Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: INFILTRASI DI ANTARA CAHAYA
Gedung Lumina Corp menjulang seperti pedang kaca yang menusuk jantung ibu kota. Malam ini, gedung itu berpendar dengan lampu sorot biru dan putih yang menyilaukan—warna-warna yang bagi Kai terasa sangat dingin dan asing. Di depan lobi, mobil-mobil mewah berderet, menurunkan tamu-tamu dengan gaun dan setelan yang harganya mungkin setara dengan seluruh blok apartemen Kai di Oakhaven.
Kai berdiri di seberang jalan, mengenakan seragam teknisi biru tua yang kedodoran. Topi kerjanya ditarik rendah, menyembunyikan matanya yang lelah namun waspada. Di tangannya, ia menjinjing kotak peralatan logam yang berat. Isinya bukan kunci inggris atau obeng, melainkan perangkat pemancar data dan gulungan kabel yang telah ia modifikasi bersama Sarah.
"Ingat, Kai," suara Sarah berbisik melalui earpiece kecil di telinganya. "Kau punya waktu sepuluh menit sebelum sistem keamanan melakukan pemindaian biometrik rutin pada semua staf teknis. Kau harus sudah berada di ruang server pusat sebelum itu."
Kai menarik napas dalam-dalam. "Aku mengerti. Aku masuk sekarang."
Ia berjalan menuju pintu masuk staf di bagian samping gedung. Penjaga di sana hanya melirik sekilas ke arah kartu identitas palsu yang dibuat Sarah—sebuah replika sempurna yang hanya bisa dibuat oleh orang dalam. Bunyi *beep* pelan dari pemindai kartu terasa seperti detak jantung yang melompat. Pintu terbuka.
Di dalam, atmosfer berubah total. Bau parfum mahal berganti dengan bau ozon dari mesin pendingin udara dan aroma pembersih lantai yang tajam. Kai berjalan dengan langkah yang diatur agar tidak terlalu terburu-buru. Ia menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengan staf keamanan berseragam hitam.
Ia menaiki lift barang menuju lantai 45, tempat ruang kendali audio-visual berada. Lift itu bergerak dengan kecepatan yang membuat telinganya berdenging. Di dalam pantulan pintu lift yang mengkilap, Kai melihat dirinya sendiri. Ia tidak mengenali pria itu. Pria di cermin itu memiliki rahang yang mengeras dan tatapan yang tajam, jauh berbeda dengan Kai yang tiga tahun lalu hanya bisa meringkuk di bawah salju.
*Ting.*
Pintu terbuka di lantai 45. Lorong di sini jauh lebih sepi. Karpetnya tebal, meredam suara langkah kaki Kai. Ia menuju pintu dengan tulisan 'AV CONTROL ROOM'. Sesuai rencana, Sarah telah meretas kunci elektronik pintu itu dari jarak jauh.
Pintu bergeser terbuka. Ruangan itu dipenuhi dengan monitor raksasa yang menampilkan sudut-sudut aula utama di lantai bawah. Di sana, Kai bisa melihat Yudha. Pria itu berdiri di tengah kerumunan, memegang segelas sampanye, tertawa seolah-olah dunia berada di bawah telapak kakinya.
"Aku sudah di posisi," bisik Kai ke mikrofon kecilnya.
"Bagus. Cari kabel serat optik utama yang terhubung ke proyektor pusat. Kau harus menghubungkan unit enkripsi kita di sana agar mereka tidak bisa memutus sinyalnya secara manual dari panggung," instruksi Sarah.
Kai berjongkok di bawah meja konsol yang rumit. Di tengah kegelapan di bawah meja, ia melihat ribuan kabel yang menjalar seperti urat saraf. Bagi orang biasa, ini adalah kekacauan. Bagi Kai, ini adalah komposisi garis. Ia mencari kabel dengan label merah—warna yang ia identifikasi berdasarkan intensitas kegelapan dan posisinya di skema yang ia pelajari.
Tangannya gemetar saat ia mulai memotong pelapis kabel. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar ruangan.
Kai mematikan senter kecilnya. Ia menahan napas, meringkuk di balik rak server yang panas. Pintu terbuka. Dua orang staf keamanan masuk, berbicara tentang jadwal pergantian shift.
"Kau dengar tentang pelukis gila yang dicari Yudha?" tanya salah satu penjaga.
"Ya. Katanya dia berbahaya. Tapi aku tidak mengerti kenapa kita harus memperketat keamanan di sini hanya karena satu orang cacat warna," sahut yang lain sambil tertawa.
Kai memejamkan matanya. Amarahnya memuncak, namun ia menahannya. Ia teringat kata-kata Elara: *Jangan biarkan amarahmu membakar warna yang baru saja kau temukan.* Ia menarik napas perlahan, menenangkan detak jantungnya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, para penjaga itu pergi. Kai segera kembali bekerja. Ia menyambungkan perangkatnya, jari-jarinya bergerak cepat seperti saat ia sedang membuat sketsa arang.
*Klik.*
Lampu indikator di perangkatnya berubah menjadi hijau. "Selesai, Sarah. Sinyal terkunci."
"Kerja bagus, Kai. Sekarang lari dari sana. Acara utama akan dimulai dalam lima menit. Jika kau tertangkap di dalam ruangan itu saat data kita muncul, kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup."
Kai berdiri, namun matanya terpaku pada salah satu monitor. Yudha baru saja naik ke podium. Tepuk tangan membahana di seluruh aula. Cahaya lampu sorot mengikuti setiap gerakannya. Yudha mulai berbicara tentang "Inovasi, Integritas, dan Warisan"—kata-kata yang terdengar seperti penghinaan di telinga Kai.
