menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BU DOKTER, AYO RUJUK!
“Jadi suami barunya juga dokter?” bisikku pelan.
D4daku terasa makin sesak melihat pria itu berdiri begitu dekat dengan Qistina. Terlalu dekat untuk sekadar rekan kerja.
Dan sebelum pikiranku makin liar, Qistina tiba-tiba berbalik.
Aissshhhh!
Aku harus kabur sekarang juga sebelum dia sadar aku mengikutinya seperti detektif.
Aku mengambil ancang-ancang. Bersiap melesat secepat mungkin. Tapi sialnya... tali sepatuku justru terlepas.
Tidak. Jangan sekarang.
Aku menunduk sekilas. Tali itu menjuntai menyedihkan seperti mengejekku. Aku tidak punya waktu untuk mengikatnya. Aku terus memaksakan diri untuk berlari, sampai hal yang tidak aku inginkan terjadi.
Dan tepat seperti yang bisa ditebak…
Yap. Sepatuku lepas juga.
Astaga... kenapa aku harus kena apes lagi?
Sepatu mahal itu terpental ke belakang, tertinggal sendirian di lorong.
Aku berhenti sepersekian detik. Menatapnya dengan tatapan getir. Tapi aku benar-benar tidak punya waktu. Aku harus merelakannya. Lebih baik kehilangan sepatu daripada kehilangan harg4 diri.
Aku terus berlari dengan satu kaki bersepatu, satu kaki hanya berkaus kaki.
Seharusnya setelah berbelok meninggalkan lorong panjang itu, aku akan selamat. Tapi ternyata hari ini memang sudah ditakdirkan sebagai hari apes seumur hidupku.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Di lorong berikutnya, lantainya basah karena baru saja dipel oleh OB.
Sebelum sempat berhenti berlari, kakiku sudah tergelincir. Aku hilang tumpuan. Lalu...
BRAK!
Aku menabrak papan kuning bertuliskan “AWAS LANTAI LICIN” sampai benda terpental hampir satu meter.
Dan aku... BRUKKK!
Tubuhku jatuh mengantam lantai. Rasanya tulang pinggangku patah berkeping-keping. Dan yang lebih memalukan, bagian bawah tubuhku terasa basah.
OB yang sedang mengepel membeku di tempat. Dia menatapku dengan wajah tak percaya.
Banqsat.
Sakitnya sih tidak seberapa. Tapi malunya? Astaga.
Aku harus segera menyudahi hal memalukan ini. Aku harus berdiri. Tapi sebelum aku benar-benar sempat berdiri...
Sebuah telapak tangan mungil terulur di depanku.
Aku menoleh.
Dan saat itu mataku langsung bertemu dengan mata seorang bocah kecil.
Tunggu… Ahim?
Pupil mataku melebar. Kenapa takdir mempertemukanku dengan dia lagi?
Ahim tersenyum simpul. “Ayo, Om. Ahim bantu berdiri,” katanya polos.
Aneh. Kenapa senyuman itu membuat d4daku berdebar?
Aku sebenarnya bisa berdiri sendiri. Aku ini tentara. Pangkatku saja Kapten.
Tapi entah kenapa, tanganku justru meraih telapak kecil itu. Ahim menggenggam tanganku erat. Lalu menarikku. Seolah dia punya tenaga super.
Aku pun akhirnya berdiri.
Dan saat tangannya masih menggenggamku, aku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada energi kecil yang meny4mbar j4ntungku. Membuat d4daku berdebar semakin tak karuan.
“Lain kali kalau jalan hati-hati, Om,” ucapnya menasihatiku.
Aku mengangguk.
“Om belum bilang sesuatu ke Ahim?”
Aku terhenyak. “Hm?”
“Kata Bunda kalau kita ditolong orang lain, kita harus bilang ‘t e r i m a k a s i h’. Ayo sekarang Om bilang terima kasih ke Ahim.”
Aku menelan ludah. Seorang tentara berpangkat Kapten diajari attitude oleh bocah lima tahun.
Gengsi sebenarnya. Tapi entah kenapa aku menurut.
“T-terima kasih.”
Ahim tersenyum lebar. “Sama-sama, Om.”
Lalu pandangannya beralih ke belakangku. Senyumnya makin melebar.
“Bunda?” pekiknya senang.
Refleks, aku menoleh ke belakang. Dan saat itu pandanganku langsung bertemu dengan Qistina.
Dia berdiri beberapa meter dari kami.
Qistina menatapku datar, lalu mengangkat tinggi-tinggi sesuatu di tangannya. "Apa ini sepatu Anda?"
Aku menatap sepatu itu dengan getir. Andai aku punya kekuatan menghilang, aku pasti sudah menghilang detik ini juga.
Tatapan Qistina makin menyelidik. “Apakah Anda tadi mengikuti saya?”
JDERRR.
Rasanya seperti dis4mbar petir di siang bolong.
Aisshhh… Sekarang aku harus jawab apa?
Bersambung