Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20
Point of View Carmila
Samar-samar aku mendengar beberapa pria berbicara di dekatku. Aku yang tertidur mulai terganggu akan suara-suara itu. Aku pun membuka perlahan kedua mataku.
"Aaaa!!"
Aku terkejut dan terjatuh dari kursi yang kududuki karena apa yang aku lihat pertama kali saat aku membuka mataku.
"Mila!"
Pria yang ada di sekelilingku terkejut melihatku terjatuh. Tuan Josep yang lebih dekat denganku membantuku duduk kembali.
"Kamu tidak apa-apa?"
Baru saja, sosok wanita muncul tepat di depan wajahku dengan wajah yang ditutupi oleh rambutnya yang panjang dan memiliki bekas luka dilehernya. Namun sosok itu langsung menghilang tepat di saat aku terjatuh.
Pria yang sedikit familiar di sebelah Mark menatapku dengan tatapan heran. Namun samar-samar aku melihat aura gelap keluar dari tubuh pria itu. Aku mengambil earphone-ku yang terjatuh. Lalu aku mengeluarkan benang suci yang selalu ku simpan di saku bajuku. Aku menghampiri pria itu dan menarik tangan kanannya. Aku memasangkan benang suci pada pria itu. Wajahnya tampak bingung.
"Ini hadiah pertemuan pertama kita ya?"
Aku belum tahu situasi apa yang aku hadapi sekarang. Namun kemunculan sosok wanita itu dan aura dendam yang muncul ditubuh pria di sebelah Mark yang tiba-tiba, membuatku khawatir. Namun energi yang aku rasakan tidak seberbahaya roh yang mengikuti Mark sebelumnya.
"Hei! Kenapa kau diam?"
"Jangan dilepas. Dimanapun kamu berada, gelang ini tidak boleh di lepas."
Aku pun meninggalkan mereka bertiga dalam keadaan bingung. Aku merasa percuma saja menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang aku lihat. Karena aku pasti akan di sangka gila oleh mereka.
Sepanjang perjalanan menuju kelasku aku mengingat-ingat kembali tentang pria yang di sebelah Mark itu.
"Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi... Ah! Pria yang melewatiku waktu itu!!"
...----------------...
Hari demi hari berlalu begitu saja. Semenjak aku melihat sosok wanita itu untuk pertama kalinya, sudah hampir seminggu aku tidak melihatnya lagi. Namun pria yang ku beri gelang itu selalu mengejarku akhir-akhir ini. Aku sudah cukup dipusingkan dengan kehadiran Mark dan tatapan orang-orang di sekelilingku.
"Mila, sepertinya senior Gerald menyukaimu."
Ucap Jina.
Suasana di kelasku kini berubah. Entah sejak kapan Jina mulai berusaha akrab denganku. Namun Yuka dan teman yang lain masih merasa takut padaku sejak kejadian waktu itu.
"Gerald?"
"Iya. Pangeran sekolah kita."
Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
"Kamu ini normal tidak si? Seharusnya kamu senang karena di kelilingi pria tampan dan populer."
Jangankan untuk memikirkan hal itu, berurusan dengan sosok tak kasat mata saja aku sudah kewalahan. Energiku rasanya belum kembali sepenuhnya sejak kejadian waktu itu. Aku meletakkan kepalaku di atas meja.
"Jina, kita sebagai wanita tidak boleh bergantung pada pria. Kalau kamu mau hatimu tetap terjaga, abaikan mereka. Apalagi kalau terlahir kaya sepertimu."
"Tapi Mila, Cinta itu penting."
Aku termenung mendengar ucapannya sejenak.
"Tapi di usia kita yang sekarang, rasanya belum pantas Jina."
Pandanganku mulai kabur. Perlahan aku kehilangan kesadaranku.
...----------------...
Aku membuka mataku perlahan. Aku memegang kepalaku yang sedikit sakit. Aku melihat ruangan di sekelilingku. Aku sudah terbaring di klinik sekolah sekarang.
"Sudah berapa lama aku pingsan?"
Suasana tiba-tiba mencekam. Aku merasakan kehadiran roh yang penuh dendam. Aku mencari sumber aura itu berasal.
"Agh. Agh. Gerald. Gerald."