Kai tidak lari ke lift barang. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menolak untuk pergi secara sembunyi-sembunyi. Ia ingin melihat kehancuran Yudha dengan matanya sendiri.
Ia keluar dari ruang kontrol dan menuju balkon observasi di lantai 46 yang menghadap langsung ke aula utama. Dari sana, ia bisa melihat semuanya tanpa terlihat.
"Hadirin sekalian," suara Yudha menggema melalui pengeras suara kelas dunia. "Malam ini, kita tidak hanya merayakan ulang tahun perusahaan, tapi juga peluncuran visi masa depan kita: Proyek Lumina. Sebuah karya yang akan mengubah wajah arsitektur dunia."
Yudha menekan tombol di remot kontrolnya. Layar raksasa di belakangnya mulai menampilkan desain bangunan yang megah. Desain milik ayah Kai.
"Inilah saatnya, Sarah. Sekarang!" perintah Kai.
Tiba-tiba, layar itu berkedip. Gambar bangunan yang indah itu mulai terdistorsi. Garis-garis arsitekturnya berubah menjadi aliran data yang merah membara. Suara musik latar yang elegan berganti dengan rekaman suara yang serak dan penuh tekanan.
*“Kau tidak punya pilihan, Malik. Tandatangani dokumen ini atau proyekmu akan hancur bersama keluargamu.”*
Itu suara Yudha. Suara dari rekaman tiga tahun lalu.
Seluruh aula mendadak sunyi senyap. Wajah Yudha yang tadinya penuh kemenangan berubah menjadi pucat pasi. Ia mencoba menekan tombol di remotnya berkali-kali, namun layar itu tidak berubah.
Gambar di layar kini menampilkan dokumen asli yang telah diarsir Kai—menunjukkan dengan jelas jejak transfer dana gelap dan manipulasi pajak. Di atas dokumen itu, muncul sketsa arang wajah ayah Kai yang sedang menatap tajam ke arah penonton.
"Apa ini?! Matikan! Matikan sekarang!" teriak Yudha ke arah kru teknis.
Namun kru di ruang kontrol sudah terkunci dari sistem oleh Sarah. Data itu terus mengalir, menyiarkan kejahatan Yudha ke seluruh investor dan media yang hadir secara langsung, bahkan secara *streaming* ke publik.
Dari balkon, Kai menatap Yudha. Untuk pertama kalinya, ia melihat warna merah yang murni. Bukan merah peringatan, bukan merah darah, tapi merah kemenangan yang membara. Merah itu muncul di wajah Yudha yang kini dipenuhi amarah dan ketakutan.
Yudha mendongak, matanya mencari-cari di kegelapan balkon observasi. Dan untuk sesaat, mata mereka bertemu. Yudha tahu itu Kai.
"Tangkap dia! Di atas sana!" Yudha menunjuk ke arah Kai.
Kai tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik dan berlari menuju tangga darurat. Di belakangnya, ia mendengar suara gaduh kursi-kursi yang bergeser dan teriakan kepanikan. Ia telah melepaskan bomnya, dan sekarang ia harus bertahan hidup dari ledakannya.
Ia menuruni anak tangga dengan kecepatan gila, melompati lima anak tangga sekaligus. Pikirannya hanya terfuju pada satu hal: ibunya. Ia harus sampai ke rumah sakit sebelum Yudha memerintahkan anak buahnya untuk melakukan sesuatu yang nekat.
Saat ia sampai di lantai dasar, ia melihat beberapa mobil polisi mulai berdatangan ke depan gedung. Kekacauan itu adalah celahnya. Kai menyelinap keluar melalui ventilasi udara di lantai basement, merangkak di antara pipa-pipa panas hingga ia keluar ke gang sempit yang gelap.
Ia berlari menembus hujan yang tiba-tiba turun di ibu kota. Air hujan itu terasa hangat di wajahnya. Ia mengeluarkan ponselnya.
"Sarah! Bagaimana dengan Ibu?!" teriaknya sambil berlari.
"Tim medis independen yang kusewa sudah masuk ke Paviliun Kristal saat kekacauan di gedung Lumina pecah. Mereka sudah membawa ibumu keluar, Kai! Dia aman. Mereka menuju titik pertemuan di pinggiran kota."
Kai berhenti berlari sejenak. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding bata yang basah. Ia menangis tersedu-sedu, namun kali ini air matanya tidak terasa pahit. Ia telah melakukannya. Ia telah membersihkan nama ayahnya, menyelamatkan ibunya, dan menghancurkan pria yang mencuri warnanya.
Namun, saat ia hendak melangkah pergi, sebuah bayangan muncul di ujung gang.
Yudha berdiri di sana. Mantelnya berantakan, napasnya tersengal, dan tangannya memegang pistol yang diarahkan tepat ke jantung Kai. Pria itu telah melarikan diri dari gedung sebelum polisi menangkapnya.
"Kau pikir kau menang, Kai?" suara Yudha bergetar karena amarah yang tak terkendali. "Kau menghancurkan segalanya. Sekarang, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat satu warna pun lagi."
Kai menatap laras pistol itu. Ia tidak takut. Ia meraba kunci perak Elara di sakunya, lalu menatap langit malam yang basah.
"Kau salah, Yudha," ucap Kai dengan suara yang tenang. "Aku sudah melihat semuanya. Dan dunia yang kau bangun di atas kebohongan itu... tidak akan pernah bisa melukis di atas kebenaran."
*DOR!*
Suara tembakan meledak di gang sempit itu, memecah kesunyian malam ibu kota yang dingin.