Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Pertemuan Abati dan Umi
Rumah kecil itu kini terasa sangat tenang.
Hanya suara malam yang terdengar pelan dari luar.
Isya kemudian berkata pelan.
“Nek…”
Nenek menoleh.
“Iya Sya?”
Isya tersenyum kecil.
“Ba’da tadi bilang… teman-temannya baik.”
“Isya senang.”
Nenek mengangguk pelan.
“Karena Ba’da punya kakak yang baik juga.”
Isya tertawa kecil.
Namun kemudian ia berkata dengan nada penasaran.
“Nek…”
“Dulu… Abati sama Umi itu gimana sih?”
Nenek tersenyum.
Matanya terlihat seperti kembali melihat masa lalu.
“Isya tahu nggak…”
“Kamu itu mirip sekali dengan Umi kamu.”
Isya sedikit terkejut.
“Mirip?”
Nenek mengangguk.
“Sifat kamu yang lembut…”
“Cara kamu tersenyum…”
“Itu sama seperti Umi kamu.”
Isya terdiam mendengarkan.
Nenek melanjutkan dengan suara pelan.
“Kalau soal agama…”
“Kamu juga mirip Abati kamu.”
“Abati kamu sangat suka menuntut ilmu.”
Isya mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Nek…”
“Terus… Abati sama Umi ketemunya gimana?”
Nenek tertawa kecil.
“Kalau diceritakan… cukup unik.”
“Karena Umi kamu dulu hampir tidak pernah keluar rumah.”
Isya sedikit berpikir.
“Hmm iya kah?”
Nenek mengangguk.
“Umi kamu tahu fitrah wanita.”
“Tempat terbaik bagi wanita adalah rumahnya.”
“Makanya dia lebih banyak di rumah membantu nenek.”
Nenek bahkan pernah berpikir waktu itu.
“Gimana ya anak ini ketemu jodohnya…”
“Dia saja hampir nggak pernah keluar rumah.”
Namun suatu hari… Umi kamu berkata dengan senyum tenang.
“Ahh ibu tenang saja.”
“Aini selalu berdoa agar Allah memberi Aini imam yang terbaik.”
“Selama itu… Aini akan menjaga diri.”
“Biarkan Allah yang mempertemukan kami.”
“Bukankah Allah sebaik-baik pemberi balasan?”
Nenek tersenyum mengingatnya.
“Waktu itu Umi kamu tersenyum…”
“Persis seperti kamu sekarang.”
Isya ikut tersenyum kecil.
------------------------------------------------------------------------
Nenek melanjutkan cerita.
“Lalu suatu hari di bulan Ramadhan…”
“Umi kamu hendak sholat tarawih di masjid.”
“Tapi dia terlambat karena ada pekerjaan di rumah.”
Di waktu yang sama…
Abati kamu juga terlambat datang ke masjid.
Dan tanpa direncanakan…
mereka bertemu di pintu masjid.
Keduanya dalam keadaan masbuk.
Namun mereka tidak saling menyapa.
Tidak ada percakapan.
Mereka hanya saling melihat sekilas.
Lalu masuk ke dalam masjid.
“Itu pertemuan pertama mereka.”
Isya mendengarkan dengan mata berbinar.
“Hanya sekali?”
Nenek mengangguk.
“Iya.”
“Dan setelah itu…”
“Tidak bertemu lagi selama setahun.”
Waktu terus berjalan.
Umi kamu tetap menjaga dirinya.
Seperti mutiara yang tersimpan rapi.
Nenek tersenyum lalu berkata pelan.
“Seperti yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an…”
“Bagaikan bidadari yang tersimpan baik.”
(QS. Al-Waqiah: 23)
Sementara itu…
Abati kamu terus menuntut ilmu.
Ia selalu datang ke majelis setelah magrib.
Karena ia tahu…
seorang laki-laki akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya di hadapan Allah.
“Umi kamu tidak pernah pacaran.”
“Abati kamu juga tidak pernah.”
Isya mendengarkan dengan kagum.
“Terus… mereka bertemu lagi kapan?”
Nenek tersenyum.
“Setahun kemudian.”
“Di hari raya.”
------------------------------------------------------------------------
Hari itu umat Islam berkumpul di lapangan luas.
Gema takbir terdengar di mana-mana.
Hari yang indah.
Hari kemenangan.
Setelah sholat selesai…
tiba-tiba hujan turun.
Orang-orang langsung berteduh.
Satu per satu dijemput keluarganya.
Hingga akhirnya…
tinggal dua orang.
Aini dan Syahputra.
Umi kamu duduk.
