah. Kami juga tidak pernah putus berdoa di setiap sujud kami."

"Doa saja tidak akan cukup kalau memang dasarnya kamu yang bermasalah secara fisik! Mama sudah membawa Haris ke dokter spesialis saat dia masih remaja, dan hasilnya dia sehat sempurna. Jadi kesimpulannya sangat jelas, masalahnya ada di kamu. Mama sudah tidak bisa bersabar lagi menghadapi gunjingan orang-orang. Tetangga sudah mulai berbisik-bisik, teman-teman sosialita Mama sudah menimang cucu kedua bahkan ketiga, sedangkan Mama? Mama hanya bisa diam saat mereka bertanya kapan Haris punya anak," Rosita berbicara dengan napas yang memburu karena emosi.

Rosita memajukan posisi duduknya, menatap Haniyah dengan sorot mata yang mengancam dan penuh tekanan psikologis. "Mama beri waktu tiga bulan lagi. Hanya tiga bulan. Jika dalam waktu singkat ini tes kehamilan itu masih bergaris satu, kamu harus tahu diri dan mengambil sikap yang benar."

Haniyah mendongak dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menahan tangis yang mendesak keluar. "Maksud Mama... mengambil sikap yang bagaimana?"

"Relakan Haris untuk menikah lagi dengan wanita lain. Ibu sudah menyiapkan calon yang tepat. Dia gadis shalihah, usianya masih sangat muda, dan yang paling penting, semua saudara perempuannya subur. Jangan menjadi penghalang bagi kebahagiaan dan masa depan anakku hanya karena keegoisanmu yang ingin memilikinya sendirian!" bentak Rosita, tidak peduli jika suaranya terdengar sampai ke dalam kamar.

"Tapi Mah, Mas Haris sangat mencintaiku. Beliau pasti tidak akan mau kalau dipaksa menikah lagi," ucap Haniyah membela diri dengan sisa keberaniannya.

"Dia tidak mau karena dia terlalu kasihan padamu! Dia pria yang terlalu baik sehingga tidak tega menyakitimu. Tapi Mama sebagai orang tuanya tidak akan membiarkan anak Mama menderita tanpa keturunan selamanya. Pikirkan baik-baik, Haniyah. Jika kamu memang mencintai Haris secara tulus, kamu tidak akan membiarkan dia menjadi pohon yang kering dan mati tanpa buah," Rosita berdiri, merapikan tas mahalnya, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban lagi.

Sebelum melangkah keluar, Rosita berbalik sekali lagi dengan senyum sinis yang mengerikan. "Ingat, tiga bulan. Jangan berani-berani memberitahu Haris tentang pembicaraan kita pagi ini jika kamu tidak ingin suasana rumah tangga kalian semakin kacau. Biarkan ini menjadi rahasia antara kita berdua sampai harinya tiba."

Haniyah mematung di tengah ruangan yang terasa sangat luas dan dingin. Dunianya serasa runtuh dalam sekejap mata. Harapan yang ia bangun tadi pagi bersama Haris hancur berkeping-keping. Tak lama kemudian, Haris keluar dari kamar dengan wajah yang sudah segar setelah mandi.

"Mama sudah pulang? Cepat sekali beliau bertamu. Bicara apa tadi sampai wajahmu terlihat sepucat itu?" tanya Haris cemas sambil merangkul pundak istrinya, mencoba mencari jawaban di mata Haniyah.

Haniyah segera menyeka sudut matanya yang mulai basah dengan ujung jilbab sebelum Haris menyadarinya sepenuhnya. Ia memaksakan sebuah senyum yang paling getir dalam hidupnya, sebuah topeng untuk menutupi luka yang menganga di dalam sana.

"Hanya bicara soal arisan besar keluarga bulan depan, Mas. Mama ingin kita datang dan membantu persiapannya," dusta Haniyah. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha menutupinya dengan tawa kecil yang dipaksakan.

