"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setelah malam yang penuh penghinaan di restoran itu, kehidupan kampus terasa seperti penjara yang lebih menyesakkan bagi Nadine. Nickholes seolah sengaja memutar pisau di luka Nadine, ia semakin sering memamerkan Clarissa di area terbuka kampus—di kantin, di depan gedung olahraga, bahkan di taman tempat Nadine biasa belajar.
Siang itu, matahari musim gugur menyinari halaman kampus Universitas New York. Nadine duduk di bangku taman, mencoba fokus pada buku teks makroekonominya. Namun, konsentrasinya hancur saat suara tawa yang sangat ia kenali mendekat.
Nickholes berjalan melewatinya, merangkul pinggang Clarissa dengan posesif.
Saat mereka tepat berada di depan Nadine, Nick sengaja berhenti untuk berpura-pura membetulkan tali sepatu.
"Oh, hai Nadine," sapa Clarissa dengan nada merendahkan yang dibuat-buat. "Kau selalu belajar sendirian ya? Kasihan sekali."
"Nick, bukankah kita harus mengajak Nadine bergabung dengan grup kita kapan-kapan?"
Nickholes berdiri, menatap Nadine dengan pandangan dingin yang seolah tak mengenal keintiman panas mereka beberapa jam lalu di toilet. "Nadine terlalu sibuk menjadi mahasiswi teladan, Clarissa. Dia tidak punya waktu untuk bersenang-senang seperti kita."
Kalimat itu bagai tamparan bagi Nadine. Tidak punya waktu untuk bersenang-senang? Padahal hampir setiap malam ia menyerahkan segalanya untuk pria itu.
Saat Nickholes dan Clarissa menjauh, ponsel Nadine bergetar di atas buku tugasnya.
Nick: "Jangan pulang ke asrama sore ini. Datanglah ke ruang ganti atlet di gedung olahraga setelah latihan berakhir. Pintu belakang akan terbuka."
Nadine memejamkan mata. Ia membenci perintah itu, tapi tubuhnya justru berkhianat dengan rasa antisipasi yang menyesakkan.
Gedung olahraga sudah sepi saat Nadine menyelinap masuk melalui pintu belakang. Bau keringat, pembersih lantai, dan sisa energi pertandingan memenuhi udara. Di ujung lorong, lampu ruang ganti masih menyala.
Begitu Nadine melangkah masuk, Nickholes sudah menunggunya, masih mengenakan celana pendek latihan dan handuk yang melingkar di lehernya. Uap panas dari shower yang menyala memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang lembap dan intens.
"Kau melihatku dengan Clarissa tadi?" tanya Nick tanpa basa-basi. Ia mendekat, langkah kakinya bergema di lantai keramik.
"Kau sengaja melakukannya, Nick," bisik Nadine, suaranya parau.
"Kau sengaja mempermalukanku di depan semua orang."
Nickholes tertawa rendah, suara yang mengirimkan getaran ke seluruh saraf Nadine. Ia mencengkeram kedua tangan Nadine dan mengangkatnya ke atas kepala, mengunci gadis itu di loker besi yang dingin.
"Aku melakukannya karena aku ingin melihat sejauh mana kau bisa bertahan," bisik Nick tepat di bibir Nadine. "Dan lihatlah kau sekarang... tetap datang padaku seperti anjing yang setia."
Nickholes mulai menciumnya dengan kasar, sebuah perpaduan antara gairah dan dominasi yang menjadi ciri khas hubungan mereka.
Di tengah uap shower yang semakin tebal, Nadine kembali kehilangan dirinya. Di ruang ganti yang pengap itu, ia membiarkan Nickholes menggunakannya lagi sebagai pelampiasan nafsu setelah latihan yang berat, mengabaikan fakta bahwa di luar sana, Nickholes adalah milik wanita lain.
Saat mereka masih dalam posisi yang sangat intim, suara langkah kaki terdengar di koridor luar. Bukan sekadar langkah kaki biasa, tapi suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam.
