Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19: Roh misterius
Suara langkah kaki yang berat bergema di lorong batu penjara yang lembap. Setiap derapnya terasa menekan dada Rubellite, seolah-olah dinding sel yang sempit ini semakin menghimpitnya. Ia yang tadinya meringkuk di sudut sel langsung mendongak. Ia sangat mengenali langkah kaki itu—langkah yang dulu selalu membuatnya merasa aman dan terlindungi.
"Valerius?" bisik Rubellite parau.
Ia menyeret tubuhnya yang lemas menuju jeruji besi. Harapan kecil menyala di matanya yang merah dan sembab. "Kau datang... Kau tahu aku tidak melakukannya, kan? Katakan padaku kau percaya padaku, Valerius! Katakan sesuatu!"
Panglima itu berhenti tepat di depan sel, ia berdiri dengan wibawa yang luar biasa, jubah kebesarannya tampak mencolok di tengah kegelapan penjara. Namun, tatapannya sangat asing. Dingin dan tajam, seperti mata pedang yang siap menyayat. Ada sesuatu yang aneh pada matanya—pupilnya tampak statis dan kosong, seolah-olah ia bicara bukan dari kesadarannya sendiri.
"Mengapa, Rubellite?" suara Valerius rendah, penuh dengan kekecewaan yang nyata. "Mengapa kau melakukan hal serendah itu pada Shiera? Di tempat suci klan kita? Apakah rasa irimu sudah benar-benar melenyapkan akal sehatmu?"
Rubellite menggeleng cepat, air matanya kembali jatuh membasahi pipi. "Tidak! Itu fitnah, Valerius! Shiera yang melakukannya... dia merencanakan ini semua. Kumohon, demi semua tahun yang kita lalui bersama sejak kecil, lihat aku! Aku tidak pernah membohongimu!"
Valerius justru memalingkan wajah, rahangnya mengeras. "Bukti di depan mata jauh lebih kuat daripada pembelaanmu sekarang. Aku datang ke sini hanya karena kewajibanku sebagai Panglima, bukan sebagai teman masa kecilmu. Renungkanlah dosamu, Putri."
Tanpa menunggu jawaban, Valerius berbalik. Suara langkah kakinya menjauh dengan cepat, meninggalkan kesunyian yang mencekam bagi Rubellite.
"Valerius! Jangan pergi! Valerius!"
Terlambat. Sosok yang menjadi pelindung itu hilang di balik kegelapan lorong. Rubellite luruh kembali ke lantai, duduk memeluk lututnya erat-erat di sudut sel yang paling gelap. Dunianya benar-benar hancur. Ia merasa ditinggalkan oleh semua orang yang ia hargai.
Di tengah isak tangis Rubellite yang mulai serak, sebuah suara tiba-tiba bergetar di dalam kepalanya—bukan suara fisik yang tertangkap telinga, melainkan sebuah telepati yang terasa hangat namun penuh wibawa.
“Rubellite... keturunan Valtia yang malang...”
Rubellite tersentak, matanya yang basah menatap ke sekeliling sel yang kosong. "Siapa? Siapa di sana?!"
“Hanya kau yang bisa mendengarku. Jangan mencari dengan mata yang sedang buta karena air mata itu,” suara itu kembali bergema, sangat jernih di dalam benaknya. “Pria dari keluarga Vermilion tadi benar-benar buta. Ia membuang berlian asli demi segenggam debu yang bercahaya karena sihir murahan.”
Rubellite mencengkeram kepalanya sendiri, napasnya tersengal. "Apakah aku... sudah gila karena terlalu sedih? Apakah aku mulai berhalusinasi?"
“Kau tidak gila. Kau hanya baru saja dibangunkan oleh rasa sakitmu sendiri,” bisik suara itu lagi, kali ini nadanya terdengar sedikit sinis. “Tidakkah kau lihat matanya tadi? Pria itu dan kaisarmu... jiwa mereka sedang dikendalikan. Ada kabut hitam yang mengunci kesadaran mereka. Gadis yang kau sebut Shiera itu telah mencuri kemauan bebas mereka agar mereka membencimu.”
