Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20
Malam Itu ditempat yang berbeda, Ryn Moa Tidak Bisa Tidur. Ia tahu itu sejak menit pertama ia merebahkan tubuhnya di kasur. Bukan perasaan gelisah biasa yang bisa ditenangkan dengan membalik bantal atau memutar posisi tidur. Ini berbeda. Ada ketegangan halus di udara, seperti malam yang menyimpan terlalu banyak pikiran dan menolak untuk diam. Ia menatap langit-langit kamarnya. Kamar itu tidak besar, tapi cukup nyaman untuk seorang mahasiswa yang hidup dengan jadwal padat dan mimpi yang masih setengah matang. Dindingnya berwarna krem pucat, sedikit kusam di sudut-sudut tertentu. Rak buku di samping meja belajar penuh dengan catatan kuliah yang diselipkan sembarangan di antara novel romansa dan satu buku motivasi yang dibelinya impulsif tapi belum pernah selesai dibaca.
Lampu kamarnya sudah dimatikan sejak tiga puluh menit lalu, tapi matanya masih terbuka lebar. Stiker bintang yang menempel di langit-langit memantulkan cahaya samar dari lampu jalan di luar jendela, menciptakan ilusi galaksi kecil yang seharusnya menenangkan, namun gagal total malam ini. Biasanya, Ryn Moa menyukai galaksi kecil itu. Ia memasangnya sendiri waktu semester awal, sambil tertawa karena lemnya menempel di jari dan rambutnya. Ia menyukai gagasan bahwa bahkan di kamar sempitnya, ada semesta kecil yang bisa ia tatap sebelum tidur.
Tapi malam ini, bintang-bintang itu hanya jadi saksi bisu dari pikirannya yang tidak mau berhenti bekerja. Kasurnya empuk. Selimutnya hangat. Kipas angin berputar pelan dengan suara konstan yang biasanya bisa membuatnya tertidur dalam lima menit. Namun malam ini, pikirannya terlalu berisik. Lebih berisik dari grup WhatsApp atau Line teman-temannya. Lebih berisik dari kantin kampus saat jam makan siang. Bahkan lebih berisik dari suara Ida ketika sedang menggebu-gebu membahas teori konspirasi tentang cinta kampus.
Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, lalu kembali telentang. Kasur berderit pelan mengikuti gerakannya, seolah ikut mengeluh karena tidak diberi kesempatan untuk beristirahat. Bantalnya sudah dipeluk, ditendang, lalu dirapikan kembali. Rambutnya yang semula rapi kini sedikit berantakan, tapi ia tidak peduli. Tangannya memainkan ujung selimut, lalu berhenti di dada, tepat di atas jantung yang berdetak terlalu sadar akan keberadaannya sendiri. Setiap detaknya terasa terlalu nyata.
J-Hope bilang dia manis. Kalimat itu muncul begitu saja, seperti subtitle yang tiba-tiba menyala di layar pikirannya. Tidak ada peringatan. Tidak ada transisi. Hanya muncul dan menetap. Cara J-Hope mengatakannya teringat jelas, santai, jujur, tanpa ragu. Tidak bertele-tele, tidak bersembunyi di balik candaan. Ia masih ingat ekspresi wajahnya saat itu, mata yang tersenyum lebih dulu sebelum bibirnya bergerak. Nada suaranya ringan, tapi tidak asal-asalan. Seolah kata itu bukan sekadar pujian, tapi pengamatan.
Manis.
Kata itu sederhana, tapi entah kenapa terasa besar. Mungkin karena ia tidak merasa sedang berusaha terlihat manis. Atau karena ia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Dan mungkin, besar karena sebagian dari dirinya ingin percaya.
Taehyung masih bikin deg-degan. Nama itu seperti kebiasaan lama. Seperti lagu favorit yang sudah terlalu sering diputar, tapi tetap punya efek yang sama setiap kali terdengar. Ada bagian dari otaknya yang sudah hafal ritmenya, tapi jantungnya tetap bereaksi seolah baru pertama kali mendengar. Taehyung adalah sumber detak jantung yang tidak pernah benar-benar pergi. Bahkan ketika ia diam dan mereka belum berbicara.. Ia mengingat cara Taehyung berdiri di kejauhan, dengan postur santai dan ekspresi sulit ditebak. Cara ia kadang melirik tanpa sengaja, lalu berpaling seolah tidak terjadi apa-apa. Taehyung tidak pernah benar-benar mendekat, tapi juga tidak pernah sepenuhnya menjauh. Dan itu cukup untuk membuatnya bertahan dalam rasa yang belum selesai.
