Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kebaikan Keluarga Azura
Setelah ekonomi desa mulai berdiri tegak, Azura tidak lantas berpuas diri. Baginya, kekayaan tanpa keberkahan adalah sia-sia. Siang itu, Azura dan Pak Hadi melangkah menuju sudut terjauh Desa Kenanga. Disana, berdiri sebuah mushola kecil yang kondisinya sangat memprihatinkan. Dinding kayunya nyaris roboh, atapnya bocor dan lantai semenya sudah mulai retak. Inilah satu-satunya tempat anak-anak desa Kenanga belajar mengaji selama puluhan tahun. Di sana juga tempat Azura bersama saudaranya waktu kecil mengaji.
Azura menatap sedih pada anak-anak yang tetap semangat melantunkan ayat suci meski dibawah bayang-bayang bangunan yang tidak layak.
"Bapak tidak ingin melihat anak-anak di desa kita bertaruh nyawa untuk belajar agama. Bapak wakafkan sebidang tanah di tengah pusat desa ini untuk dibangun mesjid yang layak, dan disampingnya ada tempat untuk anak-anak belajar mengaji,"Ucap pak Hadi mantap.
Azura menyambut niat mulia ayahnya dengan tindakan cepat. Ia segera memanggil suami saru yang kini memiliki perusahaan kontraktor profesional untuk memimpin proyek besar ini. " Mas, aku ingin Mesjid ini selesai dalam satu bulan. Kerahkan pekerja sebanyak mungkin,"
Pak Hadi dan Azura Tanpa menunggu lama segera memanggil perangkat desa dengan mengumumkan keputusan besarnya.
Pembangunan pun dikerjakan,dengan puluhan pekerja yang bekerja siang dan malam di bawah pengawasan ketat suami Sari, sebuah keajaiban arsitektur mulai terlihat hanya dalam waktu satu bulan, bangunan yang dulu hanya mimpi berdiri megah. Sebuah Mesjid dengan kubah menawan dan di sampingnya langsung berdiri gedung rumah Tahfidz dua lantai modern dan nyaman.
Tak hanya membangun fisik, Azura juga mengumumkan sesuatu yang membuat para guru mengaji menangis harum
"Mulai bukan ini, saya akan menggaji sepuluh guru yang mengajar disini secara profesional. Masing-masing akan mendapatkan gaji dua juta rupiah per bulan," ucap Azura.
Kini, pusat desa itu selalu riuh oleh suara lantunan ayat suci. Desa Kenanga yang dulu terabaikan kini memiliki mercusuar spritual yang paling indah di Kabupaten.
Di tengah kesibukkan sosialnya, nama Azura mulai menjadi buah bibir di kalangan pengusaha besar di ibu kota. Bukan sebagai Azura si janda desa, melainkan sebagai sosok misterius bernama Azelena. Dunia bisnis sedang gempar oleh tangan dingin seorang konsultan bisnis Azelena. Proposal bisnis buatannya dikenal sebagai "pembuka pintu tender'. Siapa pun yang menggunakan jasanya, hampir dipastikan akan memenangkan proyek besar.
Kilas balik : Pencarian Sahabat Sejati
Beberapa bulan sebelumnya, Azura memutuskan untuk pergi ke kota. Bermodalkan ingatan alamat lama lima tahun lalu, ia ingin mencari orang-orang yang pernah menjadi pelangi di masa kuliahnya.
Tujuan pertamanya adalah sebuah restoran kelas menengah. Di sana, ia tertegun melihat dua wanita berseragam pelayan sedang menunduk. Seorang pelanggan pria berteriak kasar karena supnya dianggap kurang panas.
"Pelayan bodoh! Begini saja tidak becus!" bentak pria itu hampir menyiramkan suk ke arah Nella.
Azura melangkah maju, menahan tangan pria itu dengan tatapan dingin. "Dia pelayan, bukan tempat anda melampiaskan emosi. Jika ingin sup yang panas, silahkan pesan di kawah gunung berapi," ucap Azura tegas.
Pria itu menciut melihat wajah wibawa Azura yang berkelas, lalu pergi dengan menggerutu. Nella dan Dian mendongak, mata mereka membulat sempurna. "A- Azura,"
Azura tidak banyak bicara, ia langsung melepaskan apron yang mereka kenakan. " Ikut aku sekarang pekerjaan ini tidak pantas untuk otak jenius kalian."
Dengan mobil mewahnya, Azura membawa Nella dan Dian menuju pasar tradisional di pinggir kota yang berdebu. Di sana, di antara Deru mesin motor dan asap knalpot, mereka menemukan Rama dan Rizal. Keduanya sedang berteriak mengatur kendaraan, wajah mereka legam terpanggang matahari.
"Rama! Rizal!" panggil Nella.
Saat kedua pria itu menoleh dan melihat Azura mereka terpaku rasa tidak percaya. Azura tersenyum tipis. " Cukup jadi penjaga parkir. Sekarang kalian akan jadi tim elit yang menggoncangkan kota."
