NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35: Takhta yang Runtuh di Kaki Kejujuran

Gedung Pengadilan Jakarta Pusat pagi itu tampak seperti monumen bisu yang siap mengadili bukan hanya perkara hukum, melainkan juga ikatan darah yang telah lama retak. Langit di luar tampak kelabu, seolah-olah awan sedang menahan napas menyaksikan akhir dari sebuah dinasti. Dave Mahesa berdiri di depan cermin toilet pengadilan, menatap bayangannya sendiri.

Jas hitam yang ia kenakan terasa sangat berat, bukan karena harganya yang ribuan dolar, melainkan karena luka di lengannya yang masih berdenyut—sebuah pengingat akan belati yang hampir merenggut nyawa wanita yang ia cintai. Ia merapikan kain gendongan lengan (sling) yang menyangga tangan kirinya, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia tidak lagi melihat seorang CEO yang angkuh. Di balik mata itu, ada ketenangan yang hanya didapatkan oleh mereka yang telah bersujud di tengah malam.

Di sisi lain ruang tunggu, Shafira duduk berdampingan dengan Pak Devan. Ia mengenakan gamis berwarna abu-abu lembut dengan jilbab senada yang menutupi luka batinnya dengan sempurna. Tangannya tidak berhenti memutar butiran tasbih kecil di dalam saku pakaiannya.

Ia tidak takut kehilangan pekerjaan, ia tidak takut pada fitnah yang mungkin kembali dilontarkan, ia hanya takut jika kebencian ini akan benar-benar membunuh jiwa Bu Sarah. Pak Devan sesekali mengusap punggung tangan Shafira, memberikan kekuatan yang selama ini gagal ia berikan kepada istrinya sendiri.

Pintu ruang sidang terbuka. Suara ketukan palu hakim bergema, menandakan dimulainya drama hukum yang akan menentukan nasib aset Mahesa Group di Singapura dan, lebih penting lagi, nasib kehormatan keluarga mereka.

Bu Sarah masuk dengan kursi rodanya, didorong oleh asisten pribadinya. Ia tampak sangat rapuh dalam balutan sutra berwarna krem, namun matanya masih berkilat seperti sepasang mata elang yang tidak mau mengakui kekalahan. Di belakangnya, tim pengacara papan atas siap dengan tumpukan dokumen yang dirancang untuk satu tujuan: menyatakan bahwa Dave Mahesa berada di bawah pengaruh tekanan mental dan manipulasi agama, sehingga pembatalan warisnya dianggap tidak sah secara hukum.

"Pihak penggugat, Nyonya Sarah Mahesa, menyatakan bahwa saudara Dave Mahesa tidak dalam kondisi mental yang stabil saat menandatangani pembatalan hak waris di depan notaris," pengacara Bu Sarah memulai argumentasinya dengan suara yang bariton dan penuh wibawa.

"Kami memiliki bukti rekaman bahwa saudara Dave baru saja mengalami transformasi spiritual yang ekstrem dan mendadak, yang kami yakini sebagai bentuk manipulasi psikologis dari pihak ketiga untuk menguasai aset perusahaan melalui jalur emosional."

Dave menatap ibunya. Ia tidak melihat kemarahan di sana, hanya kesedihan yang mendalam karena ibunya lebih memilih tumpukan saham daripada putra kandungnya sendiri. Ketika tiba gilirannya untuk berdiri di podium saksi, ruangan itu mendadak sunyi. Dave melangkah perlahan, menahan rasa perih di lengannya. Ia tidak membawa kertas catatan. Ia hanya membawa kejujuran yang telah ia asah di kamar rumah sakit.

"Yang Mulia," Dave memulai, suaranya tenang namun bergema ke seluruh penjuru ruangan.

"Ibuku benar tentang satu hal. Saya memang telah mengalami transformasi. Namun, menyebutnya sebagai manipulasi adalah sebuah kesalahan fatal. Selama tiga puluh tahun, saya hidup dalam penjara emas yang ia bangun. Saya melihat dunia hanya sebagai angka, manusia sebagai aset, dan cinta sebagai transaksi. Transformasi yang saya alami bukan karena saya kehilangan akal, tapi karena saya akhirnya menemukan hati saya."

Dave berhenti sejenak, matanya beralih ke arah Shafira yang menunduk dengan doa di bibirnya. "Saya membakar wasiat itu bukan karena saya membenci keluarga saya. Saya membakarnya karena saya mencintai martabat saya. Saya ingin mencintai seorang wanita tanpa bayang-bayang harta. Saya ingin menjadi seorang Muslim bukan karena syarat warisan, tapi karena saya merasa butuh untuk pulang. Jika itu dianggap sebagai ketidakstabilan mental, maka mungkin dunia ini memang sudah terlalu gila untuk mengenali keikhlasan."