"Agh. Agh."
Suara erangan pria dan wanita yang saling bersaut terdengar di telingaku.
Sekarang, aku benar-benar membenci situasi yang ku alami ini. Ditengah aura mencekam yang sedang aku rasakan, aku malah harus mendengar hal menjijikan juga.
"Ge-gerald! Pelan-pelan. Di sebelah... ada orang."
"Bukankah itu jadi jauh lebih mendebarkan?"
"Ah, Gerald! Kau nakal!"
Aura dendam itu kini berubah menjadi aura kebencian. Aku lelah. Kepalaku mulai sakit lagi. Rasanya berpindah ke negara P malah membuatku lebih banyak bertemu dengan sosok-sosok yang selalu ingin aku hindari. Baru kemarin aku menangani masalah roh-roh yang mengelilingi Mark. Dan sekarang aku harus berurusan dengan roh lain lagi.
Aku turun dari ranjang tempat aku terbaring. Aku menarik gorden yang menjadi pembatas antara ranjangku dengan ranjang di sebelahku. Tepat di hadapanku, gerald dengan pengurus klinik tengah berhubungan intim.
"Aaaaa!!!"
Wanita di atas Gerald berteriak terkejut karena apa yang aku lakukan terhadap gordennya. Sontak ia menarik selimut dan berusaha menutupi tubuhnya yang bugil. Namun tidak dengan Gerald. Kepanikan bahkan tidak nampak di wajahnya. Namun sebenarnya aku tidak peduli dengan apa yang terjadi diantara mereka berdua. Tapi sosok wanita lain yang ku lihat dengan kaki penuh darah yang berdiri dekat dengan mereka berdua lebih mencuri perhatianku. Tangannya yang penuh darah mencoba menggapai gadis itu. Tubuh pengurus klinik itu beraura lemah. Mungkin penyebabnya kegiatan mereka sebelumnya tadi. Lemahnya aura pada tubuh dapat memicu roh halus masuk kedalam tubuh.
Gerald mengambil pakaiannya dan mengenakannya. Aku meraih gelas berisi air di meja yang terletak di sebelah ranjangku.
"Dewa yang maha agung. Mohon lindungilah kami dari roh-roh yang terkutuk."
Kemudian aku menyiramkan air itu ketubuh pengurus klinik itu.
"Apa yang kau lakukan?!!!"
Pengurus itu tampak sangat marah padaku. Namun aku tidak menghiraukannya. Sosok wanita itu kemudian menghilang lagi. Dan aura hitam yang mengelilingi Gerald juga ikut menghilang.
Aku mengeluarkan gelang suci dari saku bajuku. Dan dengan paksa aku manarik tangan pengurus klinik itu. Aku melingkarkan gelang suci itu padanya. Namun pengurus itu sedikit memberontak dan membuatku sedikit kesulitan. Aku masih belum tahu alasan kemunculan sosok wanita itu. Namun aura yang berubah-ubah pada sosok itu membuatku sedikit takut.
"Lepaskan tanganku!!"
"Diamlah!! Jika kau mau selamat, kau harus memakainya!!"
Aku berteriak padanya tanpa aku sadari karena panik. Gerald yang berada di sebelahku yang tadinya hanya mengamati kini menyentuh pundakku. Mungkin ia mencoba membuatku sadar. Namun tanganku refleks menepis tangannya dan menampar wajahnya. Keringat dingin keluar dari pelipisku. Jantungku berdebar tidak karuan. Melihat situasiku membuat mereka ikut panik.
"Ayah... Ayah..."
Untuk pertama kalinya aku mengalami serangan panik. Telapak tanganku basah dan dingin. Tubuhku yang lemah kini semakin melemah sampai aku tidak bisa menopang tubuhku lagi. Aku terjatuh sambil memegangi dadaku yang sesak.
"Ayah.. ayah..."
"Mila!! Mila?! Tenanglah!"
Gerald mencoba menggendongku kembali keranjang. Pengurus klinik memakai kembali pakaiannya.
"Sepertinya ia terkena serangan panik."
Pengurus itu mengambil obat dari lemari dan mencoba meminumkannya padaku. Kesadaranku mulai melemah.
"Ayah... Ayah... Tolong aku..."