Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selesainya Siksaan Tiga Malam
Matahari hari ketiga akhirnya terbit menyinari kawah berdarah di halaman belakang Keluarga Zian. Seluruh tanah di sekitar tempat Zian duduk bersila sudah hancur lebur, melesak ke bawah sejauh dua meter hanya karena getaran tubuhnya yang menahan rasa sakit.
Zian perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi urat menonjol atau kulit merah mendidih. Tubuhnya kembali terlihat seperti pemuda normal. Ototnya tidak membesar menjadi monster, tapi lekukannya terlihat sangat padat dan sempurna, seolah dipahat dari bongkahan baja murni.
"Kau benar-benar gila, Bocah," suara leluhur Asura terdengar melemah, namun penuh kepuasan. "Tidak ada manusia yang sanggup menahan Kebangkitan Brutal tanpa pingsan. Tapi kau malah terus terjaga selama tiga hari penuh."
Zian berdiri dari kawah itu. Dia tidak menjawab pujian leluhurnya. Dia hanya mengangkat tangan kanannya, lalu mengayunkannya pelan ke arah depan.
Buum!
Udara di depannya meledak. Tekanan angin yang dihasilkan dari ayunan tangannya membelah sisa-sisa asap di halaman dan merobohkan sisa tembok batu di ujung rumah.
"Lumayan," gumam Zian datar. Matanya berkilat tajam. "Setidaknya sekarang tanganku tidak akan patah kalau harus memukul kepala tetua sekte."
Dia berbalik dan berjalan menuju sisa bangunan rumah. Zian Hao, Mei Yin, dan Zian Yan sudah menunggunya di teras. Mereka melihat kawah kehancuran di halaman dengan wajah takjub.
"Kau sudah selesai, Nak?" tanya Zian Hao. Suaranya sedikit bergetar. Dia tidak bisa merasakan energi kultivasi apa pun dari putranya, tapi insting bertarungnya berteriak bahwa pemuda di depannya ini bisa membunuhnya hanya dengan satu jentikan jari.
"Sudah, Ayah," jawab Zian sambil tersenyum tipis. Dia menerima handuk bersih dari ibunya dan mengusap sisa keringat di wajahnya. "Aku akan berangkat sekarang. Turnamennya dimulai pagi ini, kan?"
Mei Yin menahan air matanya. Dia merapikan kerah baju baru yang dia siapkan untuk Zian. "Hati-hati, Nak. Jangan paksakan dirimu. Kalau situasinya terlalu berbahaya, larilah. Kami hanya ingin kau pulang dengan selamat."
Zian Yan memeluk pinggang kakaknya. "Kakak harus pulang bawa daging rusa yang banyak!"
Zian tertawa pelan. Dia mengusap kepala adiknya. "Kakak janji. Kakak tidak akan lama. Hanya membersihkan sampah dan mencari sedikit daging untuk makan malam kita."
Zian Hao menepuk pundak Zian dengan mantap. "Lakukan apa yang harus kau lakukan, Zian. Ayah akan menjaga ibu dan adikmu di sini."
"Tidak akan ada yang berani mengganggu rumah ini lagi, Ayah." Zian membalikkan badan. Auranya yang tadi hangat seketika berubah sedingin es. "Aku berangkat."
Alun-alun Kota Daun dipenuhi ribuan manusia. Sorak-sorai penonton menggema memekakkan telinga. Hari ini adalah pembukaan Turnamen Berburu Kota. Ratusan peserta dari berbagai keluarga dan sekte sudah berkumpul di depan gerbang batu raksasa yang menjadi pintu masuk Hutan Hitam.
Di panggung kehormatan, Tian Ao duduk bersandar dengan santai. Dia mengenakan jubah emas yang mewah. Di sebelahnya, duduk seorang pria tua dengan jubah senada. Pria tua itu adalah Tetua Wu, salah satu petarung tingkat Jenderal dari Sekte Api Emas.
"Tuan Muda," lapor seorang penjaga yang membungkuk hormat di depan meja Tian Ao. "Kami sudah mengecek seluruh daftar hadir. Cacat bernama Zian itu belum juga muncul."
Tian Ao tertawa meremehkan. Dia menyesap arak dari cangkir peraknya. "Tentu saja dia tidak berani datang. Dia pasti sudah lari kencing di celana setelah aku mengirim pasukan kota ke rumahnya yang kumuh itu."
Tetua Wu mengusap jenggot putihnya sambil tersenyum sinis. "Kau terlalu membuang waktu untuk mengurus semut cacat, Ao-er. Fokuslah pada ujian masuk sekte utama bulan depan. Biarkan saja semut itu membusuk di selokan."
