Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran kerjasama
Di ruang VIP Starlight Club yang remang dan pengap, ketegangan terasa begitu menusuk. Aluna masih membeku di sofa menatap Marko dengan mata kosong. Otaknya bekerja keras, berusaha mencerna kalimat gila yang baru ia dengar.
“Calon istri?” tanyanya sekali lagi memastikan itu bukan halusinasi alkohol.
“Iya… kamu calon istri saya." jawab Marko dingin, nadanya final seperti hakim yang menjatuhkan vonis.
"Saya belum kasih jawaban, Pak. Saya juga nggak pantas bersanding dengan Bapak. Saya kan cuma waitress klub ini. Apa kata orang nanti. Jangan mempermalukan diri sendiri Pak." tolak Aluna mencoba menggunakan kartu kerendahan diri.
"Yang mutusin pantes atau nggak, ya saya. Bukan kamu. Kamu cuma perlu terima." kata Marko datar. Cling!!! Ia mengambil gelas kristal berisi whiskey di meja, meneguknya santai.
"Cih, nih orang kenapa sih? Sombong banget. Nggak ada hargain pendapat orang sedikit pun."umpat Aluna dalam hati.
"Maaf, Pak. Saya menolaknya. Saya nggak cinta sama Bapak. Bukannya pernikahan itu harus didasari cinta?"
"Kamu pikir saya cinta sama kamu? Nggak sama sekali. Saya cuma nawarin kerja sama dalam ikatan pernikahan." balas Marko sinis, menatap Aluna seolah ia hanyalah komoditas.
"Kerja sama?" gumam Aluna.
"Iya.... kita nikah karena sama-sama untung. Kita nikah di atas kontrak tiga tahun. Saya bakal biayain pengobatan Ibu kamu, kuliah Alika sampai lulus, semua pasti terjamin. Dengan kecerdasan adikmu, saya juga bisa rekomendasikan dia di salah satu perusahaan saya. Dan buat kamu? Apa pun yang kamu mau, saya kasih. Uang, mobil mewah, rumah, saya berikan. Anggap itu gaji kamu sebagai istri saya. Semua kebutuhan kamu saya penuhi." terang Marko, seperti sales yang menjual paket neraka.
Aluna terdiam, napasnya tercekat. Tawaran ini gila, kotor, tapi menyelesaikan semua masalahnya. "Terus, tugas saya apa jika sudah jadi istri kontrak bapak?"
"Kamu harus kasih saya keturunan laki-laki. Cuma itu." kata Marko, suaranya pelan tapi menekan.
Aluna melotot. "Maksud Bapak, saya harus ngelahirin anak cowok, terus setelah itu?"
"Setelah kontrak habis, anak itu hak asuh saya sepenuhnya. Dan kamu bisa bebas." kata Marko.
"Bapak GILA! Saya nggak mau! Bapak bisa cari cewek lain aja!" tolak Aluna keras, berdiri dari sofa. Kepalanya pening.
"Pikirkan baik-baik. Kabari saya kalau kamu berubah pikiran." kata Marko, tidak peduli dengan penolakan itu. Ia lantas berdiri, merapikan jasnya yang mahal dan langsung keluar dari ruangan tanpa berpamitan.
Aluna mengepalkan tangan sekuat tenaga hingga kukunya memutih. "Apa dia sudah gila??? Arrrgghhh! Kontrak pernikahan??? Dia benar-benar nggak punya hati nurani." umpat Aluna, air matanya tertahan oleh amarah yang membakar.
**
Lima belas menit kemudian, Marko sudah di dalam mobilnya. Renaldi, asisten setianya sudah menunggu. Jalanan Surabaya mulai sepi, hanya menyisakan lampu jalan yang basah oleh sisa hujan sore.
"Ayo kembali ke Jakarta.” kata Marko singkat.
"Baik, Pak." Renaldi tancap gas menuju bandara di mana jet pribadi Marko sudah siap.
Marko bersandar di kursi belakang. Ayahnya mendesaknya menikah. Jika tidak, ia akan dijodohkan dengan wanita pilihan Ibu tirinya dan yang lebih parah, semua harta warisan mendiang ibunya akan jatuh ke tangan Ibu tiri jika ia tidak segera memiliki pewaris laki-laki. Marko tidak akan membiarkan itu. Meskipun ia sudah kaya raya tujuh turunan sebagai pebisnis ulung sekaligus bos mafia bawah tanah yang ditakuti, ia tidak rela harta ibunya jatuh ke tangan wanita lain.
Sepanjang perjalanan, Marko hanya diam, tatapannya kosong ke luar jendela mobil. Rencana sudah diatur. Aluna akan jadi solusi sementaranya.
**
Pukul tujuh pagi. Aroma nasi goreng home-made Bu Sasmi menguar di ruang makan.