Tujuan terakhir mereka adalah rumah Nanda. Sebelum sampai, Azura berhenti di sebuah mini market, memborong sembako, susu bayi dan obat-obatan setelah mendengar cerita Nella dan Dian bahwa suami Nanda sakit akibat kecelakaan, tetapi keluarga suaminya yang kaya membuang mereka.
Mereka tiba di sebuah rumah tua peninggalan orang tua Nanda yang temboknya sudah berlumut. Disana, Nanda sedang membilas tumpukkan baju sambil menggendong bayi yang menangis.
"Nanda.." suara Azura bergetar.
Nanda menoleh, tangannya yang penuh busa sabun gemetar hebat. Ia melap tangannya di baju dasternya dengan menggendong bayinya iya berlari mendekati Azura dan memeluknya. Isak tangis pecah di halaman rumah yang sepi itu
"Ra... Maafkan aku, aku malu kamu melihatku seperti ini," tangis Nanda sesegukkan di bahu Azura.
"Kenapa malu? Kamu berjuang untuk suami dan keluargamu, itu mulia," bisik Azura sambil mengusap punggung sahabatnya.
Di dalam rumah Nanda yang sempit, Rama dan Rizal menurunkan sembako yang dibeli Azura tadi ke dalam rumah Nanda. Dan juga Azura mengeluarkan lima amplop coklat tebal dari tasnya. Ia meletakkan di atas tikar tempat mereka duduk melingkar.
"Ini ada sepuluh juta untuk masing-masing dari kalian," Ucap Azura tenang. "Gunakan untuk biaya hidup dan melunasi hutang kalian sebelum gajian nanti."
Mereka semua ternganga. Sepuluh juta adalah angka yang sangat besar bagi mereka selama ini berjuang mencari seribu rupiah di jalanan.
"Dan untuk suamimu, Nan..." Azura menatap Nanda yang matanya masih sembab. "Mulai besok, Firman akan dipindahkan ke rumah sakit terbaik di kota ini. Semua biaya pengobatan sampai dia sembuh total, aku yang tanggung."
Nanda hampir pingsan mendengarnya, tiba-tiba dari balik tirai kamar yang kusam, terdengar suara lemah namun jernih. "Siapa... Siapa yang mau menanggung biaya saya?"
Seorang pria dengan kaki yang dibalut gips dan wajah pucat mencoba duduk. Itulah Firman meski fisiknya lemah, matanya menyiratkan kecerdasan yang luar biasa.
"Mas, ini Azura ,sahabatku yang aku ceritakan dulu," ujar Nanda menghampiri suaminya.
Azura mendekat. Di samping tidur firman, ia melihat tumpukkan buku alogaritma dan sebuah laptop tua yang layarnya sudah retak. "Nanda bilang Mas Firman ahli IT?"
Firman tersenyum tipis. "Hanya hobby yang tertunda, Mbak. Dulu saya senior developer sebelum kecelakaan ini menghancurkan semuanya."
Azura tersenyum penuh arti. "Sempurna. Perusahaanku butuh sistem ke amanan dan database yang tak tertembus virus. Mas Firman, setelah sembuh ,mas adalah kepala IT di perusahaan ku."
Suasana yang tadinya tegang berubah menjadi penuh harapan. Rasa penasaran yang sedari tadi dipendam Nella akhirnya tumpah.
"Ra.. Selama lima tahun ini kamu ke mana? kamu mencari kabarmu ke mana-mana setelah kamu menikah dengan Dimas."
Senyum Azura perlahan memudar, berganti dengan tatapan kosong yang pedih. Di depan sahabat-sahabat sejatinya, ia akhirnya menumpahkan segala rahasia selama ini ketika menikah dengan Dimas sampai akhirnya iya pulang ke desa. Dan memulai usaha.
Dian yang paling histeris, ia memeluk Azura sambil menangis tersedu-sedu. Membayangkan betapa hancurnya Azura saat itu. Nella dan Nanda pun tak kuasa menahan air mata, sementara Rama dan Rizal mengepalkan tinju geram pada perlakuan Dimas.
"Semua sudah berlalu. Sekarang aku butuh kalian. untuk Nanda, kamu tidak perlu bingung soal anak. Di kantor nanti, aku siapkan ruangan khusus agar kamu bisa bekerja sambil membawa anak-anakmu."
Azura kemudian menatap Nella, Dian, Rama, dan Rizal. "Aku tau kalian masih mengontrak di tempat yang tidak layak, setelah perusahan ini stabil ,aku akan belikan kalian rumah di dekat kantor. "
Kini, tim elit itu telah bersatu dibawah naungan Azelena.Tak hanya itu, kesuksesan novel-novel yang ia tulis secara anonim pun meledak. Empat dari novelnya telah dikontrak oleh rumah produksi besar untuk diangkat ke layar lebar.
Azura sekarang berada di puncak kejayaan yang sesungguhnya. Ia telah membangun tiga desa tertinggal menjadi desa mandiri dan makmur.
Ia tahu, namanya kini sedang dicari-cari. Nama Azelena adalah magnet bagi para pengusaha, termasuk orang yang pernah membuangnya.
"Waktunya hampir tiba,"guma Azura sambil menutup laptopnya. "Saat namaku bergema di ibu kota, saat itulah kehancuranmy dimulai, Dimas."