Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Raja
Pada waktu yang sama dengan perjalanan pulang rombongan Rhea dan putra mahkota, istana raja berada dalam kondisi panas.
Duduk di sofa tunggal di ruang kerjanya, Raja Norman Romanov —ayah Putra Mahkota Azz tengah dilanda amarah besar.
Sama-sama memiliki rambut hitam dan mata ungu murni, kerutan di alisnya tak sedikit pun mengurangi ketampanan bawaannya. Justru sebaliknya, hal itu membuat auranya dipenuhi tekanan yang kuat, melambangkan kuasanya atas hidup dan mati banyak orang.
“Aku ulangi pertanyaanku.” Ia membuka mulutnya lebar. “Di mana putraku sekarang, Kepala Pelayan Collin?!”
Nada marahnya bercampur antara frustrasi, cemas, dan khawatir. Sebagai seorang raja yang sangat menyayangi keluarganya, Norman sangat sensitif jika menyangkut anak-anak dan istrinya.
Karena itulah, kabar bahwa putra mahkota keluar dari istana tanpa izin membuat suasana pagi di ruang kerjanya yang biasanya nyaman berubah seperti terkena ledakan.
“Mo–mohon maaf, Yang Mulia. Pelayan ini tidak mengetahui secara pasti ke mana Putra Mahkota pergi kemarin,” jawab kepala pelayan tua istana Rosemaline dengan gugup.
Kepalanya menunduk dalam. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Pu–Putra Mahkota pergi bersama Nyonya Celeste, jadi Anda tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya, Yang Mulia.”
“Justru karena itu aku cemas!” Raja Norman memijat pelipisnya sambil menghela napas. “Celeste baru saja sembuh dari sakitnya—tidak, dia bahkan belum benar-benar sembuh dan masih cuti!”
Meneguk tehnya untuk menenangkan diri, Raja Norman kembali bertanya dengan suara lebih rendah.
“Katakan padaku, siapa yang memberi ide untuk keluar? Putraku yang nakal, atau gadis keras kepala itu?”
Kepala pelayan hanya menunduk lebih dalam mendengar pertanyaan sang raja. Ia tidak memiliki kuasa untuk menjawab pertanyaan yang mungkin akan menjadi dasar hukuman bagi keduanya.
“Jawab pertanyaanku, Kepala Pelayan! Aku tahu kau mengetahui jawabannya!” Raja berdiri dari tempat duduknya dan memukul meja.
“It–it—”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Hal itu seketika mengalihkan fokus keduanya. Secara bersamaan mereka menoleh. Kepala pelayan buru-buru membukakan pintu sebelum raja sempat memerintahkannya.
Pintu terbuka, dan dua orang masuk ke dalam dengan kepala tertunduk.
Kepala hitam dan kepala putih, kecil dan besar. Tanpa menatap ke atas, keduanya menghampiri sisi tempat Raja Norman berdiri dan bersilang lengan.
Kepala putih—alias Rhea—mendongak lebih dahulu dan menatap sang raja. Ia membungkuk sedikit, lalu mengangkat jari tengah dan telunjuknya di tengah alis seraya memberi salam.
“Semoga Arcana selalu menyertaimu dalam suka maupun duka!” serunya dengan hormat.
Raja tidak membalas salam itu, hanya menatapnya dengan mata ungunya yang dalam. Setelah beberapa detik, ia menoleh ke samping, ke arah Putra Mahkota Azz yang masih menunduk.
“Putra Mahkota, mengapa Anda masih menunduk?” tanyanya dengan penekanan.
Putra mahkota mengangkat pandangannya dan menatap balik mata ungu Raja Norman. Keduanya saling bertatapan sebelum salah satu membuang muka.
Raja kembali duduk di sofa tunggalnya dan mengisyaratkan keduanya untuk duduk.
“Melihat kalian berdua berinisiatif datang ke sini tanpa perintah, berarti kalian menyadari bahwa perilaku kalian sendiri keliru.”
Rhea dan Putra Mahkota duduk berdampingan di sofa seberangnya. Melihat betapa dekatnya hubungan keduanya, sudut bibir raja berkedut antara senang, lega, atau jengkel.
Kepala pelayan tua menyiapkan dua cangkir teh baru dan beberapa kue kesukaan ketiganya, lalu berdiri tegak setelah selesai.
Ia berniat membuat diskusi itu terasa nyaman agar, sebagai salah satu “antek” Putra Mahkota, dirinya selamat dari hukuman.
