Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan penulis
Jika kamu membaca baris ini, artinya kamu telah menempuh perjalanan panjang bersama ku. Kita telah berjalan melewati aula marmer keluarga Vandana yang dingin, menghirup sesaknya aroma cendana, hingga akhirnya kita tiba di sini—menghirup asinnya udara laut dan mendengarkan suara ombak yang murni.
Ada sebuah perasaan aneh yang muncul setiap kali aku mengetik kata Selesai. Perasaan itu seperti melepas seorang sahabat lama pergi ke sebuah tempat yang jauh, namun kali ini, aku melepas mereka ke sebuah tempat yang akhirnya aman.
Saat aku mulai menyusun Sandi Hati Sang Alpha, saya sering bertanya pada diri sendiri: Apakah kehangatan bisa tumbuh di tempat yang telah lama membeku? Melalui Bhanu, aku belajar bahwa keangkuhan hanyalah topeng dari rasa takut akan kehilangan. Melalui Selena, aku diingatkan bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan berjalan tegak meski badai ada di depan mata. Dan melalui Altair, aku menemukan bagian yang paling menguras air mata dari cerita ini—bahwa terkadang, cara terbaik untuk menyelamatkan dunia adalah dengan melepaskan kekuatan terbesar kita dan memilih untuk menjadi "biasa".
Mungkin di antara kalian ada yang bertanya, mengapa akhir ceritanya harus seperti ini? Mengapa sang Alpha harus kehilangan kehebatannya? Jawabannya sederhana: karena sering kali, kita harus kehilangan segalanya untuk menemukan diri kita sendiri.
Kita hidup di dunia yang sering kali menuntut kita untuk menjadi "lebih"—lebih pintar, lebih cepat, lebih terkoneksi secara digital. Namun melalui Altair, aku ingin menyampaikan sebuah pesan yang sangat personal: bahwa ada kemuliaan yang luar biasa dalam memilih untuk menjadi "biasa". Saat ia memilih mendengar suara ombak daripada suara server, ia sebenarnya baru saja memecahkan "sandi" tersulit dalam hidupnya: menemukan kembali kemanusiaannya.
Terima kasih karena telah membiarkan karakter-karakter ini hidup di dalam imajinasi kamu. Terima kasih telah ikut merasakan amarah saat Eleanor mencoba mengendalikan segalanya, dan ikut bernapas lega saat fajar akhirnya benar-benar menyapa keluarga ini di tepi pantai. Tanpa mata kalian yang membaca baris demi barisnya, Bhanu akan selamanya membeku di balkon itu, dan Selena akan selamanya terjebak dalam aroma cendana yang menyesakkan. Kalianlah yang telah membebaskan mereka.
Bagi ku, menulis cerita ini adalah cara untuk mengingatkan diri sendiri bahwa di era di mana segalanya bisa diukur dengan data, ada hal-hal yang selamanya tidak akan bisa terenkripsi: Kasih sayang, pengorbanan, dan rumah yang kita temukan pada orang-orang yang kita cintai. Pencapaian tertinggi manusia bukanlah saat kita berhasil membangun gedung tertinggi atau meretas kode tersulit, melainkan saat kita bisa duduk di atas pasir, menggenggam tangan orang tersayang, dan merasa bahwa "cukup" adalah kata yang paling mewah di dunia.
Kisah para Vandana dan Arunika mungkin berakhir di sini, di atas pasir pantai yang hangat. Namun, kenangan tentang perjuangan mereka akan selalu memiliki tempat istimewa di hati ku dan aku harap, juga di hati mu. Tetaplah menjadi manusia yang berani mencintai di dunia yang terkadang terasa dingin ini.
Sampai kita bertemu di semesta cerita yang lain. Semoga kamu selalu menemukan "fajar" kamu sendiri, sepekat apa pun malam yang sedang kamu lalui.
Dengan seluruh rasa syukur dan cinta,
[istimariellaahmad]
"Karena pada akhirnya, sandi yang paling sulit dipecahkan bukanlah algoritma dunia, melainkan ketulusan yang tersimpan di dalam hati."
Sampai jumpa di novel bebu selanjutnya, baca cerita yang lain juga ya sayang...
Bye