"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Benang Merah yang Berdarah
BAB 20: Benang Merah yang Berdarah
Malam di Sanatorium Adiguna terasa lebih dingin dari biasanya. Di luar, suara deburan ombak yang menghantam tebing terdengar seperti rintihan yang tak kunjung usai. Rangga masih setia duduk di samping ranjang Arini, namun kali ini perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada monitor jantung. Di pangkuannya, berserakan dokumen-dokumen tua yang berwarna kekuningan—arsip rahasia milik mendiang ayahnya yang baru saja dikirim oleh tim investigasi swastanya.
Rangga membaca baris demi baris dengan napas yang tertahan. Tangannya gemetar. Semakin jauh ia membaca, semakin ia merasa dunianya terbalik.
Rahasia yang selama ini disembunyikan ibunya bukan sekadar masalah status sosial atau harta. Ini adalah tentang sebuah dosa masa lalu yang melibatkan dua keluarga.
"Jadi... ini alasan Mama begitu membencimu, Rin?" bisik Rangga sambil menatap wajah Arini yang pucat.
Dokumen itu mengungkapkan bahwa ayah Rangga, almarhum Bapak Adiguna, sebenarnya adalah sahabat dekat dari ayah Arini di masa muda. Mereka pernah membangun bisnis bersama sebelum akhirnya sebuah tragedi pengkhianatan terjadi.
Ibu Sarah, yang saat itu sangat terobsesi pada kekuasaan dan nama besar Adiguna, telah memanipulasi situasi hingga ayah Arini jatuh bangkrut dan berakhir di penjara atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan.
Yang lebih mengejutkan lagi, Arini bukan sekadar gadis desa biasa yang kebetulan ditemui Rangga di klinik Bogor. Arini adalah putri dari pria yang hidupnya dihancurkan oleh Ibu Sarah.
Fakta bahwa Rangga jatuh cinta pada putri dari korbannya adalah mimpi buruk terbesar bagi Ibu Sarah. Ia takut jika Arini tahu kebenarannya, Arini akan menggunakan Rangga sebagai alat untuk menuntut balas dendam dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluarganya.
"Maafkan keluargaku, Rin... maafkan kami," rintih Rangga. Ia merasa seolah-olah setiap tetes obat yang masuk ke tubuh Arini adalah penebusan dosa yang tidak akan pernah cukup.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan koridor. Pintu kamar terbuka dengan kasar. Dokter Bram masuk dengan wajah yang sangat pucat, diikuti oleh dua perawat yang membawa tabung oksigen tambahan.
"Rangga, kita punya masalah besar!" teriak Dokter Bram.
Rangga langsung berdiri, dokumen di pangkuannya jatuh berserakan di lantai. "Ada apa, Dok? Arini kenapa?"
"Tekanan intrakranialnya meningkat drastis. Ada pendarahan baru di dasar otaknya akibat penyebaran sel kanker yang tidak terduga. Kita tidak bisa menunggu tim dari Jerman lagi. Kita harus melakukan tindakan dekompresi darurat sekarang juga!"
Jantung Rangga serasa berhenti berdetak. Ia melihat layar monitor yang menunjukkan angka tekanan darah Arini yang melonjak kacau. Bunyi peringatan dari mesin medis itu terdengar sangat nyaring dan memekakkan telinga.
"Lakukan, Dok! Tunggu apa lagi?!" teriak Rangga panik.
"Masalahnya, Rangga... kondisi fisiknya sangat lemah. Peluangnya untuk selamat dari operasi ini hanya sepuluh persen. Jika kita operasi, ada kemungkinan besar dia meninggal di meja bedah. Tapi jika tidak dioperasi, dia tidak akan bertahan lebih dari dua jam ke depan."
Rangga terpaku. Sepuluh persen. Angka itu terasa seperti vonis mati. Ia menatap Arini yang kini tampak mulai kesulitan bernapas meskipun sudah dibantu mesin. Dada wanita itu naik turun dengan sangat dangkal dan patah-patah.
Di saat kritis itu, ponsel Rangga berdering. Nama "Ibu Sarah" terpampang di layar. Rangga mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"Dengar, Rangga," suara Sarah terdengar sangat tenang, hampir tanpa emosi. "Aku tahu kondisi wanita itu sekarang. Dokter Bram adalah orang yang digaji oleh yayasanku selama sepuluh tahun, jangan lupa itu. Aku tahu dia sedang sekarat."
"Apa maumu, Ma?" desis Rangga dengan kebencian yang mendalam.
"Jangan lakukan operasi itu. Biarkan dia pergi dengan tenang. Itu adalah cara terbaik untuknya, dan untukmu. Jika kamu membiarkannya pergi, aku akan menyerahkan seluruh saham mayoritas Grup Sarah kepadamu besok pagi. Kamu akan menjadi penguasa tunggal. Tapi jika kamu nekat mengoperasinya dan dia meninggal, aku akan memastikan karir medis Dokter Bram hancur, dan aku akan menutup sanatorium ini selamanya."
Rangga mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Mama benar-benar iblis. Mama takut, kan? Mama takut kalau Arini bangun dan membongkar apa yang Mama lakukan pada ayahnya?"
Keheningan sesaat terjadi di seberang telepon.
"Pilih, Rangga. Kekuasaan mutlak di tanganmu, atau pertaruhan sepuluh persen yang akan berakhir dengan mayat di tanganmu," ujar Sarah sebelum mematikan sambungan telepon.
