Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Darrel menatap bola itu dengan raut cemas. Bukan karena takut pada anak-anak itu, melainkan karena takut pada pemilik kantin yang tampak begitu khawatir saat beberapa barang dagangannya hampir terjatuh.
Namun saat melihat Genta dan teman-temannya, tatapan Darrel kembali tajam.
Ia melangkah maju tanpa menoleh ke belakang. Dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di hadapan Genta dan hendak menyengkeram kerah anak itu. Namun aksinya kembali terhenti ketika beberapa anak berteriak memanggil guru.
"He... he... he... apa-apaan ini?" suara seorang guru terdengar dari belakang.
Bukannya berhenti Darrel malah melanjutkan aksinya yang sempat tertunda itu.
"Kamu mau jadi jagoan di sekolah ini?"
Darrel menoleh sekilas ketika guru itu datang, tetapi tangannya tidak juga melepaskan kerah Genta.
"Dia yang mulai duluan," sahut Darrel tegas.
"Apa maksudnya mulai duluan? Sudah jelas kamu yang mencengkeram kerahnya. Lepaskan!" tegur guru itu dengan nada meninggi.
Semakin tinggi suara guru itu, semakin kuat pula Darrel mencengkeram kerah Genta. Anak itu tidak pernah takut pada siapa pun, apalagi pada orang yang menurutnya tidak tahu apa-apa tentang kejadian sebenarnya.
"Aku tidak salah apa-apa!" cetus Darrel. "Genta dan teman-temannya yang menyerang duluan!"
"Bohong, Bu!" potong Genta cepat. "Aku tidak pernah mulai duluan. Dia saja yang cari gara-gara."
Guru itu segera menarik tangan Darrel dengan paksa. Ia tidak bisa membiarkan keributan seperti itu terus terjadi di lingkungan sekolah.
Dengan terpaksa Darrel melepaskan cengkeramannya.
"Ingat ya!" ancam Darrel sambil menatap tajam ke arah Genta. "Kali ini kamu bisa lolos."
Guru itu memperhatikan Darrel sambil menggelengkan kepala, seolah membenarkan semua cerita yang pernah ia dengar tentang anak baru itu. Apalagi Darrel sudah tiga kali berpindah sekolah.
"Kamu ini tidak pernah kapok, ya!" tegurnya keras. "Kalau dikeluarkan lagi dari sekolah, kamu mau sekolah di mana?"
Di belakang guru itu, kelompok Genta saling melirik dengan senyum puas, namun sebelum mereka menikmati kemenangan itu lebih lama— tiba-tiba sebuah suara terdengar nyaring dari arah kantin.
"Bu guru, saya saksi mata kejadian ini."
Semua orang langsung menoleh. Andin, penjaga kantin itu, berdiri di sana dengan wajah serius.
"Saya ingin menjelaskan yang sebenarnya. Tanpa memihak siapa pun," lanjutnya.
Guru itu mengerutkan kening. "Memangnya kamu tahu apa, Mbak kantin?"
Andin mengangguk pelan. "Anak ini memang membeli nasi goreng di tempat saya," jelasnya. "Tiba-tiba Genta dan teman-temannya melempar bola ke arahnya."
Guru itu terlihat terkejut. Ia hampir tidak percaya. Selama ini Genta dan kawan-kawannya memang sering membuat keributan, tetapi tidak pernah sampai seperti ini.
"Apa benar begitu?" tanyanya lagi memastikan.
"Benar, Bu. Saya tidak berbohong," jawab Andin mantap. "Bahkan karena lemparannya terlalu keras, anak ini sampai terjatuh," lanjut Andin.
Guru itu menarik napas panjang.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Masalah ini harus diselesaikan di kantor guru."
Ia menoleh tajam ke arah Genta dan teman-temannya. "Dan untuk kalian—kalau memang benar kalian yang memulai, siap-siap menerima hukuman dari sekolah!"
☘️☘️☘️☘️☘️
Anak-anak itu langsung dibawa ke kantor. Di dalam ruangan yang dingin itu, salah satu guru mulai membuka laptop yang terhubung dengan rekaman CCTV. Saat rekaman itu diputar, Genta dan kawan-kawannya langsung menunduk ketakutan.
Sementara para guru yang melihat kejadian tersebut hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka jelas tidak membenarkan tindakan Genta dan teman-temannya.
