Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGGUNG JAWAB
Subuh masih sekitar dua jam lagi, namun Deya memilih untuk bangun lebih awal. Di lihatnya notif dari Rico. Enggan sekali meski hanya untuk sekedar membaca, kemudian di pangkasnya benda pipih itu hingga terpelanting dari atas tempat tidur.
Dinginnya air kran tak menyurutkan niat untuk bersimpuh, di gelarnya alas untuk bersujud, di kenakannya telekung, dan mulai larut dalam bacaannya. Khusyuk nya dalam membaca setiap untaian kalimat Allah hingga tak di sadari air mata menetes kembali di pipinya.
Di ceritakannya tentang semua yang terjadi, semua hal yang membuatnya bingung, sedih, kecewa, marah, hingga tak sanggup untuk berbuat apa-apa lagi. Ia begitu kalut, tak tahu harus mengambil keputusan. Ia memilih untuk berserah diri dan meminta yang terbaik.
Hingga saat wajahnya sudah banjir dengan air mata, ia memilih berbaring di atas sajadah tanpa berucap apapun lagi. Tak berapa lama kemudian, dia kembali terlelap dengan sisa air mata yang masih membekas di pipinya.
***
Pagi itu, sarapan di penuhi dengan keheningan. Tak ada pertanyaan dari Samsu juga Deya yang seperti enggan untuk membuka percakapan. Ia hanya membiarkan dentingan sendok yang beradu dengan piring sebagai pengganti suaranya.
Saat mereka masih larut dalam pikiran masing-masing, suara salam seseorang memecah keheningan. Belum sempat melihat siapa yang bertamu sepagi itu, namun mata Deya sudah berputar dengan malas. Ia sudah tau siapa tamu yang masih menunggu untuk di persilahkan masuk itu.
“Nak Rico.” Sapa Samsu dengan antusias. “Ayo masuk.” Lanjutnya lagi.
Rico hanya mengangguk dan melangkahkan kakinya masuk ke rumah yang beberapa bulan terakhr ini sering di kunjungi.
“Ayo sarapan.” Tawar Kia dengan basa basi sambil mengambil beberapa tumpukkan piring.
“Sudah bu.” Tolak Rico halus. “Saya mau jemput Deya. Saya kirim pesan tidak di baca.” Jelasnya kembali sambil menatap punggung perempuan yang menoleh padanya saja begitu enggan.
Sambil menunggu Deya sarapan, Rico memilih untuk berbincang-bincang ringan dengan Samsu. Sesekali obrolan itu terdengar gelak tawa, yang semakin membuat hati Deya teriris. Bagaimana bisa mereka tertawa sedangkan sepagi ini saja Deya sudah ingin menangis ? Setelah sarapan, Deya melangkahkan kaki menuju teras rumah dan bersiap-siap berangkat kerja.
“Aku antar De.” Tawar Rico yang menyusul Deya ke depan rumah.
Tatapan tajam nan penuh kebencian, Deya layangkan. “Tidak perlu, aku tak memintanya.” Jawabnya ketus.
“Aku menawarkan.” Perjelas Rico kembali.
“Tidak perlu, kau tak perlu repot-repot datang ke rumah ini sepagi ini untuk mengantarkan ku. Apalagi alasan mu hanya karena aku tak membalas pesan mu. Apa ada keharusan aku harus membalas pesan mu ? Tidak kan.” Ketus Deya dengan panjang lebar.
“Iya, memang tidak ada, tapi aku penyebabnya kan kamu menjadi seperti ini ?” Tanya laki-laki itu kembali.
“Jika kamu sudah tau, untuk apa bertanya lagi.”
“Karena itu De, ijinkan aku bertanggung jawab dengan semuanya.” Timpal Rico yang tak kalah serius.
Deya hanya tersenyum sinis, sesaat kemudian tatapannya kembali menajam. “Jika ingin bertanggung jawab dengan ini semua. Batalkan pernikahan ini, maka itu aku anggap tanggung jawab penuh yang kamu berikan pada ku.” Cebik Deya dengan mata Elangnya. “Jika kamu tidak bisa, maka menyingkirlah dari hadapanku sekarang, sebelum aku terlambat ke kantor dan membuatku semakin membenci mu.” Tambahnya lagi sesaat setelah melihat ekspresi Rico yang di yakini bahwa tak mungkin untuk membatalkan pernikahan itu.
