NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Firasat Sang Peramal dan Tamu Tak Diundang

Pagi itu hari libur, tapi Rian bener-bener nggak bisa santai. Perasaannya nggak enak, kayak ada sinyal bad vibes yang muter-muter di kepalanya. Tanpa babibu, dia langsung nelpon Gery yang baru aja bangun tidur.

"Ger, lo ada tugas kelompok emang di kelas?" tanya Rian to the point.

"Ada... kenapa emang? Tumben nanyain tugas, kesambet lo?" jawab Gery sambil ngucek mata.

"Lo kelompok ama siapa?"

"Gak ada, gue kerjain sendiri aja. Ribet, Cok, kelompok-kelompokan ntar ujung-ujungnya cuma gue doang yang kerja," sahut Gery jujur.

Rian ngerutin dahi, insting peramalnya makin kenceng. "Berarti Arini harusnya bisa ngerjain sendiri dong? Nggak perlu bareng-bareng?"

"Ya gatau ya, harusnya bisa. Emang kenapa sih lo?"

"Arini katanya mau kelompokan sama Yusa sama Siska. Gue dapet info mereka mau ketemuan hari ini," gumam Rian, suaranya makin berat.

Gery ketawa ngejek. "Waduh, kalau itu gue nggak tau dah. Cemburu lo ya? Fix sih, peramal sakti kena penyakit hati!"

"Menurut lo gue nggak bakal cemburu gitu? Gue udah larang Arini dan Arini udah janji mau kelarin sendiri semalem lewat chat. Gue cuma nggak tenang aja kalau si Yusa itu macem-macem," gertak Rian.

"Yaudah terus kenapa lo panik begitu?"

"Lo temenin gue ya ke rumah Arini sekarang. Gue mau mastiin," pinta Rian tegas.

"Yaudah lu jemput gue aja, gue di rumah lagi healing nih," jawab Gery pasrah.

"Oke, gue ke rumah lu sekarang. Standby lo!" Rian langsung matiin telepon sepihak.

Di tempat lain, Yusa ternyata lebih sat-set. Dia udah jemput Siska ke rumahnya pakai motor, nyoba buat maksa keadaan.

"Loh, lu ngapain ke sini, Yus? Pagi-pagi bener," Siska kaget pas buka pintu.

"Ayo kita ke rumah Arini sekarang," ajak Yusa dingin.

"Ngapain, Anjir? Arini kan udah bilang dia mau ngerjain sendiri. Semalem dia udah chat gue," Siska nolak mentah-mentah.

"Ya iya sih, tapi nggak apa-apalah kita ke sana aja. Gue ngerasa tanggung jawab sebagai ketua kelas," alasan Yusa bener-bener kedengeran manipulative.

"Nggak ah! Gue mau rebahan. Lo aja sana kesana sendiri kalau maksa," usir Siska.

"Yaudah, gue sendiri aja!" Yusa langsung tancap gas tanpa peduli lagi sama Siska.

Sesampainya di rumah Arini, Yusa langsung ngetuk pintu pagar dengan keras. "Rin! Arini!"

Arini keluar dengan muka bingung, masih pakai kaos rumahan. "Yusa? Kamu ngapain ke sini? Aku kan sudah bilang di chat kalau aku mau kerjain sendiri?" tanya Arini heran.

"Nggak bisa, Rin. Kita harus kerjain bareng sekarang. Kita ke rumah Siska, dia udah nunggu," bohong Yusa demi bisa bawa Arini pergi.

"Tapi aku nggak mau, Yusa. Aku sudah mulai kerjain semalam," Arini nyoba set boundary.

"Ayolah, Rin. Sekalian kita urusin urusan pengurus kelas. Ini demi kebaikan kelas juga, masa lo egois sih?" Yusa mulai bawa-bawa nama kelas buat neken Arini.

Arini mulai bimbang. Gimana ya? Kalau aku ikut, terus Rian tahu, dia bisa marah besar karena aku sudah janji sama dia tadi malam. Tapi kalau aku nolak terus, aku nggak enak sama Yusa, dia udah jauh-jauh kesini sampai keringetan begini, batinnya galau.