"Kalian kok setega ini menuduh Darrel, padahal sudah jelas kalian sendiri yang salah," tegur Pak Ardi, kepala sekolah di sana.
Anak-anak itu hanya saling pandang. Namun akhirnya pandangan mereka tertuju pada Genta.
"Apalagi kamu, Genta. Bapak tahu semua ini kamu yang menjadi dalang," cetus Pak Ardi.
Genta hanya terdiam. Anak itu tampak ketakutan hingga matanya mulai berkaca-kaca. Sementara itu Darrel masih menatap Genta dan kawan-kawannya dengan tajam. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu.
"Dan aku tidak terima, Pak," sahut Darrel tiba-tiba.
Pak Ardi menghembuskan napas pelan. Ia seolah sudah mengetahui karakter Darrel yang tidak mudah menerima perlakuan seperti itu.
"Darrel, Bapak mengerti. Tapi di sekolah ini ada aturannya, Nak," jelasnya.
"Sekolah tetap akan menghukum anak-anak yang sudah menyakiti kamu, tapi kamu juga harus mau memaafkan, ya," pesan kepala sekolah itu.
Darrel hanya terdiam. Nampaknya ia mulai mengerti, meskipun di dalam hatinya masih belum sepenuhnya menerima. Setidaknya anak yang sering dicap suka membuat ulah itu masih mau menaati aturan di sekolah ini.
"Baiklah, Pak. Kalau begitu izinkan Darrel keluar. Perutku sudah mulai lapar," kata anak itu, mengingat sejak tadi ia memang belum sarapan.
Semua guru mengangguk. Namun sebelum Darrel keluar, Ibu Diana—yang tadi sempat menyalahkannya—dengan rendah hati meminta maaf pada murid itu.
"Nak, Ibu minta maaf ya atas kejadian tadi," katanya pelan.
"Iya," sahut Darrel sambil mengangguk sopan.
Entah kenapa hari ini ia merasa orang-orang dewasa mulai mendengarkannya dan tidak langsung menghakiminya. Dan itu semua tidak luput dari peran Mbak kantin yang sudah menolongnya tadi.
Darrel langsung berlari menuju kantin. Perut laparnya yang meronta seakan tidak seberapa dibandingkan dengan rasa terima kasihnya karena akhirnya ada yang mau mendengarkan dirinya.
Sesampainya di kantin, Darrel langsung menghampiri Andin dengan wajah berbinar—wajah yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun.
"Mbak..." panggil Darrel.
"Eh, Adik. Ini nasi gorengnya dimakan dulu," kata Andin.
"Nanti dulu, Mbak," cegah Darrel.
"Kenapa?" tanya Andin.
Darrel menatap wajah perempuan itu dengan hangat. Andin pun merasa sedikit aneh, karena saat pertama melihat anak itu, tatapannya murung. Tidak seperti sekarang.
"Ada apa, Dek?" tanya Andin sekali lagi.
"Mbak, kenapa tadi membela aku?" tanya Darrel balik.
Andin tersenyum tipis.
"Kamu memang tidak salah. Dan Mbak hanya mengatakan kebenaran yang sebenarnya."
Dada Darrel yang sejak tadi terasa penuh mendadak hangat mendengar ucapan perempuan itu. Ia bahkan menggenggam tangan Andin seolah ingin mengucapkan terima kasih yang sangat besar.
Selama ini ia sering dicap sebagai pelaku oleh orang-orang tanpa mereka mau mencari tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mbak, terima kasih banyak sudah membelaku," kata Darrel, seolah selama hidupnya ia tidak pernah mendapatkan ruang pembelaan.
"Mbak kantin hanya bersikap netral, Dek. Siapa yang memulai dan siapa yang hanya diam saja," jawab Andin tegas.
"Iya, tapi aku tetap harus berterima kasih. Dan mulai hari ini..." kata Darrel menggantung.
Ia menatap Andin dengan sungguh-sungguh.
"Bolehkah aku berteman dengan Mbak kantin?"
Andin menatap Darrel sejenak, lalu tersenyum lembut. Entah kenapa, sejak hari ini hati kecilnya merasa ingin melindungi anak itu.
Bersambung ....
Selamat Pagi Kakak semoga suka ya