NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Aku menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungku yang sempat berpacu kencang. Aku menyesap kopi yang tadi kubawa dari kafe, lalu menatap Harva dengan tatapan paling tenang yang bisa kukumpulkan.

"Menyembunyikan sesuatu? Apa maksudmu, Harva?" tanyaku balik, nada suaraku datar tanpa riak emosi sedikit pun. "Dia hanya bawahan yang kurang disiplin belakangan ini. Itu saja."

Harva menyipitkan mata, seolah sedang memindai kebenaran di balik ekspresi wajahku. Namun, aku tetap bergeming. Pengalamanku menjadi "Si Ratu Es" selama tiga tahun terakhir tidak akan membiarkan celah kecil ini terbongkar begitu saja.

"Lagipula," lanjutku sambil menutup laptop dengan suara klik yang tegas. "Ada urusan apa kamu di kantorku sepagi ini? Bukannya jadwal rapat kita baru nanti siang di kantormu?"

Harva tersenyum miring, ia bersandar di kursi tamu dengan gaya dominan yang biasa ia tunjukkan. "Aku hanya lewat dan ingin memastikan partner bisnisku sudah sarapan dengan benar. Tapi melihatmu begitu defensif soal teknisi itu, aku jadi bertanya-tanya."

"Dia punya nama, Harva. Namanya Arlan," potongku cepat, namun segera menyesal karena terdengar terlalu protektif. "Maksudku, tidak profesional jika kita menyebut rekan kerja dengan sebutan 'teknisi itu'."

"Ah, benar. Arlan," Harva bangkit dari duduknya, melangkah perlahan menuju meja kerjaku. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja, menatapku sangat dekat. "Kuharap kamu tidak sedang terjebak nostalgia, Rania. Ingat, proyek ini bernilai miliaran. Satu orang yang lemah bisa merusak semuanya."

"Aku tahu batasanku, Harva. Kamu tidak perlu mengingatkanku soal profesionalisme," jawabku tajam.

"Bagus kalau begitu." Harva menegakkan tubuhnya, merapikan jasnya yang tak berkerut sedikit pun. "Nanti siang, sekretarisku akan menjemputmu. Jangan terlambat. Dan soal Arlan... jika dia terus-terusan sakit-sakitan, mungkin kamu harus mempertimbangkan untuk mencari penggantinya. Aku tidak suka bekerja dengan orang yang membawa aura kematian ke ruang rapat."

Kata-kata Harva barusan membuat darahku mendidih, tapi aku tetap diam. Aku hanya mengangguk kecil sebagai tanda perpisahan.

Begitu Harva keluar dari ruangan, aku terduduk lemas di kursiku. "Aura kematian," katanya? Jika Harva tahu yang sebenarnya, dia pasti akan menyingkirkan Arlan dalam sekejap tanpa ampun.

Aku melirik ke arah luar melalui dinding kaca. Di sana, Arlan sedang duduk membelakangiku, bahunya tampak bergetar hebat. Ia sedang batuk, berusaha menutupinya dengan masker dan sapu tangan.

Aku meraih ponselku, jariku ragu di atas layar. Aku ingin mengirim pesan pada Ibu Arlan untuk memastikan dia membawa obat tambahan, tapi aku segera menggeleng.

"Cukup, Rania. Jangan luluh," bisikku pada diri sendiri.

Tepat pukul dua siang, sebuah sedan hitam menjemputku di lobi kantor. Aku berangkat sendirian, sengaja tidak mengajak Arlan meskipun secara teknis dia adalah penanggung jawab data. Aku tidak ingin mengambil risiko dia pingsan atau menunjukkan "aura kematian" di depan Harva yang bermata elang itu.

Gedung Vantara Group menjulang tinggi di kawasan SCBD, simbol kekuasaan dan ambisi seorang Harva Widjaya. Begitu aku melangkah masuk ke ruang rapat di lantai paling atas, Harva sudah menunggu. Ia tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jantung kota Jakarta.

"Kamu datang tepat waktu, Rania. Tanpa... teknisimu yang pucat itu," sapa Harva tanpa berbalik.

"Dia punya tugas lain di kantor," jawabku singkat, meletakkan laptopku di atas meja marmer yang dingin. "Mari kita mulai pembahasannya, Harva. Aku punya jadwal lain setelah ini."

Harva berbalik, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jadwal lain? Atau kamu hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini agar bisa memeriksa keadaan Arlan?"

Aku menghentikan gerakanku. "Harva, kita di sini untuk urusan bisnis. Berhenti mencampurkan urusan kantorku dengan perasaanmu."

Harva berjalan mendekat, suaranya merendah. "Perasaanku? Tidak, Rania. Ini soal investasiku. Aku tidak suka bekerja dengan partner yang pikirannya terbagi. Sejak kemarin, fokusmu berantakan. Kamu mungkin bisa membohongi Pak Bram, tapi tidak denganku."

Aku menantang tatapannya. "Fokusku tetap pada proyek Tangerang. Jika ada data yang tidak akurat, silakan katakan. Jika tidak, mari kita bahas vendor beton yang kamu ajukan kemarin."

Harva terdiam sejenak, lalu tertawa kecil—tawa yang tidak sampai ke matanya. "Kamu memang profesional yang luar biasa, Rania. Atau mungkin... kamu hanya sedang berusaha sangat keras untuk menutupi rasa kasihanmu pada si pecundang itu."

Rapat pun dimulai. Harva jauh lebih agresif dari biasanya. Ia membedah setiap detail proposal yang kuajukan, seolah-olah ingin mencari celah sekecil apa pun untuk menyudutkanku. Namun, aku tetap bertahan. Dinding es yang kubangun selama tiga tahun ini menjadi tameng yang sempurna.

Di tengah presentasiku, ponselku yang berada di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar.

[Ibu Arlan]:

Rania, maaf mengganggu. Arlan tadi jatuh di kamar mandi kantor. Sekarang sedang dibawa ke UGD. Dia melarang Tante menelponmu, tapi Tante takut...

Jantungku mencelos. Tanganku yang memegang laser pointer sedikit gemetar. Harva menyadari perubahan itu. Ia berhenti bicara dan menatap layar ponselku yang masih menyala.

"Ada masalah mendesak, Rania?" tanya Harva, suaranya tajam seperti sembilu.

Aku segera membalikkan ponselku. "Hanya urusan internal kantor. Mari kita lanjut ke bagian evaluasi lingkungan."

"Internal kantor atau urusan rumah sakit?" Harva melangkah mendekat, matanya menatapku penuh selidik. "Jika kamu pergi sekarang demi dia, Rania... anggap kerja sama kita selesai. Aku tidak butuh pemimpin proyek yang lebih mementingkan masa lalu yang sekarat daripada masa depan yang gemilang."

Aku mematung. Di satu sisi, ada jeritan ketakutan dari Ibu Arlan. Di sisi lain, ada karier dan proyek yang kubangun dengan tetesan keringat selama bertahun-tahun.

"Pilih, Rania," bisik Harva tepat di telingaku. "Dia, atau proyek ini?"

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!