Bu Sarah tampak terbatuk, wajahnya memerah. Pengacaranya segera menyela,

"Yang Mulia, pernyataan emosional ini tidak relevan dengan hukum aset. Kami menuntut agar Dave Mahesa menjalani pemeriksaan psikiatri independen dan aset Singapura ditempatkan di bawah perwalian Nyonya Sarah hingga kondisi Dave dinyatakan pulih."

Suasana menjadi tegang. Pak Devan tiba-tiba berdiri dari kursi penonton. Hakim mengizinkannya untuk memberikan pernyataan tambahan sebagai saksi kunci dan pemilik asli Mahesa Group. Pak Devan melangkah ke depan, tubuhnya yang tua tampak masih menyimpan sisa-sisa otoritas yang dulu membuat para pesaingnya gemetar.

"Sarah," suara Pak Devan parau namun tajam, langsung ditujukan kepada istrinya. "Hentikan semua ini. Kau bukan sedang menyelamatkan perusahaan, kau sedang membakar satu-satunya jembatan yang menghubungkanmu dengan anakmu. Aku yang membuat wasiat itu. Aku yang menanamkan syarat itu karena aku berharap Dave bisa menemukan wanita yang baik. Tapi aku sadar sekarang, aku pun salah. Aku telah menjadikan iman dan cinta sebagai alat tawar-menawar."

Pak Devan menoleh kepada hakim. "Yang Mulia, saya memiliki dokumen tambahan. Ini adalah catatan audit internal rahasia yang saya simpan selama sepuluh tahun terakhir. Dokumen ini membuktikan bahwa istri saya, Sarah, telah melakukan serangkaian transfer dana ilegal dari aset Singapura ke perusahaan cangkang di Panama untuk kepentingan pribadinya, jauh sebelum Dave mengenal Shafira. Selama ini saya diam karena saya ingin menjaga nama baiknya, tapi jika diamnya saya membuat Dave dan Shafira hancur, maka saya lebih memilih kehilangan nama baik daripada kehilangan nurani."

Kejutan itu menghantam ruang sidang seperti petir. Bu Sarah terkesiap, tangannya mencengkeram lengan kursi rodanya hingga buku-jarinya memutih. Tim pengacaranya mendadak sibuk berbisik panik. Shafira menatap Pak Devan dengan rasa tidak percaya. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik sikap diamnya, Pak Devan memegang kunci untuk mengakhiri tirani istrinya sendiri.

Dave turun dari podium, mendekati ibunya. Ia berlutut di samping kursi roda Bu Sarah, mengabaikan tatapan mata orang-orang di ruangan itu. Ia meraih tangan ibunya yang dingin.

"Ma... cukup. Berhenti mengejar bayangan. Uang itu tidak akan bisa menemani Mama saat malam terasa sangat dingin. Uang itu tidak bisa mendoakan Mama saat Mama menutup mata nanti. Shafira sudah memaafkan Mama. Ayahnya sudah memaafkan Mama. Kenapa Mama tidak mau memaafkan diri Mama sendiri?"

Air mata akhirnya pecah dari mata Bu Sarah yang selama ini kering. Pertahanannya yang sekeras batu karang mulai runtuh oleh sentuhan lembut anaknya. Di hadapan hukum, ia mungkin sedang kalah telak, namun di hadapan kemanusiaan, ia sedang diberikan kesempatan terakhir untuk bertaubat.

"Dave..." suara Bu Sarah pecah. "Aku hanya ingin kau menjadi yang terkuat. Aku tidak ingin kau lemah seperti ayahmu..."

"Ayah tidak lemah, Ma," bisik Dave.

"Ayah sangat kuat karena dia sanggup menanggung egomu selama puluhan tahun demi cinta. Dan hari ini, aku memilih kekuatan yang sama. Kekuatan untuk melepas, bukan untuk menggenggam."

Hakim mengetuk palu untuk menunda sidang selama satu jam guna meninjau dokumen baru dari Pak Devan. Namun, bagi semua orang di ruangan itu, hasil sidang sudah tidak lagi menjadi misteri.

Mahesa Group di Singapura mungkin akan disita atau mengalami restrukturisasi besar-besaran karena temuan korupsi Sarah, namun Dave tampak tidak peduli. Ia berjalan keluar dari ruang sidang, disambut oleh Shafira.

Di lorong pengadilan yang sepi, Shafira menatap Dave dengan pandangan yang penuh haru.

"Bapak tidak apa-apa?"

Dave tersenyum, kali ini senyumnya mencapai matanya. "Aku baru saja kehilangan miliaran rupiah, Shafira. Tapi aku merasa seperti orang terkaya di dunia karena aku masih bisa melihatmu di depanku tanpa ada selembar kertas pun yang memisahkan kita."

"Tadi itu... sangat berani," ujar Shafira pelan.