Rubellite membeku. Jantungnya berdegup kencang, antara rasa tidak percaya dan secercah harapan yang muncul kembali. "Maksudmu... mereka tidak benar-benar membenciku? Mereka... dikendalikan oleh Shiera?"
“Tepat sekali. Di mata mereka sekarang, kau adalah iblis yang harus dimusnahkan karena itulah narasi yang ditanamkan gadis itu ke kepala mereka,” sahut suara itu dengan nada dingin. “Namaku Helios. Jika kau ingin mereka kembali sadar dan membuat gadis itu membayar setiap tetes air mata yang kau jatuhkan malam ini... aku akan mengajarimu cara menghancurkan dunia palsu yang ia ciptakan.”
"Menghancurkan... dunia palsu?" Rubellite berbisik, jemarinya mencengkeram jeruji besi yang dingin. "Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak bisa keluar dari sel ini. Aku dicap pengkhianat, Helios. Seluruh kerajaan menginginkan kepalaku!"
Terdengar tawa rendah yang bergema di sudut batin Rubellite. “Tembok batu ini hanyalah ilusi fisik, Kecil. Yang mengurungmu sebenarnya bukan penjara ini, tapi ketakutanmu dan rasa sayangmu yang naif pada mereka yang telah membuangmu.”
Tiba-tiba, udara di dalam sel yang lembap itu terasa memanas. Rubellite melihat bayangan samar berbentuk reptil bersayap yang berpijar keemasan di dinding sel, meski tak ada sumber cahaya di sana.
“Shiera menggunakan sihir 'Charm of the Void'. Ia memanipulasi benang takdir dan ingatan pria-pria itu. Semakin kau menangis memohon keadilan, semakin sihir itu menguat karena ia memakan penderitaanmu,” lanjut Helios. “Untuk menghancurkannya, kau tidak butuh pengampunan kaisar. Kau butuh kekuatan yang lebih tua dari hukum manusia mana pun.”
Rubellite menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar. Sorot matanya yang tadi redup mulai menajam. "Apa yang kau inginkan dariku sebagai imbalannya?"
“Cerdas. Aku suka harga diri itu,” suara Helios terdengar puas. “Aku hanya butuh wadah. Berikan aku akses ke aliran sihir di jantungmu yang selama ini kau tekan demi menjadi 'putri yang lembut'. Biarkan aku membakar kabut hitam di kerajaan ini, dan sebagai gantinya... kau akan melihat mereka berlutut di bawah kakimu, memohon ampunan saat kesadaran mereka kembali dan menyadari betapa hinanya mereka memperlakukanmu.”
Rubellite terdiam. Ia membayangkan wajah dingin Valerius tadi. Rasa sakit itu kini bermutasi menjadi kemarahan yang murni.
"Lakukan," desis Rubellite. "Ajari aku cara menghancurkan dunia palsu itu. Aku tidak peduli lagi menjadi putri... aku ingin mereka melihat kebenaran yang akan membakar mereka."
Tiga bulan berlalu dalam kegelapan yang menyesakkan. Hari ini, pintu besi itu berderit terbuka, membiarkan cahaya matahari yang menyilaukan masuk dan menusuk mata Rubellite yang sudah terbiasa dengan remang-remang.
"Masa hukumanmu berakhir, Putri Terbuang," ucap seorang sipir dengan nada merendah. "Kaisar bermurah hati membiarkanmu hidup, namun gelar bangsawanmu telah dicabut. Kau bukan lagi bagian dari klan Valtia."
Rubellite berdiri perlahan. Gaunnya yang dulu indah kini compang-camping dan kotor, rambutnya kusut, namun punggungnya tegak lurus. Tak ada lagi isak tangis. Di dalam kepalanya, suara Helios terkekeh sinis.
“Lihat mereka, Rubellite... Mereka pikir mereka telah mengalahkanmu dengan mengurungmu di sini. Padahal, mereka hanya memberiku waktu untuk membentukmu menjadi senjata.”