"Aku hanya tidak suka melihat ada semut yang berani menatapku, Tetua," jawab Tian Ao santai. "Lagi pula, aku sudah membayar sepuluh peserta elit untuk memburu kepalanya di dalam hutan. Sayang sekali uangku terbuang percuma karena si pengecut itu tidak berani menampakkan batang hidungnya."
"Siapa bilang aku tidak berani?"
Suara datar dan dingin itu tiba-tiba memotong keributan di alun-alun. Suaranya tidak keras, tapi anehnya terdengar sangat jelas di telinga semua orang, termasuk Tian Ao di atas panggung.
Kerumunan peserta dan penonton langsung terbelah. Mereka menyingkir dan membuka jalan dengan tatapan heran.
Zian melangkah maju dengan tenang. Dia mengenakan pakaian kain hitam sederhana yang rapi. Tidak ada senjata di punggungnya. Tidak ada pedang di pinggangnya. Kedua tangannya hanya bersembunyi santai di dalam saku celananya.
Semua mata langsung tertuju padanya.
"Itu Zian? Tuan Muda Keluarga Zian yang cacat energi itu?" bisik seorang peserta dari keluarga bangsawan lain.
"Astaga, dia benar-benar datang! Aku dengar dia habis memukul mati beberapa penjaga Sekte Api Emas kemarin. Apa dia sudah bosan hidup?" sahut peserta lain sambil tertawa mengejek.
"Lihat saja auranya. Kosong melompong! Dia bahkan tidak berada di Ranah Jelata tingkat satu. Masuk ke Hutan Hitam sama saja dengan mengantar nyawa ke mulut monster!"
Hinaan dan tawa meremehkan meledak dari berbagai sudut alun-alun. Zian sama sekali tidak peduli. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia menekan habis-habisan kepadatan Tulang Asuranya agar terlihat seperti manusia biasa yang rapuh. Dia ingin melihat wajah kesombongan mereka untuk terakhir kalinya sebelum dia merobeknya nanti.
Zian menghentikan langkahnya di depan panggung kehormatan. Dia menatap lurus ke arah Tian Ao.
Tian Ao bangkit dari kursinya. Senyum lebarnya kembali muncul. "Wah, wah! Pahlawan kita ternyata benar-benar datang. Aku harus memuji keberanianmu, Cacat. Atau harus kusebut kebodohanmu?"
"Mana Lin Yue?" tanya Zian langsung ke intinya. Suaranya sangat tenang.
"Yue-er? Dia sudah berangkat ke ibu kota sejak subuh tadi. Dia terlalu jijik untuk melihat wajahmu," jawab Tian Ao sambil melipat tangan di dada. "Dia bilang, kau bahkan tidak pantas dibunuh oleh tangannya sendiri."
Zian mengangguk pelan. "Sayang sekali. Padahal aku ingin mengirimkan kepala kalian berdua dalam satu kotak yang sama."
Seluruh alun-alun mendadak hening. Para peserta saling pandang dengan mata melotot. Pemuda cacat ini benar-benar gila! Beraninya dia mengancam pewaris Sekte Api Emas di depan umum, tepat di sebelah Tetua tingkat Jenderal pula!
"Bocah kurang ajar!" Tetua Wu menggebrak meja hingga hancur berkeping-keping. Energi apinya meledak keluar, menekan udara di sekitar panggung. "Kau berani menghina Tuan Muda sekte kami?! Aku akan meremukkan mulutmu sekarang juga!"
Tetua Wu baru saja mau melompat turun, tapi Tian Ao mengangkat tangannya untuk mencegah.
"Jangan, Tetua. Jangan kotori tangan Anda," Tian Ao tersenyum sangat jahat. Dia menatap Zian dari atas ke bawah. "Kita harus menghormati aturan turnamen. Dia adalah peserta resmi. Biarkan dia masuk ke dalam Hutan Hitam. Hutan itu akan mengajarinya di mana posisinya yang sebenarnya."
Tian Ao lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Zian dengan tatapan membunuh. "Masuklah ke sana, Zian. Berdoalah agar kau mati dimakan monster liar sebelum orang-orangku menemukanmu. Karena kalau mereka yang menangkapmu, kau akan memohon untuk segera dimatikan."
"Aku akan menunggu orang-orangmu," balas Zian singkat. Matanya membalas tatapan Tian Ao dengan sorot yang jauh lebih mematikan, seperti iblis yang sedang menatap sepotong daging segar.
Sesaat, Tian Ao merasakan firasat buruk yang aneh merayap di punggungnya saat melihat mata Zian. Tapi dia langsung menepis perasaan itu. Mustahil. Orang ini hanya cacat yang berlagak kuat.
Teng! Teng! Teng!