Abati kamu berdiri tidak jauh dari situ.
Hujan semakin deras.
Suasana hening.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara hujan.
Lalu tiba-tiba terdengar seseorang berteriak.
“Ahh Syahputra!”
“Maaf maaf!”
“Rumahku kemasukan air tadi jadi sibuk!”
Itu teman Abati kamu.
Namanya Bonay.
Sebenarnya dia berjanji akan menjemput Syahputra.
Namun Qodarullah Bonay lupa karena sibuk dengan apa yang terjadi di rumahnya.
Syahputra sempat mengomel sedikit.
Lalu mereka tertawa bersama.
Saat hendak pergi…
Syahputra tiba-tiba ingat.
Ada seseorang yang juga menunggu lama di sana.
Ia lalu berkata kepada Umi kamu.
“Ah… hujannya lama ya neng.”
“Kalau mau… payungnya dipakai dulu saja.”
Aini langsung panik.
Karena ia tidak biasa berbicara dengan laki-laki.
Ia hanya tersenyum kecil.
Lalu melambaikan tangan.
Menolak dengan isyarat.
Syahputra langsung mengerti.
“Kalau begitu saya duluan ya neng.”
“Tidak usah takut sendiri.”
“Allah yang jaga.”
Ia tersenyum lalu pergi.
Temannya langsung menggoda.
“Hee kamu sok keren banget.”
“Kalau payungnya dipakai dia… kita pakai apa?”
Syahputra menjawab santai.
“Kasihan.”
“Dari tadi dia nunggu sendiri.”
Aini yang mendengar itu hanya tersenyum kecil.
------------------------------------------------------------------------
Lalu mereka pergi.
Aini kembali sendiri.
Ditemani hujan.
Hari itu hujan terasa lama sekali.
Setengah jam kemudian…
seseorang datang lagi.
Ternyata Syahputra.
Ia kembali membawa payung.
“Ah maaf…”
“Mungkin ini bisa menghangatkan.”
“Tapi tidak baik kalau neng menunggu terlalu lama di sini.”
“Ini kebetulan ada payung lebih di rumah.”
“Dipakai saja.”
“Tidak usah dipikirkan dikembalikan.”
“Anggap saja pahala buat saya.”
“Semoga Allah ganti dengan yang lebih baik.”
“Sudah ya… saya pamit.”
“Assalamu’alaikum.”
Aini hanya terdiam.
Belum sempat menjawab.
Namun yang ia rasakan saat itu…
adalah sebuah kebaikan.
Seorang teman yang menolongnya di tengah hujan.
Aini pulang.
Lalu menceritakan semuanya kepada nenek.
Dan nenek hanya tersenyum.
Hari-hari pun kembali seperti biasa.
Hingga tahun ketiga…
di bulan Ramadhan lagi.
Umi kamu keluar rumah untuk sholat tarawih.
Saat hendak pulang…
ketika mengambil sandal…
ia berpapasan lagi dengan orang yang pernah memberinya payung.
Syahputra.
Syahputra tersenyum.
“MasyaAllah…”
“Sudah lama tidak bertemu.”
“Lihat kan… Allah benar-benar menjaga kamu, ukhti.”
Aini tersenyum.
“Kalau begitu saya duluan lagi ya.”
Aini hanya mengangguk.
Namun kali ini…
mereka sudah tidak terasa asing.
Beberapa hari kemudian…
Syahputra melihat Aini pulang melewati sebuah warung kopi.
Dari situlah…
ia mulai mencari tahu rumah Aini.
------------------------------------------------------------------------
Nenek mengakhiri ceritanya dengan senyum hangat.
Isya yang mendengar sampai terpukau.
“Wahh…”
“Abati sama Umi punya cerita yang indah ya.”
Nenek tersenyum lembut.
“Iya Sya…”
“Kalau manusia membuat rencana…”
“Rencana Allah jauh lebih baik.”
“Karena itu… jadilah hamba yang berserah diri di jalan-Nya.”
Nenek lalu melihat jam.
“Nah sekarang sudah malam.”
“Isya harus tidur.”
“Besok hari Senin.”
“Jangan telat seperti kemarin.”
Isya tertawa kecil.
“Hihi iya nek.”
“Tapi nanti ceritain lagi ya…”
“Cerita tentang Abati dan Umi.”
Nenek tersenyum.
“Iya, Insyaa Allah.”
“Sekarang tidur.”
Isya lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Rumah kecil itu kembali tenang.
Malam semakin larut.
Dan di bawah cahaya lampu yang redup…
kisah lama tentang cinta yang dijaga dengan iman…
seakan kembali hidup di hati Isya.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