"Nick? Kau di dalam? Tasmu masih ada di luar," suara Clarissa memanggil dari balik pintu ruang ganti yang tidak terkunci rapat.
Nadine membeku. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia merasa akan pingsan. Jika Clarissa masuk sekarang, tamatlah reputasi Nadine Saville selamanya.
Nickholes bereaksi dengan ketenangan yang menakutkan. Tanpa melepaskan tatapannya dari mata Nadine yang dipenuhi ketakutan, ia menyambar pinggang gadis itu dan mendorongnya masuk ke dalam bilik shower yang paling ujung.
"Diam. Jangan bersuara sedikit pun kalau kau tidak ingin ibumu tahu apa yang putrinya lakukan di sini," bisik Nick dengan nada mengancam yang tajam. Ia menarik tirai plastik itu hingga tertutup rapat.
Nadine berdiri mematung di atas lantai keramik yang basah. Air dari shower yang masih menyala membasahi bajunya, namun ia tidak berani bergerak. Napasnya tertahan di tenggorokan saat ia mendengar pintu ruang ganti terbuka lebar.
"Nick! Oh, kau masih di sini," suara manja Clarissa menggema di ruangan yang luas itu. "Kenapa lama sekali? Teman-teman sudah menunggu di bar."
"Aku baru saja selesai," jawab Nickholes dengan suara yang sangat santai, seolah-olah ia tidak baru saja menyembunyikan seorang gadis di bilik belakang.
"Kenapa kau menyusul ke sini, Clarissa? Aku tidak suka dikontrol."
Nadine bisa mendengar suara langkah kaki mereka mendekat ke arah deretan bilik shower. Ia memejamkan mata erat-erat, air mata mulai bercampur dengan tetesan air shower. Ia merasa sangat kerdil dan terhina bersembunyi seperti seorang selingkuhan yang kotor, sementara pria yang baru saja menjamah tubuhnya sedang berbicara dengan wanita lain hanya beberapa meter darinya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berhenti tepat di depan bilik tempat Nadine bersembunyi.
"Kenapa shower yang ini menyala?" tanya Clarissa. Nadine bisa melihat bayangan kaki Clarissa di bawah celah tirai.
Jantung Nadine seolah berhenti berdetak. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isak tangisnya tidak lolos.
"Rusak. Aku tadi mencoba memperbaikinya tapi malah macet," jawab Nickholes tenang. Terdengar suara gesekan kain—mungkin Nick sedang merangkul Clarissa untuk menjauhkannya.
"Ayo pergi. Aku haus dan butuh minum."
"Baiklah, sayang. Tapi kau berutang penjelasan kenapa kau sangat kasar saat latihan tadi," sahut Clarissa sambil tertawa kecil yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Nadine.
Pintu ruang ganti akhirnya tertutup dan terkunci. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya menyisakan suara gemericik air.
Nadine keluar dari bilik shower dengan tubuh gemetar hebat dan pakaian yang basah kuyup. Ia terduduk di lantai ruang ganti yang dingin, memeluk lututnya sendiri. Ia adalah putri dari Victoria Saville, mahasiswi berprestasi, namun di sini, ia tak lebih dari rahasia gelap Nickholes Teldford.
Ia melihat ke cermin besar di ruang ganti. Bayangannya tampak menyedihkan maskara yang luntur dan bibir yang bengkak. Ia tahu ia harus pergi sebelum ada orang lain yang masuk, tapi kakinya terasa lemas.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di lantai bergetar. Sebuah pesan baru dari Nickholes.
"Pakaianmu basah, bukan? Ambil hoodie cadanganku di loker nomor 22. Pakai itu dan langsung pulang. Jangan membuat drama besok pagi di kelas."
Bukannya merasa diperhatikan, Nadine merasa semakin hancur. Nick tidak peduli padanya, Nick hanya ingin memastikan rahasia mereka tetap aman.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍🥰🥰