Saat melangkah keluar dari gerbang penjara bawah tanah, Rubellite disambut oleh pemandangan yang memuakkan. Di kejauhan, di balkon istana, ia melihat Shiera sedang berdiri berdampingan dengan Valerius. Shiera tampak tertawa kecil sambil menyentuh lengan sang Panglima—pria yang dulu bersumpah hanya akan melindungi Rubellite.
Valerius melihat ke arah gerbang penjara. Tatapannya masih sama: dingin, kosong, dan penuh penghinaan. Ia bahkan tidak mengangguk, seolah Rubellite hanyalah tumpukan sampah yang baru saja dibersihkan dari istananya.
"Kau lihat itu, Helios?" bisik Rubellite hampir tak terdengar.
“Aku melihatnya. Dunia palsu yang sangat indah, bukan? Shiera ratunya, dan semua pria hebat itu adalah bonekanya,” sahut Helios. “Sekarang, pilih langkahmu. Kita pergi dari sini untuk mengumpulkan kekuatan, atau kau ingin memberi mereka 'kejutan kecil' sebelum menghilang?”
Rubellite tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Senyum yang menyimpan api.
"Biarkan mereka menikmati puncaknya sebentar lagi," ucap Rubellite dalam hati sambil melangkah melewati gerbang istana tanpa menoleh ke belakang sekalipun. "Karena saat aku kembali, aku tidak akan datang untuk meminta maaf. Aku datang untuk membakar semua yang mereka cintai."
Rubellite melangkah melewati gerbang batu terakhir yang membatasi penjara dengan dunia luar. Angin kencang menerjang wajahnya, namun ia tidak bergeming. Para pengawal istana menatapnya dengan jijik, bahkan ada yang sengaja meludah ke tanah saat ia lewat.
"Pergilah, sampah klan Valtia," cibir salah satu pengawal. "Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di wilayah suci ini."
Rubellite berhenti sejenak. Ia melihat lambang keluarga Valtia yang terukir di gerbang utama—lambang yang dulu ia banggakan, kini terasa seperti tanda penghinaan. Dengan tangan yang gemetar bukan karena takut, melainkan karena menahan kekuatan yang bergejolak, ia merobek sisa kain di bahunya yang masih menyisakan bordiran lambang klan tersebut.
Ia membuang kain itu ke lumpur.
“Bagus,” bisik Helios, suaranya bergetar puas di dalam kesadaran Rubellite. “Klan Valtia telah mati bagimu. Nama itu hanya akan menjadi beban jika kau terus membawanya. Sekarang, kau bukan lagi putri yang haus kasih sayang.”
"Aku tahu," jawab Rubellite dalam hati. Suaranya kini tidak lagi parau, melainkan dingin dan datar. "Rubellite yang mereka kenal sudah mati di sudut sel yang gelap itu."
Ia berjalan menjauh dari ibu kota dengan kaki telanjang yang mulai tergores batu jalanan. Ia tidak menoleh ke arah istana yang megah, tidak juga mencari keberadaan Valerius atau ayahnya di antara kerumunan. Baginya, mereka semua kini hanyalah orang asing yang sedang menunggu giliran untuk hancur.
Saat ia mencapai perbatasan hutan yang gelap di pinggiran kerajaan, Rubellite menatap bayangan dirinya di permukaan air sungai yang tenang. Wajahnya pucat, matanya yang dulu ceria kini memiliki tatapan yang dalam dan kosong—namun jika diperhatikan lebih dekat, ada kilatan cahaya keemasan yang berpendar di kedalaman pupilnya.
“Dunia menganggapmu kalah, Rubellite. Mereka menganggapmu telah jatuh ke dasar jurang terdalam,” Helios berkata dengan nada provokatif.
"Biarkan saja," gumam Rubellite. Ia menyugar rambutnya yang kusut dengan jari-jarinya. "Karena orang tidak akan waspada terhadap seseorang yang sudah dianggap hancur. Mereka pikir aku jatuh... padahal aku hanya sedang mengambil ancang-ancang untuk menarik mereka semua ikut bersamaku ke neraka."