Namjoon…
Eh, Namjoon kenapa ikut muncul di pikirannya? Ryn Moa mendesah keras, lalu menarik selimut sampai menutupi setengah wajahnya. Ia memejamkan mata, seolah dengan begitu bisa mengusir satu nama tertentu yang muncul terlalu sering hari ini. Tapi justru dalam gelap, bayangan itu semakin jelas. Namjoon tidak pernah melakukan hal besar. Tidak pernah menggoda. Tidak pernah terang-terangan. Dan justru itu yang membuatnya sulit diabaikan. Ia teringat caranya berdiri, tegak tapi tidak kaku. Cara ia mendengarkan, benar-benar mendengarkan, seolah setiap kata orang lain layak diberi ruang. Cara ia berbicara dengan nada rendah yang tidak pernah tergesa-gesa. Dan cara ia menatap, tidak menusuk, tidak menghakimi, tapi cukup dalam untuk membuat seseorang merasa terlihat.
“Kenapa mereka semua bikin pusing…” Ia mengeluh. “Aku cuma mau kuliah tenang…”
Keluhannya terlempar ke udara kosong kamar. Tidak ada yang menjawab, kecuali dengungan kipas angin. Ia menoleh ke arah jendela. Tirainya sedikit terbuka, memperlihatkan potongan malam yang sunyi. Lampu jalan berkedip malas. Langit gelap tanpa bintang sungguhan, berbeda dengan galaksi palsu di langit-langitnya.
Ia hanya ingin hidup normal.Kuliah, tugas, pulang, tidur. Bukan menganalisis tiga pria berbeda dengan tiga jenis efek jantung yang berbeda pula. Ia lelah dengan pikirannya sendiri. Ryn Moa meraih ponselnya dari atas meja kecil di samping kasur. Jam menunjukkan hampir tengah malam. Ia berpikir untuk membuka media sosial, tapi tahu itu hanya akan memperpanjang penderitaan, melihat foto orang lain yang hidupnya terlihat lebih stabil. Orang-orang yang tampaknya tahu apa yang mereka mau. Orang-orang yang tidak terjebak di antara rasa lama dan rasa baru.
...⭐⭐⭐...
Baru saja layar ponsel menyala, sudah berbunyi bahwa ada satu pesan masuk. Ryn Moa membeku. Seolah waktu berhenti sejenak, memberi ruang untuk satu kemungkinan yang tidak ia siapkan. Jantungnya berhenti sepersekian detik sebelum mulai berdetak terlalu cepat.
Namjoon:
Besok jangan datang terlalu pagi. Kamu kelihatan lelah tadi dikampus. Istirahatlah.
Ryn Moa membeku. Ia duduk setengah bangun di kasur, menatap layar ponselnya seperti sedang membaca pesan dari dimensi lain. Namjoon mengirimi pesan jam segini, tidak ada emoji, tidak ada basa-basi. Tapi perhatian itu… nyata. Ia membaca ulang kalimat itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Setiap kali dibaca, maknanya terasa semakin berat. Nada kalimatnya sederhana, tapi terasa personal. Seolah Namjoon benar-benar memperhatikannya bukan sebagai “teman kampus”, tapi sebagai dirinya sendiri. Ia mengingat wajahnya hari ini. Cara Namjoon meliriknya ketika ia menguap tanpa sadar. Cara alisnya sedikit berkerut, seolah mencatat sesuatu di kepalanya. Lalu masuk pesan kedua.
Namjoon:
Dan hati-hati kalau jalan. Kamu sering tidak memperhatikan sekitar.
Ryn Moa menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri kembali ke kasur. Perhatian kecil itu terasa seperti selimut tambahan di malam dingin. Hangat, tapi juga membuatnya makin sulit bernapas dengan normal. Ia menutup muka dengan bantal.
“AAAAAAAAAAA !”
Teriakan itu teredam, tapi emosinya tidak. Ia menggeliat, memukul kasur pelan, lalu berguling ke sisi lain.
Kenapa kamu peduli sih, Kim Namjoon? Kenapa kamu ingat aku sering hampir jatuh?
Kenangan kecil itu muncul, Namjoon yang refleks menarik lengannya saat ia beberapa kali hampir tersandung. Namjoon yang berdiri sedikit lebih dekat saat mereka berjalan, tanpa menyentuh, tapi cukup untuk memberi rasa aman. Ia belum sempat menenangkan diri ketika pesan ketiga masuk. Ryn Moa mengintip dari balik bantal, jantungnya kembali bersiap untuk lompat keluar.
Namjoon:
Selamat malam, Moa.
Pendek, sederhana, tapi terasa intim. Tidak ada tambahan, tidak ada nasihat. Hanya ucapan selamat malam dan penggunaan namanya.