Aluna masih tertidur pulas, lelah fisik dan mental setelah drama Marko semalam. Di ruang tamu, Sultan dan Annisa sudah nongkrong, sengaja datang sepagi ini sebelum Aluna sempat kabur kerja.
“Sultan... Annisa….” sapa Bu Sasmi, terkejut melihat dua anaknya sudah ada di sana.
Sultan dan Annisa mencium tangan Bu Sasmi.
“Tumben sepagi ini datang berdua. Cucunya Ibu mana?” tanya Bu Sasmi, celingukan mencari Alifah.
“Mereka di rumah Mama aku Bu.” jawab Sultan.
“Oh gitu… ya sudah, ayo masuk. Kita sarapan bareng. Ibu bangunin Aluna dulu. ” kata Bu Sasmi.
Annisa dan Sultan masuk, matanya langsung menyapu meja makan. Hanya ada nasi goreng putih dan telur dadar. Annisa memutar bola mata malas, bosan.
Bu Sasmi mengetuk pintu Aluna. "Aluna... Bangun Nak...." panggilnya pelan.
Aluna menggeliat, kantuknya masih berat. "Iyaa, Bu.... bentar."
"Ibu tunggu di ruang makan ya." teriak Bu Sasmi lagi.
"Iyaa Bu..." Aluna buru-buru cuci muka. Begitu keluar, keningnya berkerut melihat Kakak dan Iparnya sudah duduk santai di ruang TV.
Aluna cuek bebek. Rasa kesalnya dari kemarin belum hilang. Ia langsung ke ruang makan dan mengambil nasi goreng, mengabaikan mereka.
"Kalian beneran nggak mau sarapan?" tawar Bu Sasmi lagi, merasa tidak enak.
"Nggak, Bu.... Ibu sarapan aja." kata Sultan, matanya fokus pada layar TV tetapi telinganya siaga.
Bu Sasmi dan Aluna sarapan dalam diam. Aluna buru-buru menghabiskan makanannya.
Setelah mencuci piring, Aluna berbalik. "Bu, aku ke kamar lagi ya." katanya, ingin segera ngacir dan menghindar dari drama.
"Aluna!" panggil Sultan, berdiri tiba-tiba, diikuti Annisa yang senyumnya mulai melebar.
Aluna membalikkan badan, malas. "Ya?"
"Kamu ini nggak ada sopan-sopannya! Kakakmu dari tadi di sini, nggak kamu sapa sama sekali." serobot Annisa, tidak sabar ingin memulai pertempuran.
"Udah deh, Mbak. Ini masih pagi. Nggak usah ngajak gelut lagi. Aku masih capek. Jangan buang-buang tenaga." balas Aluna suaranya datar penuh rasa lelah.
"Aluna!!! Kamu yang sopan bicara sama Istri Kakak." tegur Sultan, wajahnya menegang.
Aluna menghela napas panjang. "Ya sudah, aku minta maaf. Aku permisi dulu." katanya, mencoba mengakhiri drama.
"Tunggu Aluna, Kakak belum selesai bicara! Kamu kenapa jadi kurang ajar begini sih???" cecar Sultan, emosinya sudah di ujung tanduk karena hasutan Annisa.
"Sultan... sudah... kamu kenapa jadi marah sama adikmu." tegur Bu Sasmi mendekat khawatir.
"Tapi Aluna makin hari makin kurang ajar, Bu. Dia sama sekali nggak ngehargain aku dan Annisa sebagai Kakaknya."
"Maksud Kakak apa sih?" tanya Aluna kesal, tatapannya menantang.
"Jangan pikir Kakak nggak tahu ya, kalau kemarin kamu sudah kasar sama Annisa, bahkan sampai narik jilbab dia. Kamu ini kenapa jadi preman sih??? Bergaul sama siapa kamu sampai nggak punya attitude??? Sampai ngatain kakak anak yang tidak berbakti." hardik Sultan, meluapkan semua kemarahan yang sudah ditimbun Annisa.
Annisa menarik ujung bibirnya, matanya menatap sinis Aluna, penuh kemenangan. Aluna menangkap seringai itu.
"Oh, jadi Mbak Annisa ngadu apa aja sama Kakak??? Kakak mikir dong...Aku nggak mungkin narik jilbab Kak Nisa kalau dia nggak mancing duluan. Udah ya Kak...kalau Kakak mau cari ribut sama aku, mending Kakak pergi dari sini." usir Aluna, tidak terima difitnah dan dituduh preman.
PLAAAAAAAAKKKK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Aluna. Suara itu menggema di ruang tamu, membungkam pagi. Bu Sasmi terkesiap. Aluna mematung, pipinya terasa panas, air matanya langsung menetes tanpa diminta. Ia menatap Sultan, Kakak yang selama ini ia lindungi utangnya, kini malah menamparnya di rumah sendiri karena fitnah istrinya.