Rangga menatap Dokter Bram yang sedang menunggu keputusannya. Di luar, hujan badai kembali mengamuk, petir menyambar di langit pesisir seolah-olah ikut menyaksikan pertaruhan nyawa ini.
Rangga berjalan mendekati Arini. Ia mencium kening wanita itu lama sekali. Ia bisa merasakan dingin yang mulai menjalar di kulit Arini.
"Rin... kamu pernah bilang kalau kamu rela mati supaya aku bisa kembali ke tempatku yang tinggi," bisik Rangga di telinga Arini. "Tapi kamu salah. Aku tidak butuh takhta itu. Aku hanya butuh kamu, meskipun hanya sepuluh persen peluang yang tersisa."
Rangga berbalik menatap Dokter Bram dengan mata yang berkilat tajam. "Siapkan ruang operasi. Sekarang."
"Tapi Rangga, ibumu—"
"Aku yang bertanggung jawab! Aku adalah pemilik tempat ini sekarang! Lakukan tugasmu sebagai dokter, atau aku sendiri yang akan melakukan operasi itu dengan tanganku!" bentak Rangga.
Proses pemindahan Arini ke ruang operasi berlangsung sangat cepat namun penuh ketegangan. Rangga ikut mendorong brankar Arini sepanjang koridor. Saat pintu ruang operasi mulai tertutup, Rangga menahan tangan Arini untuk terakhir kalinya.
"Jangan menyerah, Arini. Jangan biarkan iblis itu menang. Aku menunggumu di sini," gumamnya.
Pintu tertutup. Lampu merah di atas pintu menyala, menandakan perjuangan antara hidup dan mati dimulai.
Rangga duduk di lantai koridor yang dingin. Ia tidak peduli lagi pada jas mahalnya yang kini kotor. Ia mengeluarkan tumpukan uang kusam yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia menggenggam uang itu erat-erat di dadanya, seolah-olah benda itu adalah jimat penolak bala.
Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.
Setiap menit terasa seperti satu abad bagi Rangga. Pusing yang ia rasakan kini mencapai puncaknya hingga ia harus memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di dinding. Ia mulai berhalusinasi, mendengar suara tawa Arini saat mereka masih di Bogor, melihat bayangan Arini yang sedang berlari di pantai.
Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka. Dokter Bram keluar dengan baju operasi yang bersimbah darah. Wajahnya tertutup masker, namun matanya menunjukkan kelelahan yang luar biasa.
Rangga langsung melompat berdiri. "Bagaimana, Dok? Bagaimana?!"
Dokter Bram melepas maskernya pelan-pelan. Ia menghela napas panjang, menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Operasinya... sangat sulit, Rangga. Pendarahannya lebih parah dari yang kami duga."
Dunia Rangga seolah runtuh. Ia sudah siap untuk mendengar kata 'meninggal'.
"Tapi," lanjut Dokter Bram dengan secercah cahaya di matanya. "Arini adalah wanita yang sangat kuat. Jantungnya sempat berhenti selama dua menit, tapi dia kembali lagi. Kami berhasil mengeluarkan gumpalan darahnya dan menstabilkan tekanannya. Dia selamat, Rangga. Untuk saat ini, dia selamat."
Rangga jatuh terduduk. Ia menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Rasa syukur yang luar biasa membanjiri dadanya, membuat napasnya terasa lega untuk pertama kalinya dalam sebulan ini.
Namun, kemenangan itu tidak berlangsung lama. Maya, sekretarisnya, berlari menghampiri Rangga di koridor dengan wajah panik.
"Pak Rangga! Ibu Sarah baru saja merilis pengumuman di bursa saham. Beliau menyatakan Anda mengalami gangguan jiwa akibat depresi dan menarik seluruh otoritas Anda di perusahaan. Beliau juga mengirimkan tim keamanan dari pusat untuk menjemput Anda dan menutup Sanatorium ini secara paksa!"
Rangga mendongak. Matanya yang merah karena tangis kini berubah menjadi sangat dingin dan penuh api pembalasan. Ia berdiri perlahan, merapikan kemejanya yang berantakan.
"Begitu ya? Mama ingin bermain kotor sampai akhir?"
Rangga mengambil ponselnya. Ia menghubungi asisten pribadinya yang ia tugaskan untuk menjaga dokumen rahasia ayah Arini tadi.
"Kirimkan semua bukti kejahatan Ibuku ke kejaksaan agung sekarang juga. Jangan lewatkan satu dokumen pun. Dan hubungi media, katakan bahwa Direktur Operasional Grup Sarah akan mengadakan konferensi pers besok pagi tentang skandal besar di balik kesuksesan perusahaan ini."
Rangga menatap pintu ruang pemulihan di mana Arini berada.
"Tidurlah dengan tenang, Rin. Saat kamu bangun nanti, tidak akan ada lagi orang jahat yang bisa menyakitimu. Aku akan meruntuhkan seluruh gedung pencakar langit itu untuk membangun tempat perlindungan bagimu."
Malam itu, di ujung pesisir yang badai, sebuah perang besar telah dipicu. Bukan lagi sekadar perang untuk bertahan hidup, tapi perang untuk keadilan dan pembersihan dosa masa lalu. Rangga Adiguna telah melepaskan jubah pangerannya dan kini ia menjadi seorang prajurit yang siap menghancurkan apa pun demi satu nyawa yang ia cintai.