"Itu bukan berani, itu adalah sebuah kewajiban," Dave memperbaiki posisi jilbab Shafira yang sedikit miring karena angin di koridor, sebuah gerakan yang sangat hati-hati dan penuh hormat.

"Aku belajar satu hal dari ayahmu. Bahwa kejujuran itu pahit di awal, tapi aromanya akan tetap wangi sampai ke surga. Shafira, setelah semua ini selesai, aku mungkin tidak akan punya apa-apa lagi. Aku bukan lagi CEO yang bisa membelikanmu dunia. Apa kau masih mau mengajariku mengeja Alif, Ba, Ta?"

Shafira mengangguk, air matanya jatuh namun ia tersenyum. "Dunia ini terlalu sempit untuk kita beli, Dave. Tapi surga itu cukup luas untuk kita tempati bersama. Saya tidak butuh CEO. Saya hanya butuh seorang imam yang tahu ke mana arah kiblat saat hidupnya sedang tersesat."

Tiba-tiba, asisten Bu Sarah berlari keluar dari ruang tunggu dengan wajah pucat.

"Tuan Muda! Nyonya Sarah... beliau sesak napas! Tim medis sedang menuju ke sini!"

Dave dan Shafira segera berlari menuju ruang tunggu. Mereka menemukan Bu Sarah sedang memegang dadanya, wajahnya membiru. Di saat-saat kritis itu, Shafira tidak menunjukkan dendam sedikit pun. Ia langsung berlutut di samping Bu Sarah, membisikkan kalimat-kalimat thoyyibah ke telinga wanita yang telah mencoba menghancurkannya.

"Istighfar, Bu... Allah Maha Pengampun... sebut nama-Nya, Bu," bisik Shafira lembut.

Bu Sarah menatap Shafira. Di saat maut mendekat, penglihatannya yang selama ini tertutup oleh kabut harta mulai jernih. Ia melihat ketulusan yang murni pada gadis yang ia anggap rendahan itu. Tangannya yang lemah meraih ujung jilbab Shafira, menggenggamnya seolah itu adalah tali penyelamat.

"Maaf..." satu kata itu keluar dengan susah payah dari bibir Bu Sarah sebelum ia jatuh pingsan.

Dave menggendong ibunya menuju tandu paramedis yang baru saja tiba. Di dalam ambulans yang melaju membelah kemacetan Jakarta, Dave duduk di sisi ibunya, sementara Shafira duduk di sisi lain.

Takhta Mahesa Group mungkin benar-benar telah runtuh hari itu, namun di atas puing-puingnya, sebuah bangunan baru yang jauh lebih kokoh sedang didirikan. Sebuah bangunan yang fondasinya adalah pengampunan dan atapnya adalah doa.

Malam harinya, di rumah sakit, Pak Devan duduk di taman yang sepi bersama Dave. "Kau tahu, Dave? Ibumu melakukan semua itu karena ia sendiri adalah korban dari kemiskinan masa lalunya. Ia takut miskin, sehingga ia lupa cara menjadi kaya secara batin. Tapi melihatmu hari ini, aku sadar bahwa kau telah memutus rantai kutukan keluarga kita."

Dave menatap langit malam. "Semua karena Shafira, Yah. Dan karena Tuhan yang mengirimnya padaku. Aku menyadari bahwa harta yang paling sulit dijaga bukanlah uang di bank, tapi iman di dalam dada."

Di dalam kamar perawatan, Shafira sedang menyuapi Bu Sarah yang baru saja sadar. Tidak ada kata-kata caci maki, tidak ada tuntutan hukum yang dibahas. Yang ada hanyalah keheningan yang damai, di mana dua wanita dari dunia yang berbeda mulai saling memahami bahwa pada akhirnya, di hadapan Tuhan, mereka hanyalah hamba yang sama-sama butuh pelukan kasih sayang.

Dave yang sedang shalat Isya di pojok kamar rumah sakit, diimami oleh Pak Devan. Shafira dan Bu Sarah yang duduk di kursi roda menjadi makmum di belakang mereka. Meskipun Bu Sarah belum sepenuhnya bisa mengikuti gerakan shalat, ia menundukkan kepalanya, air matanya jatuh membasahi selimut hospitalnya.

Itulah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kemenangan di meja hijau pengadilan, melainkan kemenangan hati yang telah kembali kepada fitrahnya.

Namun, di kegelapan parkiran rumah sakit, sebuah mobil hitam masih mengawasi. Seseorang di dalam mobil itu sedang menelepon, suaranya dingin dan penuh dendam. "Sarah mungkin sudah menyerah, tapi kontrak dengan mafia Singapura tidak bisa dibatalkan begitu saja. Jika Dave tidak membayar hutang ibunya dengan aset, maka dia harus membayarnya dengan nyawanya. Laksanakan rencana terakhir."

1
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!