Suara lonceng raksasa di tengah alun-alun berdentang keras tiga kali. Utusan Kota maju ke tengah arena dan mengangkat bendera merah.
"Waktu pendaftaran ditutup! Gerbang Hutan Hitam resmi dibuka! Kalian punya waktu tiga hari untuk berburu poin dan bertahan hidup! Mulai!" teriak Utusan Kota itu lantang.
Ratusan peserta langsung melesat ke depan, berlomba-lomba masuk ke dalam kegelapan pepohonan raksasa Hutan Hitam. Mereka mengeluarkan energi kultivasi warna-warni, melompat dari pohon ke pohon seperti sekumpulan kera kelaparan.
Zian tidak terburu-buru. Dia berjalan santai, menjadi orang terakhir yang melewati gerbang batu raksasa tersebut. Dia bahkan sempat menoleh ke belakang, memberikan senyum dingin ke arah panggung kehormatan sebelum sosoknya benar-benar tertelan oleh bayangan hutan yang lebat.
Di atas panggung, Tian Ao memberikan isyarat tangan kepada sekelompok pria berpakaian abu-abu yang sudah menunggunya di pinggir arena. Sepuluh pria bertampang bengis itu langsung mengangguk paham dan melesat masuk ke dalam hutan, mengikuti jejak Zian dari belakang.
Suasana di dalam Hutan Hitam sangat berbeda dengan hutan pinggiran yang Zian masuki beberapa hari lalu. Pohon-pohon di sini menjulang tinggi menutupi cahaya matahari. Udaranya lembap dan dipenuhi aroma lumut serta darah busuk. Suara lolongan monster terdengar jauh lebih mengerikan.
Zian berjalan membelah semak belukar setinggi dada. Dia sengaja berjalan lambat. Telinganya yang sangat tajam sudah menangkap suara ranting patah dan gesekan daun dari arah belakangnya sejak lima menit yang lalu.
Mereka sangat bodoh dalam menyembunyikan hawa membunuh.
"Kalian terus mengikutiku seperti lalat buang air," ucap Zian pelan tanpa menghentikan langkahnya. Suaranya menggema di antara pepohonan besar. "Apa kalian mau menungguku tua baru menyerang?"
Srek! Srek! Wush!
Sepuluh sosok berpakaian abu-abu melompat turun dari dahan pohon di sekeliling Zian. Mereka mendarat bersamaan, langsung membentuk formasi kepungan yang rapat. Senjata mereka sudah terhunus, memancarkan berbagai macam aura sihir yang tajam. Mereka semua berada di tingkat Perwira. Ini jelas bukan peserta biasa, melainkan tim pembunuh bayaran elit yang disamarakan menjadi peserta turnamen.
Seorang pria brewok berwajah kasar maju selangkah. Dia memutar kapak bermata duanya dengan santai.
"Telingamu lumayan tajam juga untuk ukuran orang cacat," kata pria brewok itu sambil menyeringai lebar. "Tuan Muda Tian Ao mengirim salam untukmu. Dia berpesan agar kami memotong kedua tangan dan kakimu, lalu membawa tubuhmu yang hidup ke hadapannya."
Kesembilan temannya tertawa puas. Mereka menatap Zian seperti melihat tumpukan uang emas yang siap dipanen.
Zian menghentikan langkahnya. Dia perlahan memutar tubuhnya menghadap pria brewok itu. Tangan Zian masih berada di dalam sakunya. Tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya. Yang ada hanya rasa bosan yang amat sangat.
"Hanya sepuluh orang?" Zian menghela napas panjang, seolah sangat kecewa. Dia menatap pria brewok itu dengan tatapan datar. "Tian Ao benar-benar pelit. Dia mengira nyawanya hanya seharga kalian?"
Tawa kelompok pembunuh itu langsung terhenti. Wajah pria brewok itu memerah karena marah.
"Bocah sombong! Kau benar-benar mencari mati lebih cepat!" teriak pria brewok itu. Energi kultivasi berwarna hijau beracun meledak melapisi kapaknya. "Ayo! Potong kaki kanannya dulu!"
Tiga pembunuh di belakang Zian langsung melesat maju bersamaan, mengayunkan pedang mereka ke arah paha Zian dari titik buta. Kecepatan mereka luar biasa cepat.
Tapi bagi mata Zian yang sudah melewati Kebangkitan Brutal, gerakan mereka terlihat sama lambatnya dengan daun kering yang jatuh ditiup angin sepoi-sepoi.
Zian mengeluarkan tangan kanannya dari saku. Senyum iblisnya perlahan terkembang.
"Baiklah," bisik Zian dengan nada sedingin es abadi. "Mari kita mulai pemanasan turnamen ini."
cuma tinju asal ajaaa