Nama itu.
Bukan “Ryn” yang biasa dipanggil oleh orang lain, Bukan “kamu”. Tapi ”Moa.” nama yang dipanggil oleh segelintir orang yang memang sangat dekat dengannya, sepertinya para enam sahabatnya itu. Dan untuk pertama kalinya, malam itu jantungnya berdetak bukan untuk Taehyung, bukan untuk J-Hope, tapi untuk seseorang yang paling tenang di antara mereka, Namjoon.
Ryn Moa menatap layar ponselnya lama sekali. Jarinya melayang di atas keyboard, ingin membalas, tapi tidak tahu harus menulis apa. Terima kasih? Terlalu formal. Selamat malam juga? Terlalu sederhana. Emoji? Ia tidak pernah melihat Namjoon pakai emoji, takut salah langkah. Ia membayangkan Namjoon membaca balasannya. Membayangkan ekspresi datarnya berubah sedikit. Ia tidak ingin merusak sesuatu yang bahkan belum ia pahami. Ia akhirnya hanya memeluk bantal, ponsel masih menyala di tangannya. Senyum kecil tanpa sadar muncul di sudut bibirnya. Ia tidak tahu kapan terakhir kali ia tersenyum seperti ini tanpa alasan jelas, tanpa usaha.
Orang yang tidak paling tampan mencolok di lingkaran pertemanan dekatnya, namun paling manis dengan lesung pipi dan aura yang sangat menenangkan. Jenis ketenangan yang tidak berisik, tidak menuntut untuk diperhatikan, tapi perlahan membuat orang merasa aman berada di dekatnya. Ia bukan tipe yang langsung mencuri pandang sejak langkah pertama memasuki ruangan. Tidak memancarkan pesona flamboyan. Tidak punya senyum yang membuat semua kepala otomatis menoleh. Bahkan jika dibandingkan, Namjoon sering kali berada satu langkah di belakang secara visual, secara sorotan. Namun ia beberapa langkah jauh di depan secara kecerdasan dan intelektual. Dan justru di situlah letak bahayanya. Karena pesonanya tidak hadir dalam bentuk kilat, melainkan dalam jeda. Dalam hal-hal kecil yang nyaris luput jika tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Cara ia mengangguk ketika mendengarkan. Cara ia mengingat detail remeh yang orang lain anggap tidak penting. Cara lesung pipinya muncul bukan untuk pamer, tapi sebagai efek samping dari senyum yang tulus. Dan mungkin, itu yang membuatnya berbeda. tapi entah kenapa ? Ia juga yang paling mengusik, karena ia tidak berusaha masuk ke dalam pikiran Ryn Moa,namun tetap tinggal di sana. Ia tidak menuntut ruang namun perlahan mengambilnya.
Namjoon memang tidak seperti J-Hope yang penuh warna seperti siang hari yang ramai. Tidak membuat jantung jatuh mendadak seperti Taehyung. Tapi Namjoon seperti gravitasi. Ia tidak menarik dengan keras, tidak memaksa arah. Tapi setiap kali Ryn Moa mencoba menjauh, ia sadar bahwa langkahnya tetap condong ke satu titik yang sama. Tidak ada momen besar yang bisa ditunjuk dan disebut sebagai awal. Tidak ada adegan dramatis yang bisa dijadikan alasan. Hanya rangkaian perhatian kecil yang saling terhubung, membentuk sesuatu yang perlahan tapi pasti. Dan semakin lama, semakin terasa. Terasa dalam cara dadanya menghangat tanpa alasan jelas. Terasa dalam cara namanya terdengar berbeda saat diucapkan olehnya.
Ryn Moa mematikan layar ponselnya, meletakkannya di dada. Detak jantungnya bersentuhan langsung dengan ponsel itu, membuatnya sadar bahwa ia tidak hanya memikirkan seseorang tapi merasakannya. Ia menatap langit-langit lagi, stiker bintang itu kini terasa lebih dekat, lebih hangat. Galaksi kecil itu seolah berpendar lebih lembut, bukan lagi sebagai gangguan, tapi sebagai penutup malam. Bukan lagi simbol dari pikirannya yang berisik, melainkan saksi dari sesuatu yang perlahan menemukan ritmenya sendiri.
“Ini bahaya…” gumamnya pelan.
Tapi untuk pertama kalinya malam itu, kelopak matanya terasa berat. Pikirannya masih penuh, tapi tidak lagi kacau. Dan tanpa disadari, Ryn Moa tertidur sambil tersenyum kecil.
...⭐⭐⭐⭐...
Bersambung....