Sedari mereka berdebat di halaman depan, Samsu sudah tak tahan untuk menengahi mereka. Akan tetapi Kia menahan lengan Samsu dan memberikan kesempatan pada Rico dan Deya berbincang tanpa orang lain.
Pagi ini, Rico kembali ke rumahnya dengan keadaan hati yang bimbang. Laki-laki itu menepi di salah satu taman kota. Di lihatnya orang-orang yang berlalu lalang dengan riang gembira, sementara ia hanya murung sepagi ini.
Ingatan membawanya untuk mengingat percakapan semalam dengan kedua orang tuanya setelah dari rumah Deya.
“Abang, abang yakin menikahi Deya ?” Ani membuka percakapan di tengah langkah kaki Rico untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
“Kenapa ibu bertanya seperti itu ?” Handoko lah yang kembali bertanya pada sang istri.
“Ibu takut dia tidak bisa menerima abang dengan baik. ibu takut dia hanya terpaksa menerima abang karena desakan kedua orang tuanya.” Papar Ani yang mendudukkan dirinya di sofa ruang televisi.
Rico memilih untuk menuju kedua orang tuanya berada. “Bu, abang nggak paham maksud ibu. Bukannya ibu lihat sendiri Deya bagaimana orangnya. Sakit pun dia yang menemani abang.” Jelas Rico yang berusaha menenangkan sang ibu.
“Iya bu, dia gadis yang baik bu. Dia pasti bisa menerima abang dan menjadi pendamping untuk abang.” Handoko pun ikut menenangkan sang istri.
“Tapi bukankah lamaran sebelumnya dia menolak abang, ibu takut dia terpaksa menerima lamaran abang. Apalagi tadi, bukan dia kan yang menjawabnya. Melainkan pak Samsu, itu ayahnya bukan dia.” Jelas Ani kembali.
“Bu, ijinkan abang memperjuangkan apa yang telah abang mulai, menikahi Deya adalah salah satu Impian abang dari kecil.” Imbuh Rico dan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kedua orang tuanya.
“Abaang.” Pekik Ani yang menatap ke arah langkah kaki Rico.
Genggaman tangan Handoko mampu menenangkan sang istri. “Bu, baik buruknya itu adalah pilihannya. Kita tidak berhak menghakimi atau bahkan tak memberi ruang padanya untuk menentukan pilihan.” Mantap Handoko sembari menatap mata sang istri yang telah berkaca-kaca. “Ayah tau, ibu kurang setuju dengan Deya karena kesan pertama kali ibu melihatnya. Tapi lihat putra sulung mu yang begitu buta akan cintanya pada Deya.” Tambah Handoko dan membawa sang istri dalam pelukannya.
Dengan jelas Rico mendengar ucapan sang ayah yang begitu mendukungnya dalam setiap keputusan yang diambil. Senyum singkat menggulir di bibir Rico, mungkin malam ini dia akan tidur dengan nyenyak.
“Mas, maaas. Ini pesanannya.” Tegur seorang bapak penjual bubur Ayam yang di pesannya tadi.
“Eh, iya pak. Terima kasih.” Kaget Rico dan menerima semangkuk bubur Ayam yang masih mengepulkan asap.
“Mas mikirin apa ? Mas nggak punya uang buat bayar ini.” Terka bapak penjual bubur itu. “ Kalau benar, mas nggak perlu risau, saya ikhlaskan buat mas.” Tambahnya lagi dan meninggalkan Rico yang masih dalam keadaan bingung.
Sedetik kemudian, Rico sibuk menikmati semangkuk bubur Ayam tanpa di sadari ada dua pasang mata yang sedang menatapnya dari kejauhan. Keduanya memandang Rico dengan tajam, seolah ingin sekali menerkam.
“Sudah sembuh ternyata dia.” Ucap salah seorang dari keduanya.
“Apa kita saja yang membuat dia masuk rumah sakit untuk selanjutnya.” Ide seorang lainnya lagi.
“Boleh juga.”
Kedunya langsung meningalkan tempat duduknya dengan mata yang masih mengawasi Rico, akan tetapi laki-laki yang sibuk dengan kunyahannya itu tak melihat ke sekitar sama sekali.