"Gimana, Rin? Cuma sebentar kok," desak Yusa.

Arini menghela napas panjang, ngerasa terpojok. "Yaudah... kamu tunggu sini sebentar ya. Aku ganti baju dulu. Jangan lama-lama ya nanti di sananya?"

Yusa tersenyum penuh kemenangan. "Oke, gue tunggu di sini. Buruan ya, Rin!"

Arini masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang bener-bener nggak tenang. Dia nggak tahu kalau di jalan raya, motor Rian lagi melesat kenceng dengan firasat yang makin gelap.

Arini keluar dari pintu rumahnya dengan perasaan yang bener-bener heavy. Dia udah pakai jaket Levis biru kesayangannya, tapi hatinya terus-terusan ngerasa anxious. Pas dia baru aja mau melangkah menuju motor Yusa yang udah standby di depan gerbang, suara deru mesin motor yang sangat dia kenal memecah keheningan kompleks.

Ciiiiittt!

Ban motor sport hitam itu berdecit tepat di depan pagar. Rian sampai di sana bersama Gery dengan napas yang memburu. Waktu seolah berhenti pas mata Rian langsung menangkap pemandangan yang paling dia takutin: Arini udah siap pergi, berdiri tepat di sebelah Yusa.

"Rian...?" suara Arini bergetar, hampir nggak keluar.

Rian nggak turun dari motor. Dia cuma diem, tapi tatapannya bener-bener dark dan penuh luka. Dia ngelihat Arini dari bawah sampai atas—melihat Arini yang udah rapi buat pergi bareng cowok yang paling dia wanti-wanti semalam. Rasa cemburu dan kecewa yang luar biasa meledak di dadanya, tapi Rian milih buat nggak teriak-teriak. Dia nggak mau bikin keributan di depan rumah Arini.

Tanpa ngucapin satu patah kata pun, Rian langsung narik gas motornya dalam-dalam. Dia milih buat go away saat itu juga karena ngerasa dikhianati oleh janji yang dibuat Arini semalam.

"Rian tunggu! Rian!" teriak Arini histeris.

Tapi Rian udah nggak peduli. Dia nyetir dengan kencang, ugal-ugalan, dan zigzag di tengah jalanan perumahan yang sempit. Gery yang dibonceng di belakang cuma bisa pegangan erat sambil teriak panik, tapi Rian seolah sudah kehilangan logikanya. Dia cuma pengen lari dari rasa sakit yang dia lihat barusan.

Di depan rumah, Arini udah mau lari ngejar, tapi tangannya ditarik paksa oleh Yusa.

"Udah, Rin! Jangan dikejar! Biarin aja cowok kayak gitu mah, nggak jelas banget tiba-tiba kabur," ucap Yusa dengan nada yang sok bijak.

Arini langsung nyentak tangan Yusa dengan tenaga penuh. Matanya udah basah sama air mata yang tumpah seketika. "Lepasin! Lepasin tangan aku, Yusa! Ini semua gara-gara kamu! Kalau kamu nggak maksa ke sini, Rian nggak akan marah sama aku!"

Yusa kaget liat Arini yang biasanya tenang sekarang jadi meledak. "Tapi Rin, kan kita mau ke rumah Siska ngerjain tugas kelompok Bu Endang..."

"Aku nggak peduli soal tugas itu lagi! Aku bilang kamu pergi sekarang, Yusa! Pulang sana! Jangan pernah muncul di depan rumah aku lagi!" Arini teriak sambil nangis sesenggukan, bener-bener ngerasa broken heart.

"Tapi, Rin—"

"PERGI!"

Tanpa nunggu jawaban Yusa lagi, Arini langsung balik badan, lari masuk ke dalam rumah, dan membanting pintu depannya dengan keras. BRAKKK

Suara bantingan pintu itu menggema, ninggalin Yusa yang cuma bisa matung di depan gerbang dengan rasa malu dan bingung. Sementara di dalam kamar, Arini langsung ambruk di balik pintu. Dia meluk lututnya, nangis sejadi-jadinya sambil nginget tatapan kecewa Rian tadi.

"Maafin aku, Rian... maafin aku..." bisik Arini lirih di tengah tangisnya.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!