Setelah menghabiskan secangkir teh untuk melegakan tenggorokannya yang kering, Raja membuka suara lebih dulu.
“Sekarang, kalian bisa menjelaskan alasan keluar dari istana tanpa izinku kemarin.”
Sambil mengelus kucing putih di lengannya, Rhea menjawab dengan tenang.
“Maafkan saya, Yang Mulia. Kejadian ini semata-mata akibat keputusan saya yang impulsif,” ucapnya hati-hati, tanpa terlihat terlalu bersalah, tetapi tetap rendah hati.
“Kemarin, Putra Mahkota menunjukkan perkembangan dalam penggabungan sihir pedangnya. Namun, ia belum berani menggunakannya karena belum mengetahui seberapa besar daya rusak serangannya.”
Rhea menghentikan ucapannya sesaat sambil mengamati ekspresi wajah Raja Norman. Sang raja tidak menunjukkan perubahan sikap, hanya mendengarkan seperti hakim yang patuh.
“Karena itu, saya mengusulkan untuk mencari tempat latihan di luar istana.”
Dia melanjutkan, “Lagipula, karena saya masih cuti, perjalanan singkat ke luar seharusnya tidak menjadi masalah. Benar, bukan, Yang Mulia?”
Itulah seluruh pernyataan yang berhasil Rhea susun setelah berdiskusi dengan Putra Mahkota. Ia mencubit lengan Azz diam-diam, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
“Ini sebenarnya salahku, Ayah,” ujar Azz. “Guru tidak berniat buruk dan hanya ingin membantu. Akulah yang tidak sabar dan terlalu sombong. Seharusnya latihan di istana sudah lebih dari cukup untuk menguji kekuatanku.”
“Tidak, Yang Mulia. Ini salah saya karena memengaruhi Putra Mahkota,” sela Rhea. “Sebagai gurunya, saya bertindak sewenang-wenang dan menekannya terlalu keras.”
“Guru tidak salah. Ini sepenuhnya kesalahanku.”
“Tidak, Yang Mulia. Saya yang menyesatkan murid sebagai guru.”
“Ini salahku—”
Percakapan saling menyalahkan antara Rhea dan Azz akhirnya membuat kepala raja pening. Ia mengangkat tangan kanannya dan berdehem.
“Cukup.”
Rhea dan Azz menutup mulut mereka, memasang ekspresi bersalah dan patuh secara bersamaan. Tanpa diketahui sang raja, keduanya diam-diam bertepuk tangan di belakang.
Sang raja, yang tidak mengetahui rahasia antara murid dan guru tersebut, memijat keningnya sambil berpura-pura marah.
“Aku tidak perlu tahu siapa yang lebih dominan dalam rencana ini—kalian berdua bersalah!”
Rhea dan Azz mengangguk, seolah menyetujui keputusan raja dengan lapang dada.
“Tetapi—” Raja Norman pura-pura terbatuk, dan kepala pelayan menuangkan teh ke dalam cangkirnya yang kosong.
“Kali ini aku membebaskan kalian berdua,” katanya sambil memegang cangkir teh.
“Celeste,” panggil Raja Norman.
“Iya, Yang Mulia.” Rhea menegakkan punggungnya.
“Aku menegurmu karena kau masih belum pulih, bukan bermaksud lain. Namun, senang rasanya melihat kalian berdua menjadi dekat karena kejadian ini.”
Rhea tersenyum tipis, lalu menatap Raja Norman dan mengucapkan terima kasih.
“Dan untuk putraku tercinta…”
“Selamat atas kemajuanmu. Tak kusangka omong kosongmu ingin menjadi mage dan ksatria secara bersamaan benar-benar membuahkan hasil.”
“Aku senang memiliki penerus yang begitu pintar. Namun, yang tidak kusukai adalah kau terlalu memaksakan diri. Ingat identitasmu sebagai pangeran dan mintalah izin apabila hendak keluar istana lain kali.”
Putra Mahkota Azz menunduk sedikit seraya menjawab dengan tegas, “Terima kasih Ayah. Aku akan mengingat nasihat itu.”
Aroma ketegangan perlahan memudar. Sambil dengan sopan menikmati kue di atas meja, ketiganya berbincang santai tentang masalah kehidupan sehari-hari.
Kepala pelayan tua menyeka keringat dinginnya melihat pemandangan itu. Seperti yang diharapkan dari Raja Norman, ia terlalu lembut untuk menjadi seorang pemimpin.
