Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangat
Semenjak hari itu, setelah keadaannya lebih membaik, sikap Serra sedikit demi sedikit mulai berubah. Tidak seperti biasanya, gadis itu bersikap lebih lembut dan perhatian. Ia jadi lebih sering berada di ruangan yang sama, duduk berdekatan meski tidak berbicara, sampai menatap Ethan lebih lama dari biasanya, seolah sedang menghafal sesuatu.
Ethan tentu menyadari perubahan sikapnya, namun alih-alih bertanya, ia justru menjadi lebih berhati-hati. Keraguan masih tertinggal di dadanya sejak malam dimana Serra pulang dengan luka tembak dan tidak mengatakan apa pun. Ia tidak memaksa maupun menuntut penjelasan. Sikapnya tetap responsif seperti biasa.
Malam itu, apartemen mereka terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara televisi yang menyala pelan, sementara cahaya remang dari bias lampu dapur menyelimuti ruang tamu. Keduanya tampak duduk bersama tanpa bersuara. Mereka menonton layar yang sama, tapi tidak benar-benar fokus pada isi tayangannya.
Pemilik netra hijau itu terus menatap ke arah Ethan. Tangannya yang semula bertumpu di paha perlahan bergerak. Sempat merasa ragu, namun akhirnya berhasil menyentuh punggung tangan Ethan. Sentuhan kecil itu membuat Ethan sedikit menoleh, "Hmm?."
Serra sudah memutuskan untuk memberanikan diri. Ia mulai memutar tubuh, menghadap Ethan sepenuhnya. Menatap lembut wajah yang tak akan pernah ia lupakan. "Aku ingin ini," ujarnya mengusap pelan bibir lembap sang kekasih.
Ethan tidak menjauh, ia hanya mengangguk pelan, membiarkan Serra mendekat dengan ritme yang ditentukannya sendiri. Ciuman mereka dimulai secara perlahan dan terkontrol. Ethan menyesuaikan apa yang kekasihnya inginkan.
Napas mereka mulai bercampur, beriringan dengan detak jantung keduanya yang terasa semakin cepat. Namun kali ini setiap momen terasa seperti hitungan mundur.
Cup~
Ciuman itu terputus dengan sendirinya ketika tangan Serra tanpa sadar menyentuh kerah kaos Ethan. Jemarinya berhenti di sana lalu perlahan mulai turun mengikuti lekukan dibaliknya.
Ethan merasakan sensasi lain dari sentuhan tersebut, rahangnya tampak mengeras, dengan kedua tangan mulai menekan pinggang Serra. Tatapan kedua netra cokelat itu seakan memastikan sesuatu. Serra menunduk sesaat, lalu menarik napas perlahan tapi dalam. Ia mulai menyentuh ujung pakaiannya, lalu mengangkat dengan perlahan. Terkesan seperti seseorang yang sedang melepas lapisan pelindung terakhirnya.
Dan saat kain itu mulai bergeser keatas, Ethan membeku. Ini adalah kali pertama ia melihat dengan sangat jelas, tubuh seorang gadis yang memiliki banyak bekas luka. Jejak luka yang tidak mungkin dimiliki seseorang dengan kehidupan normal.
Sejenak Ethan mengamati, "apa boleh?," tanyanya lirih. Serra tertegun sejenak, lalu mengangguk.
Hingga akhirnya Ethan mulai menyentuh setiap jejak luka dengan lembut, lalu mengecupnya.
Sentuhan itu tidak terasa liar, justru terlalu penuh kasih sayang, membuat dada Serra semakin sesak.
Di sela itu, Serra mulai memperhatikan setiap detail bentuk tubuh Ethan yang semakin membuatnya tertarik. Berbagai jenis latihan yang selama ini ia berikan telah membuahkan hasil yang sepadan. Serra mendorong pelan, lalu beranjak seraya memberi kode untuk tetap mengikutinya. Ethan membopong tubuh kekasihnya, dan kini mereka sudah berada di ranjang yang sama.
"Kau semakin kuat," bisik Serra.
Ethan berkedip, sedikit mengalihkan pandangan.
Entah mengapa, pujian itu membuatnya semakin gugup. Karena dibandingkan tubuhnya sendiri, tubuh Serra menyimpan cerita yang jauh lebih berat. Ia menyentuh kembali bekas luka tembak di lengan kiri Serra dengan perlahan. "Masih sakit?," tanyanya refleks. Serra menggeleng pelan, sejenak hening mengisi ruangan. Ethan menghela napas, "syukurlah", ujarnya lembut.
Serra semakin menahan sesak, bahkan di momen seperti ini, Ethan masih tetap sama. Tidak ada keserakahan yang pemuda itu tunjukkan. Ia mulai menyentuh kedua sisi wajah Ethan, menariknya ke dalam ciuman yang lebih intens. "Lakukan," bisik nya.
Setelah itu, kedekatan mereka kembali mengalir, dengan gerakan yang masih saling menyesuaikan, tanpa adanya pengalaman. Terkadang berhenti hanya untuk menarik napas atau saling menatap lebih lama dari seharusnya, seolah memastikan bahwa semua ini nyata.
Ethan bergerak dengan perlahan, setiap sentuhannya penuh kehati-hatian, seolah takut melukai Serra yang sebenarnya jauh lebih kuat darinya. Namun kelembutan itu yang membuat Serra semakin hancur dari dalam. Karena ia tahu, semakin hangat Ethan bersikap maka semakin kejam rencana yang akan ia jalankan.
Di sela kedekatan itu, Ethan beberapa kali menatap wajah kekasihnya, seraya mengusap genangan air di kedua sudut mata sang kekasih yang entah mengapa tak berhenti menetes. Ia tidak bertanya, tapi cukup mengerti jika hal yang sedang mereka lakukan memang terasa sakit pada awalnya. Serra yang biasanya selalu terkontrol, malam itu benar-benar membiarkan dirinya tenggelam.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak memikirkan misi, target, atau strategi. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Ethan. Suara deru napasnya, tatapan lembut, hangat suhu tubuhnya, detak jantung yang terdengar jelas saat mereka begitu dekat. Terasa indah namun begitu menyakitkan.
Mereka masih melanjutkannya dengan perlahan namun pasti, rasa sakit yang sedari awal keduanya rasakan, perlahan memudar tergantikan dengan kenikmatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Mmmh.." Serra melenguh, seraya menekan jemari tangannya yang sedari tadi berada di bagian belakang punggung dan bahu Ethan.
"Hhh.. hhh.."
Ethan secara refleks merapikan rambut Serra yang sedikit berantakan. Gerakannya lembut seperti biasa, "lelah?," tanyanya lirih. Serra tersenyum tipis, "mm.. sedikit."
Posisi keduanya telah berubah, Serra mulai bersandar pada dada Ethan. Mendengar suara detak jantung itu sekali lagi. Ethan memejamkan mata sejenak, lengannya secara alami melingkar melindungi Serra. Ia menyadari jika perasaannya semakin dalam dan lebih jelas dari sebelumnya.
Sementara di sisi lain, Serra membuka matanya dalam diam, tatapannya kosong sesaat. Malam itu, ia menikmati setiap detik kedekatan serta kehangatan mereka dengan sepenuh hati. Namun di balik kehangatan itu, retakan dalam hatinya semakin dalam, bahkan sulit untuk diperbaiki.