Di bawah naungan pepohonan tua, sosok Rubellite menghilang ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan identitas lamanya sebagai seorang bangsawan selamanya.
Langkah Rubellite terhenti tepat di batas gerbang luar penjara. Dunia yang dulu ia kenal kini terasa sangat asing dan dingin. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah menuju hutan pengasingan, sebuah suara lembut yang gemetar memanggil namanya.
Langkah Rubellite terhenti tepat di batas gerbang luar penjara. Dunia yang dulu ia kenal kini terasa sangat asing dan dingin. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah menuju hutan pengasingan, sebuah suara lembut yang gemetar memanggil namanya.
"Nona... maksudku, Rubellite? Kau... kau benar-benar akan pergi?"
Rubellite menoleh. Anna, satu-satunya pelayan yang tidak memalingkan muka saat ia diseret ke penjara, berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca. Anna membawa bungkusan kain kecil di tangannya, berusaha memberikan bekal terakhir untuk majikannya yang kini tak memiliki apa-apa.
"Tidak ada lagi tempat bagiku di sini, Anna," jawab Rubellite datar. "Gelar itu sudah mati."
"Tapi di luar sana sangat berbahaya... Tanpa pengawal..."
"Dia tidak akan pernah tanpa pengawal selama aku masih bernapas."
Suara langkah sepatu bot yang tegas menghantam tanah. Dari arah jalan utama istana, sosok pria dengan jubah perjalanan yang berdebu dan napas yang masih tersengal muncul. Itu Raze. Ia baru saja tiba di gerbang ibu kota setelah menyelesaikan misi rahasia berbulan-bulan dari Kaisar, hanya untuk disambut berita bahwa Nona yang ia jaga telah dibuang.
Raze mengabaikan tatapan sinis para penjaga gerbang lainnya. Matanya terpaku pada sosok Rubellite yang terlihat hancur secara fisik, namun memiliki aura yang sangat berbeda—sesuatu yang gelap dan kuno bergetar di sekitar gadis itu.
"Raze?" Anna terkejut. "Kau sudah kembali?"
Raze tidak menjawab Anna. Ia langsung berdiri di depan Rubellite, lalu berlutut dengan satu kaki—sebuah penghormatan ksatria yang paling dalam.
"Nona Rubellite," ucapnya berat, suaranya penuh dengan rasa bersalah sekaligus amarah yang tertahan. "Saya terlambat. Seandainya saya tidak menerima misi terkutuk dari Kaisar itu, saya tidak akan membiarkan mereka menyentuh Anda satu inci pun."
Rubellite menatap ksatria setianya itu. Di dalam kepalanya, Helios menyeringai. “Ksatria ini memiliki jiwa yang jujur. Dia tidak terpengaruh sihir Shiera karena dia tidak berada di sini saat 'kabut' itu disebarkan.”
"Bangunlah, Raze," ucap Rubellite dingin. "Aku bukan lagi majikanmu. Aku bukan lagi seorang Valtia. Aku hanyalah seorang wanita yang telah jatuh."
Raze mendongak, matanya tajam dan penuh tekad. "Bagi saya, Anda bukan jatuh. Anda hanya sedang melepaskan beban yang tidak layak Anda pikul. Saya tidak bersumpah pada nama Valtia, saya bersumpah pada Anda. Ke mana pun Anda pergi—ke dasar neraka sekalipun—pedang saya adalah milik Anda."
Rubellite terdiam sejenak, lalu ia mengambil bungkusan dari Anna dan menatap Raze. "Jika kau ikut denganku, kau akan menjadi buronan. Kau akan meninggalkan kehormatanmu sebagai ksatria."
"Kehormatan saya ada pada keselamatan Anda, Nona," jawab Raze tegas.
Rubellite akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Mari kita pergi. Biarkan mereka mengira aku pergi untuk mati, padahal kita pergi untuk mencari cara menghancurkan dunia palsu ini."