Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Transaksi di Balik Benang dan Payet
Di kediaman Ardiansyah, ketegangan semalam perlahan mencair, setidaknya di permukaan. Alisha duduk di tepi ranjang saat Mbak Sari masuk membawa nampan sarapan. Dengan gerakan yang sangat terlatih dan celotehan ramai khasnya, sengaja dikeraskan agar terdengar oleh penjaga di depan pintu, Sari meletakkan piring itu.
"Ayo dimakan Nona sayang, biar cepat ingat lagi, biar cepat sembuh!" seru Sari riang.
Saat tangan Sari menarik piring kosong bekas semalam, Alisha dengan gerakan kilat menyelipkan flashdisk hitam itu di bawah lipatan serbet. Sari mengedipkan sebelah mata, sebuah kode bahwa misi berhasil. Ia kemudian berpamitan dengan suara yang masih heboh, meninggalkan Alisha yang baru saja menarik napas lega.
Tak lama setelah Sari keluar, pintu kembali terbuka. Gathan masuk dengan pakaian santai, kaos polo berkualitas tinggi dan celana chino. Wajahnya tampak lebih segar.
"Kakak libur hari ini, Na," ucap Gathan sembari tersenyum lembut. "Kakak ingin mengajakmu keluar. Kita butuh quality time. Sudah sangat lama kita tidak pergi berdua tanpa gangguan pekerjaan atau urusan rumah."
Alisha tertegun. Di satu sisi, ia senang bisa keluar dari rumah yang menyesakkan ini. Namun di sisi lain, pergi berdua dengan Gathan berarti ia harus ekstra waspada. Gathan adalah orang yang paling mengenal Aruna.
"Pergi... ke mana, Kak?"
"Ke tempat favoritmu. Kita akan mencari udara segar," jawab Gathan sembari mengacak rambut Alisha pelan.
"Siap-siap, ya. Kakak tunggu di bawah."
***
Sementara itu, di sebuah rumah jahit yang terletak di sudut kota yang tenang, Aruna asli sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Mengenakan daster sederhana dan menguncir rambutnya asal-asalan, ia benar-benar terlihat seperti Alisha. Namun, di tangannya bukan gunting kain, melainkan tumpukan berkas desain dan catatan ukuran pelanggan.
Aruna sadar, ia tidak bisa menjahit. Tangannya lebih terbiasa memegang senjata atau mengetik kode rumit daripada mengoperasikan mesin jahit. Untuk menjaga kedok Alisha sebagai penjahit andal, ia telah menyewa Ranu, teman kuliahnya yang memang seorang desainer berbakat namun sedang butuh modal.
Ranu bekerja di ruang belakang, sementara Aruna mengurus bagian depan. Orang tua Alisha hanya tahu bahwa Alisha mendapatkan banyak pesanan sehingga butuh bantuan karyawan.
"Ranu, ini ukuran untuk pesanan kebaya Nyonya Linda. Pastikan detailnya sempurna," ucap Aruna sembari menyerahkan catatan.
Ranu menatap Aruna dengan dahi berkerut.
"Kamu benar-benar niat ya, Na. Sampai menyamar begini. Aku masih tidak habis pikir kenapa kamu harus melakukan ini."
"Fokus saja pada jahitanmu, Ran. Semakin sedikit yang kamu tahu, semakin aman untukmu," jawab Aruna datar.
Tiba-tiba, lonceng di pintu depan berbunyi. Rendy muncul dengan senyum lebar, membawa bungkusan martabak kesukaan Alisha. Aruna segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih hangat, persis seperti Alisha.
"Hai, Sayang. Sibuk sekali ya?" tanya Rendy sembari melirik Ranu di ruang belakang.
"Iya, Rendy. Pesanan sedang menumpuk, makanya aku minta bantuan Ranu," jawab Aruna lembut.
Rendy mengajak Aruna makan siang bersama, namun Aruna menolak dengan halus.
"Maaf ya, aku harus menyelesaikan pola ini sebelum sore. Pekerjaannya sangat mendesak."
Wajah Rendy langsung berubah layu. Kekecewaan terpancar jelas di matanya. Aruna terdiam sejenak. Ia teringat pesan Alisha untuk menjaga hati pria ini, dan ia juga sadar Alisha telah mempertaruhkan nyawa di rumah Ardiansyah semalam demi dirinya.
"Minggu depan, aku janji akan luangkan waktu khusus buat kita, oke sayang?" ucap Aruna sembari menyentuh pipi Rendy pelan.
Seketika, wajah Rendy berbinar.
"Janji ya? Oke, kalau begitu aku pulang dulu. Jangan lupa makan!"
Setelah Rendy pergi, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah nama muncul: Mentari.
"Halo," ucap Aruna dingin begitu mengangkat telepon.
"Halo, Nona. Paket payet pesanan Nona sudah dikirim. Harusnya sudah hampir tiba di lokasi," suara Sari terdengar di seberang sana, menggunakan kode yang sudah mereka sepakati.
"Baik, terima kasih," jawab Aruna singkat.
Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki berpakaian gaya koboi dengan topi lebar masuk ke dalam toko. Ranu yang sedang menggunting kain menengok heran.
"Siapa ya, Pak?"
"Sang pengirim payet tiba. Apakah saya bisa menemui Nona Alisha?" tanya pria itu dengan suara berat.
"Saya Alisha," Aruna melangkah maju. Si "Koboi" memberikan sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi, lalu pergi begitu saja tanpa banyak bicara.
Aruna membawa kotak itu ke ruang kerjanya yang tertutup rapat. Begitu dibuka, di dalam tumpukan payet berkilau itu, terselip flashdisk hitam yang semalam diambil Alisha dari laptop Julian.
"Aku akan menemukan bukti itu, Julian. Kamu tidak akan bisa mengelak lagi," gumam Aruna dengan mata berkilat tajam.
Ia segera membuka laptopnya, namun kali ini ia tidak membuka aplikasi desain. Ia masuk ke sistem enkripsi perusahaan. Di dalam toko jahit yang tampak biasa itu, Aruna mulai membedah data hasil curiannya. Ranu yang bekerja di luar hanya tahu bahwa temannya sedang melakukan penelitian, tanpa menyadari bahwa tepat di balik tembok itu, Aruna sedang membobol aliran dana gelap perusahaan raksasa yang bisa mengguncang Julian.
Jari-jari Aruna menari di atas keyboard. Barisan angka dan nama perusahaan cangkang mulai muncul. Ia mulai masuk ke dalam labirin keuangan Julian, mencari benang merah yang akan menghubungkan kakak tirinya itu dengan kehancuran keluarganya. Permainan semakin panas, dan Aruna baru saja memegang kartu as-nya.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