Sebagai orang yang menyadari sandiwara antara murid dan guru tersebut, kepala pelayan merasa Raja Norman tampak begitu menyedihkan karena memiliki Putra Mahkota Azz sebagai anaknya.
Jarum jam berputar cepat. Ketika waktu menunjukkan tengah hari, akhirnya Raja Norman menyuruh keduanya pergi.
Setelah punggung Azz dan Rhea menghilang dari pandangan, Raja Norman tertawa kecil.
“Mereka sekarang sangat akrab, bukan?” Senyumannya tak bisa berhenti, malah semakin mengembang.
“Anda terlihat bahagia, Yang Mulia,” balas kepala pelayan tua dengan canggung.
“Tentu saja aku bahagia,” ujarnya sambil mendengus. “Kerajaan kita sudah lama tidak memiliki seorang arcmage yang berpihak pada kita. Para raja yang seharusnya memiliki lingkaran tinggi justru terstagnasi pada lingkaran rendah.”
Raja Norman berjalan ke dinding dan menatap sebuah foto keluarga. Dirinya, sang ratu yang menggendong bayi, serta putri kecil mereka. Tatapannya melembut.
“Aku, sebagai Raja Romanov, sebenarnya sudah berusaha dengan segala cara, tetapi hanya mampu berada di level ini,” ucapnya sambil menghela napas panjang.
“Kerajaan ini sudah terlalu lama berada di posisi paling bawah tangga kekaisaran.” Ia menyentuh foto itu dan mengelusnya penuh kasih.
“Mungkin putraku, Azz, dapat memecahkan masalah turunan ini ketika ia naik takhta.”
Kemudian ia berbalik dan tertawa lebar.
“Dan seorang arcmage muda jenius seperti Rhea Celeste harus berada di sampingnya,” ucapnya dengan tegas, seolah telah mempertimbangkannya matang-matang.
Kepala pelayan membeku sesaat. Ia menatap raja dan bertanya dengan ragu, “Yang Mulia… Anda tidak berniat menikahkan mereka, bukan?”
Tawa kembali terdengar dari mulut Raja Norman. Ia menepuk bahu kepala pelayan dan berkata santai, “Kepala pelayan, Anda sudah mengetahui niatku sejak awal. Mengapa masih pura-pura tidak percaya?”
Wajah kepala pelayan kaku. Mulutnya membuka dan menutup sebelum akhirnya berbicara terbata-bata, “Ha-hanya saja… rasanya terlalu berlebihan.”
Seorang putra mahkota menikahi guru sihirnya yang berusia lebih tua darinya. Kekaisaran Arcana menentang pernikahan atau pertunangan pada anak di bawah umur. Dengan begitu, rencana ini baru akan dilakukan saat Putra Mahkota berusia tujuh belas tahun. Adapun Rhea Celeste saat itu akan berusia dua puluh enam tahun—terlalu tua bagi seorang wanita yang belum menikah.
“Kau tidak nyaman karena usia mereka terpaut terlalu jauh?” Raja Norman terkekeh. “Lihat aku dan ratu. Usia kami berbeda lebih dari sebelas tahun. Mereka? Hanya selisih sembilan tahun. Itu sama sekali tidak masalah.”
“Itu berbeda, karena dalam kasus Anda, pihak yang lebih tua adalah pria. Namun, mereka—”
Kepala pelayan takut sebelum Putra Mahkota dewasa, calon pengantin wanitanya sudah menikah dengan orang lain. Namun, ia tidak berani mengatakannya kepada sang raja.
Raja Norman mengira keraguan kepala pelayan terletak pada hilangnya kecantikan calon pengantin wanita. Karena itu, ia menjelaskan dengan senang hati.
“Rhea Celeste adalah seorang arcmage lingkaran delapan, hampir mencapai puncak arcana. Kecantikannya akan tetap abadi selama ia mau mempertahankannya.”
Mendengar betapa bangganya raja menekankan kedudukan Rhea Celeste, kepala pelayan hanya bisa menelan keraguannya dalam diam. Ia tak tega mengungkapkan fakta yang dapat merusak kebahagiaan kecil tuannya.
“Anda benar, Yang Mulia. Semoga berkah arcana menyertai mereka berdua.”
Tentu saja, lancar atau tidaknya rencana mereka bergantung pada takdir. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Mungkin mereka akan memiliki perasaan satu sama lain dan akhirnya menikah. Atau justru, salah satu pihak sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menikah.
Kepala pelayan meninggalkan kantor raja dan kembali ke Istana Rosemaline untuk melanjutkan tugasnya.