Haris menarik napas lega dan mencium pipi istrinya. "Hanya itu? Astagfirullah, aku sempat mengira ada hal serius yang terjadi. Mama memang terkadang terlalu bersemangat dan sedikit keras kalau soal acara keluarga besar."

Haris kembali memeluk Haniyah dengan penuh kasih sayang, namun kali ini Haniyah merasa pelukan itu begitu menyesakkan dadanya. Ia menatap dinding ruang tamu yang hampa dengan tatapan kosong. Di kepalanya, sebuah jam raksasa seolah mulai berdetak dengan suara yang memekakkan telinga, menghitung mundur setiap detik berharga yang ia miliki bersama laki-laki yang sangat ia cintai itu.

Tiga bulan. Hanya tiga bulan sebelum ia dipaksa oleh keadaan untuk memilih: menghancurkan hati Haris dengan pengkhianatannya atau menghancurkan hatinya sendiri dengan merelakan suaminya bersanding dengan wanita lain.

1
Rara Ardani
jemput lah kebahagiaanmu farel, Haris bosmu baik, karena menganggap kalian keluarga 💖💖💖
Rara Ardani
ayo farel buka hatimu, jangan kaku gitu, kamu akan mendapatkan kebahagiaan an nanti 🤭🤭
Uba Muhammad Al-varo
kamu tidak nyaman karena pengabaian Ratih kan karena kamu ada rasa ke Ratih
Pujiastuti
sudah mulai ada rasa dihati Farel buat Ratih, tapi Farel belum menyadarinya
lanjut kak semangat 💪💪
Naufal hanifah
cerita nya bagus /Good//Good//Good/
Mira Hastati
bagus
Uba Muhammad Al-varo
farel....... akhirnya terpesona oleh Ratih karena kesederhanaannya dan merakyat 😊😊😊
Eliermswati
ayo farel kejar g ad loh cwe sbaik Ratih, yg g gengsi mkn pinggir jln itu justru lbh nikmat dan enk perut kenyang hti pun senang smga hani cpt smbh y dan bail2 sj
🤣🤣
Eliermswati
smga slmt y thor kshn Hani dah nunggu lm🙏🙏
Perempuan
Keingat dulu pernah keguguran anak pertama. membaca kondisi Niyah, perutku juga rasanya kram
Pujiastuti
semoga calon anak mereka aman dan ngak kenapa²

lanjut kak tetap semangat 💪💪
Salsa Billa
thor halunya kayak didunia sihir, masak pembangunan vila 3hr hampir siap huni,,, segaknya 6bln masih masuk akal 😁😁😁😁 tp ok lah namanya dunia halu
Uba Muhammad Al-varo
bagaimana pun keadaannya semoga Haniyah dan Ratih baik' saja dan secepatnya diketemukan dan diselamatkan oleh Haris, farel dan pasukannya
Eliermswati
ayo haris cptan tlng istrinya jngn smpe terjadi sesuatu sm mreka, thor jngn bkn hani keguguran y kshn kn dah nunggu lm 🙏🙏🙏
Wardah Saiful
romantis,sweet,ada.gemes2nya dikit,top deh❤️💪
Uba Muhammad Al-varo
tinggal sekarang Haniyah menjalani kehamilan ini dengan bahagia dan senang, semua masalahnya sudah terselesaikan dengan baik, hubungan antara ibu mertuanya sudah lebih baik lagi
Uba Muhammad Al-varo
Haris........ terus lindungi Niyah, jangan sampai Niyah terluka lagi
Perempuan
surat dokter yg menyatakan Haris mandul harus disiasati juga. Emaknya bisa saja marah krn merasa dibohongi. Emang lebih baik di desa aja dulu Ris., udaranya juga bagus utk kesehatan si Bumil tercinta
Enny Suhartini
semangat
Uba Muhammad Al-varo
ternyata Miss komunikasi yang terjadi antara Haniyah dan Haris, ayolah Niyah kalau ada sesuatu yang terjadi bicarakan dengan baik' dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!